
Kedua kaki jenjangnya membawa Ariana masuk kedalam restorant, didampingi sang asisten pribadi Juli. Semua pasang mata tertuju pada perancang ternama itu, saat dirinya sudah berada didalam restotant mewah itu. Sebab tidak menyangakah perancang kenamaan itu, akan menikmati santapan direstorant itu. Dan Ariana tetap menampilkan senyuman diwajahnya, saat semua tatapan mata semua tertuju padanya, sebab ini ada hal yang tabu baginya.
"Bukankah itu Nona Ariana Mahesa, perancang terkenal itu? wah tidak menyangkah, dia akan makan restorant ini juga." Bisik salahsatu dari pengunjung.
"Iya itu dia. Dan ternyata dia sangat cantik, setelah kita lihat secara langsung." Timpal yang lain pula. Dan salahsatu dari mereka, mengajaknya untuk berfoto.
"Nona Ariana..." Panggil salahsatu gadis muda, yang menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa..?" Dengan tetap menampilkan senyuman diwajahnya.
"Aku ingin berfoto dengan anda. Apakah boleh Nona?
"Tentu saja boleh. Kenapa tidak." Dengan senyuman, dan bersikap ramah.
"Terima kasih Nona? anda ternyata bukan hanya cantik, tapi juga sangat baik." Gadis muda itu tersenyum, dan kembali melangkahkan kaki menuju mejanya setelah selesai berselfi bersama Ariana.
Ariana, dan Juli kembali melanjutkan langkah kaki mereka bersama seorang pelayan restorant, yang akan mengantar mereka berdua ketempat dimanaLoard telah menunggu.
"Silahkan masuk Nona.." Waiters itu mempersilahkan Ariana dan Juli untuk masuk, saat pintu ruangan telah terbuka lebar.
"Terima kasih." Dengan kedua kaki melangkah masuk bersama Juli. Senyuman terus mengembang diwajah cantik Ariana, saat bertatap muka dengan rekan bisnisnya. Dan dia sama sekali tidak menyadari adanya Zain sang mantan suami, sebab tatapan matanya hanya terfokus pada Loard Davidson saat melangkah.
"Selamat malam Tuan Load, maaf kami sedikit terlambat. Kenalkan aku Ariana, Ariana Mahesa." Dia mengulurkan tangannya, pada pengusaha asing itu.
Loard nampak terpesona dengan kecantikan seorang Ariana Mahesa, dan dia tidak menyangkah ternyata Ariana begitu cantik jika dilihat langsung, dan hal itu tentu tak luput dari tatapan Zain yang begitu terkejut dengan kehadiran wanita yang selama ini dia cari.
"Tidak masalah Nona? dan kenalkan aku Loard, Loard Davidson. Dan senang bisa berkenalan dengan anda." Dengan tatapan yang begitu dalam, seraya melabuhkan kecupan singkat pada punggung tangan Ariana.
Ariana hanya menyimpulkan senyum kecil diwajahnya, dengan sikap Loard padanya. Tanpa sengaja tatapannya beralih kearah lain, dan betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati keberadaan kedua pria yang sangat tidak asing baginya. Apalagi melihat juga adanya Zain, mantan suaminya, membuatnya bertanya dalam hati, ada hubungan apa, antara Zain dengan Loard Davidson.
"Apakah mereka berdua, tengah menjalin kerjasama, hingga Zain berada disini," Arina membathin dengan tetap bersikap tenang, dan tetap menampilkan senyum diwajahnya pada Zain, dan Adam yang tengah menatapnya tanpa berkedip.
Dan kecupan yang diberikan Loard pada mantan istrinya itu, tentu tak luput dari tatapan pengusaha tampan itu. Apalagi melihat bagaimana cara pandang ayah dari kekasihnya pada Ariana, dan sikap mantan istrinya yang nampak tenang, membuat Zain begitu dibakar api cemburunya.
Dan hal itu tak luput dari pandangan sekretarisnya, Adam.
"Tuan, tahan emosi anda. Jangan gegabah dalam bertindak. Apalagi ada Nona Cintya adalah kekasih anda sekarang." Adam memperingatkan Tuanmudanya, melihat raut wajah memerah Bosnya.
