
Hari demi hari terus berlalu tanpa permisi dan aku melakukan aktivitasku seperti biasanya, besekolah, bersantai atau bermain lalu tidur, belakangan ini aku sudah sangat lama tidak pernah mengunjungi kedua orangtuaku lagi dan aku lebih banyak menghabiskan waktu sendiri atau bermain bersama Audy, tapi walau begitu aku masih berhubungan baik dengan kedua orangtuaku dan mereka juga masih selalu mengirimiku uang untuk biaya hidup dalam setiap bulannya.
Bahkan kali ini mereka selalu mengirimiku uang satu Minggu sebelum akhir bulan dan aku mendapatkan uang bulanan dia kali lipat sebab ibu tiriku juga sering tiba-tiba memberiku uang tanpa bertanya dahulu, aku merasa ibu tiriku adalah orang yang baik meskipun dia tidak banyak bicara atau berkomunikasi denganku namun dari cara dia yang selalu menanyakan kabar dan memberiku uang aku mulai luluh terhadapnya.
Dan tidak terlalu menentang dia adapun dengan ibuku dia kini sudah memutuskan untuk menjadi wanita karir dan tidak ingin menikah lagi setelah bercerai dengan ayahku dan sempat di tinggalkan oleh pacarnya yang dulu.
Pria itu memang sedikit menjengkelkan walau aku tidak mengetahui siapa namanya dan hanya bertemu dengan dia satu kali sejak awal juga aku sudah bisa menilai bahwa pria itu bukanlah pria yang baik dan sama sekali tidak cocok dengan ibuku, meski kedua orangtuaku sudah resmi berpisah aku masih berharap mereka akan kembali rujuk lagi.
Aku tahu ibu masih menyayangi ayah dan ku lihat hubungan ayah dengan ibu tiriku juga tidak terlalu baik akhir akhir ini, meski ibu tiriku baik terhadapku namun tetap saja bagiku dia tidak lebih dari seorang ibu tiri aku tidak bisa menyukainya seperti aku menyukai ibuku.
Sekolah sudah hampir selesai ini sudah hampir di penghujung tahun dan Alvaro masih belum kembali sedangkan kak Bara masih sering bertukar pesan dan berhubungan baik denganku lewat sosial media, sejujurnya aku sudah sangat bosan menjalani hubungan jarak jauh seperti ini bersama kak Bara.
Niat awalku untuk berusaha mencintainya sepertinya tidak akan berhasil, pasalnya bagaimana aku bisa mencintai seorang kak Bara sedangkan dia berada terlalu jauh dari jangkauanku, meski kami berhubungan baik lewat telpon dan selalu bertukar pesan tetap saja aku merasa hampa aku hanya terus berputar-putar bahagia saat mendapatkan panggilan video darinya.
Aku sungguh merasa tersiksa dengan perasaanku sendiri, aku masih berharap Alvaro akan segera kembali ke sampingku dan dia bisa menemani hari hariku seperti biasanya.
Saat ini adalah hari di mana ujian akhir akan dilaksanakan, setiap hari aku selalu bertanya kepada wali kelas kapan Alvaro akan kembali mengikuti pelajaran dan sekarang aku berangkat ke sekolah dengan terburu buru dan masih dengan harapan yang sama.
Saat guru melewati kelas aku segera mengejarnya dan menghentikan dia seperti biasa.
"Bu, kapan Alvaro akan masuk sekolah?" Tanyaku untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Ya ampun Talita kamu ini selalu saja membuat saya kaget dan pusing setiap pagi, saya kan sudah bilang jika dia mau kembali nanti juga ada datang ke kelas, jadi berhentilah bertanya lagi, cepat masuk kelas ujian akan segera dimulai!" Bentak wali kelas terhadapku.
Aku mengangguk dan segera pergi masuk ke dalam kelas diikuti oleh wali kelas yang juga masuk ke dalam dan mulai membagikan kertas ujian, aku sungguh tidak memiliki semangat untuk ujian meski aku sudah belajar keras selamanan di rumah tetap saja semuanya sungguh terasa hampa, aku baru saja meraut ponselku lalu segera berniat mengisi kertas ujian.
Sampai tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam kelas dan dia dibentak sekaligus dimarahi oleh wali kelas secara habis habisan hingga hampir tidak diijinkan masuk ke dalam kelas untuk mengikuti ujian, saat itu aku tidak perduli dengan apapun yang terjadi di depan sana karena aku telah kehilangan semangat untuk waktu yang lama dan hanya fokus mengisi ujian seenaknya.
"Kau....kenapa kau baru kembali sekarang?, Kenapa saja kamu bermimnggu Minggu tidak masuk ke sekolah, apa kamu tidak mementingkan pendidikanmu?" Bentak wali kelas memarahinya,
"ALVAROOO....APA KAMU MENDENGARKAN IBU!, Apa yang sedang kamu lihat?" Bentak wali kelas sangat keras.
