Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kecemasan Clara.


__ADS_3

Clara terlihat tidak bersemangat, saat membuka pintu kamarnya, dan Celine. Pintu terbuka, dan mendapati Celine yang sudah menunggunya daritadi, dengan raut wajah yang terlihat sedikit resah.


"Bagaimana, apakah Zain menerima minuman yang kau buat?" Tatapan penasaran, menatap Clara.


Menatap wajah Celine, dengan tatapan yang tidak bersemangat, seraya menghembuskann napas yang terasa berat, karena kecewa.


"Sama saja, Bibi? dan aku yakin, Zain pasti sudah jatuhcinta pada anak pungut itu, walaupun dia belum mengungkapkan secara langsung pada Araina." Dengan memaksakan diri untuk tersenyum, dibalik rasa kecewanya.


"Bersabarlah. Cepat, atau lambat dia pasti akan menerimamu kembali."


"Baik Bibi, aku akan mencoba untuk bersabar." Dengan nada, yang terdengar berat.


Mentari perlahan tengah menampakkan wajahnya, setelah kegelapan menghilang secara sempurna dari muka bumi.


Zain kini sudah terlihat gagah, dengan pakaian kasual yang membalut tubuh seksinya.


Menuruni anak tangga, dan mendapati Clara, dan Bibinya Celine tangah menikmati sarapan paginya.


"Kau sudah bangun, anakku? ayolah kemari, Bibi sudah menyiapkan roti bakar kesukaanmu." Dengan bangun dari duduknya, menghampiri laki-laki tampan itu


"Selamat pagi, Tuan?" Sapa Adam, yang baru saja datang.


"Pagi, Adam. Apakah kau sudah mencari bantuan, untuk mencari istriku?"


"Sudah Tuan, dan mereka sedang menunggu kita diluar."


"Baiklah, ayo kita pergi."


"Tapi Zain? makanlah sedikit saja, Bibi mohon?" Dengan tatapan penuh harap, menatap wajah keponakannya.


"Maaf Bibi, tapi aku harus segera pergi." Dengan melepaskan genggaman tangan Celine, dan berlalu bersama Adam dari dalam vila itu.


Celine terlihat begitu kesal, begitupun juga dengan Clara yang tengah menikmati sarapan paginya.


"Kau lihat Bibi, benarkan yang kukatakan, kalau Zain sudah jatuhcinta pada anak pungut itu?!" Berkata dengan raut wajah yang terlihat memerah, akibat rasa kesal yang teramat sangat.


"Kau harus banyak bersabar Clara, Bibi yakin cepat, atau lambat dia pasti akan kembali dalam pelukanmu."


"Baiklah..?" Jawabnya, dengan nada memelas.

__ADS_1


****


Zain bersama para rombongan terus menyusuri hutan, guna mencari keberadaan Ariana. Tapi seperti hari sebelumnya, hasilnya tetap nihil, Ariana tetap saja tidak ditemukan juga.


"Maaf Tuan, kami sudah menyusuri hutan. Tapi kami tetap tidak menemukan, keberadaan istri anda dimanapun."


"Iya, Tuan. Mungkin saja istri anda sudah dimakan binatang buas. Karena disini banyak binatang buas, yang berkeliaran Tuan?" Timpal, yang lainnya.


Raut wajah Zain seketika berubah memerah, sebab dia sama sekali tidak terima dengan apa yang dikatakan, oleh anggota rombongan itu.


"Apa kau bilang?! istriku sudah dimakan, binatang buas?" Dengan kemarahan, yang teramat sangat.


"I..iya, Tuan." Jawab laki-laki itu gugup, karena takut.


Senyuman sinis membingkai diwajahnya, dan dia meyakini kalau Ariana masih hidup.


"Aku yakin, istriku masih hidup. Araa...?" Teriaknya yang begitu menggema, karena frustasi memikirkan Ariana yang belum juga ditemukan.


