
kedua pasang kaki itu melangkah menuju dalam umah sakit. Langkah kaki itu terasa berat, saat kedua kakinya mengayun saat tersebesit rasa ragu, dan juga bimbang. Tapi rasa penasaran akan keadaan saudara angkatnya, terus saja menghantui diri Ariana saat semalam dia tahu kalau ternyata Clara menderita gangguan jiwa.
Melewati lorong yang cukup panjang, dimana sepanjang jalan dirinya menjumpai para penderita gangguan jiwa.
Hatinya sedikit tercubit saat melihat keadaan pasien-pasien itu, dengan pkiran terpusat kembali pada Clara yang keadaannya sama seperti mereka.
Langkah kaki itu seketika terhenti, saat dari jauh Ariana mendapati sosok yang sangat tidak asing baginya yang sedang bersama Ayah angkatnya David, Diana, dan juga Jason.
"Kenapa Nona?" Adam seketika bertanya, saat Ariana menghentikan langkah kakinya.
"Apakah itu Clara..?" Bertanya saat dari jauh tatapan mata itu mendapati seorang pasien wanita yang telah disuapi oleh Ibu angkatnya Diana.
Adam melemparkan tatapan matanya pada arah pandang Ariana, seraya menghembuskan napas berat saat melihat keadaan Clara.
"Iya Nona.. itu Nona Clara."
Sendu seketika menyelimuti wajah cantik Ariana, melihat bagaimana keadaan Clara saat ini. Dia tersenyum miris mewakili akan iba dengan keadaan Kakak angkatnya saat ini.
"Tuhan menghukumnya dengan caranya sendiri Nona.."
"Aku tidak tau, kalau keadaannya akan sampai seperti ini Adam..!"
Ketiganya yang tengah sibuk berbincang-bincang seketika tatapan mata itu teralihkan, saat Jason bersuara saat dia mendapati keberadaan Ariana disana.
"Ariana.. bukankah itu Ariana Paman.. Bibi..."
Tatapan mata pasangan suami istri itu seketika berbalik, tertuju pada arah pandang Jason yang menatap kearah lorong.
"Araa..." David bergumam pelan.
"Ariana..." Diana bergumam dengan langsung memalingkan wajahnya menatap intens pada angkatnyanya.
Berusaha untuk melukis senyum diwajah, dengan kedua kaki mengayun bersama Adam menghampiri pada mereka.
"Selamat siang Maa.. Paa.. Jason... bagaimana kabarnya?" Bertanya dengan mengukir senyum diwajah.
"Sangat baik Araa.. bagaimana kabarmu?" Jason seketika menyela dengan rona bahagia diwajah, akan kekagumannya pada sosok Ariana saat ini.
"Sangat baik. Dan juga bagaimana kabarmu?"
"Baik. Aku sudah banyak mengetahui tentangmu Araa... kau adalah wanita hebat. Aku sangat bangga padamu, masih tidak percaya kau akan menjadi perancang busana terkenal." Jason berucap dengan raut wajah bangganya.
Ariana mengukir senyum kecilnya, saat mendengar apa yang dikatakan Jason.
"Terima kasih Jason... terima kasih atas pujianmu."
"Kenapa kau tdak menelpone Papa, agar Papa menjemputmu kalau memang kau ingin kemari."
__ADS_1
"Maaf Paa.. aku juga tidak ada rencana datang kesini. Aku juga baru saja tau tentang keadaan Kak Clara tadi malam, dari Kak Rani."
"Maafkan Papa, karena tidak jujur tentang keadaan Kakakmu saat ini," David berucap dengan raut wajah sendunya.
Tatapan mata itu tak sengaja beradu dengan Diana, yang sedari tadi menatap pada Ariana dengan penampilannya yang begitu berbeda.
"Maa.. " Ariana berucap pelan dengan melemparkan senyuman kecilnya.
"Araa..." Tersenyum kecil bercampur dengan rasa bersalah yang teramat sangat dalam diri, mengingat perlakuannya dulu pada anak angkatnya.
Bagaimana kabarmu? dan terima kasiih karena sudah datang menjenguk Kakakmu," Ucapnya kemudian dengan menunduk malu.
" Tidak perlu berterima kasih Maa.. bagaimanapun Kak Clara adalah Kakakku."
Kedua mata itu sudah nampak berkaca-kaca, hingga menimbulkan kerutan yang bertambah saat airmata akan menetes.
"Maafkan Mama Araa... maafkan Mama... Mama sangat malu berhadapan denganmu saat ini. Tuhan telah menghukum kami, dengan caranya sendiri," Kata-kata itu terdengar pilu diringi oleh isak tangis yang sudah terdengar.
Ariana tersenyum kecil dengan tatapan sendu pada Ibu angkatnya itu. Melebarkan kedua tangannya, membawa Diana dalam pelukan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Maa.. aku sudah melupakan semuanya." Seraya mengusap airmata yang ikut menetes.
"Mama mendengar kau akan menikah dengan Zain. Apakah itu benar Araa..?" Dengan menarik diri saat merasa suasana hati sudah jauh lebih tenang.
"Iya Maa.. aku dan Zain akan segera menikah."