Berusaha tetap tenang, walaupun itu sangat sulit baginya. Apalagi selama bertahun-tahun lamanya, Zain berusaha mencari keberadaan mantan istrinya itu.
"Jadi selama ini Ariana tinggal diAmerika. Dan melanjutkan studinya disana. Dan bagaimana putriku, apakah dia juga membawanya?" Zain membathin dengan tatapan tak berkedip, pada manta istrinya.
"Nona Ariana, kenalkan ini Cintya putriku. Dan pria disebelahnya ini, adalah kekasihnya Zain Pratama. Dan pria disebelahnya ini adalah Adam sekretarisnya." Loard berucap memperkenalkan ketiga orang dewasa itu, pada rekan bisnisnya.
__ADS_1
Ariana sangat terkejut, saat mengetahui kalau mantan suaminya, adalah kekasih dari putri semata wayang rekan bisnisnya. Tak bisa dipungkiri terselip rasa kecewa disana, saat mantan suaminya ternyata sudah melabukan hatinya pada wanita lain. Tapi dia tetap berusaha untuk bersikap profesional, dan menunjukkan kalau dia baik-baik saja didepan Zain.
Cintya segera mengulurkan tangannya pada Ariana, sebab dia begitu mengidolakan seorang Ariana Mahesa.
"Kenalkan Nona Ariana, aku cintya. Dan aku sangat menyukai rancangan-rancangan anda, dan juga begitu mengidolakan anda selama ini. Terima kasih, karena sudah memenuhi ajakan makan malam Papaku."
"Aku Ariana Mahesa. Dan terima kasih karena sudah menyukai hasil-hasil rancanganku Nona cintya?" Ariana berucap, saat membalas uluran tangan gadis itu.
Tatapannya beralih pada Zain, yang berada disamping kekasihnya. Dengan senyuman diwajahnya, Ariana mengulurkan tangan pada Zain untuk berkenalan seolah berdua adalah orang asing yang tidak saling kenal.
"Salam kenal Tuan...? kenalkan aku Ariana, Ariana Mahesa."
Zain diam tak bergeming, sebab sangat sulit menjabarkan bagaimana suasana hatinya saat ini. Dan pertemuannya dengan Ariana setelah sekian tahun, membuatnya seperti hilang akal, apalagi Ariana mengagapnya hanya orang asing. Hingga timbul rasa cemburu pada diri Cintya, saat tatapan kekasihnya tak berkedip sedikit pun pada perancang ternama itu.
"Sayang.. kenapa kau diam saja? jangan katakan, kalau menyukai Nona Ariana?" Dengan berbisik pelan pada telinga kekasihnya.
Sedikit terkejut, saat beberapa detik dia larut dalam dunianya karena keberadaan mantan istrinya. Dan mendapati sikap Ariana yang nampak tenang, saat bertatap muka dengannya membuat hati pria itu sangat sedih, apalagi Ariana tak menampilkan raut wajah cemburu sedikitpun pada Cintya terus menempel pada dirinya.
"Apakah dia sudah benar-benar melupakan aku? bahkan dia bersikap biasa saja saat melihatku disini, dan juga saat Cintya bersikap mesrah padaku, sepertinya dia tidak cemburu sama sekali. Dan bersikap seperti tidak mengenalku sama sekali." Zain membathin dengan kepedihan dihatinya.
"Senang berkenalan denganmu Nona, kenalkan aku Zain. Zain Pratama." Dengan membalas uluran tangan Ariana, tapi genggaman tangan itu terasa begitu kuat, seolah tidak ingin melepaskan lagi karena kerinduan pada mantan istrinya itu.
Menyimpulkan senyuman diwajah cantiknya, dan berucap. Dan hatinya sedikit tercubit, saat harus bersikap seperti orang asing pada pria yang masih dia cintai itu.
Dan beralih pada Adam, dan diapun melakukan hal sama.
Ariana melabuhkan tubuhnya, pada sebuah kursi kosong. Dan tetap bersikap profesional, pada tujuannya yang akan menjalin kerjasama dengan pengusaha Loard Davidson, tanpa terpengaruh akan kemesraan mantan suami, dan juga Cintya. Tatapannya beralih pada Juli, yang berada disampingnya.
