
Menyadari dirinya telah terlambat datang bulan, membuat Ariana nampak begitu bahagia. Dan dia meyakini, kalau dirinya tengah hamil.
"Kata hatiku mengatakan, kalau aku sedang hamil. Dan aku akan melakukan tesnya, pada besok pagi, agar lebih akurat."
Setelah merasakan mualnya sudah sedikit berkurang, Ariana memutuskan untuk berlalu dari kamar mandi.
Terus mengembangkan senyuman diwajahnya, dan dia terlihat begitu bahagia. Kebahagian yang yang terlihat diwajahnya itu, menarik perhatian sahabat baiknya, yaitu Bella.
"Kenapa kau terus tersenyum? apakah ada sesuatu yang membuatmu, bahagia?" Tatapan penasaran, saat mengajukan pertanyaan itu.
Membingkai senyuman diwajahnya, sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Kau tau?" Dengan sengaja menjeda kalimatnya, agar Bella penasaran.
"Apa yang tidak, kuketahui,"
"Aku memang belum melakukan tes, tapi aku punya keyakinan kalau aku sedang hamil. Dan kamu maukan, menemani aku membeli alat tesnya,"
Raut wajah Bella seketika berubah serius, saat mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu.
"Kau serius, Araa? memang kau sudah telat datang bulan, berapa bulan."
"Dua. Aku sudah tidak datang bulan, selama dua bulan."
Membekap mulutnya seolah tidak percaya, dengan apa yang dia dengar.
"Kau serius?"
"Meemm.., dan bahkan aku sangat serius." Dengan menganggukkan, kepalanya.
Bella melonjak kegirangan, saat mendengar apa yang diasampaikan sahabatnya.
"Aku yakin, kau pasti sedang berbadan dua." Dengan langsung, menggandeng sahabatnya itu, dan melangkah.
Meemm.., kalau boleh tau kalian melakukan itu, dalam seminggu berapa kali?" Bertanya dengan senyuman diwajahnya, yang membuat Ariana terlihat begitu kesal.
"Kenapa tiba-tiba, kau menanyakan hal itu?"
__ADS_1
"Hanya penasaran saja. Dan bagaimana rasanya." Dengan raut wajah terlihat semakin penasaran, saat menanyakan hal itu pada Ariana.
Ariana menghentikan langkahnya, dan dengan tatapan intens dia menatap Bella.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu? jangan bilang kau ingin, mencobanya."
"Ya nggak lah, mana mungkin aku mau mencobanya. Dan jika aku mencobanya, aku akan mencobanya hanya dengan Adam."
"Kau serius, suka sama dia, Bella?"
"Iya, aku memang menyukainya. Dan aku minta, kau meminta nomor ponselnya."
"Baiklah, akan aku usahakan. Adam itu, memang adalah pria yang baik. Tapi aku yakin dia pasti akan curiga, jika aku meminta nomor ponselnya. karena yang aku dengar, Adam tidak sembarangan memberikan nomor ponselnya, pada sembarang orang."
Raut wajahnya memelas, dan dengan tatapan memohon dia menatap Ariana. Mengatupkan kedua tanganya, agar Ariana luluh.
"Aku mohon, setidaknya lakukan sekali ini saja. Asal kau tau Ariana, selama ini belum pernah ada pria manapun, yang mengabaikan pesona seorang Bella. Tapi saat aku bertemu dengannya, dia begitu acuh padaku seolah mengagapku hanya hembusan angin yang tak terlihat. Dan dia sangat berbeda, dengan laki-laki lain. Dan membuat aku sangat tertantang, dan aku yakin, pasti dia tidak mempunyai kekasih. Iyakan?"
"Memang yang aku tau, Adam tidak mempunyai teman wanita. Tapi aku tidak yakin, kau bisa meluluhkan hatinya." Jawab Ariana, dengan keraguan yang terlihat diwajahnya.
"Kalau hanya membeli alat tes kehamilan, aku juga bisa?" Dengan mengerucutkan bibirnya, menatap kesal sahabatnya.
"Ayolah Ariana, aku mohon...?" Dengan nada, merajuk.
"Baiklah. Dan semoga saja, kau bisa meluluhkan hatinya. Dan semoga saja, aku bisa mendapatkan nomor handphone. Sebab aku punya keyakinan, dia pasti akan bertanya. Untuk apa, aku meminta nomor Hpnya."
"Tapi aku mau, kau mencobanya," Sebuah permintaan, yang terdengar menuntut dari Bella.
"Baiklah-baiklah, aku akan mencobanya." Dengan nada memelas, menatap Bella dengan tatapan memohon.
"Kau serius! terima kasih Ariana?" Dengan memeluk, teman baiknya.
KEDIAMAN MAHESA.
Melangkahkan kaki dengan langkah pelan, dan raut wajah yang terlihat tidak bersemangat. Saat tiba didalam rumah, Ariana berpasasan dengan Sophia sang kepala pelayan.
Sophia menatap intens Nonamudanya, yang terlihat begitu pucat.
__ADS_1
"Anda baik-baik saja, Nona?"
Senyuman membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang ditanyakan kepala pelayan itu.
"Aku baik-baik saja, Bibi?"
Menatap wanita muda itu, dengan senyuman kecil diwajahnya. Dan dia punya keyakinan, kalau Ariana tengah mengandung.
"Mungkinkah, Nona sedang hamil?"
"Mungkin saja, Bibi?" Dengan jawaban yang menggantung, dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Tapi seketika langkah itu terhenti, saat teringat suaminya.
"Bibi, apakah Tuanmuda sudah pulang?"
"Sudah Nona. Tuan Zain, sudah pulang daritadi. Dan sedang bersama sekretaris Adam, diruang kerjanya."
Mendengar nama Adam, Ariana seketika teringat kembali akan permintaan sahabatnya itu.
"Apakah aku harus meminta nomor ponselnya, sekarang. Tapi kalau aku minta, alasan apa yang aku katakan. Karena aku yakin, Adam pasti akan bertanya terlebih dahulu." Dengan, terlihat ragu.
Tapi aku rasa, tidak ada salahnya jika aku mencobanya." Bathin Ariana dengan melangkah, menuju ruang kerja suaminya.
Kedua laki-laki tampan itu, nampak begitu fokus saat membahas masalah pekerjaan. Dan saat sedang membahas masalah sebuah pembangunan proyek, terdengar ketukan pintu dari luar ruang kerja.
Saling menatap, seolah mengisyaratkan bertanya itu siapa.
"Siapa..?" Teriak Adam, yang bertanya dari dalam ruang kerjanya.
"Ini aku Ariana, sekretaris Adam,"
"Masuklah, Nona.."
Pintu ruangan terbuka, dan dengan langkah pelan, dan terlihat ragu, Ariana melangkahkan kaki kedalam ruang kerja suaminya. Zain terus menatap istrinya dengan tatapan intens, dan dalam dirinya begitu yakin, kalau Ariana datang untuk menemuinya.
"Kenapa? apakah kau sudah sangat merindukanku, hingga kau datang mencariku kesini." Dengan senyuman, diwajahnya.
"Tidak Sayang, kau salah. Aku datang untuk menemui sekretaris Adam, dan meminta nomor ponselnya." Jawabnya, santai.
__ADS_1