"Aku sudah melupakan semua itu Maa.. jadi tidak ada yang perlu dimaafkan."
Tatapan mata itu beralih pada Clara yang sedari seperti orang bodoh, dengan tatapan kosongnya.
"Clara terus saja seperti ini Araa.. diam, dengan tatapan kosongnya." Diana berucap tiba-tiba, saat menyadari arah pandang Ariana yang tertuju pada anaknya.
Melangkah pelan menghampiri pada Clara, seraya mensejajarkan tingginya pada Clara yang duduk disebuah kursi kayu.
"Kak Clara... ini aku Araa..." Tatapan mata itu begitu dalam, akibat iba dengan keadaan saudara angkatnya.
Tatapan mata yang sedari lurus kedepan dengan tatapan hampannya, sedikit merespone saat melihat sosok Ariana didepannya.
"Araa..." Sendu saat kedua pasang mata itu sudah berhadapan.
"Ia Kak.. ini aku Ariana. cepat sembuh yaa Ka, .Kak Clara harus semangat. Jangan bersedih karena masih ada aku, Papa, Mama, dan juga Jason yang selalu bersamamu." Airmata itu sudah terus saja mengalir, saat mengucap kalimat itu.
"Ariana..!! sepertinya Clara meresponemu." Jason berucap tiba-tiba dengan raut wajah sumringahnya.
"Semoga saja dengan kedatanganmu, bisa membuat Kakakmu cepat sembuh Araa.." David berucap dengan mengusap airmatanya.
****
__ADS_1
Detik berganti detik menuju hari, dan haripun melangkah dekat pada minggu yang menuju bulan. Hingga tidak terasa dua bulan telah terlewati.
Sejak kejadian malam itu, Ariana memutuskan untuk satu kamar dengan Zain akibat sosok hantu itu terus saja terngiang dalam ingatannya.
Kadang dia mampu membetengi diri saat Zain memberikan rayuan maut, dan juga sentuhan yang mampu membanngkitkan gairah. Tapi tak dipungkiri terkadang dirinya juga merindukan sentuhan pria yang dicintainya, hingga sesekali keduanya melewati malam penuh gairah. Dan hal itulah yang dikhawatirkan Ariana, sebab selama dua bulan terakhir ini dirinya tidak datang bulan. Apalagi perut itu semakin membesar, dari perut normalnya. Dan Ariana memutuskan untuk melakukan tes pagi ini, untuk men jawab rasa khawatir itu.
Melangkah pelan menuju kamar mandi, setelah sepuluh menit sebelumnya Ariana telah mencelupkan alat tes kehamilan kedalam airseninya yang dia tampung dalam wadah kecil.
"Kalau aku hamil, aku akan meminta sibrengsek itu untuk segera menikahiku. Baru dua bulan tidak datang bulan, tapi perutku terlihat sudah membesar." Ariana bergumam, saat jemari itu akan meraih alat tes kehamilan untuk mengetahui hasil tesnya.
Wajah pucat pasih dengan bolamata lebih membulat lebar, saat bertatapan dengan benda pipih itu.
"A..aku hamil... bagaimana aku tidak bisa menyadarinya?" Ucap Ariana dengan raut wajah tidak percayanya.
Rasa kesal seketika menyelimuti diri, dan melangkah keluar dari dalam kamar mandi.
Jemari itu menggapai pada ponselnya yang tersimpan diatas ranjang, dan menghubungi seseorang disana.
" Hallo..." Suara sapaan yang terdengar diseberang sana, saat telepone itu sudah terjawab.
"Hallo Zain.."
"Hallo Nona.. ini aku Adam. Tuan sedang mandi."
"Hallo Adam.. kapan kau dan Tuanmu akan pulang dari Jerman." Nada itu terdengar kesal saat bertanya.
"Tiga hari lagi Nona.."
"Katakan pada Tuanmu kalau dia pulang lebih lama, aku, Stefanie, dan juga Mamaku akan kembali keAmerika."
"Hallo Sayang... kenapa kau marah-marah, apakah kau sudah merindukan milikku?"
"Aku serius Zain.. kapan kau akan pulang?"
"Tiga hari lagi." Jawabnya enteng.
"Cepatlah pulang, kalau tidak aku akan pergi." Nada itu terdengar tegas saat berucap.
"Jangan begitu Sayang.. apakah kau tidak mencintaiku lagi?"
"Aku yang bertanya. Apakah kau tidak mencintaiku lagi? karena sudah hampir satu bulan kau berada diJerman, Zain?"
"Bailklah, baiklah. Besok aku akan pulang."
"Baiklah aku tunggu, awas saja jika kau berbohong." Dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.
Menghembuskan napas dalam, berusaha meredam emosi yang mengusai diri. Jemari itu menyingkap kaos yang dia yang membalut tubuh rampingnya, dengan tatapan mata menatap intens pada perutnya.
__ADS_1
"Aku baru saja tidak datang bulan dua bulan, tapi perutku sudah terlihat. Waktu hamil Stefanie saat usia kandunganku dua bulan, perutku tidak sebesar ini," Ariana bergumam dengan rasa penasarannya.