
Sampai di rumah Talita masih merasa geram dan kesal karena diperlakukan kasar oleh Alvaro padahal niatnya baik hanya menjenguk dan memastikan keadaan Alvaro, tau begitu Talita juga tidak akan menemuinya sampai harus memaksa dan membujuk Argo agar mengantarnya.
"Hah... Musnah sudah harapanku untuk membujuknya masuk ke dalam tim basket sekolah" ucapku putus asa.
Aku memang dari awal sudah pesimis karena sulit sekali berbicara dengan seorang Alvaro kak Bara dan anak anak tim basket saja yang salah sangka denganku, padahal aku tidak sedekat itu dengan Alvaro, aku pikir besok aku harus membicarakan hal ini pada kak Bara dan meminta maaf karena tidak bisa membujuk Alvaro lagi.
Aku sudah pasrah meski kak Bara akan membenciku atau anak anak tim basket akan kecewa padaku yang jelas aku tidak mau lagi terlibat apapun dengan orang yang penuh rahasia seperti Alvaro, semuanya hanya membuat kepalaku pusing.
Aku memutuskan untuk beristirahat hingga pagi datang dan segera pergi ke sekolah bersama Audy seperti biasanya, pagi itu aku merasa sangat lesu dan tak bersemangat, Audy juga nampak muram biasanya dia selalu menghibur dan membuat beberapa gurauan sehingga perjalan kami menuju sekolah dipenuh canda tawa, tapi kali ini sepanjang perjalanan Audy hanya diam membisu seperti ada yang salah dalam dirinya, aku yang mencemaskan keadaan Audy memberanikan diri untuk bertanya saat sudah sampai di parkiran.
"Audy kenapa sedari tadi kau diam saja?, Apa kamu sakit lagi?" Tanyaku khawatir,
"Tidak Talita hanya saja ada masalah dengan keluargaku" ucap Audy dengan murung,
"Audy coba saja bicara padaku setidaknya itu akan mengurangi bebanmu ayo kita bicara di kelasku" ucapku sambil menggandeng lengan Audy.
Kami pun berjalan bersama masuk ke dalam kelas Audy, aku duduk di samping Audy karena kebetulan teman sebangku Audy belum datang ke sekolah pagi ini.
"Ayo bicara jangan menyimpan semuanya sendiri kita kan sahabat aku juga akan menjaga rahasiamu dengan aman" ucapku sambil tersenyum meyakinkan Audy agar dia mau bercerita padaku,
"Talita usaha ayahku Alhamdulillah naik pesat sehingga ayah di promosikan sebagai meneger di perusahaan pusat yang ada di kota" ucap Audy tersenyum,
__ADS_1
"Wahhh... Itu bagus dong, terus kenapa kamu murung, kamu bilang keluargamu ada masalah inimah bukan masalah Audy" ucapku merasa sedikit aneh,
"Masalahnya aku akan pindah karena ayah tidak bisa pulang pergi, jarak dari kota ke desa kita kan cukup jauh, ibu tidak mau berada jauh dari ayah dan aku harus mengikuti mereka, padahal aku tidak mau jauh darimu Talita" ucap Audy kembali murung.
Seketika aku juga turut tertunduk lesu, sekarang aku paham itu kabar buruk untukku, jika Audy benar benar pindah dan meninggalkanku, aku akan benar benar seorang diri di desa ini, aku tidak punya tempat untuk bercerita dan berkeluh kesah lagi.
"Apa yang tengah tuhan rencanakan, kenapa menjauhkan ku dari orang orang yang tulus padaku" gumamku merasa putus asa,
Audy yang melihatku lesu dan termenung dia menyadarkanku dan memelukku dengan erat, Audy berusaha menghiburku dan dia mengajakku untuk ikut pindah dan tinggal bersamanya.
"Talita ayolah jangan sedih seperti itu, bagaimana kalau kamu ikut saja bersamaku, ayo tinggal denganku Talita" ucap Audy mengajakku,
"Aku tidak bisa Audy, aku ke kelas dulu" ucapku tak tahan menahan kesedihan dan pergi meninggalkan kelas Audy.
