
Hembusan napasnya terdengar berat, walaupun rasa kesal menyelimuti diri Dokter itu, tapi disisi lain dia juga merasa iba pada keadaan temannya. Dan dia yakin Zain pasti sangat menyesal, dengan apa yang sudah dia lakukan pada mantan istrinya, Ariana.
"Semua sudah terjadi, dan tidak ada gunanya kau sesali. Sekarang yang harus kau lakukan adalah minta maaf padanya, agar kalian dapat kembali bersama. Apalagi tinggal beberapa bulan lagi, Ariana akan melahirkan buahati kalian."
"Tapi aku tidak yakin, dia masih berada dikota ini Jack?" Jawabnya, dengan tatapan sendu menatap pria itu
Keningnya berkerut, tatapannya seketika intens menatap sahabat baiknya itu, dengan tanda tanya.
"Maksudmu?"
Hembusan napas yang terdengar berat, seperti ada sesuatu yang tertanam didalamnya. Sekilas menatap Jack, dan kembali melemparkan tatapan kedepan, dengan tatapan penuh kehampaan.
"Aku memintanya, meninggalkan Jakarta selamanya,"
Jack begitu terkejut, seraya mengegeleng pelan kepalanya, seolah tidak percaya, saat mendengar apa yang dikatakan Zain barusan.
"Zain, Zain. Kenapa kau begitu jahat?! aku tidak menyangkah kau bisa melakukan hal pada Ariana. Disaat kau memintanya dia meninggalkan kota ini, apa kau tidak berpikir kalau dia sedang mengandung?"
Menunduk pelan, dengan rasa penyesalan yang teramat sangat, hingga kedua bolamata itu sudah berkaca-kaca, saat mengingat kembali Ariana yang sedang hamil.
"Aku terlalu sakit hati. Karena disaat itu terjadi, aku benar-benar sudah sangat mencintainya. Hingga aku melupakan kalau aku menikahinya, karena dendamku pada Clara, Jack?"
Raut wajah kecewa membingkai diwajahnya, seraya menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, menatap Zain dengan tatapan kecewa.
"Zain, Zain. Kau terlalu amat sangat menyakti, hati Ariana. Dan sebelum pergi dari kota ini, Ariana tinggal bersama siapa?"
"Selama ini, dia tinggal bersama Rani diapartemennya. Dan aku yakin, Rani pasti mengetahui dimana Ariana saat ini."
"Adam.." Panggil Jack, tiba-tiba.
"Ada apa, Dokter Jack?"
"Coba kau cari tau, Ariana masiih berada diJakarta atau tidak."
"Baiklah. Saya akan mencari tau, untuk memastikan Nona Ariana masih berada dikota ini, atau tidak." Jawab Adam, dengan berlalu dari ruangan itu.
"Terus apa yang akan kau lakukan, sekarang Zain?" Bertanya dengan tatapan terfokus kembali, pada sahabatnya.
"Aku akan menemui Rani. Dan menanyakan padanya, Ariana berada dimana sekarang. Walaupun aku tidak yakin, dia mau memberitahuku atau tidak."
"Aku juga akan menemui Rani, mungkin saja dia akan memberitahukan padaku dimana mantan istrimu. Tapi aku tidak yakin, karena seperti yang kau tau, kalau aku pernah menolak cintanya, hingga membuat dia begitu sangat membenciku," Jawab Jack, dengan tawa kecilnya.
Senyuman sinis membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan Jack barusan.
"Itulah kebodohanmu, yang sudah menolak cintanya. Padahal Rani adalah wanita yang baik, dan juga sukses. Jadi wanita seperti apa lagi, yang kau cari!"
__ADS_1
Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan tawa kecil dia kecil dia menatap Zain.
"Kaupun tau Zain, kalau aku belum berkeinginan untuk menjalin hubungan yang serius dengan wanita manapun. Apalagi melihatmu yang gagal berumah tangga saja , membuatku jadi takut. Dan juga takut diperdayai wanita, apalagi kalau wanita yang aku nikahi itu, seperti Clara mantan kekasihmu."
Zain terlihat kesal, dan dia tahu jack tengah mengejeknya. Mengambil pena yang berada didepannya, dan melemparkan pada sahabatnya, yang terus menertawakan dirinya.
"Bisakah kau tidak menertawakanku?! aku sedang bersedih, tapi ini malah kau menertawakanku. Apakah kau pikir ini, lucu Jack?" Dengan raut wajah kesal, dia menatap teman baiknya itu.
Jack berusaha meredam tawanya, saat mendapati kemarahan Zain padanya.
"Ayolah sahabat, aku hanya bercanda? tapi kenapa kau malah menanggapinya, serius begini Zain?"
"Kau bukan bercanda, tapi kau sedang mengejekku. Kau seperti orang yang berbahagia, diatas penderitaan orang lain." Ucapnya, kesal.
"Baiklah, aku minta maaf. Maafkan aku, sahabatku," Jawabnya, tersenyum.
Mencebik kesal, saat mendengar permintaan Jack. Dan mereka kembali pada, situasi yang sebenarnya.
"Zain..?" Panggil Jack, tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Tidak mungkinkan, Bibimu Celine terlibat dalam hal ini,"
"Apa maksudmu, Jack?"
