Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Tidak sengaja.


__ADS_3

Ariana terlihat begitu sumringah, walaupun hanya sebuah perhatian kecil. tapi dia terlihat begitu bahagia. Tapi dalam dirinya timbul tanda tanya, kenapa suaminya tidak turun kelantai bawa, untuk menemui Kakaknya karena tadi siang mereka baru saja menghabiskan makan siang bersama.


Menatap heran Ariana dengan tatapan penasaran, saat melihat Ariana tampak melamun.


"Mau sampai kapan kau berdiam, disitu?! cepat katakan pada pelayan, untuk mengantarkan makan malam kita kekamar," Titahnya, tegas.


"I..Iya, Sayang?" Jawabnya gugup, dan berlalu dari kamar itu.


"Dasar, Culun?" Ucapnya dengan senyuman kecil diwajahnya, menatap kepergian Ariana.


****


Dibalkon lantai tiga kamar, tampak Ariana, dan zain tengah menghabiskan makan malam bersama. Dan Ariana tampak begitu canggung, karena mereka terlihat seperti sedang makan malam romantis.


"kenapa kau diam saja, dan kenapa kau terus menatapku? apakah ada yang salah dengan penampilanku?"Bertanya, dengan menatap penasaran Ariana.


"Ti..tidak sayang, aku tidak menatapmu, aku sedang melihat dibelakangmu, ada kupu-kupu yang hinggap diatas bunga, dan kau tau Sayang? kupu-kupu itu, sangat indah." Jawabnya dengan sedikit gugup, berusaha meyakikan Zain dengan kebohongannya.


Berbalik kebelakang, untuk melihat apa yang dikatakan oleh Ariana, dan tidak menemukan kupu-kupu disana.


"Mana kupu-kupunya? dan disitu juga tidak ada bunga. Kau sedang berbohong padaku, Ariana?!" Bertanya, dengan menatap tajam Ariana.


Raut wajah Ariana terlihat mengkerut, dan dalam dirinya merutuki kebodohannya sendiri. "(Sebenarnya aku haruss berpikir sebelum berbicara, kalau dia bukan laki-laki yang gampang dibodohi.)" Bathinnya, yang merutuki kebodohannya sendiri.


"Ohh bukan, itu Sayang? aku salah bicara. Tadi aku melihat cicak, tapi cicak itu suidah pergi." Jawabnya, berusaha meyakinkan.


Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, menatap Ariana dengan tatapan tajam, hingga membuat nyali wanita itu menciut seketika.


"Kau sedang berbohong, padakukan?"


"Maafkan aku Sayang? lagipula apakah salah, jika aku melihatmu?" Jawabnya, pelan.


Seketika tawa keras keluar dari bibir pria tampan itu, saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ariana.


"Apakah kau yakin, hanya melihatku? dan tidak menginginkan hal yang lain? lagipula kau belum membayar jasaku, Ariana?!"


Mengernyit heran, seraya menatap penasaran dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Memang apa maksudmu, Sayang? memang apa yang aku inginkan, dan apa yang harus kubayar?"


"Culun..Culun.., kau ini sangat bodoh, dan naif. Mana didunia ini, ada yang gratis, termasuk kita berdua."


"Namaku, Araa Sayang? bukan Culun? dan memang apa yang harus, aku bayar."

__ADS_1


"Kau tau..?" Dengan menjeda, kalimatmya sejenak.


"Memang apa yang tidak kuketahui, Sayang?"


"Seumur hidupku, aku tidak pernah melakukan hal seperti yang kulakukan tadi."


"Memang apa yang kau lakukan, yang tidak kuketahui?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat semakin penasaran.


"Seumur hidupku, aku sudah terbiasa dilayani. Dan aku tidak pernah, memindahkan pakaian siapun kedalam lemari. Jadi kau termasuk orang yang beruntung, karena aku melakukan hal itu padamu."


"Tapi aku tidak memintamu, untuk memindahkan pakaian-pakaiaku, kenapa kau tidak mengatakan padaku, biar aku saja yang memindahkan pakain-pakaianku saja, Sayang?"


"Jadi kau menyalahkanku?!" Jawab Zain, dengan nada kesal.


"Tidak Sayang, aku tidak menyalahkanmu. Jadi apa yang harus aku lakukan, dan aku harus membayarnya dengan apa?"


"Manamungkin kau bisa membayarnya, sementara gajimu saja


tidak banyak. Kau harus membayarku, dengan melakukan kewajibanmu sebagai istri, dan kau harus membayarnya sesuai dengan banyak pakaian yang kulipat. Dan kau tau, tanganku sampai sakit, dan aku rasa untuk memeriksa berkaspun aku tidak bisa, mungkin juga untuk menandatangani berkaspun juga, tidaki bisa."


