Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kekehnya Stefanie


__ADS_3

Menghadapi perutnya yang sudah terlihat membuncit diusia kandungannya yang baru menginjak dua bulan, membuat Ariana kelimpungan sendiri. Sebab awal bulan depan dia dan Zain baru saja akan baru mengikat janji suci pernikahan. Menatap pada perutnya yang sudah membuncit dengan lapisan kaosnya, yang dapat menonjolkan perut buncitnya.


"Mulai sekarang, aku harus memakai baju yang besar-besar." Ariana bergumam, dan mengayunkan langkah menuju pada ruang ganti.


Membuka lemari besarnya, dan menatap satu persatu baju-baju miliknya disana.


"Aku memiliki banyak dress, tapi kebanyakan melekat dibadanku." Bergumam sendiri dengan raut wajah putus asanya.


Kedua tangan itu mengobrak-abrik pada lemari isi pakaiannya, dan tidak dapat menemukan baju yang dapat menemukan baju yang dapat menyembunyikan perut buncitnya.


"Huuhh... bagaimana ini. Semuanya dapat menonjolkan perutku." Bergumam dengan wajah kecewannya. Menimang sesaat, dan memutuskan untuk menghubungi asistennya Charlote.


"Hallo Nona.." Terdengar suara sapaan dari penelpone diseberang sana, saat panggilan telepone Ariana telah diangkat.


"Hallo Charlote.. apakah kau sedang bersama Kak Rani?"


"Iya Nona... saya sedang bersama Nona Rani. Apakah Nona ingin bicara dengannnya?"


"Iya, aku ingin bicara dengannya."


"Baiklah. Saya akan memberikan ponselnya pada Nona Rani."


"Hallo Araa..!" Rani menyapa saat benda pipih itu sudah berada digenggamannya.


"Hallo Kak Rani.. bagaimana kabarmu?"


"Baik Araa..kudengar kau dan Zain akan menikah awal bulan depan. Apakah itu benar?"


"Iya itu sangat benar. Kami akan menikah awal bulan depan."


"Terus apakah kau sudah mendesain gaun pengantinmu?"


"Sudah. Aku sudah mendesainnya, dan dalam proses pembuatan. Tapi sepertinya aku akan merombak sedikit pada bagian pinggangnya."


"Kenapa? apakah ada masalah?" Terdengar nada penasaran saat melontarkan pertanyaan.


Pucat pasih seketika membingkai penuh diwajah Ariana, saat mendengar apa yang ditanyakan Rani padanya. Hingga membuat dia seketika tertawa lebar, untuk menutupinya.


"Ha... ha... ha... ha... tentu saja tidak Kak Rani, aku saja yang ingin merubah desainnya."


"Baiklah. Terus ada hal penting apa hingga kau menelponeku Araa?"


"Apakah kau memiliki baju, atau dress yang sedikit besar?"


"Tidak ada Araa.. karena semuanya sudah habis terjual. Kenapa. Apakah kau ingin membelinya? dan mungkinkah perutmu sudah berisi?" Kelakar Rani dengan tertawa kecil.


"Ti...ti.. tidak. Aku hanya bertanya." Jawabnya terbata.


"Nanti kalau ada aku pasti akan menghubungimu."

__ADS_1


"Baiklah Kak Rani, nanti baru kita lanjut lagi. Aku ingin menemui putriku dulu."


"Baiklah, dan sampaikan salamku pada keponakanku yang centil itu."


"Tentu Kak.." Dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.


Hembusan napas berat, seraya menatap pada perut buncitnya itu.


"Kami baru akan menikah bulan depan. Tapi aku sudah hamil dua bulan. Baru dua bulan saja perutku sudah terlihat, apalagi bulan depan? ini sangat memalukan." Ariana bergumam dengan wajah lesuhnya.


Kedua mata itu tak sengaja terlempar pada lemari milik Zain, dimana disana terdapat kemeja-kemeja kerja milik calon suaminya itu. Senyum mengembang diwajah cantik Ariana, saat menemukam ide, dan melangkah menghampirinya.


Jemarinya menggapai pada gagang pintu, yang dapat mempertontonkan kemeja- kemeja milik Zain yang tersusun rapi pada gantungan pakaian.


"Maaf calon suamiku.. mau tidak mau aku harus memakai kemeja-kemejamu ini. Karena kau juga ikut bertanggung jawab atas perut buncitku." Dia bergumam dengan jemari mengapai kemeja berwarna biru laut.


Tubuh ramping Ariana sudah berbalut dengan kemeja besar milik Zain, yang dapat menyembunyikan perut buncit itu yang dia padukan dengan leging hitamnya. Memutar badan kekiri, dan kekanan pada depan cermin panjang itu, dengan senyuman saat kemeja milik Zain dapat menyembunyikan sedikit perut buncitnya.


"Sudah.." Dengan rona bahagia, dan mengayunkan kaki keluar dari kamar.


Melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawa. Samar-samar Ariana mendengar suara putrinya Stefanie disana.


"Ayo Stefanie.. ini tinggal sedikit.." .Ucap Celine saat cucunya ingin menyudahi suapan itu.


