
"Tentu Maa, buat apa aku berbohong. Padahal aku sudah bilang padanya, untuk memberitahukan pada Zain terlebih dahulu sebelum pergi, tapi dia sama sekali tidak memperdulikan apa yang kukatakan." Jawab CLara dengan berusaha meyakinkan mereka semua, agar Zain percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Benarkah?! anak ini benar-benar sudah sangat keterlaluan, dan selalu saja membuat masalah. Maafkan Mama, Nak Zain? Mama merasa malu dengan sikap Ariana, dan sebagai orangtuanya, Mama sudah merasa gagal mendidiknya." Dengan raut wajah, yang berpura-pura sedih.
Raut wajah Zain seketika memerah, dan pria itu sepertinya termakan dengan ucapan Ibu mertuanya, dan juga Clara.
Saat sedang larut dalam suasana hati yang sedang diliputi amarah, tiba-tiba saja salahsatu tamu undangan berbicara, ketika tatapan matanya, melihat seorang wanita yang terlihat begitu cantik.
"Siapa wanita, yang datang bersama Disainer Rani itu? dia sangat cantik."
"Iya, siapa wanita itu. Apakah dia salahsatu model, dari rumah mode milik Nona Rani?" Timpal, yang lain pula.
Mendengar apa yang ucapan kedua tamu undangan itu, membuat mereka berbalik kearah pandang mereka.
Adam terus mengamati wanita cantik yang datang bersama Rani, dan dia meyakini kalau itu adalah istri dari Tuanmudanya.
"Tuan aku yakin, wanita yang datang bersama dengan Nona Rani itu adalah, Nona Ariana." Seru Adam, dengan berbisisk pelan ditelinga Tuamudanya.
Zain terus menatap dengan intens, wanita cantik yang datang kepestanya bersama sahabatnya, Rani. Tatapannya sulit diartikan, dan setelah meyakini itu adalah istrinya, membuat laki-laki itu sulit mempercayai, kalau wanita cantik itu, adalah Ariana.
"Apakah dia, Arianaku? dia terlihat begitu cantik, bahkan sangat cantik." Bathin Zain, yang begitu mengagumi kecantikan istrinya.
Clara, dan Ibunya nampak tertegun, dan begitu terkesima seolah tidak percaya, wanita cantik bergaun pink itu adalah Ariana, seorang wanita yang selama ini mereka benci.
"Apakah dia, sianak pungut itu?! kenapa dia bisa, secantik ini? bahkan, bahkan gaunnya terlihat sangat indah. Pasti lebih mahal, dari gaun yang kupakai." Bathin Clara, dengan raut wajah kesalnya.
"Apakah dia sianak sialan, itu?! kenapa dia terlihat sangat cantik. Bahkan semua orang yang berada dipesta ini, begitu mengagumi kecantikannya." Bathin Diana, dengan raut wajah kesalnya.
Semua mata tertuju pada Ariana, terutama Zain, yang nampak begitu takjup dengan perubahan penampilan istrinya. Hingga tatapan laki-laki itu, tak berkedip sedikitpun dari Ariana.
Ariana nampak merasa tidak nyaman, saat orang-orang yang berada dipesta itu, terus menatapnya.
__ADS_1
"Apakah penampilanku terlalu berlebihan Nona Rani, kenapa orang-orang terus menatapku?" Tanya Ariana, dengan berbisik pelan ditelinga Rani.
"Mereka melihatmu, karena kau terlihat sangat cantik malam ini, Culun? kenapa kau, begitu bodoh!!"
"Sudah kubilang, jangan panggil aku Culun, panggil aku Araa!" Dengan nada, penuh penekanan.
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan memanggilmu culun lagi. Dan jangan bicara lagi, ayo kita hampiri suamimu. Sepertinya dia sangat terpesona, dengan kecantikanmu malam ini."
"Ntalah. Dan apakah kau sudah mengatakan padanya, kalau tadi kau yang datang menjemputku? karena tadi kita pergi, tanpa sepengetahuannya."
"Sayangnya, belum." Jawab Rani, dengan senyum tanpa dosanya.
Ariana begitu terkejut, dan sangat kesal saat mendengar apa yang dikatakan Rani padanya.
