
Burung-burung telah berkicauan, saat mentari pagi telah memancarkan sinarnya. Tirai transparant yang mengelatung terus saja bertebangan, saat hembusan angin meniupnya dengan sengaja. Mata itu berusaha untuk menghalau cahaya, ketika mentari sedikit memberi senyumnya pada wajah yang masih berada diatas bantal.
Sepasang mata yang tadi rapat perlahan mulai terbuka, saat cahaya sang surya mengenai wajah yang terbaring dengan polos itu. Dengan tatapan mata yang masih tertuju pada langit- langit kamar tangannya menjangkau disebelahnya, dan kepala itu seketika langsung berpaling, saat tidak mendapati Zain disana.
Hembusan napas berat, mewakili kejengkelannya pada calon suaminya itu.
"Semalam dia mengatakan hanya akan sekali. Tapi nyatanya justru sampai tiga kali." Ariana bergumam dengan menarik selimut, saat lembaran kain panas itu sedikit melorot.
Kedua tangan yang akan menyimpulkan dasi seketika terhenti, saat mengingat adanya Ariana disini. Dan mengayunkan kedua kaki itu, guna menghampiri Ariana.
"Bukankah ini tugas istriku? yaa dia adalah istriku, walaupun kami belum menikah." Dia bergumam sendiri, saat kedua kaki itu membawanya pada Ariana.
Kau sudah bangun Sayang..?" Zain bertanya tiba-tiba, yang seketika mengalihkan tatapan Ariana.
"Aku ingin besok, atau dua hari lagi kita berdua harus sudah menikah." Nada itu terdengar tegas, dengan raut wajah kesalnya yang dia lemparkan pada pengusaha kaya itu.
Kening itu berkerut, dengan tatapan heran pada Ariana.
"Besok? dua hari lagi..?" Kalimat itu terdengar seperti bertanya.
"Iya Zain.. saat kau menjebakku dengan obat perangsang itu, kita melakukan mungkin sekitar lima kali. Dan sekarang tiga kali lagi. Berarti sudah delapan kali kita melakukan hal itu."
"Terus memang salah, kalau kita melakukan hal itu?" Zain terlihat santai, dan juga tenang menghadapi Ariana yang terlihat emosi.
"Tentu saja salah Zain.. bagaimana kalau aku hamil. Apakah kau tidak berpikir sampai kearah itu?'
"Memang salah.. bukankah kau adalah istriku.."
"Bukan Zain, aku adalah calon istrimu, bukan istrimu." Ariana menegaskan kalimat itu.
Menyimpulkan senyuman sinis, saat mendengar ucapan Ariana yang mengandung arti tidak suka.
"Tapi bagiku, kau itu adalah istriku. Dan bagus kalau kau hamil, berarti waktu tidurku yang berkurang ini tidak sia-sia."
"Zain...." Ariana mulai terlihat merajuk pada Zain, yang tidak menampkkan sedikit rasa cemasnya.
"Ayolah Sayang.. jangan khawatir, bagaimanapun kita pasti akan tetap menikah."
"Tapi Zain.. aku takut kalau aku sampai hamil, bukankah itu sungguh memalukan?"
"Kau tau Araa.. hari ini aku akan mulai mempersiapkan pernikahan kita. Dan aku ingin menggelar pesta pernikahan kita semegah mungkin. Agar semua orang tau, kalau Ariana Mahesa itu adalah milik Zain Pratama. Bukan milik siLoard tua bangka itu, ataupun sibrengsek Rian Admaja. Jadi aku ingin menggelar pesta pernikahan kita semegah mungkin. Dan aku ingin awal bulan depan kita keParis."
"Untuk apa kita keParis Zain?"
" Untuk melalukan foto preweding, dan juga membuat bayi." Dia berkata dengan senyuman.
__ADS_1
"Aku tidak butuh semua itu Zain.. bagiku intinya kita berdua sah sebagai suami istri. Baik dimata hukum, maupun Tuhan. Bagiku itu saja sudah cukup."
"Sudalah jangan banyak bicara lagi. Sekarang pasangkan dasiku. Dan setelah ini tidurlah, aku yakin kau pasti masih lelah karena kegiatan kita semalam."
Memutar bolamatanya malas, dengan wajah kesal yang Ariana lukiskan pada lelaki tampan itu.
"Kau sangat menyebalkan. Dan kemariah biar aku pasang dasinya." Ucap Ariana dengan mulai menyimpulkan dasi berwarna marun, pada lingkaran kra baju Zain.
Sudah Zain.. dan sekarang kau terlihat sangat tampan." Ariana berbicara dengan wajah kesalnya.
