
Zain kembali melanjutkan langkahnya melewati barisan anak tangga, menuju lantai tiga kamarnya. Tapi seketika langkah kaki itu terhenti, saat dirinya teringat akan Bibinya Celine, yang dia tidak temui dari tadi pagi.
"Bibi Ani.." Panggilnya tiba-tiba, saat wanita parubaya itu hendak melangkah kearah dapur.
"Ada apa Tuan?" Jawabnya, dengan kembali menyambangi Tuanmudanya.
"Dimana, Bibi Celine? dari tadi, aku tidak melihatnya?" Bertanya, dengan raut wajah penasarannya.
"Nyonya Celine dari tadi pagi, belum juga keluar kamar Tuan? bahkan beliau, melewati sarapan paginya hari ini."
"Meemm.., begitu?" Gumamnya.
"Iya Tuan."
"Baiklah. Itu saja yang ingin aku tanyakan. Dan bibi, boleh kembali kedapur."
" Baik Tuan," Jawab Ani, dengan kembali melangkah kearah dapur.
Zain kembali melanjutkan langkah melewati barisan anak tangga. Saat tiba dilantai 2, langkah kaki itu terhenti seketika , saat dirinya teringat akan apa yang dikatakan Jack. Tatapannya terlempar pada arah pintu, menatap kamar Bibinya yang tidak jauh dari tangga, dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya, saat mengingat apa yang dikatakan Jack tadi.
"Mungkinkah Bibi Celine juga, terlibat dalam penjebakan yang dilakukan Piter, dan juga Clara? " Menjeda kalimatnya sejenak, dan berperang dengan apa yang ada dalam pikirannya. Yaitu antara percaya, dan tidak.
Tidak. Tidak mungkin Bibi Celine, tegah melakukan hal itu padaku, sekalipun dia tidak menyukai Ariana." Gumamnya, dan kembali melanjutkan langkah itu.
Pintu kamar terbuka lebar, Zain mengedarkan pandangannya sesaat, seraya hembusan napas yang terdengar berat. Kedua kaki itu membawanya melangkah menuju ruang ganti, membawa tas besar yang berisi pakaian Ariana.
Membuka pintu lemari berbahan jati itu, dan menatap barisan yang sudah kosong.
"Maafkan aku, yang sudah menyakitimu sejauh ini Araa?" Gumamnya pelan, dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Membuka kancing tas besar itu, dengan kedua tangan kekar itu mulai menata kembali dengan rapi pakaian-pakaian Ariana, pada tempatnya. Dan itu membuat dia sedikt bahagia, sebab barang-barang milik Ariana masih berada dirumahnya.
Senyuman mengembang diwajah tampannya, setelah melihat pakaian-pakaian itu sudah tertata sempurna pada tempatnya.
"Setidaknya jika aku merindukanmu, aku bisa melihat pakaian-pakaian milikmu, dan juga fotomu yang masih ada disini Araa?"
Merasakan sesuatu gesekan dalam saku celananya, membuat Zain teringat kembali akan kotak perhiasan, yang belum dia tahu apa isinya.
Meraih dalam saku celananya, dan kedua kaki itu membawanya kearah balkon, dengan tatapan mata terus menatap Benda berbentuk kotak, yang berada dalam genggamannya.
Langkah kaki itu membawanya kepingiran balkon, menatap jauh kedepan.
"Aku tidak pernah melihat benda ini. Sepertinya selama ini, dia sembunyikan dariku. Mungkinkah isi didalam kotak perhiasan ini, sangat penting buat dirinya?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri, akibat rasa penasarannya.
Jemari itu perlahan mulai membuka kotak kecil itu, dan terdapat sebuah secarik kertas yang membungkus benda itu.
Kedua bolamata itu membulat sempurna, hingga nyarik menyeruak dari tempatnya. Sangat terkejut, itulah yang terlihat jelas dari raut wajah tampan itu.
"Inilkan serpihan liontin milik Mama, yang selama ini aku cari?" Dengan tatapan seolah tidak peercaya, dengan apa yang dia lihat.
Tapi tunggu dulu. Bagaimana bisa serpihan liontin ini, bisa ada padanya. Karena yang sebagiannya saja, aku menyimpannya dalam brangkas. Jangan sampai gadis yang malam aku tolong itu, adalah..?" Dengan menjeda kalimatnya, dan tangannya melihat kertas yang ternyata ada tulisannya.
