
Saat itu aku sungguh kaget bercampur panik, karena jelas sekali sebelumnya aku dan dia berada di mobil yang sama bersama Audy juga Argo bagaimana bisa ketika bangun tiba tiba saja mereka sudah tidak bersamaku, aku pun langsung bergegas melihat mobil di belakangku dan ku lihat mobilnya juga sudah berubah lalu aku berlari memeriksa ke dalam nyatanya memang tidak ada Audy ataupun Argo di dalam sana.
Setelah aku coba mengingat ngingat lagi sebelumnya aku juga duduk di bangku depan dan aku merasa diriku sungguh bodoh sekarang karena aku baru saja menyadari semua keanehan ini tepat setelah semuanya sudah hampir selesai.
"Huaaa...kenapa bisa begini, siapa yang memindahkan ku?" Ucapku merasa kesal dan kebingungan sendiri.
Lalu aku mulai menatap ke arah Alvaro yang berdiri di hadapanku dengan wajah menatap ke arahku dengan menaikkan kedua alisnya seakan tidak bersalah sedikitpun, melihatnya dengan ekspresi seperti itu sungguh membuat aku semakin emosi dan kesal.
"Alvaro aku tanya padamu, apa kau yang memindahkan ku ke mobil ini dan kau membawaku ke sini diam diam?" Tanyaku dengan serius,
"Huuh, oke oke ini semua memang rencanaku dan aku sendiri yang menggendongmu dan memindahkannya ke mobil yang berbeda sebelumnya, tapi aku melakukan itu karena kasihan padamu aku tidak tega membangunkanmu yang terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya" balas Alvaro berusaha beralasan,
"Semua itu bukan alasan Alvaro, kau ke manakan Audy, bisa bisanya kau melakukan sesuatu tanpa izin dari orang yang bersangkutan terlebih dahulu, apa kau ini penculik!" Bentakku sangat kesal dengan alis yang dikerutkan.
Alvaro menarik nafas perlahan dan membuangnya sekaligus dia memegangi kedua pundakku dan mencoba menjelaskan semuanya ke padaku saat itu juga.
"Dengar aku baik baik oke, aku tidak bermaksud apa apa, hanya saja aku tahu betul kau sangat menyukai pantai ini bukan saat tadi kita di perjalanan pulang makanya aku berinisiatif untuk membawamu ke mari, awalnya aku juga mau membawa Argo juga Audy ikut ke mari namun sebelumnya aku tahu bahwa Audy tidak bisa ke mari karena kedua orangtuanya, makanya aku menyuruh Argo mengantarnya pulang" ucap Alvaro menjelaskan.
Setelah mendengar penjelasan dari Alvaro aku sedikit jauh lebih tenang dan aku merasa Alvaro tidak seburuk yang aku pikir sebelumnya, namun walau begitu tetap saja aku merasa kesal karena dia melakukan semuanya tanpa izin ku terlebih dahulu.
"Heuhh....baiklah, aku memaafkanmu kali ini karena aku sedikit menyukai pantainya, bersyukurlah kau dengan pantainya" ucapku memaafkan dia,
"Oke, terimakasih Talita. Ya sudah ayo kita makan dahulu" balas Alvaro tersenyum padaku untuk pertama kalinya dan dia mengajakku untuk makan.
Aku menolak ajakannya karena aku masih agak kesal dengan dia namun sialnya perutku justru malah bersuara membuat aku tidak memiliki alasan lain untuk menolaknya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak mau aku ingin pulang...kreokkk..kreookkk" tolak ku dan suara perut yang kelaparan,
"Aishh....perut ini menyebalkan kenapa harus bersuara di waktu yang tidak tepat" gumamku merasa malu bercampur aduk,
"Yakin kau tidak mau makan dan mengisi perutmu sendiri sepertinya perut dan mulutmu tidak sinkron" ucap Alvaro menyinggungku.
Karena perut yang tidak bisa diajak bekerja sama alhasil aku sungguh tidak bisa menolaknya lagi dan aku hanya bisa mengangguk patuh lalu segera pergi bersamanya ke sebuah kedai dipinggir pantai yang menyajikan banyak menu masakan laut olahan.
Sesampainya di sana aku bingung karena semua tempat duduk sudah penuh dan hanya tersisa satu buah bangku berukuran kecil, dan nampaknya bangku itu hanya bisa di gunakan oleh satu orang saja karena jika di duduki oleh dua orang pasti akan berdempetan satu sama lain, Alvaro juga kebingungan karena tempat itu terlalu ramai.
