
Senyum menyeringai diwajah tampan Piter, menatap Desi dengan tatapan yang sudah berkabut, akibat gairah yang tak dapat didendung lagi.
Melemparkan kesegalah arah jas yang melekat pada tubuh seksinya, dan mengambil langkah pelan menghampiri wanita yang berada didepannya.
Menarik Desi kedalam pelukannya, dan mencium bibirnya dengan sangat rakus. Demi sempurna misi penjebakan itu, Desipun membalas ciuman sang pengusaha. Ciuman itu begitu semakin membangkitkan gairah dari dalam diri Piter, saat tangan Desi mulai berselancar pada titik-titik sensitifnya. Dan semua itu semata-mata, hanya untuk mengalihkan perhatian dari Pria itu, agar tidak dapat menyadari kehadiran dari Adam, dan kedua anak buahnya.
Dengan satu pukulan yang begitu kuat yang dilayangkan sekretaris tampan itu pada Piter, membuat pengusaha itu seketika terjatuh tidak sadarkan diri diantai kamar.
"Bawa dia..!!" Titah Adam, pada kedua anak buahnya.
"Baik Tuan..!"
"Terima kasih Nona Desi, untuk kerjasamanya. Dan saya akan mentransfer uangnya pada rekeningmu, sesuai dengan jasa anda."
"Terima kasih juga Tuan Adam, dan saya sangat senang bisa berkerja sama dengan anda."
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Pamit Adam, dengan berlalu dari kamar yang berada dilantai dua.
Saat melewati barisan anak tangga menuju lantai bawa, Adam segera meraih ponsel dari dalam saku celananya, dan menghubungi seseorang diseberang sana.
PERCAKAPAN
"Selamat malam Tuan,"
"Malam Adam, bagaimana."
"Target sudah berhasil kami tahan. Dan sekarang kami akan membawanya, kegudang kosong sekarang."
"kerja bagus Adam, kalau begitu aku akan kesana sekarag."
****
Tubuh yang terkulai lemas itu terikat pada sebuah kursi kayu yang telah usang, dan dia belum sadarkan diri dari pingsannya hingga saat ini.
Hentakan kaki itu begitu mengema saat sepasang kaki, melewati setiap barisan anak tangga menuju lantai dua.
Adam yang tengah berbincang-bincang dengan kedua anak buahnya, seketika menghampri Tuanmudanya saat mendapati keberadaan Bosnya yang baru saja datang digudang kosong itu.
"Malam Tuan.."
__ADS_1
"Malam. Apakah dia belum sadarkan diri juga?"
"Belum Tuan?"
Zain melangkah menghampiri Piter, yang terduduk dikursi kecil dengan kondisi tidak sadarkan diri.
Menyeringai diwajah tampannya, saat memorynya kembali memutar, bagaimana Piter berusaha meyakinkan dirinya, kalau dia sudah berselingkuh dengan Ariana, mantan istrinya.
Mengambil sebuah ember yang berisi air, dan menyiramnya dengan kasar kearah wajah pria itu.
kedua bolamata itu perlahan terbuka, dibalik kesadaran yang belum sebetulnya pulih.
Perlahan Piter mendongakkan kepala, dengan tatapan yang masih buram, dia mendapati sesosok pria berdiri didepannya. Matanya seketika membelalak lebar, saat mendapati dirinya berada ditempat asing dengan kondisi terikat, dan sosok Zain yang yang berada didepannya.
"Kau sudah sadar?"
"Zain?! apa yang kau lakukan? lepaskan...! lepaskan aku..." Dengan memberontakkan badanya, agar terlepas dari ikatan tali yang begitu kuat mengikat dirinya.
Seringai jahat membingkai penuh diwajah tampan Zain, saat mendengar apa yang diinginkan PIter.
"Melepaskanmu..?!" Dengan emosi yang sudah membuncah, dan langsung memberi sebuah pukulan kuat tepat diwajah pengusaha itu.
Kemarahan yang selama ini dibendung Zain saat mengetahui semua kebenaran, dia luapkan semua pada hari ini. Memberi pukulan lagi pada rekan bisnisnya, disaat teringat kembali dirinya yang menceraikan Ariana, hanya karena termakan dengan hasutan pria itu.
"Gara-gara kau, aku sampai menceraikan Ariana?!" Teriaknya meluapkan semua emosinya, saat pukulan itu dia layangkan kembali.
Rasa sakit hati, dan kebencian selama ini Zain luapkan dimalam itu. Dia menghajar Piter secara membabi buta, walaupun Piter sudah terlihat tidak berdaya.
