
Ariana nampak menimang dengan apa, yang baru saja dikatakan Rani padanya. Dia nampak berat hati, menerima keinginan Rani yang ingin dirinya, melanjutkan sekolahnya diAmerika, untuk mengembangkan bakata yang dimilikinya. Tidak langsung menjawab ia, ataupun tidak. Araa memutuskan untuk mempertimbangkan tawaran dari Rani, sebelum dia mengambil keputusan.
Rani terus menatap Araa, dan dia tahu wanita itu masih t ragu, yang terlihat jelas dari raut wajahnya yang terlihat bimbang. Dan dia sangat memahami keadaan Araa, yang baru saja berpisah dengan pria yang sangat dicintainya.
"Aku akan memberikan kamu waktu, untuk mempertimbangkan i apa yang aku tawarkan ini. Sebab aku tau, kamu begitu mencintainya. Tapi aku berharap, kamu mau menerima tawaranku ini. Karena aku sangat tulus, Ariana? dan lanjutkan gambarmu, aku kekamar dulu mau mandi," Pamit Rani dengan senyuman diwajahnya, dan berlalu dari kamar itu.
Hembusan napas terdengar berat, mewakili kegundahan hatinya saat ini. Bimbang, dan ragu itulah gambaran apa yang diarasakan saat ini. Tatapannya menerawang menatap kearah jendela kaca, yang memamerkan keindahan jutaan bintang dimalan hari, dengan awan biru yang telah tertutup gelap.
"Haruskah aku pergi meninggalkannya, karena aku masih sangat mencintainya,." Gumamnya, dengan tatapan hampa dalam kedua bolamata itu.
****
Perlahan gelap meredup dengan sempurna, setelah sang surya menampilkan senyum indahnya pada, para penghuni bumi.
Rani nampak begitu sibuk. Merapikan busana-busana, dan juga memasang beberapa gaun, atau busana keseharian pada manekin-manekin yang berbalut helaian apapun.
Sebuah mobil mewah, memasuki area parkir boutique itu. Kedua kakinya mendarat sempurna dilantai itu, saat sang skretaris membuka pintunya.
Merapikan sedikit dasinya, dan dengan hembusan napas berat dia melangkah kedalam, diikuti oleh Adam.
Adam membuka pintu kaca, mempersilakahkan Tuanmudanya agar dapat masuk. Semua karyawan seketika menatap kearah kedua pria itu, yang baru saja menginjakkan kaki didalam boutique.
Zain terus menatap sahabatnya, yang nampak sibuk dan sepertinya sama sekali tidak menyadari kedatangan mereka.
Dan Adam memutuskan untuk menghampiri Rani, yang tengah mengenakan gaun pesta, pada salasatu manekin.
"Selamat pagi, Nona Rani,"
Rani membalikkan badannya, dan mendapati keberadaan Adam, dan juga Zain yang tengah berdiri dibelakangnya.
"Zain, kau sudah datang? aku pikir kau tidak akan datang, karena aku menunggumu dari kemarin."
"Maaf kemarin ada rapat penting, jadi aku baru bisa menempatkan waktu bertemu denganmu hai ini." Dengan senyuman kecil, disertai wajah dinginnya.
"Salsa kau lanjutkan, memasang gaun-gaunnya,"
"Baik, Nona," Jawab karyawan itu, dengan melanjutkan memasang gaun-gaun yang masih tersisa, pada manekin.
Rani menghampiri sahabatnya, dan memutuskan untuk keruang kerja. Sebab dia tahu, ada hal yang sangat pribadi hingga membuat lelaki tampan itu datang keboutiquenya.
"Aku tau, pasti ada hal yang sangat penting hingga kau datang menemuiku disini. Dan ayo kota keruang kerja, agar lebih nyaman berbicara."
__ADS_1
"Baiklah," Jawab Zain dengan mengikuti langkah kaki Rani, berasama Adam sang sekretris.
Kini ketiga orang dewasa itu sudah berada diruang kerja, yang bersebelahan dengan tokonya yang berada dilantai 1.
Duduk saling berhadapan dengan sahabatnya disebuah sofa set, bersama Adam.
"Katakan ada apa Zain? hingga membuatmu datang menemuiku." Sebuah pertanyaan dengan tatapan intens, dan terselip rasa penasaran disana.
Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, seraya menatap dengan intens Rani sebelum mengutarakan tujuannya datang kemari.
"Aku ingin kau mengeluarkan Ariana, dari apartemenmu."Pintanya, dengan nada tegas.
Rani, dan Adam sekilas saling menatap seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, yaitu eminta Rani, mengelurkan Ariana dari apartemennya.
"Apa aku tidak salah dengar Zain? tadi kau bilang menginginkan aku mengusir Ariana??" Tanyanya memastikan, kalau apa yang dia dengar tidaklaah salah.
"Yaa!" Jawabnya, singkat.