"Juli..." Panggilnya pelan.
"Iya Nona.."
"Berikan desain-desainnya."
Juli segera memberikan sebuah buku panjang, pada Ariana.
"Ini Nona..."
Ariana meraih buku panjang dari tangan asisten pribadinya itu, dan meletakkan diatas meja.
"Ini Tuan Loard, hasil desain-desain saya yang anda minta. Dan tunjukkan mana yang menarik perhatian anda. Biar saya akan meminta asisten saya Juli, untuk mengantarkan pada anda." Ariana berucap, seraya membalikkan lembaran buku panjang itu pada Loard Davidson.
Tatapan Zain menatap Ariana, dengan tatapan tak berkedip sedikitpun. Dan dia tidak menyangkah mantan istrinya itu, akan betransformasi menjadi wanita hebat seperti sekarang. Hingga panggilan dari Loard Davidson, mengejutkan dirinya.
__ADS_1
"Nak Zain.. menurutmu desain mana yang cocok dipakai oleh model, yang akan mempromosikan produk dari perusahaanku." Dengan menggeserkan buku panjang itu pada Zain.
Tangan kekarnya meraih buku panjang itu, dan menatapnya dengan intens bersama Adam yang ikut melemparkan tatapannya pada buku itu.
"Sangat luar biasa hasil-hasil rancanggannya. Pantas saja, Tuan Loard rella mengeluarkan banyak uang, hanya untuk memakai jasa Ariana. Sebab memang desain-desainnya sangat bagus." Zain membathin, sebab begitu mengagumi karya-karya mantan istrinya itu.
"Nona Ariana sangat hebat Tuan.. pantas saja Tuan Loard rella mengeluarkan banyak uang hanya untuk memakai jasanya. Dan sepertinya Tuan Loard juga, menyimpan ketertarikan pada mantan istri anda." Ada berbisik pelan pada telinga Tuanmudanya.
"Itu tidak akan pernah kubiarkan." Dengan nada penuh penekanan, yang terselip rasa tidak suka didalamnya.
"Bagaimana Tuan Zain? apakah anda tertarik dengan hasil rancangan saya?" Ariana tetap menampilkan senyuman diwajahnya, saat kalimat itu terlontar pada pria itu.
"Semuanya sangat bagus. Tapi yang sangat menarik perhatian saya adalah desain yang ini." Dengan tatapan begitu dalam, pada Ariana yang tengah tersenyum padanya.
Loard kembali meraih buku itu, dan dia nampak menimang akan usul dari Zain Pratama. Manggut-manggut, dan berucap.
"Iya menurutku ini sangat bagus, dan aku menyukai yang ini. Seperti yang dikatakan Zain tadi, Nona?"
"Terima kasih. Nanti saya akan meminta Juli, asisten saya untuk mengantarkan pada anda."
Lord tersenyum kecil, seraya menatap Ariana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apakah bisa, aku meminta waktu anda untuk makan malam lagi Nona? anda bisa membawa hasil rancangan yang saya minta, pada makan malam kita nanti."
Ariana menyimpulkan senyum diwajahnya, mendengar ajakan dari Loard Davidson.
"Tentu saja boleh Tuan? tapi untuk beberapa hari kedepan ini, kita belum bisa bertemu. Sebab saya harus menghadiri pergelaran busana, dan ada wawancara dengan beberapa stasiun televisi. Jadi bisakah anda bersabar?"
"Tentu bisa Nona? kenapa tidak. Dan apa yang tidak bisa, untuk wanita cantik seperti anda." Senyuman kecil, dan tatapan begitu dalam pada Ariana.
Zain begitu meradang, melihat pemandangan itu. Hatinya sangat terbakar api cemburu saat ini, melihat keakraban Ariana, dan Loard Davidson.
"Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Kita lihat saja nanti, cepat atau lambat Ariana pasti akan kembali dalam pelukanku. Bukan Zain Pratama namanya, kalau tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau." Membathin dengan seringai diwajahnya, dengan kepalan tangan yang begitu membungkus menyalurkan emosi dalam dirinya.
Zain Pratama.
Ariana Mahesa.
Stefanie.
__ADS_1