"Alvaro sudahlah disini juga tidak ada tempat lagi, kita pulang saja" ucapku menyerah karena aku sudah malas sekali.
Tiba tiba saja saat aku hendak berbalik pemilik kedai itu menarik tanganku dan tangan Alvaro lalu dia menyuruh Alvaro untuk duduk di bangku tersebut dan mendorong tubuhku hingga aku jatuh terduduk di pangkuan Alvaro.
"Nah begini kan bisa, lihat banyak pasangan lain yang berebutan untuk mendapatkan kursi pasangan ini, harusnya kalian beruntung bukan, sudah jangan melihatku begitu aku tahu kalian akan berterimakasih kepadaku, tunggu di sini pesanan khusus pasangan akan segera tiba" ucap sang pemilik kedai itu membuatku heran tak habis pikir.
Alvaro hanya diam saja dan dia tidak mencoba menolak atau berbicara apapun sehingga membuatku kesal dan membentaknya lagi.
"Alvaro kenapa kau tidak melawannya sih, kenapa kau diam saja?" Tanyaku sedikit membentak,
"Sudahlah ayo duduk kemari, lagipula kau hanya duduk di pangkuanku kan, makannya juga tidak akan lama, dan aku tidak akan keberatan sama sekali badanmu kan kecil" balas Alvaro yang nampak tidak terganggu sama sekali.
Aku hanya menatapnya dengan mata yang terbelalak sempurna karena aku tidak habis pikir dia bisa berbicara seperti itu seakan tidak terganggu sama sekali dan tiba tiba saja dia menyentuh pinggangku dan menarikku duduk kembali di pangkuannya.
"Ehhh...Alvaro apa apaan ini, lepaskan aku" ucapku berusaha berontak.
__ADS_1
Dia memeluk pinggangku di depan umum begitu saja dan aku tentu tidak terima aku juga merasa tidak nyaman duduk dalam posisi seperti itu dan aku berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku namun tenaganya itu terlalu kuat sehingga sulit untuk aku melepaskannya.
"Haisss...Alvaro apa sih yang kau inginkan sebenarnya" ucapku berbalik menatapnya dan tatapan kami saling bertemu dengan jarak yang begitu dekat.
Aku langsung terdiam dan rasanya aku berhenti bernafas saat itu juga, jantungku tiba tiba saja berdekat lebih kencang dari biasanya dan aku berusaha menyembunyikan suara detak jantungku itu namun sialnya Alvaro mendengarnya.
"Apa?, apa kau keberatan ini hanya makan malam saja" balas Alvaro santai,
"Te..tetap saja ini terlalu dekat" ucapku gugup dan memalingkan pandanganku dari wajahnya,
"Ayolah Talita aku tahu jantungmu berdetak sangat kencang aku bahkan bisa mendengarnya dengan jelas jangan coba coba mengeles lagi" ucap Alvaro yang membuatku semakin malu juga tidak nyaman,
"Diam kau, atau aku akan benar benar pergi" ancam ku padanya.
Aku tidak bisa lagi berbuat apapun dan hanya bisa duduk dengan tenang di pangkuan Alvaro hingga makanan tersaji dan lagi lagi makanan yang di sajikan hanya satu porsi terlebih hanya ada sepasang alat makan di sana.
"Eh, tunggu kenapa hanya ada satu alat makan dan kenapa hanya satu porsi makanan saja?" Tanyaku dengan heran,
"Gadis cantik tentu saja hanya satu karena pasangan itu harus berbagi satu sama lain, ini adalah meja pasangan, bangku yang kalian duduki juga bangku pasangan tentu saja makanan yang dihidangkan juga untuk pasangan, selamat menikmati. Kalian sangat serasi" ucap pemilik kedai itu lalu pergi meninggalkan kami,
"Huaaaa....aku tidak tahan lagi, Alvaro aku ingin pulang heu..heu...heu" ucapku merengek karena sudah tidak tahan lagi dengan semuanya.
Bukannya segera pergi dari sana karena malu menjadi pusat perhatian sebab aku merengek seperti anak kecil, orang orang itu justru malah tertawa gemas kepadaku dan mereka memujiku begitupun dengan Alvaro yang sama sekali tidak merasa malu.
"Waahhh...pasangan yang romantis yah" ucap pengunjung lain,
__ADS_1
"Iya gadis cantik itu menggemaskan sekali, aku ingin memiliki pasangan pria sepertinya itu terlihat gagah dan perkasa" tambah pengunjung di sampingnya,
"Aaahhh...aku bisa benar benar gila jika di sini terus ....." Gerutuku pelan.