
Membuka pintu kamar, dan menemukan kesunyian disana. Terus melangkahkan kaki kearah balkon, dan menatap keindahan alam yang begitu mempesona diwaktu senja.
Tatapan matanya mengedar kesegalah arah, dan berhenti disebuah taman yang indah, berada tepat dibawa balkon kamar.
"Kau begitu mencintai kakakku, Tuan? hingga kau membuat taman seindah ini untuknya. Tapi kenapa kau membuat aku terjebak, dalam pernikahan ini? kalau kau masih mencintainya? kenapa tidak menceraikanku, saja?!" Gumamnya, dengan senyuman kecil, yang mewakili kegundahan hatinya.
Araa terus tenggelam dalam lamunannya, hingga suara dari Zain memecahkan lamunan wanita itu.
"Mau sampai kapan kau berdiam disitu, Culun? bahkan kau tidak menyambut kedatangan suamimum, saat pulang kantor."
Membalikkan badan, dan mendapati keberadaan suaminya disana. Terus menatap wajah tampan itu, yang berada tepat dibawah pancaran cahaya lampu. Pancaran cahaya yang mengenai wajahnya, semakin menamba pesona seorang Zain Pratama. Hembusan angin sedikit kencang, menerbangkan setiap helaian rambut sang pemilik, hingga membuat mata yang dari tadi terus menatap tak sanggup berpaling.
"Kenapa kau menatapku, seperti itu? apakah kau baru menyadari kalau aku ini, sangat tampan," Dengan menyunggingkan senyuman, disudut bibirnya.
Terjaga dari lamunannya, dengan raut wajah yang sedikit merona, dan Ariana merasa sangat malu dengan kelakuannya sendiri.
"Sejak kapan kau datang, Sayang? apakah kau membutuhkan sesuatu? aku akan menyiapkannya, sekarang." Bertanya untuk menghilangkan rasa gugup, yang mendera.
Dengan menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, dia menghampiri Ariana, dan saat mendekat Zain langsung membenamkan Ariana dalam pelukannya.
Menatap delam wajah istrinya, dan tatapan yang begitu menggoda. Perlahan jemarinya bergerak liar diwajah Ariana, dan berhennti dibibir yang serasa sudah seperti candu buatnya.
"Aku memang selalu membutuhkan sesuatu, terutama kehangatanmu, Ariana?" Dengan mengecup singkat, bibir merah itu. Kecupan singkat itu, membuatnya bagai terhipnotis, hingga lidanyapun terasa keluh, saat akan berbicara.
"Kenapa kau menatapku, seperti itu?" Dengan senyuman diwajahnya.
Aku tau, kaupun menikmatinya. Pergilah?! siapkan aku airmandi, dan bawakan makan malam kekamar." Titahnya dengan melepaskan pelukannnya pada Araa, dan berjalan kearah pinggiran balkon, menikmati keindahan taman dimalam hari.
"Malam, yang indah..?" Gumamnya, dengan menghembuskan napas dalam, menghirup udara dimalam hari.
Ariana hanya tersenyum kecil, saat melihat raut wajah bahagia suaminya. Dan dalam dirinya meyakini, yang membuat Zain bahagia, adalah Clara. "( Setidaknya, lepaskan aku jika kau masih mencintainya. Jangan buat aku, terjebak dengan pernikahan seperti ini.)" Bathinnya, dengan berlalu kekamar mandi.
Setelah menyiapkan airmandi buat suaminya, Ariana segera berlalu menuju lantai bawa, untuk mengambil makan malam buat suaminya.
Saat melewati ruang tenga, dia sedikit terkejut ketika mendapati keberadaan Kakaknya Clara dirumah itu, tapi sebisa mungkin wanita itu tetap bersikap normal seolah tidak terjadi apapun.
"Kau tau Bibi? tadi aku sangat lama diperusahaan. Dan saat aku akan pulang, Zain mencegahku, mungkin dia ingin aku bersamanya seharian." Ucap Clara, dengan nada yang terdengar sedikit keras, agar Ariana mendengarnya.
__ADS_1
"Benarkah? Bibi turut bahagia untukmu, Clara? dan Bibi yakin, sebentar lagi ada yang akan diusir dari rumah ini." Jawabnya, tersenyum.