Tuan dimana anda berada, aku hanya bisa mengucapkan rasa terima kasih yag tak berkesudahan. Terima kasih, karena anda sudah menolongku pada malam itu. Aku selalu ingin bertemu dengan anda untuk mengembalikan liontin ini, dan mengucapkan rasa terima kasihku pada anda, karena sudah menolongku pada malam itu, dan juga ingin mengenalkan anda pada suamiku.
Zain seketika menjatuhkan dirinya dikursi, dan dia terlihat syok dengan kenyataan yang baru saja dia tahu.
"YaTuhan, takdir macam apa ini? jadi wanita yang aku tolong itu, adalah Ariana? dan selama ini wanita yang aku cari, ternyata berada didalam rumahku, dan itu Ariana sendiri?" Dengan tawa kecilnya, seolah tidak percaya dengan semua ini.
"Bahkan selama ini, dia ingin sekali bertemu denganku, untuk mengembalikan liontin ini, dan juga berterima kasih padaku, karena sudah menolongnya." Dengan menjeda kalimatnya sejenak, dan memorynya mulai memutar kembali kejadian dimalam itu, saat dirinya melewati arah tangga, Zain mendengar teriakan seorang wanita, yang berteriak minta tolong. Rasa penyesalan semakin menjadi, mengingat kembali bagaimana hidup mantan istrinya, yang sudah banyak menderita.
__ADS_1
"Maafkan aku, Araa? maafkan aku. Aku tidak menyangkah, gadis yang aku tolong waktu malam itu, adalah dirimu. Maafkan aku, yang sudah membuat hidupmu begitu semakin menderita, dengan apa yang kulakukan ini." Gumamnya, dengan airmata yang sudah membasahi pipi.
"Tuan...?" Panggil Adam, seraya menatap Tuanmudanya dari kejauhan.
Menyeka airmata yang membasahi pipi, dan berusaha untuk tersenyum saat mendapati keberadaan sekretrisnya disana.
Adam melangkahkan kaki, dengan tatapan yang dipenuhi tanda tanya, saat melihat Tuanmudanya kembali meneteskan airmata.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Tanyanya, pelan.
Senyuman memaksa dia perlihatkan diwajah tampannya, ditengah kesedihan yang tengah dia rasakan. Menengadakan kepalanya menatap Adam, dan menyerahkan liontin itu pada sekretrisnya.
"Dimana anda menemukan liontin, milik Nyonya besar ini Tuan?" Tanya Adam, dengan raut wajah bingungnya.
"Pasti kau tidak akan percaya jika aku mengatakan ini. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Selama ini, aku selalu memintamu untuk mencari gadis itu, agar mengambil kembali liontin ini. Padahal gadis itu selama ini berada dirumahku, dan dia adalah wanita yang sangat aku cintai."
"Nona Ariana?"
"Ya. Gadis yang aku tolong ditempat hiburan itu, adalah Ariana. Arianaku." Jawabnya, dengan suara paraunya.
"Bagaimana ekpersi dari Nona, Tuan? kalau dia mengetahui lelaki yang menolongnya malam itu, adalah anda."
"Semoga saja, dia mau memaafkan aku atas kesalahan yang aku lakukan padanya, saat dia tahu akulah orang yang sudah menolongnya pada malam, saat dia nyaris diperkosa. Dan katakan padaku, informasi apa yang kau dapat tentang Ariana, Adam?"
"Saya baru saja mendapatkan informasi dari anakbuah kita, kalau Nona Ariana sudah meninggalkan kota Jakarta 1 minggu lalu. Dan dia pergi, keluar negeri. Tapi ntah kemana, itulah yang belum saya ketahui Tuan?"
Raut wajahnya berubah pucat, saaat mendengar apa yang disampaikan Adam padanya. Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, seraya mmengusap kasarnya wajahnya.
"Aku memang memintanya pergi dari kota ini, tapi aku tidak menyangkah dia akan pergi keluar negeri, Adam? dimana aku harus mencari Ariana, dan juga anakku, sementara dunia begitu luas. Dan aku tidak yakin, Rani pasti tidak mau memberitahukan dimana Araa berada saat ini, setelah apa yang kulakukan pada mantan istriku." Ucapnya, dengan kesedihan yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
__ADS_1