"Apaa?! kenapa kau tidak memberitahunya, aku bisa dapat masalah Nona Rani?"
"Tenanglah. Aku yakin, dia pasti tidak akan marah."
Ariana terlihat begitu takut, dan langkahnya terasa begitu berat saat mereka menghampiri Zain, yang tengah berdiri bersama para tamu undangan.
"Malam semuanya. Maaf aku, dan Ariana sedikit terlamabat datang kepestanya."
"Nona Ariana, kau terlihat sangat cantik malam ini." Seru Adam yang begitu terpukau, dengan kecantikan istri Tuanmudanya.
"Te..terima kasih, Adam..?" Jawab Ariana, ditengah rasa takutnya pada Zain.
Tatapan matanya beralih menatap Zain, dan mencoba untuk tersenyum, tapi pria itu hanya menanggapinya dengan tatapan dingin, hingga membuat raut wajah Ariana seketika berubah pias.
"Malam Maa, malam Kak Clara."Ucap Ariana, yang berpura-pura menyapa Ibu, dan juga kakak angkatnya.
"Malam. Darimana saja kau, Ariana?! apakah kau tidak memberitahu suamimu, saat kau pergi tadi!" Dengan nada ketus, dan tatapan yang begitu kesal pada Ariana.
__ADS_1
Rani menghembuskan napas kasar, berusaha meredam emosi dalam dirinya. Agar dirinya tidak terpancing, dengan sikap Ibu, dari Ariana. Dan dia tahu, wanita paruhbaya itu sengaja mencari kesalahan dari Ariana, didepan Zain.
"Maafkan aku semuanya, terutama pada kau Zain? tadi akulah yang mengajak Ariana, untuk pergi. Sebenarnya dia ingin memberitahumu sebelum kami pergi, tapi akulah yang sudah mencegahnya, karena aku ingin kami segera pergi. Dan saat kami pergi, Clarapun tau. Iyakan, Clara?!" Dengan senyuman sinis, menatap gadis berambut pirang itu.
Raut wajah Clara seketika berubah pucat, dan dia terlihat begitu gugup. Memaksakan diri untuk tersenyum, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maafkan aku, maaf. Tapi aku berani bersumpah, aku benar-benar lupa."
Piter yang merupakan salahsatu rekan bisnis dari Zain, terlihat begitu penasaran. Dan dalam dirinya timbul tanda tanya, siapakah wanita cantik, yang sedari tadi dikaitkan dengan Zain ini.
"Maaf Nona, bolehkah aku bertanya?" Dengan tatapan yang begitu intens, menatap Ariana.
Zain yang menyadarinya, segera menghampiri Ariana, dan memeluk istrinya dengan begitu posesif.
"Dia adalah istriku, Piter?!" Dengan nada, penuh penekanan.
Piter sedikit kaget, saat rekan bisnisnya itu mengatakan kalau wanita yang sedari tadi membuatnya penasaran, adalah istrinya.
"Sejak kapan kau menikah, Zain? bahkan aku yang merupakan rekan bisnismu saja, sama sekali tidak mengetahuinya."
"Sejak kapan aku menikah, itu bukan adalah hal yang penting yang mesti kau tau. Tapi yang jelas wanita ini, adalah istriku." Jawabnya, tegas.
"Aku mengucapkan selamat, kalau anda sudah menikah. Dan boleh aku tau, siapa nama anda Nyonya?" Dengan mengulurkan tangannya pada Ariana, tapi seketika Zain mencekal tangan istrinya, saat wanita itu akan membalas jabatan tangan Piter.
"Nama istriku, Ariana. Dan aku rasa kau tidak perlu berjabat tangan dengannya, bukankah kau hanya perlu mengetahui namanya saja." Senyuman sinis, menatap rekan bisnisnya itu.
Piter hanya tersenyum, dengan sikap yang Zain tunjukan pada dirinya. Dan rasa iri semakin menyelimuti pria itu, karena Zain memiliki istri yang begitu cantik, dengan hudupnya yang sudah sempurna.
"Istrinya begitu cantik. Tapi sejak kapan, dia menikah? dan kenapa selama ini, Zain tidak pernah membawa istrinya keacara apapun?" Bathin Piter, yang terlihat begitu penasaran.
__ADS_1