"Aku sudah kenyang Oma.. aku sudah kenyang.." Raut wajah itu menampakkan mimik cemberutnya, saat Celine mengarahkan sendok pada bibir mungil itu.


Kedua pasang mata itu seketika tertuju pada asal suara. Raut wajah penasaran menyelimuti Celine, dan juga Stefanie mendapati Ariana mengenakan kemeja besar milik Zain.


"Mommy apakah kau tidak memiliki baju lagi? hingga kau memakai baju milik Daddy,"


"Mommy saja yang ingin memakainya. Memangnya salah..!"


"Tentu saja salah, bukankah itu baju Daddyku?" Mimik cemberut yang dia berikan pada Ibunya.


"Birakan saja, bukankah Mommy akan menikah dengan Daddymu Stefanie?" Dia tersenyum pada Stefanie yang wajahnya terlihat kesal.


Tak sengaja kedua tangan Ariana melingkar dibawah perutnya, yang seketika menonjolkan perut buncit itu.


"Mommy perutmu sangat gendut. Kau seperti Ikan mas koki, dan juga Doraemon." Stefanie berucap dengan tertawa kecil.


"Apa kau bilang... kenapa kau bisa mengatai Mommy seperti itu Stefanie..?!" Nada itu terdengar kesal saat berucap.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya Mommy.. apakah kau tidak menyadari kalau perutmu itu sangat gendut...mungkin saja karena kau kebanyakan makan, jadi perutmu seperti itu. Iyakan Oma..?"


Dan hal itu tak luput dari pandangan Celine, yang menatap dengan intens pada perut putrinya yang terlihat menonjol.


"Araa...." Panggilnya pelan dengan kedua kaki melangkah lebih dekat pada Ariana.


"Ada apa Maa?"

__ADS_1


"Katakan pada Mama sudah berapa bulan."


Pucat pasih seketika menyelimuti wajah cantik Ariana, saat mendengar apa yang di tanyakan Ibunya.


"Maafkan aku Maa... aku memang sedang hamil dua bulan."


Celine memicingkan mata menatap intens pada Ariana. Melihat perut putrinya yang sudah terlihat membuncit, membuatnya ragu akan jawabannya itu.


"Apakah kau yakin baru dua bulan Araa?"


"Iya Maa.. aku sangat yakin."


"Tapi perutmu sudah terlihat sekali Araa.. apakah mungkin calon bayimu kembar?"


"Apa.. bayi..?" Stefanie langsung menyela saat mendengar ucapan Omanya.


Wajah tua itu mengukir senyum kecilnya, dengan jemari membelai lembut pada pucuk kepala Stefanie melihat ekspresi kaget cucu perempuannya.


"Sebentar lagi kau akan menjadi Kakak Stefanie? Mommymu sedang mengandung calon adikmu."


Wajah keget mendengar apa yang dikatakan Omanya. Tatapan mata itu beralih pada Ariana yang lebih intens pada perut Ibunya.


"Mommy apakah itu benar? kalau perutmu sampai gendut begini karena ada adik bayi didalamnya?"


"Iya Mommy sedang mengandung adikmu." Ariana menyimpulkan senyum diwajah.


Rona bahagia seketika terlihat diwajah mungil Stefanie, mendengar apa yang dikatakan Ibunya.


"Aku sangat bahagia Mommy... dan apakah kau akan memberi aku lima adik? karena kau tau Mommy, kucing meongku dia memiliki enam bayi kucing." Stefanie terlihat begitu antusias, saat menceritakan pada Ariana tentang kucingnya yang memiliki enam bayi kucing.


"Dan apakah kau pikir Mommy ini kucing Stefanie.. yang melahirkan adikmu sebanyak kucing meongmu itu..!" Ariana berucap dengan kesal pada putrinya.


"Karena Daddy sudah berjanji padaku akan memberi aku lima adik Mommy...!" Nada penuh penekanan saat berbicara.


"Kalau begitu kau suruh saja Daddymu yang hamil!"


"Sudah Araa... apakah kau akan terus saja berdebat dengan cucuku?"


"Cucumu itu sangat keras kepala Maa.. seperti Papanya,"


"Tapi Araa.. alangkah baiknya kau melakukan USG. Melihat perutmu seperti ini, Mama yakin kalau kalau kau sedang mengandung bayi kembar. Kau tau Araa, ayahmu memiliki garis keturunan kembar. Ada yang hingga empat yaitu bibimu. Dia melahirkan bayi kembar dua laki-laki, dan dua perempuan. Dan katahati Mama mengatakan, kalau kau mengandung bayi lebih dari satu. Tapi alangkah lebih baiknya, jika kau melakukan USG dari pada kita menduga-duga."


"Apakah Mama serius dengan apa yang Mama katakan? kalau garis keturunan Papa ada yang kembar??" Tanya Ariana yang sudah berbalut rasa penasaran.


"Iya Araa.."


Rau wajah pucat seketika menyelimuti penuh wajah cantik Ariana, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Ibunya.


"Melahirkan Stefanie saja, sudah membuat aku hampir mau mati. Apalagi empat bayi sekaligus?? mau tidak mau pasti aku akan melakukan Caesar." Ariana membathin dengan rasa was-wasnya.

__ADS_1


__ADS_2