Aku duduk dan menempelkan kepalaku ke meja air mata terus mengalir begitu saja, aku sudah berusaha mengusapnya tapi tetap saja turun tak tertahan, aku malu siswa lain memperlihatkan aku karena sudah sebesar ini masih menangis di mata umum, aku pergi ke kamar mandi mencuci wajahku dan kembali berusaha tegar dengan semua yang sudah ditakdirkan.
Pelajaran di mulai dan aku berusaha fokus mengerjakan tugas dan menyimak pembelajaran yang tengah di terangkan oleh guru, sampai di tengah pelajaran tiba tiba saja Alvaro datang dan dia masuk ke dalam kelas begitu saja di saat guru tengah menerangkan, guru itu juga tidak menegur Alvaro sama sekali dia justru tetap bersikap baik dan mempersilahkan Alvaro untuk mengikuti pelajaran, padahal aku tau betul guru itu adalah salah satu guru yang terkenal galak dan disiplin pada setiap siswa yang dia ajar, tapi aku heran kenapa kepada Alvaro dia tidak berkutik atau memperlihatkan taringnya sedikitpun.
"Sebenarnya kau ini siapa sih, kenapa guru saja tidak berani menegurmu, aneh!" Ucapku bertanya saat Alvaro duduk di sebelahku,
"Karena aku tampan dan mungkin guru itu jatuh cinta padaku makanya dia tidak berani" ucap Alvaro dengan penuh percaya diri,
__ADS_1
"Hoekkk... Kamu itu terlalu ke PD an, sudahlah diam jangan menggangguku belajar" ucapku menanggapi ucapannya dengan jijik.
Alvaro hanya tersenyum kecil melihat ekspresiku yang menanggapi ucapan dia sebelumnya, habisnya dia terlalu narsis dan begitu membanggakan ketampanannya itu, padahal bagiku jelas lebih tampan kak Bara dibanding dia yang berandalan seperti itu.
****
Jam istirahat tiba aku pergi hendak menemui Audy karena tidak ingin dia mencemaskanmu karena sebelumnya aku pergi begitu saja, saat aku mencari dia ke kelasnya ternyata Audy sudah pergi ke kantin bersama temannya yang lain lebih dulu, aku pun segera menyusul hingga sesampainya di kantin aku ikut bergabung denga Audy dan beberapa temannya aku juga meminta agar bisa bicara berdua dengan Audy untunglah mereka mengerti.
"Audy aku minta maaf yah karena tadi pergi begitu saja, aku hanya sedih karena akan berjauhan denganmu" ucapku meminta maaf dan merasa bersalah,
"Aishh... Talita ayolah aku juga tidak mempermasalahkan itu justru aku juga sedih dan tak enak hati padamu, harusnya aku yang meminta maaf padamu" ucap Audy,
"Audy tapi kamu janji yah meskipun nanti kita berjauhan kamu harus sering sering mengunjungiku" ucapku mewanti wanti,
Audy mengangguk dan kami pun makan bersama dengan bersenda gurau seperti biasa, hingga aku ingat kalau masih harus menemui kak Bara untuk membicarakan masalah Alvaro, aku pun pergi lebih dulu dari kantin dan menemui kak Bara di kelasnya.
Aku merasa sangat gugup saat kak Bara berjalan menghampiriku tapi aku berusaha tenang dan menyembunyikan semua ke gugupan itu.
"Talita ada apa?" Tanya kak Bara dengan senyum yang manis,
"Itu kak masalah Alvaro aku..." Ucapku terpotong,
__ADS_1
"Oh itu... Terimakasih yah berkat kamu Alvaro sudah menyetujui untuk masuk tim basket tadi pagi bahkan rencananya aku akan mendaftarkan sekolah kita hari ini tepat saat jam masuk nanti bersama kepala sekolah, terimakasih yah Talita, aku akan memberikan tiket VIP untukmu nanti" ucap kak Bara dengan senyum mengembang dan dia memegang kedua pundakku.
Sedangkan aku masih merasa bingung dan penuh keheranan pasalnya aku tidak berhasil membujuk Alvaro dan bahkan kemarin saat menjenguknya aku masih berdebat dengan dia, lagi pula Alvaro kan sedang terluka bagaimana bisa latihan dan mengikuti lomba.