
Sudah hampir satu tahun berlalu ayah dan ibu masih tetap sulit untuk dihubungi mereka hanya mengirimkan ku uang untuk biaya hidup melalui kartu ATM yang pernah mereka berikan padaku sebelumnya, setidaknya dengan begitu aku tau bahwa mereka baik baik saja karena tidak pernah telat mengirimkan uang padaku, bahkan saat pengambilan raport kenaikan kelas aku mengambil raport ku sendiri dan guru guru di sana juga menanyaiku mengenai keberadaan kedua orang tuaku dan alasan mereka tidak datang menjadi waliku, aku hanya bisa berbohong dan terus mengatakan bahwa kedua orangtuaku sibuk, selain alasan itu sungguh aku tidak tau harus mengatakan apa lagi, setelah pengambilan raport aku langsung pergi ke kota menemui ibuku sambil membawa raport hasil belajarku, aku menyembunyikan kesedihan karena mereka tidak hadir menemaniku dan aku berniat memberikan kejutan dengan nilai yang aku dapatkan, aku masuk juara 2 di kelas dan aku berharap kedua orang tuaku bisa bangga padaku.
Saat sampai di rumah seperti sebelumnya pintu tertutup rapat dan ketika aku menekan bel tidak ada siapapun yang membukakan pintu, aku menelpon ayah dan ibu berkali kali namun tidak ada satupun panggilan yang mereka jawab, aku tidak mau menyerah dan memutuskan untuk menunggu di sana sampai mereka datang, aku duduk menyandarkan diri pada tembok rumah sambil memeluk raport hasil belajarku satu tahun ini, saking lamanya aku menunggu aku tak sadar hingga ketiduran dan saat aku membuka mata hari sudah berganti malam, aku menghembuskan nafas lesu karena masih belum bertemu kedua orang tuaku, sampai saat aku bangkit sebuah mobil masuk ke halaman rumah, mataku berbinar dan aku langsung berlari menuju mobil itu tapi saat mobil terbuka yang keluar dari sana hanya ayah dan seorang wanita yang tidak aku kenal, yang aneh adalah aku melihat dengan jelas wanita itu begitu mesra pada ayahku.
Aku berdiri mematung sampai ayah menghampiriku.
"Talita, kenapa kau ada di sini?" tanya ayah sambil memegang kedua pundakku.
"A...aku disini sejak tadi siang, ayah di mana ibu?" ucapku bertanya dengan perasaan tak menentu.
Aku takut dan gelisah dengan jawaban yang akan ayah berikan diotakku, aku terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku, di mana ibuku dan siapa wanita itu, kenapa ayah bisa pulang bersamanya, semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiranku.
Ditambah ayah yang tidak menjawab pertanyaanku dia malah menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, aku bisa melihat bagaimana ekspresi wajah ayah saat itu, nampak banyak sekali kecemasan dan keraguan dari wajahnya, itu membuatku semakin tak sabar dan penasaran.
"Ya....ampun Talita ayo masuk dulu, kamu pasti lelah kan menunggu seharian di luar" ucap ayah sambil membawaku masuk.
"Cukup ayah, aku hanya ingin tau di mana ibu!!" ucapku bicara dengan tegas dan menghentikan ayah yang terus memaksaku untuk masuk.
__ADS_1
"Talita biar ayah jelaskan semuanya padamu di dalam yah, kita bicara baik baik" ucap ayah dan aku segera menurutinya.
Saat sudah di dalam rumah ayah terus saja memberikan banyak alasan mulai dari menawariku makan dulu, mengobrol hal lain dulu dan hal hal lainnya, aku tau ayah tengah menyembunyikan sesuatu padaku dan aku terus berusaha mendesak ayah agar tidak bertele tele dan segera menceritakan semuanya dengan jelas.
"Oke... Talita sebenarnya ayah sudah tidak bersama dengan ibumu, kami sudah berpisah sejak kamu pergi ke desa, kamu jangan marah dan dengarkan penjelasan ayah dan ibu dahulu" ucap ayah mengatakannya sambil memegang kedua tanganku.