"Maafkan aku sebelumnya. Tapi aku minta, kau tidak marah jika aku mengatakan ini."
Raut wajah itu semakin penasaran, saat sahabat Dokternya tak kunjung menyelesaikan, apa yang akan dia katakan.
"Katakan Jack, jangan buat aku penasaran?"
"Seperti yang kita tau, kalau Bibimu Celine, sangat tidak menyukai Ariana. Dan menginginkan,kau dapat kembali bersama Clara."
"Jadi maksudmu, dia juga terlibat dengan hal ini?" Tanya Zain mencoba untuk menebak, apa yang akan dikatakan teman baiknya itu.
"Iya maksudku, seperti itu. Tapi tidak ada salahnya, jika kau mencari tau dulu. Karena bagaimanapun, dia adalah orang yang sudah membesarkanmu, sejak kedua orangtuamu tiada."
Seketika tatapannya menerawang kedepan, larut dalam pemikirannya sendiri, memikirkan apa yang baru saja dikatakan Jack padanya.
"Mungkinkah Bibi Celine juga terlibat, dengan penjebakan ini?" Bathinnya bertanya pada diri sendiri, dengan rasa penasaran yang teramat sangat.
"Aku tau apa yang kau pikirkan. Tapi ingat jangan gegabah, karena bagaimanapun dia adalah Bibimu."
Dan kalau begitu aku permisi dulu." Dengan beranjak, dari duduknya.
__ADS_1
Ingat kabari aku kalau Ariana masih berada dikota ini, atau tidak. Biar aku akan membantumu, dengan bertemu dengan Rani, mungkin saja dia akan luluh dengan ketampananku, dan memberitahukan dimana Ariana berada."
"Yaa, ya. Pergilah. Dan terima kasih!" Jawabnya, kesal.
"Oke, oke, aku akan pergi. Dan kau orang adalah yang tidak tau, berterimah kasih teman, dan semoga saja saat kau menemukan Ariana, dia sudah menikah denga pria lain." Ucapnya tertawa, dan berlalu dari ruang kerja itu.
"Sialan kau, Jack!! pergi sana kau?!" Teriak Zain, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Setelah perginya Jack, Zain kembali larut dalam suasana kesendirian, memikirkan Ariana, dan buahatinya yang masih berada didalam kandungan Ariana.
Meraih lembaran USG, dan menatapnya dengan tatapan sendu, yang menyimpan sejuta penyesalan didalamnya.
"Papa minta maaf. Papa sudah sangat bersalah pada kau, dan Ibumu. Papa akan mencari kalian, dan berusaha mendapatkan kata maaf dari Ibumu, walaupun itu sulit, agar bisa kita dapat kembali bersama."
setelah menghabiskan waktu berjam-jam dalam ruang kerjanya, Zain memutuskan untuk pergi kekamarnya, guna beristirahat.
Melangkahkan kaki kearah tangga, menuju kamarnya yang berada dilantai 3. Tapi langkah itu seketika terhenti, saat Ani sang kepala pelayan memanggilnya.
"Tuan..?"
Berbalik, dan mendapati Ani yang tengah berjalan menghampirinya, dengan tangan kanan menggenggam sebuah tas besar.
"Ada apa, Bibi Ani? apakah kau, akan pergi?" Dengan kedua bolamata, tertuju pada tas besar itu.
Senyuman kecil membingkai diwajah tua itu, saat mendengar apa yang ditanyakan Tuanmudanya.
"Bibi tidak akan kemana-mana, Tuan? ini pakaian Nona Ariana. " Dengan memberikan tas besar itu, pada Zain.
Meraih tas dari genggaman wanita paruhbaya itu, dengan tatapan intens, dan diliputi rasa penasaran.
"Bukankah, dia sudah mengambil semua pakaiannya?"
"Maaf Tuan? sebenarnya selama ini, Bibi yang menyimpan pakaian-pakaian Nona, karena Bibi takut Tuan akan membakar atau membuangnya, jadi Bibi memutuskan untuk menyimpannya. Dan sekali lagi, Bibi minta maaf karena sudah berbohong." Jawabnya, menunduk,
Tersenyum, saat melihat raut wajah bersalah kepala pelayannya itu. Dan dalam dirinya berterima kasih, karena Ani, masih menyimpan barang-barang milik Ariana.
"Aku sama sekali tidak marah padamu. Justru aku sangat berterima kasih, karena Bibi masih menyimpan pakaian-pakaian miliknya. Dan kalau begitu, aku kekamar dulu." Pamitnya dengan kembali melanjutkan, langkahnya menaiki tangga. Dan saat kakinya baru berpijak pada barisan yang anak tangga yang kedua, Ani kembali memanggilnya, hingga membuat lagi-lagi langka itu kembali terhenti, dan tentu saja membuat Zain mengeram kesal.
"Ada apa lagi, Bibi Ani?"
"Maafkan saya Tuan, ada yang tertinggal. Dan sepertinya ini, perhiasan milik Nona Araa." Jawabnya dengan menyerahkan kota kecil berbahan bludru, i pada Tuanmudanya.
Tatapannya begitu intens, saat meraih benda berbentuk kotak itu, dan dalam dirinya sangat penasaran dengan isinya.
"Terima kasih Bibi Ani, karena kau sudah menyimpannya."
__ADS_1