Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Latihan basket


__ADS_3

Saat tiba di lapangan rupanya anak anak tim basket sudah tiba di sana lebih awal mereka juga nampak sudah mengganti pakaian dan tengah pemanasan, aku pun segera menyuruh Alvaro agar dia mengganti pakaiannya.


"Alvaro cepat ganti pakaianmu lihat mereka sudah kumpul" ucapku menyuruhnya,


Alvaro hanya diam dan dia melemparkan tas nya kearahku.


"Ehhh... Apa apaan ini, kenapa memberikan tas mu padaku?" Tanyaku dengan heran,


"Pengang saja berisik sekali" jawabnya sambil berjalan menghampiri anak anak tim basket di tengah lapangan.


Aku menggerutu kesal dan segera duduk menunggu permainan mereka di mulai namun saat aku memperhatikan satu per satu aku tidak melihat keberadaan kak Bara di sana, aku pun terus mengamati dan mencari cari keberadaannya sampai tiba tiba saja seseorang memegang pundakku dan saat aku berbalik rupanya itu kak Bara dengan mengenakan pakaian basket yang memperlihatkan kedua otot tangannya yang indah, ahh aku benar benar gugup melihat ketampanan kak Bara yang tak ter elakkan.


"Kenapa kau seperti kebingungan?" Tanya kak Bara,


"Tidak aku hanya menjaga Alvaro siapa tau nanti dia kabur" ucapku asal bicara.


Saat itu aku tidak tau ternyata Alvaro juga berada di belakangku dan dia mendengar ucapanku sebelumnya, tak hanya itu dia langsung saja menyambar pada pembicaraanku dengan kak Bara membuat aku kesal dengan tingkahnya.


"Oh jadi kau mau menjagaku yah, ya sudah jaga aku terus yah jangan lupa siapkan minuman kalau tidak aku tidak mau ikut lomba" ucap Alvaro mengancam sambil merangkul ku dari belakang,


"Aishh... Kenapa dia harus muncul di saat yang tidak tepat sih, menyesal aku membuat alasan seperti itu" gumamku kesal.


Rasanya ingin sekali memukul dan memelintirkan tangan Alvaro sampai dia kesakitan dan tak berani menyentuhku sedikitpun lagi, tapi di sana ada kak Bara mana mungkin aku bersikap kasar dihadapannya yang ada nanti dia akan merasa takut atau bahkan ilfil padaku.

__ADS_1


Terpaksa aku pun menuruti ucapan Alvaro dan segera pergi dari sana untuk membelikannya minuman.


"Hey... Jangan lupa cemilannya yah" teriak Alvaro semakin menjadi jadi,


"Iya iya, awas saja kalau kau latihannya tidak benar!" Ancamku dengan kesal.


Aku pergi sambil menggerutu dan membawa tas sekolah Alvaro yang menyebalkan itu, sialnya saat sampai di kantin warung tempat membeli minuman dan cemilan sudah penuh dan aku harus mengantri panjang untuk membeli minuman dan cemilan, aku juga tak lupa membelikan minuman khusus untuk kak Bara setelah itu ku pakai tas Alvaro untuk wadah, biarkan saja tas nya itu basah karena ku pakaian untuk wadah minuman dingin biar dia tau rasa sekalian.


Sudah mengantri lama di kantin aku segera bergegas dengan tak sabar untuk melihat latihan basket mereka terlebih untuk melihat permainan kak Bara tentunya, namun saat sampai di sana sepanjang pinggiran lapangan sudah penuh dengan para siswa dan siswi yang menonton latihan basket, aku bahkan tidak ada celah untuk masuk ke dalam kerumunan itu dan melihat permainan basket dengan jelas.


"Aishhh kenapa mereka tinggi sekali sih, hiks..hiks... Kalau begini aku tidak bisa melihat kak Bara sial sekali..." Ucapku sambil berdecak kesal dan sedih.


Aku sudah berusaha berkeliling ke sana kemari dan meloncat untuk berusaha melihat permainan basket kak Bara juga yang lainnya, para siswa bersorak dan aku bahkan tak bisa melihat permainan itu aku kesal namun tetap tidak bisa berbuat apa apa alhasil aku hanya bisa duduk di salah satu bangku taman sampai permainan mereka selesai dan para siswa mulai bubar dari lapangan karena sebagian kelas sudah masuk pembelajaran berikutnya.