"Dasar kau pria brengsek!! gara-gara kau, aku menceraikan Ariana!!" Teriakan yang begitu menggema, dengan pukulan bertubi-tubi yang kembali dia layangkan.
"Maafkan aku Zain, maaf.."
"Maaf. Gampang sekali kau minta maaf, setelah apa yang kau lakukan pada rumahtanggaku?!"
"Maafkan aku. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak melakukan itu dengan mantan istrimu, saat dia sedang tidak sadar."
Hanya menyeringai, saat mendengar apa yang dikatakan Piter barusan.
"Adam..!" Panggil Zain tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa Tuan?"
"Cari ponselnya." Pintanya, dengan tatapan tetap tertuju pada Piter.
Walaupun bingung akan keinginan Tuanmudanya, tapi Adam tetap mencari ponsel milik dari pria itu. Kedua tangannya merayap-rayap pada tubuh rekan bisnis dari Tuanmudanya, dan mengambil Ponsel dari saku celananya miliknya.
Rasa takut seketika menyelimuti diri Piter, saat ponselnya sudah berada didalam genggaman Zain. Dan tentu saja hal yang membuatnya takut, kalau sampai orang lain tahu akan video panasnya bersama Clara.
"Apa yang aku lakukan, dengan ponselku Zain?" Tatapan penasaran, terselip juga rasa takut didalamnya.
"Kau bisa menutupi semua kebusukanmu dari rekan tapi tidak denganku. Selama ini orang selalu memandangmu sebagai salahsatu pengusaha, yang tidak melakukan hal yang buruk. Dan aku tau Clara membayarmu dengan apa, hingga kau mau menjalankan apa yang dia pinta. Dan aku juga tahu kalau kau sangat suka merekam semua aktifitas bercintamu, dengan wanita manapun. Dan aku yakin, pasti tersimpan dalam ponselmu ini. Salahsatunya adegan ranjangmu dengan Clara."
LIdahnya terasa keluh, saat mendengar apa yang dikatakan Zain barusan. Wajah pucat pasih, dan tubuh semakin melemah, dan dia sudah tau apa yang akan dilakukan Zain dengan ponselnya.
"Aku mohon Zain..., jangan lakukan itu. Aku akan memberikan apapun padamu, termasuk beberapa sahamku. Tapi tolong, jangan sebarkan video--video itu, aku mohon Zain..?" Tatapan memohon, menatap Zain yang tengah memainkan jemarinya pada layar ponselnya.
Tawa begitu menggema seketika memenuhi gudang kosong itu, saat mendengar apa yang ditawarkan Piter barusan.
"Tapi sayangnya, aku sama sekali tidak tertarik. Dan apakah kau berpikir dua kali, saat kau melakukan penjebakan itu. Ariana saat itu sedang mengandung darah dagingku, dan sekarang aku tidak tau keberadaaanya dimana. Dan kau bisa membayangkan, bagaimana hancurnya aku saat ini. Dan seharusnya kau berterima kasih padaku, karena aku tidak sampai membunuhmu."
Airmata menetes dari sudut mata Piter, saat mendengar apa yang dikatakan Zain padanya.
Ada rasa penyesalan dalam diri pria itu, saat mendengar apa yang diucapkan Zain padanya. Dan dia yakin tawaran, dan kata maaf darinya, sama sekali sudah tidak berpengaruh pada pria itu. Dan yang dia lakukan hanya bisa pasrah, dengan apa yang terjadi nanti.
Jemarinya masih menari-nari diatas layar ponsel milik Piter. Dan saat membuka aplikasi galeri, kedua bolamata Zain nyaris menyeruak dari tempatnya, saat melihat banyak video panas mantan kekasihnya, dan juga Piter disana.
"Cihh...!! aku sangat merasa jijk, karena pernah berciuman dengan wanita ini." Gumam Zain, saat melihat bagaimana lihainya Clara, dalam melakukan hubungan suami istri dengan Piter.
"Adam.."
"Ada apa Tuan?"
Melemparkan ponsel milik Piter, yang ditangkap Adam dengan gelapan.
"Sebarkan semua ini, dan pastikan tidak ada yang tertinggal."
Tatapan mata berkaca-kaca, memikirkan karirnya yang akan seketika hancur dalam hitungan detik setelah video-video itu tersebar.
"Zain... aku mohon tolong jangan lakukan ini padaku?" Pintanya sekali lagi, berharap Zain akan luluh.
__ADS_1
"Tapi sayangnya, semuanya sudah tersebar. Dan kita lihat saja, bagaimana semua media akan heboh dengan video panas seorang pembisnis handal, dan mantan kekasih dari Zain Pratama."