"Kau berbohong, Sayang? buktinya sekarang kau sanggup memegang garpu, dan juga sendok. Dan kau bisa, makan dengan baik."


"Itu karena aku memaksanya, bodoh?!" Dengan nada, yang terdengar kesal.


"Jangan hitung saja pakaianmu, tapi hitung juga dengan pakaian dalammu, sebab aku melipatnya dengan itu juga."


"Apa?! tapi kenapa jadi bertambah banyak, Sayang?"


"Karena didunia ini, tidak ada yang gratis Ariana?!" Jawabnya, tegas.


"Baiklah, tapi bisakah aku membayarnya dengan dua kali terlebih dahulu? dan besok baru kita lanjutkan lagi. Bagaimana?"


"Itu juga boleh, karena aku tidak mau membayarnya sekaligus." Jawabnya, dengan menyeringai dibibirnya.


Ariana terlihat begitu kesal pada suaminya, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan didepan pria itu."( Dia begitu licik, bahkan dia sengaja memakai cara itu, agar dapat melakukan itu denganku tiap malam.)"


"Aku sudah selesai, makan malamnya." Ucap Zain, dengan beranjak dari duduknya.


Berdiri tegak, menatap Ariana yang masih setia dengan makannya.


"Kau mau membuat aku, menunggu?"


"Tapi aku belum selesai makan, Sayang? dan apakah kita akan melakukannya, sekarang?" Bertanya, dengan nada penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja, karena ada hal yang harus aku bereskan."


"Tapi Sayang, aku masih lapar?"Tatapan memohon, menatap laki-laki itu.


"Jadi kau mau, membuat akun menunggu?" Tanya Zain, denggan raut wajah yang sudah memerah.


Menghembuskan napas kasar, berusaha menahan rasa kesal yang mendera, karena tak mampu menolak keinginan suaminya.


Kedua alis Zain menyurut seketika, menatap Ariana yang terlihat kesal padanya.


"Kau sedang tidak kesal, padakukan?"


"Ti..tidak Sayang, manamungkin aku kesal padamu." Jawabnya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


"kalau begitu cepat bangun dari dudukmu?! karena kita melakukan bukan hanya satu kali, tapi dua kali."


"Baiklah," Jawabnya pasrah, dengan bangun dari duduknya, mengikuti langka kaki zain kedalam kamar.


****


Hembusan angin sedikit kencang, menerbangkan setiap helain rambutnya. Udara yang begitu dingin, tak menyurutkan niatnya untuk beranjak dari duduknya, saat berada ditengah taman yang begitu banyak kenangan, yang sudah dia lewati bersama mantan kekasihnya.


Ada rasa kecewa pada diri Clara, sebab Zain sama sekali belum menampakkan batang hidungnya, padahal dirinya sudah mengirimkan pesan berkali-kali pada pria itu.


"Aku sudah bilang, jangan menungguku." Suara seseorang, yang mengejutkan dia dari lamunan.


Berbalik, dan senyuman langsung membingkai diwajah Clara, saat mendapati keberadaan Zain.


Airmata seketika membasahi pipinya, dan dia terlihat begitu bahagia, sebab mengirah pria itu tidak datang menemuinya. Berjalan cepat menghampiri Zain, dan langsung memeluknya.


"Clara apa yang kau lakukan?! lepaskan aku?" Ucap Zain, dengan berusaha melepaskan pelukan wanita itu.


"Aku tidak mau, Zain?! aku tidak mau. Aku tau kau masih mencintaiku, apakah kau lupa, kalau kita banyak menghabiskan kenangan ditaman ini. Aku akan sabar menunggumu, Zain? aku akan sabar menunggumu." Ucapnya dengan deraian airmata, yang sudah membasahi pipi.


Menghembuskan napas, dan perlahan dirinya melunak, dan memeluk Clara guna menenangkan gadis itu, dari tangisan.


Ariana hanya bisa menangis, saat melihat pemandangan itu. Dirinya mengirah Zain sudah tidak memperdulikan keberadaan Kakaknya, dirumah ini. Tapi pria itu, ternyata membohonginya. Dan saat akan berbalik, tanpa sengaja Ariana menabrak sebuah vas, yang mengejutkan Clara, dan juga Zain disana.


"PRAAKK..?!"


"Ma..maaf, aku tidak sengaja." Ucapnya dengan deraian airmata, dan segera berlari menuju kamar.


"Arianaa..?!" Teriak Zain, dengan berlari menuju arah tangga mengejar istrinya.

__ADS_1


__ADS_2