Saat sudah tak banyak lagi siswa di sepanjang lapangan aku yang sudah terlanjur kesal malas sekali menghampiri mereka dan tidak perduli lagi, kak Bara juga malah asik mengobrol dengan tim basket yang lain disana aku lihat ada juga kak Vera dan kak Nandito yang tengah bercanda tertawa bersama dengan kak Bara, entah kenapa aku merasa sedih karena tidak bisa melihat penampilan kak Bara.


Aku memakan makanan ringan yang sebelumnya aku beli dengan perasaan kesal dan tak karuan sampai Alvaro berjalan menghampiriku sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahinya, dia menyapa dan bertanya padaku meminta minumannya namun aku mengabaikan dia dan enggan menatapnya sama sekali.


"Heh pendek.... Mana minumanku?" Tanyanya dan tak ku jawab,


Alvaro yang kesal karena tak mendapatkan respon apapun dariku dia pun kembali berteriak sampai membuat telingaku hampir tuli di buatnya.


"Woii... TALITAAA!, cepat ambilkan minumanku!" Bentaknya dengan suara yang kencang di samping telingaku,

__ADS_1


"Aishh... Iya iya nih... Minum tuh air, menyebalkan sekali" ucapku sambil memberikan semua minuman dan tas miliknya lalu pergi dari sana begitu saja.


Aku sangat kesal dan berjalan dengan cepat menuju kesal sampai di dalam kelas aku duduk cemberut dengan tangan yang menyanggah dagu ku, sedangkan Alvaro yang baru saja masuk ke dalam kelas dengan seragam yang basah karena keringat juga wajahnya yang tak merasa bersalah sedikitpun membuatku semakin muak dan kesal, aku duduk membelakanginya karena masih sangat kesal.


"Hei.. kau ini kenapa sih, tadi saja begitu antusias dan bersemangat saat hendak pergi melihat latihan basket kenapa sekarang berubah drastis begini?" Tanya Alvaro dengan kedua alis yang dikerutkan,


"Jangan bicara padaku aku membencimu di level paling tinggi sekarang, sana jauh jauh dariku" ucapku kesal sambil mendorong kursinya ke samping,


"Hah?, Apa salahku sampai kau begini?" Tanya nya yang membuatku emosi,


Ku tatap matanya dengan tajam dan kedua tangan yang aku gebrakkan ke atas meja dengan cukup keras sampai aku harus menahan sakit karena itu.


"Brakkk... Dengarkan aku, kalau kau masih belum paham" ucapku dengan mata yang tajam dan bibir yang mengkerut kesal,


Alvaro hanya menatapku dengan keheranan sambil terus mengusap rambutnya yang basah.


"Gara gara kau menyuruhku membeli minuman sialan itu, aku harus mengantri sangat lama dan saat aku kembali bahkan aku tidak punya tempat untuk bisa melihat permainan basket, kau pikir saja bagaimana aku tidak kesal padamu semua ini karenamu!" Ucapku menjelaskan dengan tegas.


Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf Alvaro justru malah tertawa dengan renyah sambil memukul pundakku pelan.


"Ahaha... Kau ini haha... Lucu sekali, itu bukan salahku tapi salahmu kenapa kau bilang mau menjagaku dan siapa suruh kau punya kaki yang pendek haha" ucap Alvaro di iringi tawanya yang menjengkelkan,


"Ishh... Kau ini menyebalkan, padahal aku sangat ingin melihatnya" ucapku kesal dan sedih sambil menaruh kepalaku di atas meja dan menutupinya dengan buku,

__ADS_1


"Apa dia harus se sedih itu hanya karena tidak melihat permainan basket yang membosankan?" Gumam Alvaro dalam hati kecilnya.


Aku sangat lesu dan kehilangan semangat karena tak bisa melihat permainan basket tadi, padahal aku sudah menunggunya dan tak sabar apalagi kak Bara sendiri yang memintaku untuk melihatnya tapi aku justru malah melewatkan semuanya.


__ADS_2