Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Siksaan 2


__ADS_3

"Plaakk..!" Suara tamparan yang cukup keras, hingga membuat wajah Ariana seketika menoleh kesamping, akibat tamparan yang cukup kuat.


Hanya memegang pipinya yang begitu kesakitan, dan kembali meneteskan airmatanya. Sebab bagaimanpun, dia akan menghabiskan sisah hidupnya dengan pria yang berstatus suaminya.


"Ingat!! Kamu tidak boleh tidur diranjang itu, maupun sofa itu." Titahnya, dengan nada penuh penegasan.


Hanya menganggukan kepalanya, dengan airmata yang masih membasahi pipinya.


Ariana tampak kebingungan untuk melewati hari-harinya dirumah ini, apa yang harus dia pakai untuk tidur. Sementara dia harus satu kamar, dengan pria ini. Saat melemparkan pandangan, tatapan matanya menangkap sebuah tikar, dan diapun memutuskan untuk memintanya pada Zain.


"Tuan..?"


"Ada apa?!"


"Apakah saya boleh memakai tikar itu Tuan? setidaknya untuk tempat, buat saya tidur." Pintanya, dengan tatapan penuh harap menatap pria itu.


"Terserah, tapi yang jelas selama kau berada dirumah ini, kau tidak boleh tidur disofa, ataupun tempat tidur."


"Baik, Tuan?" Jawabnya, dengan langsung mengambil tikar yang terletak disudut ruangan, dan membentangnya kelantai.


Tidur meringkuk, ditengah cuaca yang begitu dingin, walaupun mendapatkan siksaan baginya bukanlah hal baru. Kembali meneteskan airmatanya, mengingat semua yang sudah terjadi dalam hidupnya.


"Kapan aku akan keluar dari penderitaan ini, aku mengirah saat aku bertemu dengan laki-laki yang menjadi suamiku, dia bisa membawa aku keluar dari penderitaan yang selama ini aku rasakan. Papa, kuharap kau tidak mengetahui, bagaimana kehidupan baru yang julani bersama pria pilihanmu, agar kau tidak akan pernah menyesal karena sudah menerima pinangannya."


******


Perlahan mentarai telah menampakan wajahnya, menyapa semesta alam, saat kegelapan menghilang secara sempurna.


DIa terlihat begitu gagah, dengan stelan jas berwarna navi, yang membalut sempurna tubuh seksinya. Saat melemparkan pandangan, dia mendapati Ariana masih tertidur begitu pulas.


Meraih sebuah gelas yang berisi airminum, dan menuangkan tepat diwajah Araa. Ariana seketika terjaga dari tidurnya, dengan raut wajah yang terlihat pucat.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu, untuk bangun sesiang ini pelayan?! apakah kau mau, aku menghukummu?!" Dengan kemarahan yang teramat sangat, menatap Ariana yang terlihat begitu ketakutan.


"Maafkan saya Tuan? Maafkan saya, semalam saya tidak bisa tidur, jadi bangun kesiangan."


Senyuman kecil membingkai diwajahnya, dengan tatapan yang begitu menghunus, dia menatap gadis didepannya, menarik dengan kasar rambut Ariana, hingga membuat wajahnya menengadah keatas.


Meringis kesakitan, dan kembali meneteskan airmatanya.


"Tolong lepaskan tanganmu, Tuan? aku mohon, ini sakit? aku janji tidak akan bangun terlambat lagi." Dengan tatapan penuh harap, dan deraian airmata.


"Benarkah?!" Dengan menyunggingkan senyuman sinis diwajahnya, dengan masih menjambak rambut gadis itu.


"Kali ini, aku memaafkanmu gadis bodoh?!" Dengan langsung melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Ariana dengan kasar, hingga membuat kepala gadis itu sedikit terhuyung.


"Ambilkan sepatuku, dan pakaikan karena mulai hari ini, kau adalah pelayan pribadiku."


Dia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh lelaki dingin itu, yang mengatakan dia adalah seoarng pelayan.


"Baik Tuan, mulai hari ini saya adalah pelayan pribadimu." Ucapnya, dengan bangun dari duduknya, dan berjalan keruang ganti.


Saat berada diruang ganti, Ariana kembali menumpakan airmatanya. Dia tidak tau bukan perlakuan kasar saja yang dia dapatkan, tapi laki-laki yang berstatus suaminya itu, menjadikan dia seorang pelayan pribadinya.


"Tuhan.., semoga aku kuat menghadapi semua ini. Dan semoga Papa tidak akan pernah mengetahui, bagaiman kehidupan rumah tanggaku." Gumamnya, seraya mengusap airmatanya yang terus mengalir.


Larut dalam lamunannya, hingga suara suaminya mengejutkan Ariana.


"Mau sampai kapan kau berdiam disitu, culun?! apakah kau mau membuat aku terlambat kekantor?!"


Mendengar suara itu, membuat dia begitu gelagapan.


"Maafkan saya Tuan?" Dengan langsung meraih sepasang sepatu, dan kaos kaki, keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


****


Duduk bersimpuh dibawah kaki suaminya, dengan mulai memasangkan sepatu pada kaki lelaki tampan itu.


"Pasangkan, yang benar bodoh...?!!" Dengan menendang sedikit kasar, hingga membuat Araa sedikit tersungkur, dari posisinya.


"Maafkan saya, Tuan?! maafkan saya, saya mohon, jangan pukul saya?" Ucapnya dengan menutupi kepalanya, dengan menggunakan kedua tangannya, saat mengirah Willi akan memukulnya.


"Siapa yang mau memukulmu, bodoh?! aku hanya ingin kau cepat memakaikan sepatu!"


"Maafkan saya Tuan, maafkan saya." Dengan kembali memasangkan sepatu, pada kaki suaminya.


Dia hanya menunduk, dan tidak berani menatap wajah tampan itu. Suasana hening menyelimuti ruangan itu, hingga tiba-tiba Araa bersuara.


"Tuan..?" Panggilnya, pelan.


Ada apa, bodoh..?!"


"Apakah saya boleh meminta ijin, untuk bekerja?" Bertanya, dengan mencoba untuk berani dibalik rasa takut yang teramat sangat.


"Bekerja?! apakah, kau ingin melarikan diri?"


Mendongakkan kepala, dengan berani menatap wajah tampan yang menatapnya dengan tatapan yang begitu membunuh.


"Tidak Tuan?! saya tidak mungkin melarikan diri. Kemana saya harus pergi, karena hanya keluarga Mahesa yang saya punya. Saya hanya ingin mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan, saya saja Tuan? apakah boleh?" Pintanya, dengan tatapan penuh harap, menatap laki-laki tampan itu.


"Tapi ingat?! kau sudah harus berada dirumah, saat aku pulang bekerja, kau mengerti?!"


"Tentu Tuan, karena saya adalah pelayan pribadi anda." Ucapnya tersenyum, menatap wajah tampan itu. Tapi seketika senyuman itu pudar, saat menadapati tatapan Zain, yang menatapnya dengan tidak bersahabat dengannya.


"Maafkan saya, Tuan?" Ucapnya, dengan kembali menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2