
Kemarahan begitu membuncah dalam diri Zain, saat mengetahui kalau Bibinya, ternyata terlibat dalam penjebakan terhadap Ariana, mantan istrinya. Dan jika saja wanita itu bukan orang yang sudah membesarkan dirinya, sejak kedua orangtuanya tiada, mungkin sekarang Zain sudah membunuhnya.
Celine terus menangis, saat mendengar kalimat yang diucapkan dari keponakannya itu. Sebab tidak menyangkah keponakan yang sangat disayanginya, akan tega mengusirnya.
"Bibi tidak mau keluar dari rumah ini Zain..., Bibi tidak mau keluar dari rumah ini. Bibi harus kemana, Bibi harus kemana? Bibi tidak memiliki siapapun, selain dirimu Zain.." Tatapan memohon, dan airmata yang terus mengalir.
Tatapan begitu tajam, dan raut wajah yang dipenuhi amarah, itulah yang terlihat dari raut wajah tampan itu saat ini.
Segera berlalu keluar dari kamar itu, tanpa mengucap sepata katapun, dan membanting pintu kamar dengan sangat kuat, hingga membuat Celine begitu kaget, sebab Zain tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
"BRAAKK"
Terus menumpakan kesedihannya, setelah perginya Zain dari dalam kamar. Dia tidak menyangkah, hanya karena seorang wanita, keponakanya akan begitu membenci dirinya.
"Kenapa kau begitu tega pada Bibi Zain.., hanya karena wanita itu kau sampai berkata kasar pada aku Bibimu. Dan bahkan kau tega mengusir aku dari rumah ini, hanya karena dirinya." Dengan terus, menitikkan airmata.
Wanita paruhbaya itu terus menumpakan tangisannya, hingga suara deringan telepone mengalihkan tatapanya. Tangannya menjangkau ponsel yang dia letakkan dalam saku celana dan melihat nama Robert disana. Seketika Celine mengusap airmatanya, sebab dia tahu jika Detektif Robert menghubunginya, pasti ada info perkembangan mengenai putrinya, yang selama ini dia cari.
Dan jemarinya, segera berlabuh diicon berwarna hijau.
PERCAKAPAN.
"Hallo detektif, Robert?"
"Apakah hari ini kita bisa bertemu Nyonya Celine? karena aku punya kabar baik untukmu."
Mendengar apa yang dikatakan Robert, membuat Celine seperti mendapat kekuatan. Hingga membuat tangisan itu, reda seketika.
"Apakah kau sudah mengetahui, dimana putriku berada Detekteif Robert?" Bertanya yang mencoba untuk menebak, apa yang akan disampaikan Robert padanya.
__ADS_1
"Benar sekali Nyonya. Aku sudah mengetahui dimana, dan bagaimana rupah putri anda itu. Tapi alangkah lebih baiknya, jika kita langsung bertemu saja."
Senyuman merekah, terlihat seketika diraut wajah tua itu. Hingga membuatnya melupakan sejenak, perdebatan antara dia, dan keponakannya tadi, saat mendapatkan kabar baik itu.
"Kalau begitu, aku akan kesana sekarang." Jawabnya, dengan langsung mematikan ponselnya.
Airmata bahagia seketika mengalir, dari kedua sudut matanya. Airmata kesedihan yang tadi keluar dari kedua bolamata itu, telah tergantikan dengan airmata bahagia. Sebab sebentar lagi, dia akan segera bertemu dengan anak perempuannya.
Membenahi penampilannya yang terlihat kusut, seraya memoleskan sedikit bedak padat wajah, dan juga listik berwarna merahmuda pada bibirnya. Menyambar sebuah tas bermerek GUCCCI dilemari kacanya, dan berlalu dari kamar itu.
Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, saat kedua kakinya membawanya turun melewati setiap barisan anak tangga.
Tatapannya terlempar pada ruang kerja keponakannya. Dan dia ingin memberitahukan kabar bahagia ini, pada keponakan kesayangannya itu. Tapi mengingat perdebatan tadi, membuat Celine membatalkan niatnya, dan memutuskan kembali melanjutkan langkahnya, keluar dari rumah mewah itu.
****
Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, saat kedua kaki membawanya masuk kedalam restorant, usai memarkirkan kendaraan roda 4 nya.
