Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Bersedih


__ADS_3

Aku hanya bisa menangis meratapi semua kebenaran yang terjadi, di dalam taxi aku tidak tau harus bagaimana selain menangis, semua sudah aku tahan sejak tadi, mungkin di depan ayah aku bak seorang anak yang jahat dan membangkang tapi aku melakukan semua itu semata mata hanya demi menutupi kelemahan ku, aku tidak mau terlihat lemah dan cengeng di depan wanita yang sudah merebut ayah dari ibu dan aku.


Sakit sungguh semua ini menyakitkan, hatiku hancur dan aku bingung harus melangkah kemana setelah ini, aku berniat untuk menemui ibuku dan segera meminta supir taxi mengantarku ke apartemen pribadi ibu, sesampainya di sana aku melihat ibu yang masuk ke dalam mobil mewah bersama seorang pria, lagi lagi aku kesal dan berlari menyusul ibu namun sayangnya mobil itu melaju terlalu cepat sehingga aku tidak bisa mengejarnya, aku ingin mengikuti kemana perginya ibu namun taxi yang aku tumpangi sebelumnya sudah pergi sehingga tidak ada kendaraan yang bisa aku tumpangi untuk mengejar ibu, aku hanya bisa terduduk lesu dengan air mata yang tak bisa aku tahan.


Ku tengadahkan kepalaku menatap langit malam yang hanya terdapat beberapa bintang, aku sendirian di kota tanpa arah dan tujuan, aku tundukan lagi kepalaku dan menangis sepuasnya, cukup lama aku menangis di sana aku juga tidak peduli meski banyak orang yang melihatku dengan tatapan aneh, mungkin karena aku menangis di tempat umum dengan penampilan yang berantakan dan masih mengenakan seragam sekolah.


Aku menghembuskan nafas kasar berusaha menenangkan diri sendiri, dan bangkit pergi meninggalkan tempat itu, sejak itu aku sudah bertekad sangat kuat tidak akan pernah menemui kedua orang tuaku lagi, mereka sudah menggoreskan luka yang terlalu dalam untukku, apalagi ibu aku bahkan tidak bisa merasakan pelukan darinya untuk terakhir kali, sekarang setelah melihat secara langsung keadaan yang sesungguhnya aku paham betul kenapa mereka selama ini tidak pernah menghubungiku, dan sangat sulit untukku menghubungi mereka.


Aku berjalan dengan pikiran kosong kepalaku terus saja memikirkan bagaimana dengan diriku untuk kedepannya, sampai aku tidak sadar kalau halte bus sudah terlewat, saat sadar aku langsung berjalan lagi menuju halte bus, di sana tidak ada lagi tempat untuk duduk, bangku di sana sudah penuh karena terlalu banyak orang yang menunggu di halte tersebut, akhirnya aku hanya bisa berdiri dan menyandarkan tubuhku pada tiang halte, kepalaku menunduk karena tak tahan untuk menahan air mata yang selalu saja menerobos dinding pertahananku.


Aku terus menangis terisak sampai tak sadar bus jurusanku sudah terlewat dan orang orang yang tadi duduk berdesakan menunggu bus juga sudah tidak ada, saat aku menengadahkan kepalaku bus jurusan yang aku tunggu baru saja lewat, refleks aku langsung berlari dan berteriak berusaha mengejar bus tersebut dan berharap pengemudi bus bisa menghentikan busnya sehingga aku bisa naik.


"Eh .....eh ..bus ku, tunggu......hei....tunggu aku.....aishhhh" ucapku berteriak sambil berlari mengejar namun sayangnya bus itu malah terus melaju.


"Hah...hah....hah....kenapa....kenapa harus aku yang mendapatkan semua kesialan ini....hiks...hiks..." ucapku berteriak di pinggir jalan sambil menangis terisak.

__ADS_1


Bus itu adalah bus terakhir menuju desa, sekarang aku bingung harus pergi ke mana mau pulang tidak ada kendaraan jika aku menghentikan taxi itu akan menghabiskan uangku, aku pun terpaksa meminta bantuan Audy, tapi saat aku menelpon Audy dia tidak mengangkat panggilanku aku sudah menelponnya berkali kali namun tetap tidak ada jawaban, aku kembali berjalan dan duduk di halte bus sendirian ku tatap jam di layar ponsel yang menunjukkan pukul 11:30.


"Huuuuhhh....pantas saja Audy tidak mengangkat telpon ku, jam segini mungkin dia sudah tidur" ucapku menduga duga.


Aku sempat berpikir untuk kembali ke apartemen ibu atau ke rumah ayah tapi gengsi ku terlalu tinggi aku tidak bisa menginap di tempat mereka, apalagi setelah apa yang sudah aku lakukan, aku mungkin bisa kembali ke apartemen ibu, tapi ku pikir lagi apa aku sanggup menerima kenyataan jika ibu sudah mendapatkan ayah baru, aku sangat bingung sampai telpon dari kak Bara membuatku sedikit mendapatkan cahaya kebahagiaan, setidaknya aku bisa meminta bantuan padanya.


Aku langsung mengangkat panggilan dari kak Bara.


"Hallo....kak ada apa?"


"bicara saja" jawabku merasa aneh karena mendengar kak Bara yang bicara dengan gugup,


"Itu....anu.....apa kamu mau menemaniku mendaftarkan sekolah kita lomba basket besok" ucap kak Bara,


"boleh saja kak, tapi aku tidak tau besok bisa masuk sekolah atau tidak, soalnya...." jawabku tertahan,

__ADS_1


"memangnya kamu kenapa?" tanya kak Bara dengan nada yang tinggi,


"aku tidak bisa pulang, aku masih di kota xx dan jam segini mana ada kendaraan umum menuju desa, jadi sepertinya aku akan menginap di sini" ucapku menjelaskan.


"Kamu di mana aku akan menjemputmu"


"aku di halte bus kota xx jalan......." jawabku memberikan alamatku saat ini,


"jangan ke mana mana aku ke sana sekarang" ucap kak Bara dan panggilan pun berakhir.


Tentu saja aku tidak akan kemana mana habisnya aku juga mau kemana selain menunggu kak Bara di tempat itu, lagi pula jika kak Bara tidak menjemput, aku juga tetap akan tidur di halte bus, mau pergi ke hotel uangku juga tidak cukup, aku tidak ada tempat tujuan lagi selain luntang lantung di jalanan, untunglah kak Bara ada di saat aku butuhkan setidaknya aku tidak akan tidur di halte ini, sungguh tidak terbayangkan apa yang akan terjadi jika aku benar benar tidur di halte itu seorang diri, meski tempatnya cukup ramai dan dekat dengan toko toko besar tetap saja aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya.


Aku menunggu cukup lama sampai akhirnya malah ketiduran dan saat aku tersadar karena merasa tubuhku melayang ternyata kak Bara menggendongku dan memasukkan aku ke dalam mobilnya, aku yang tadinya masih mengantuk mendadak terbangun dan duduk tegak dengan wajah yang bingung serta gugup.


"Kenapa kamu bangun, kalau masih mengantuk tidur saja, aku akan membangunkan mu saat sudah sampai" ucap kak Bara dengan senyum yang manis.

__ADS_1


Ahhh aku benar benar meleleh melihat senyumannya sejak pertama melihat dia aku memang sudah menyukainya tapi aku selalu menghempas jauh perasaan itu karena aku tidak mau membuat harapan pada seseorang yang tidak bisa aku dapatkan, apalagi saat mengingat kejadian di masa MPLS, aku semakin yakin kalau kak Bara hanya merasa kasihan padamu makanya dia begitu baik padaku.


__ADS_2