Adam menghampiri Tuanmudanya, yang terlihat begitu frustasi.


"Tuan, aku mohon tenanglah. Tenanglah, Tuan?" Bujuk Adam, pada Tuanmudanya.


"Bagaimana aku bisa tenang, Adam? istriku hilang dihutan. Bagaimana kalau betul, dia sudah dimakan binatang buas."


Menghembuskan napas dalam, berusaha mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Tuanmudanya.


"Aku yakin, Nona Ariana akan baik-baik saja, Tuan? dan kita akan melanjutkan pencarianya besok pagi."


Menghembuskan napas dalam, berusaha mengiyakan ajakan sekretrisnya, walapun hatinya sesunguhnya sangatlah berat.


"Baiklah, ayo kita pulang." Jawabnya dengan melangkahkan kaki meninggalkan hutan itu, bersama para rombongan.


****


Clara, dan Celine terlihat begitu gelisah, saat berada diruang tamu. Apalagi Clara, kegelisahan lebih menyelimuti dirinya, karena dialah yang sudah menyingkirkan Ariana.


Berjalan kesana-kemari, dan sesekali dia melemparkan tatapan matanya kearah luar.


"Bibi, bagaimana kalau mereka menemukan keberadaan Araa?"

__ADS_1


Menghembuskan napas, seraya menatap Clara yang tengah menatapnya dengan tatapan gelisah.


"kau begitu bodoh, bagaimana kau bisa tega membunuhnya. Berdoa saja, semoga mereka tidak menemukan dia."


Duduk disamping Celine, dengan kecemasan yang masih menyelimuti diri.


"Semoga saja, mereka tidak menemukan anak pembawa sial itu, karena aku tidak mau masuk penjara."


Saat sedang larut dalam lamunan masing-masing, mereka dikejutkan dengan kedatangan Zain, dan juga Adam.


Bangun dari duduknya, dengan segera Celine menghampiri keponakannnya itu.


"Bagaimana Zain? apakah istrimu sudah ditemukan?" Bertanya dengan raut wajah yang berpura-pura khawatir, agar aktingnya terlihat sempurna.


Menghembuskan napas, dengan raut wajah yang terlihat sendu, yang menyimpan kesedihan yang termat sangat.


"Belum, Bibi? Araa belum ditemukan. Besok baru kami akan melanjutkan, pencariannya."


Celine terlihat begitu bahagia, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan didepan keponakannya.


"Bibi turut bersedih, Zain? semoga saja dimanapun dia berada, Tuhan selalu melindungi menantuku."


"Terima kasih, Bibi? doakan agar Ariana, baik-baik saja." Jawabnya dengan mencoba untuk tersenyum, ditengah kegundahan hatinya.


Clara seketika menangis, saat mendengar kalau adik angkatnya tidak ditemukan.


"Zain? aku mohon, temukan Araa adikku, tolong cari dia Zain? aku sangat menyesal karena selama ini, selalu menyakitinya, aku menyesal Zain..?" Ucap Clara yang terlihat begitu terguncang, dengan hilangnya Ariana.


Menghampiri gadis itu, berusaha menenangkannya.


"Tenanglah, aku pasti bisa menemukan adikmu."


Langsung memeluk Zain dengan erat, dan menumpakan semua tangisannya.


"Aku mohon, padamu Zain? temukan adikku, Ariana? temukan dia..?" Dengan terus menangis, dalam pelukan Zain.


Adam menghembuskan napas, berusaha menahan rasa kesal pada dirinya. Sebab dia sangat mengetahui, bagaimana bencinya Clara, pada adik angkatnya.


"Dia benar-benar ular, berwajah manusia. Bukankah selama ini, dia sudah berusaha merebut kembali Tuan Zain, dan aku yakin dia pasti senang karena Nona Ariana tidak ditemukan." Bathinya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.

__ADS_1


__ADS_2