Senyuman merekah diwajah wanita parubaya itu, dan mengambil langkah panjang, sebab sudah tidak sabar ingin mengetahui dimana putrinya.
"Maaf Detektif Robert, aku sedikit terlambat. Jalanan sedikit macet, sebab ada mahasiswa yang sedang mendemo." Dengan langsung, menduduki salasatu kursi.
"TIdak masalah. Yang jelas hari ini pencarian tentang putri anda, akan berakhir."
"Aku sangat bahagia, Detektif Robert. Karena kerinduanku selama ini pada anak perempuanku, akan segera terobati. Dan aku sangat penasaran, seperti apa rupahnya."
Senyuman membingkai diwajah Robert, saat mendengar apa yang dikatakan wanita didepannya. Sebab tanpa mereka sadari, Ibu dan anak itu ternyata sudah saling bertemu selama ini.
"Mungkin anda akan tidak percaya, jika aku mengatakan ini. Tapi inilah kenyataannya. Kalau anda sangat mengenal putri anda, bahkan kalian pernah tinggal 1 atap."
__ADS_1
Tatapanya seketika intens, dan raut wajah serius membingkai sempurna diwajah Celine, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Robert padanya.
"1 atap? apa maksudmu, Detektif Robert?"
Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan senyuman kecil dia menatap wajah Celine, yang penuh kebingungan, dan juga penasaran.
"Awalnya aku tidak percaya, dengan hasil penyelidikanku. Hingga aku mencobannya beberapa kali untuk mencari tau, agar memastikan itu betul. Tapi tetap saja, hasil penyelidikanku sama. Putri yang anda cari selama ini, adalah mantan istri dari keponakan anda Zain, yaitu adalah Ariana Mahesa."
Celine begitu kaget, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Robert padanya. Tapi seketika raut wajah kaget itu, berubah menjadi sebuah tawa kecil, karena mengirah apa yang dikatakan Robert padanya, hanya untuk mengerjai dirinya.
"Kenapa anda menyampaikan berita bohong padaku Detektif Robert, ini sangat tidak lucu,"
Robert hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan Celine padanya, yang mengirah dia sedang membohongi wanita itu.
"Aku tidak berbohong pada anda, Nyonya? karena aku sangat profesonal dalam bekerja. Apalagi sampai mengecewakan, clientku. Tuan David Mahesa, adalah ayah angkat dari putri anda, dan sahabat baik dari mendiang suami anda, itulah kenyataannya. Mendiang suami anda menitipkan putri anda pada sahabatnya, saat anak perempuan anda baru berusia 4 bulan. Sebab Tuan Davidlah, orang yang berada disisah hidup mendiang suami anda, dan mereka adalah sahabat baik." Jelas Robert, panjang lebar.
Melihat raut wajah serius dari Robert, usai menjelaskan semua padanya, membuat Celine akhirnya percaya kalau Robert mengatakan yang sebenarnya.
Dia terlihat syok seketika, dan raut wajahnya berubah pucat, karena bagaimana bisa dia tidak menyadari, kalau Ariana adalah anak perempuannya yang dia cari selama ini.
"Kau pasti, sedang berbohong padakukan?" Dengan linangan airmata, yang sudah membanjiri kedua pipi itu.
"Aku tidak membohongimu sama sekali, Nyonya Celine? kalau memang kau masih tidak percaya, alangkah lebih baiknya jika kau menanyakan ini langsung pada Tuan David Mahesa. Dan aku yakin, kau pasti sudah mengetahui dimana tempat tinggal orang yang merawat putrimu selama ini."
Airmata semakin deras mengalir, dan Celine memutuskan untuk menyambangi kediaman David Mahesa memastikan kebenarannya, tentang jati diri Ariana Mahesa.
"Maaf, aku harus segera pergi, Detektif Robert," Dengan beranjak dari duduknya, dan berlalu dari restorant itu.
Robert terus menatap Celine, yang telah berlalu pergi. Dan dalam dirinya sangat penasaran, ada apa dengan wanita parubaya itu.
__ADS_1
"Ada apa dengannnya? kenapa dia mengangap aku berbohong, saat aku mengatakan kalau anak perempuannya yang dia cari selama ini, adalah Ariana Mahesa,"