Aku langsung bangkit dari kursiku dan memalingkan pandangan menatap kedepan dengan perasaan kaget dan tak menentu, saat menatap ke depan rasanya kakiku terasa begitu lemas badanku gemetar sulit untuk aku kendalikan.
Aku tidak menyangka orang yang aku lihat di depan sana adalah Alvaro, aku merasa diriku berhalusinasi dan aku hanya tersenyum kecil dan segera mengabaikannya lalu kembali duduk di kursiku dan berusaha menenangkan diriku sendiri tepat setelah wali kelas membentakku karena membuat teman teman yang lain kaget dan terganggu dalam ujian.
"Tidak tadi itu bukan Alvaro, bukan itu bukan dia aku hanya berhalusinasi saja" gerutuku pelan.
Aku segera berusaha menghempas jauh jauh pikiranku tentangnya namun aku tidak bisa sampai ketika aku berusaha memastikannya lagi, ternyata itu sungguh Alvaro dan dia berjalan menghampiriku mungkin tepatnya menuju kursi miliknya yang berada tepat di sampingku.
"Di..dia...sungguh Alvaro?" Ucapku pelan dengan tangan gemetar dan gugup.
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan karena masih merasa tidak menyangka bisa kembali bertemu lagi dengan seorang Alvaro, rasa senang, sedih dan kesal bergantian hadir di dalam hatiku aku tidak tahu perasaan mana yang harus aku keluarkan terlebih dahulu sedangkan situasi kelas saat itu tengah hening karena sedang melaksanakan ujian.
__ADS_1
Dan wali kelas terus memperhatikan kita semua dia terus berjalan jalan mengelilingi kelas beberapa kali putaran, sehingga sulit untuk memberiku waktu agar bisa berbicara dengan Alvaro, satu satunya rencana saat itu adalah menyelesaikan ujian dengan cepat dan segera keluar untuk menunggunya di depan kelas.
"Iya aku harus segera menyelesaikan ujian sialan ini" ucapku penuh tekad.
Semangatku langsung membara begitu saja dan entah mendapatkan energi dari mana aku langsung mengisi semua jawaban di kertas ujian dan segera menyelesaikan ujian kali ini dengan sangat cepat lalu mengumpulkan hasil ujianku ke depan dengan penuh percaya diri, sebab semua pertanyaan yang ada di dalam ujian kali ini semuanya sangatlah mudah untukku sebab aku sudah banyak belajar akhir akhir ini.
Ya selama kehilangan dua orang penting dan aku pedulikan di lingkunganku aku hanya memfokuskan diri dengan membaca dan terus belajar gila gilaan bersama Audy bahkan aku bisa sampai menghabiskan seharian di depan buku seorang diri, aku melakukan itu dengan tujuan agar bisa mengisi banyaknya waktu luang yang aku miliki dan agar aku tidak terus memikirkan kedua pria itu terutama memikirkan Alvaro sialan yang pergi menghilang secara tiba tiba dan tanpa kabar.
Semua teman temanku yang berada di dalam kelas seketika menatap ke arahku dengan raut wajah yang terperangah karena ini baru saja 30 menit setelah ujian dimulai namun aku sudah mengumpulkan kertas jawaban ke depan bahkan bukan hanya teman teman sekelasnya yang kaget wali kelas juga memberikanku raut wajah yang cukup menyepelekan diriku bahkan dia langsung memeriksa kertas jawabanku saat itu juga.
"Talita apa kamu mengisi jawabanmu dengan benar?" Bentak wali kelas seakan tidak mempercayai otak kecilku ini.
Ya walaupun aku sendiri sadar aku memang bukan anak pandai dan berprestasi di kelas ini aku hanya anak yang malas belajar dan selalu memicu keributan di mana mana maka jelas saja jika wali kelas tidak mempercayaiku saat itu.
"Ibu cek saja, lagi pula masih banyak waktu jika ibu pikir saya harus memperbaikinya lagi" balasku padanya.
Wali kelas pun segera memeriksa jawabanku dan senyum kecil mulai tergambar di wajahnya lalu dia membiarkan aku untuk menunggu diluar.
"Baiklah kamu boleh keluar tapi ingat jangan berkeliaran ini belum jam istirahat!" Ucap wali kelas memperingatiku.
Aku mengangguk dan segera keluar dari kelas namun sebelumnya aku menatap ke arah Alvaro yang masih berkutat dengan soal ujian di atas mejanya aku menatapnya dengan tatapan tajam dan sinis.
__ADS_1
Rasanya sudah sangat tidak sadar untuk menunggu dia ketika sudah keluar dari dalam kelas dan aku akan memukuli sekaligus memarahinya sepuas yang aku mau.