Ariana hanya terdiam, dan seolah tidak mendengarkan apapun. karena dia sangat tau, semua ucapan itu ditujukan untuknya.
"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Ani, yang melihat wajah Ariana tampak murung.
Tersenyum lembut, menatap wanita paruhbaya itu.
"Aku baik-baik saja, Bibi? dan kau tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Apa yang anda butuhkan, Nona?"
"Aku akan mengambil makan malam untuk Tuan, Bibi? karena dia akan makan malam dikamar."
"Nona kembalilah, kekamar. Biar Bibi, yang akan membawanya."
"Baiklah..?" Jawabnya, dengan berlalu pergi.
Ariana kembali melangkahkan kaki, menuju arah tangga. Dan saat melewati kedua wanita beda usia itu, Celine tiba-tiba berbicara yang membuat langka kakinya terhenti.
"Katakan pada Zain, kalau aku, dan Clara menunggunya untuk makan malam."
"Suamiku, akan makan malam dikamar, Bibi? jadi jika kau ingin memintanya untuk makan malam bersama kalian, kau katakan saja langsung padanya."
"Kau sangat berani padaku, Ariana?! memang siapa dirimu?!" Seru Celine, dengan raut wajah yang begitu memerah.
Clara menyunggingkan senyuman sinis dibibirnya, saat mendengar Ariana menyebut Zain, dengan suamiku.
"Kalimatmu sangat manis, Ariana?! suamiku." Dengan tawa, kecilnya.
Asal kau tau, siang tadi aku menghabiskan waktu yang lama bersama Zain diperusahaan, dan dia begitu memanjakanku hari ini. Dan aku yakin, sebentar lagi kau akan diusir dari rumah ini." Ucapnya, tersenyum.
"Maaf, aku tidak punya waktu untuk membahas soal itu. Sebab, aku harus segera kembali kekamar." Jawab Ariana, dengan berlalu begitu saja.
Raut wajah Clara seketika memerah, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ariana, yang tampak tidak terpengaruh dengan kata-katanya.
"Aku ingin segera menyingkirkan dia Bibi, apa dia tidak menyadari kalau Zain tidak mencintainya." Ucapnya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Kau tenanglah, cepat atau lambat Zain pasti menceraikannya."
****
Menghembuskan napas kasar, yang terasa sesak didadanya, saat meraih gagang pintu. Membuka lebar daun pintu, dan mencari keberadaan suaminya.
"Sayang..? Sayang...?"
Dimana dia? dikamar mandi, tidak ada." Bertanya pada diri sendiri, dengan terus melangkahkan kaki.
"Sayang, dimana kau..?" Bertanya, dengan sedikit berteriak.
"Aku disini, Culun? apakah kau lupa, kalau ada ruang ganti dikamar ini."
Tersenyum, dan merutuki kebodohannya sendiri yang melupakan ada ruang ganti dikamar itu.
Membuka pintu, dan mendapati Zain tampak sibuk memindahkan pakaiannya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"Bertanya, dengan menghampiri laki-laki tampan itu.
"Kau lihat, sedang apa aku sekarang?!" Dengan memindahkan pakaian Ariana, kedalam lemari.
"Memindahkan, pakaian?"
"Terus, kenapa kau masih bertanya, bodoh?!"
"Tidak Sayang, aku tau kau sedang memindahkan pakaian. Tapi kenapa, bukankah lemari pakaianku yang disana?" Jawab Ariana, dengan menatap lemari kecil miliknya.
"Karena lemari kecil itu, aku akan segera buang. Hanya merusak pemandangan saja, dan mulai sekarang pakaianmu akan simpan disini."
Senyuman kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Mendapatkan sedikit perhatian dari Zain, ada sedikit kebahagian dihati wanita itu. Tapi seketika senyuman itu pudar, saat teringat kembali akan kehadiran Clara dirumah.
"Sayang? Kakakku Clara, sedang berada dirumah ini. Dan Bibi memintaku, untuk menyampaikaan padamu, kalau Bibi menunggumu untuk makan malam."
"Akukan sudah bilang padamu, bodoh?! kalau aku, akan makan malam dikamar, dan katakan pada pelayan, untuk membawa punyamu juga."
"Jadi kau akan tetap makan malam, dikamar Sayang?" Tanya Ariana, memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja, bukankah aku sudah bilang padamu akan makan malam dikamar?!"