Zain melukis senyum diwajah tampan itu, dan melabukan kecupan singkat pada bibir Ariana.
"Aku mencintaimu Ariana.. dan semalam kau sangat seksi. Dan aku sangat menyukai itu." Ucapnya dengan tertawa, saat tatapan mata itu menatap pada dada Ariana yang sedikit terekspos.
"Zain......" Teriak Ariana dengan wajah geramnya, pada Zain yang tengah mengayun langkah kaki keluar dari kamar, dengan terus tertawa.
"Da...da... istriku..."
Kedua kaki itu melangkah melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawa rumahnya.
Saat kedua kakinya sudah berpijak pada lantai dua, Zain mendapati pintu kamar Bibinya setengah terbuka, dan memutuskan untuk menghampiri.
Wajah itu menatap kedalam dari balik pintu, dan mendapati putri kecilnya hanya seorang diri yang sedang bermain boneka.
"Hallo putri Daddy..." Zain menyapa dengan senyuman kecil diwajah tampan itu, saat sudah berada didalam kamar.
"Daddy...." Dengan berlari kecil menghampiri pada Zain.
"Kau sendirian?"
"Yaa Daddy?"
"Dimana Omamu?"
"Oma Celine sedang mengambil sarapan pagiku," Jawabnya dengan jemari memainkan anak rambut bonekanya.
Menyeringai diwajah tampannya, saat teringat untuk memanfaatkan putrinya.
"Stefanie.. " Panggilnya pelan.
"Ada apa Daddy?"
"Apakah kau ingin memiliki adik bayi?"
Raut wajah mungil itu seketika berubah serius, saat mendengarkan apa yang ditanyakan ayahnya.
__ADS_1
"Adik bayi?"
"Tentu saja Sayang.. apakah kau tidak ingin memiliki seorang adik?"
Dia nampak menimang, dan kemudian berbicara dengan wajah antusiasnya.
"Tentu saja aku sangat mau Daddy.. kau tau Daddy, aku selalu saja bermain boneka seorang diri."
Zain seketika berpiura-pura menampilkan wajah sedihnya, saat mendengarkan apa yang dikatakan anak perempuannya.
"Kasian sekali putri Daddy, Daddy tidak tau kalau putri Daddy ini ternyata selalu merasa kesepian."
"Tentu saja Daddy, jadi aku sangat mengharapkan adik bayi."
"Apakah kau mau bekerja sama dengan Daddy?"
"Bekerja sama?"
"Tentu saja Sayang.."
"Bekerja sama apa Daddy?"
"Daddy sangat ingin kau segera memiliki adik bayi. Tapi untuk mendapatkan adikbayi, butuh kerjasama antara Daddy dan Mommymu."
"Jadi apa yang harus aku lakukan Daddy?" Kedua mata itu semakin saja menunjukkan rasa penasarannya.
"Mulai sekarang kau harus meminta Mommy untuk tidur dengan Daddy. Agar adiik bayimu cepat ada."
"Apakah aku juga boleh tidur bersama kalian Daddy? agar aku juga bisa melihat kalian membuat adikbayi."
Raut wajah Zain seketika berubah pias, saat mendengarkan apa yang dipinta anaknya. Dan dengan cepat dia mengatakan tidak pada putrinya itu.
"Tidak.. tidak... tidak Stefanie.. kau tidak boleh ikut. Karena ini hanya Mommy, dan Daddy saja." Dia sedikit mempertegas ucapannya, agar boca yang sebentar lagi akan berusia enam tahun itu mengerti.
"Baik Daddy.. aku akan meminta Mommy tidur denganmu. Tapi dengan satu syarat, kau dan Mommy harus memberiku lima adik bayi."
"Yang benar saja Stefanie.. mana bisa sekaligus sampai lima, nantimu Mommymu akan berkata kalau dia bukan kucing."
"Bagaimana kalau setiap tahun satu Daddy? biar dalam lima tahun, aku sudah mempunyai lima adik."
"Baiklah.... tapi jadwal tidur Daddy, dan Mommymu akan berkurang kalau harus setiap tahun harus memberimu adik. Tapi tidak apa-apa, asalkan kau ingat kerjasama kita tadi. Kau harus meminta Mommy tidur dengan Daddy. Kau mengerti??"
"Siap Daddy.. demi lima adkbayi." Stefanie berkata dengan nada berapi-api.
"Ya.. demi lima adikbayi. Dan kalau begitu Daddy berangkat dulu." Dengan melabukan kecupan singkat pada pipi putrinya, dan melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1
"Bya... bye... Daddy..." Stefanie berkata dengan wajah sumringah, saat mengingat lima orang adik yang akan diberi ayah, dan Ibunya.