Hembusan napas terdengar berat, dan dia terlihat sedikit syok dengan apa yang diinginkan sahabatnya itu. Seolah tidak percaya, dengan keinginan Zain yang sudah sangat diluar akal sehat.
"Apa kau sudah gila Zain?! kau menginkan aku, mengusir Ariana?? ingat Zain! dia sedang mengandung anakmu, anakmu Zain..?!" Ucap Rani, meyakinkan pengusaha itu. Dan secara tidak langsung, dia menolak keinginan sahabatnya.
Mana mungkin itu anakku, dia saja tidur dengan banyak pria. Dan aku yakin, dia pasti bingung dengan siapa ayah bayi itu," Dengan senyuman, mencemooh.
Rani menggeeleng pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zain padanya. Sebab laki-laki itu masih saja, tidak mempercayai kalau anak yang dikandung Ariana, benar darah dagingnya.
"Kau akan menyesal, akan menyesal dengan apa yang kau katakan hari ini, karena kau tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri. Dan maaf aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, sebab aku masih punya hati. Apalagi sekarang, Ariana tengah mengandung." Ucapnya, dengan nada tegas.
Raut wajah Zain seketika terlihat kesal, dan terselip amarah didalamnya, saat Rani tidak mau memenuhi keinginannya.
"Jadi kau tidak mau, mengeluarkan wanita itu?!" Bertanya untuk memastikan, dengan volume suara sudah meninggi dari sebelumnya.
"Yaa. Sampai kapanpun, aku tidak akan mengusir Ariana." Dengan ketegasan, yang terlihat dari raut wajah perancang busana itu.
Menegakkan kembali duduknya, dengan semyuman sinis dia menatap Rani.
"Jangan salahkan aku, jika aku melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya Rani?!"
"Aku tau kau sangat berkuasa, dan bisa melakukan apapun. Tapi maaf, sekali lagi aku katakan, aku tidak bisa." Dengan nada, penuh penekanan.
Raut wajahnya semakin memerah, dan segera Zajn beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Ayo Adam, kita pergi sekarang." Ajak Zain, dengan berlalu begitu saja dari ruangan itu.
"Ma, maafkan saya Nona? saya tidak bisa berbuat apa-apa," Ucap Adam dengan melangkah cepat, mengikuti Bosnya yang telah berlalu pergi.
Rani menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan tatapan menerawang. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan, dan juga iba disana.
"Apakah kau tidak punya rasa iba sedikit saja apa Ariana, Zain? dia tidak memiliki siapapun didunia ini. Dan kau menginginkan aku mengusirnya. Dia sedang mengandung, dan itu anakmu? Kau akan menyesal Zain, kau akan sangat menyesal karena sudah menyakiti hati Ariana, dan juga anakmu," Gumamnya, pelan.
****
Pagi kembali kembali menghampiri bumi, setelah gelap meredup secara perlahan dengan berjalannya waktu, yang ikut menyapa indahnya hari baru.
Senyumam itu terus mengembang diwajahnya, saat dia sudah berada diperusahaan mantan kekasihnya.
TING. Pintu lift terbuka, dan Clara segera melebarkan langkah kakinya menghampri ruangan CEO. Dan dari kejahuan tatapan matanya, mendapati Zain yang tengah berbincang-bincang dengan Adam, diluar ruang kerjanya.
"Hall Zain.." Dengan senyuman, semanis mungkin.
Mendemgar suara sapaan, membuat kedua pria itu membalikan badan keasal suara, dan mendapati Clara disana.
"Clara.." Ucap Zain, dengan menghampiri wanita berambut pirang itu.
Mendapat sambutan dari Zain, membuat Clara nampak begitu bahagia. Dan dia semakin yakin, kalau pria itu pasti tidak akan menolaknya.
"Apakah, aku mengganggu waktumu?" Tanyanya, berbasa-basi.
"Tidak, tidak sama sekali. Kebetulan, aku sedang tidak sibuk." Jawabnya, tersenyum.
"Aku membawakan bekal makan siang untukmu, apakah kau sudah makan siang Zain?"
"Belum. Kebetulan aku, dan Adam baru saja akan makan diluar."
"Aku sudah membuatkan makan siang untukmu. Dan aku datang kesini, agar bisa makan bersamamu,"
Zain nampak menimang ajakkan Clara, sebelum dia menjawab ia, pada wanita itu.
"Baiklah. Adam kau makan siang sendiri saja, aku dan Clara akan makan disini. Dan ayo Clara, kita masuk," Ajak Zain dengan berlalu kedalam ruangannya, dikuti Clara dari belakag.
Raut wajah Adam terlihat kesal, dan dia tahu Clara mempunyai tujuan agar dapat kembai menjalin hubungan dengan Tuanmudanya.
"Semoga saja, Tuan tidak kembali dalam pelukan iblis betina itu," Gumamnya, penuh harap.
__ADS_1