Bak seperti tersambar petir di siang bolong aku hanya terperangah dan mencoba tersenyum dengan air mata yang turun tiba tiba tanpa aku ijinkan, aku mengangguk dan meminta ayah agar terus menceritakan semuanya, aku paham aku harus mendengarkan semuanya dahulu baru aku bisa membuat kesimpulan.
"Sebenarnya ayah dan ibu berbohong saat mengatakan bahwa usaha kami bangkrut, alasan sebenarnya ayah mengirimmu ke desa karena ayah dan ibu tidak mau kamu mengetahui bahwa kami bercerai, kamu tenang saja ayah dan ibu bercerai secara baik baik dan kami masih akan memberikan biaya padamu, kami juga masih kedua orangtuamu, kamu bisa menemui ayah kapanpun begitu juga dengan ibumu" ucap ayah menjelaskan semuanya.
Tanganku mengepal keras aku ingin marah tapi tidak bisa, hatiku sakit dan hancur begitu saja, air mata juga tidak dapat aku bendung lagi aku menundukkan kepala berharap ayah tidak melihat aku yang menjatuhkan air mata, aku tau aku harus kuat dan aku harus ikhlas menerima semuanya, tapi yang membuatku begitu sakit mengapa mereka harus menyembunyikan semuanya dariku bahkan tega sekali mereka seperti membuangku ke desa, di sana aku hidup kesulitan bak seperti anak yang terbuang tapi di sini mereka bahkan baik baik saja, tidak memikirkan ku dan hanya memberiku uang untuk biaya hidup setiap bulan.
"Aku tidak keberatan apapun yang ayah atau ibu lakukan, bahkan jika aku tidak punya orang tua lagi aku tidak masalah" jawabku berusaha tegar.
"Maafkan ayah Talita semua ini salah ayah, saat itu ayah terlalu terbawa emosi maafkan ayah" ucap ayah sambil memelukku dengan erat.
Aku ingin menangis dipelukan ayah saat itu juga tapi aku tahan dengan sekuat tenaga mataku terus tertuju pada seorang wanita yang nampaknya tak jauh usianya dengan ibuku, entah kenapa hatiku kesal dan benci pada wanita itu aku sudah menduga wanita itu pasti istri baru ayah namun untuk memastikan aku berusaha menguatkan diri dan bertanya.
__ADS_1
"Sudahlah ayah semuanya sudah terjadi, minta maaf juga tidak akan merubah apapun" ucapku sambil melepaskan pelukan ayah.
Padahal selama ini aku sangat merindukan kehangatan ayah dan ibu namun sekarang saat aku bisa memeluknya mengapa aku malah melepaskannya, aku terlalu kesal dan tak kuat menahan emosi dalam diriku.
"Dan ayah siapa wanita di sampingmu?" tanyaku dengan menatap tajam ke arah wanita itu.
"Kenalkan dia Serli ibu sambungmu, kamu bisa memanggilnya apapun yang kamu nyaman" ucap ayah memperkenalkannya.
"Sudah ku duga" gumamku dalam hati,
"Hai.... Talita aku harap kamu bisa menganggap ku sama seperti ibumu, aku juga banyak mendengar tentangmu, ayahmu sangat menyayangimu" ucap wanita itu dengan ramah,
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai ibuku, bukan aku jahat aku hanya tidak suka drama jadi aku tidak bisa berpura pura baik pada siapapun termasuk kau!!" ucapku sambil berdiri dari duduk.
"Talita kamu mau kemana?" tanya ayah ikut berdiri dan menahan tanganku.
"Satu lagi ayah tolong katakan di mana ibu sekarang!!!" ucapku dengan tatapan tajam,
__ADS_1
"Ibumu tinggal di apartemen miliknya, tolong jangan membuat keributan di sana, dan tolong hormati ibumu Serli!!" ucap ayah dengan tegas.
Aku hanya tersenyum dan menghempaskan tangan ayah dengan kasar aku berjalan cepat keluar dari rumah dan segera menghentikan taxi.