Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menertawakan Ariana.


__ADS_3

Tatapannya seketika serius menatap Adam, dengan tatapan tidak suka. Dan dia mulai berpikiran negatif tentang istri, dan sekretarisnya itu.


"Ini tidak seperti, yang anda pikirkan Tuan?" Seru Adam dengan raut wajah yang sudah berubah pucat, karena sudah tau apa yang tengah dipikirkan, oleh Tuanmudanya.


"Ariana. Apakah kau memiliki hubungan, dengan sekretarisku?!" Dengan tatapan sinis, bertanya pada istrinya.


"Hubungan. Hubungan, apa Sayang? aku tidak mengerti," Bertanya balik, karena sesungguhnya dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Tentu saja hubungan percintaan, Culun?! kenapa kau, begitu bodoh!!" Dengan nada mulai meninggi, dari sebelumnya.


Melihat kemarahan suaminya, bukannya takut tapi sebaliknya Ariana malah tertawa, akibat merasa lucu dengan pertanyaan suaminya yang sangat jauh, dari fakra.


"Ha...,ha...,ha...., Sayang, kenapa kau berpikir seperti itu?" Dengan terus, tertawa.


Raut wajah Zain semakin terlihat kesal, saat melihat tawa istrinya. Padahal saat ini, dia tengah dilanda kecemburuan yang teramat sangat.


"Diam kau, Ariana..!!" Teriaknya dengan langsung menggebrak meja, yang membuat tawa Ariana henti seketika.


"BRAAKKK!!"


"Katakan, padaku. Apakah kau, mempunyai hubungan dengan sekretarisku, Adam?"


"Tidak, Sayang,"


"Tidak Tuan. Saya, dan Nona tidak memiliki hubungan apa-apa."


"Terus kenapa, kau meminta nomoh HPnya? bahkan aku suami sendiri, tidak pernah kau minta nomor HPnya." Dengan kemarahan, yang masiih menyelimuti diri.


"Nona! ini semua gara-gara anda. Dan kenapa, anda meminta nomor ponselku." Dengan raut wajah kesalnya, menatap Ariana.


"Hei...!! kenapa kau jadi memarahai istriku?! apakah kau mau, aku pecat Adam!!"


"Maafkan saya, Tuan? tapi bukankah gara-gara Nona, saya jadi dimarahi anda."

__ADS_1


"Itu karena kau, begitu bodoh!! dan kau Ariana! katakan padaku, kenapa kau meminta nomor ponsel Adam."


Ariana larut dalam lamunannya. Wanita itu nampak berpikir keras, mencari alasan yang tepat, yang bisa dia sampaikan pada suaminya.


"Maafkan aku, sebelumnya Sayang? kenapa aku sampai meminta nomor ponsel seekretarismu. Karena aku hanya ingin mencari tau lewatnya, apa yang kau lakukan dilluar sana.


Kau adalah pria sempurna. Tampan, dan juga kaya. Pasti banyak wanita diluar sana, yang tergila-gila padamu. Dan itu membuat, aku khawatir."


"Tunggu.., tunggu..," Seru Zain, yang menyela ucapan istrinya.


Apakah kau sengaja meminta nomor Hp Adam, hanya untuk mencari tau apa yang kulakkukan, karena kau takut, aku berselingkuh?"


"Iya Sayang. Karena aku sangat takut, kehilanganmu." Menjawab dengan raut wajah sendu, agar aktingnya terlihat sempurna.


Tawa keras seketika keluar dari mulut lelaki tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan istrinya. Zain terlihat begitu bahagia, dan dia yakin kalau Ariana, juga mempunyai perasaan yang sama.


"Kau dengar itu, Adam! ternyata siCulun ini begitu mencintaiku, dan sangat tergila-gila padaku. Dan tadi dia katakan, dia begitu takut kehilanganku."


Ariana hanya menunduk, dan membingkai senyuman yang nyaris tak terlihat, saat mendengar apa yang dikatakan suaminya. Walapun memang kenyataan dia begitu mencintai Zain, tapi sekarang terlihat seperti dia yang mengutarakan perasaannya terlebih dahulu. Dan dalam hatinya dia mengggerutu habis, sahabat baiknya, Bella. Hanya karena, untuk mendapatkan nomor Hp sekretaris suaminya, dia harus merendahkan harga diri.


Saat ini Zain, terlihat begitu bahagia. Dan tanpa berpikir lagi, dia meminta Adam memberikan nomor ponselnya, pada istrinya Ariana.


"Adam, berikan nomor Hpmu pada istriku. Biar dia bisa mencari tau apa yang aku lakukan diuar sana, lewat dirimu. Karena aku tidak mau dia stress, karena memikirkan diriku." Dengan tawa kecilnya.


"Tapi, Tuan.." Jawab Adam, yang enggan memberikan nomor ponselnya, pada Ariana.


Tatapan matanya, seketika menatap Adam, dengan tatapan tajam.


"Sejak kapan, kau berani mengatakan tapi, padaku Adam?!"


Raut wajahnya, berubah pucat. Menghembuskan napas dalam, dan dengan terpaksa dia memberikan nomor Hpnya, pada istri Tuanmudanya itu.


Senyuman bahagia membingkai diwajah Ariana, saat sudah mendapatkan nomor Hp milik Adam.

__ADS_1


"Sayang, kalau begitu aku kekamar dulu. Dan kau Adam, terima kasih."


"Ya...ya...ya.., pergilah. Dan kau boleh menyakan aku kapan saja, jika kau mau." Jawab Zain dengan rona bahagia, diawajahnya.


"Tentu Sayang." Jawab Ariana dengan wajah sumringah, dan berlalu dari ruang kerja itu.


Zain menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan senyuman kecil yang terus membingkai diwajahnya.


"Apakah anda, baik-baik saja Tuan?" Tanya Adam, dengan tatapan intens menatap Tuanmudanya.


Raut wajah yang tadi tesenyum, seketika berubah kesal. Saat mendengarkan, pertanyaan sekretrisnya.


"Tentu aku baik-baik saja, bodoh!! memang apa yang kau pikirkan, tentangku Adam!! ataukah kau mengirah, aku sudah tidak waras lagi,"


"TIdak Tuan. Saya tidak berpikir, sejauh itu."


Zain kembali menyandarkan pundaknya pada sandaran kurrsi, dan dia terlihat begitu bahagia.


"Kau tau, Adam? aku begitu bahagia."


"Apakah hal yang membuat anda bahagia, karena sekarang anda tau, kalau Nona Ariana juga mencintai anda Tuan?"


"Tentu tidak. Dan kau terlalu sok tau Adam? dan berhenti, menerka-nerka." Dengan raut wajah, kesalnya.


****


Ariana menapaki kaki, menuju lantai tiga kamarnya. Saat sudah berada dilantai dua, wanita berkacamata itu, berpapasan dengan Celine, Bibi dari Zain.


Menghampiri Ariana, dan menatapnya dengaan tatapan kebencian.


"Tersenyumlah Ariana? karena sebentar lagi, kau akan menangis." Serunya dengan berlalu begitu saja, meninggalkan Ariana yang tengah menatapnya, dengan tatapan bingung.


Ariana membalikkan badannya, dengan terus menatap Celine yang tengah menuruni tangga, menuju lantai bawa.

__ADS_1


"Apa tengah mereka rencanakan lagi, agar aku berpisah dengan suamiku. Apakah tidak bisa, mereka membiarkan aku hidup dengan tenang. Padahal aku sama sekali, tidak pernah mengusik hidup mereka." Gumamnya, dengan kembali melanjutkan langkah kakinya.


__ADS_2