
KEDIAMAN DAVID MAHESA.
Rambutnya bergelombang, dan dengan gaun seksi berwarna hitam, yang sangat kontras dengan rambutnya, yang sengaja diwarnai.
Dengan langkah pelan, berusaha menyesuaikan dengan gaun seksinya, yang mempersulit dirimya saat melangkah.
Lebih merapatkan blaser panjang, hingga menutup penampilan seksinya saat sudah berada dilantai bawah rumahnya.
Saat sedang melangkah menuju pintu utama, langkah itu tiba-tiba berhenti, saat Diana tiba-tiba bersuara.
"Kau mau kemana, Clara?" Tanya Diana dengan tatapan penasaran, saat melihat anaknya sudah terlihat cantik.
Seketika kegugupan melanda diri, dan raut wajahnya berubah pucat saat mendapat pertanyaan itu. Apalagi saat melihat tatapan ayahnya, yang menatapnya dengan tatapan penuh selidik, membuat rasa gugup, dan panik seketika menyapa.
"Kau mau, kemana Clara?!" Tanya David, pula.
"A..aku, mau kerumah teman Maa, Paa?"
"Kau sedang tidak berbohong, pada kamikan Clara?" Tanya David lagi, yang sedkit menaruh curiga pada putrinya.
"Tentu saja tidak Papa, buat apa aku berbohong. Aku benar-benar, akan kerumah temanku."Jawabnya, berusaha menghilangkan kecurigaan ayahnya.
"Papa hanya bertanya, tapi kenapa raut wajahmu jadi kesal begitu?!"
"Sudahlah Papa, kenapa kau jadi marah begitu?! dan kau Clara, pergilah, dan ingat hati-hati dijalan," Dengan senyuman kecil, menatap putrinya.
"Kalau begitu aku pergi dulu Paa, Maa," Pamitnya dengan berlalu pergi, setelah mengecup singkat kedua pipi orangtuanya.
****
Kendaraan roda empatnya melaju ditengah keramaian lalulintas malam hari, kota Jakarta. Raut wajahnya terlihat resah, karena tidak menyangkah dia akan berurusan kembali dengan pengusaha licik itu.
"Dia benar-benar, brengsek!! sebenarnya aku harus berpikir dua kali, sebelum berurusan dengan pengusaha licik itu!" Gumamnya, dengan memukul kuat setir mobil, menyalurkan semua emosi yang tersimpan.
Mobil mewah itu, memutar arah saat tiba dipersimpangan, yang tidak jauh dari hotel, dimana dia akan bertemu dengan Piter.
Menghembuskan napas sejenak, saat kendaraan roda empatnya, sudah terparkir sempuna diarea parkir hotel itu.
Melhat penampilannya dikaca spion mobil, dan memutuskan untuk menggunakan wig agar tidak ada yang dapat mengenal dirinya. Saat melihat penampilannya sudah terlihat sempurna, Clara memutuskan untuk keluar dari mibil mewah itu.
__ADS_1
Raut wajahnya terlihat begitu gelisah, saat kedua kakinya melangkah masuk kedalam hotel bintang 5 itu.
Karena saat ini, dia terlihat seperti seorang maling yang tengah menyamar, agar tidak ketahuan.
Setelah mengetahui dikamar berapa, dan lantai berapa Piter menunggunya, Clara segera melangkahkan kaki menuju arah lift.
"TING" Pintu lift terbuka, dan sekarang dia sudah berada dilantai 3 hotel itu.
Tidak langusng keluar dari lift itu, kedua tangannya saling meremas, yang menyalurkan kegelisahan yang semakin melanda diri.
Setelah merasa merasa sudah lebih tenang, diapun segera berlalu dari dalam lift menuju kamar 303.
Hembusan napas bisa terdengar akiibat keraguan yang semakin melanda, dan setelah memantapkan hatinya, Clara baru membuka pintu kamar yang kebetulan tidak terkunci.
Cahaya lampu terisi penuh dalam kamar itu, yang dapat menampilkan sosok pria yang sedang membelakanginya.
Raut wajahnya terlihat memerah seketika, dan berusaha mengusai diri dari amarah yang membuncah saat ini, dia menghampiri lelaki itu.
"Aku sudah datang, untuk memenuhi keinginanmu Tuan Piter?!" Dengan nada, yang tidak bersahabat.
Membalikan tubuhnya, dan senyuman membingkai diwajah pengusaha itu, saat melihat Clara terlihat begitu cantik, dan juga seksi, dengan gaun hitam pendek yang membalut tubuh indahnya.
"Kau terlihat sangat cantik, Nona Clara?! dan mulai sekarang, kau akan selalu memberi kehangatan, jika seorang PIter membutuhkan hal itu."
"Itu tidak akan pernah terjadi, dan aku tidak akan melayanimu lagi, setelah ini?!" Dengan nada, penuh penekanan.
Tawa kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Clara padanya.
"Kau semakin cepat membuatku, ingin melakukan hal itu denganmu Nona Clara?" Dengan jemari membelai lembut, wajah cantik Clara.
"Kau sangat jahat Tuan Piter, kau sangat licik...!!" Teriaknya, yang begitu menggema didalam kamar.
"Kau bilang aku jahat, kau bilang aku licik? apakah kau tidak menyadari ucapanmu, bukankah kita berdua sama? apa aku perlu mengatakan kembali seberapa jahatnya dirimu, agar kau mengetahui seperti apa kau, Nona Clara!! kau tega menjebak adik angkatmu sendiri agar kau bisa memiliki suaminya, padahal saat itu dia sedang mengandung. Dan apakah kau pikir Zain mau menerimamu, jika dia tahu seperti apa dirimu?" Dengan senyuman, mencemooh.
"Aku sangat membencimu Tuan Piter...!! sangat membencimu..!" Teriaknya, dengan meludahi wajah pengusaha itu.
Kemarahan terpampang nyata saat ini, dari wajah pengusaha itu. Membersikan ludah Clara dari wajahnya, setelah mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya.
"Dasar kau wanita, murahan..!!" Dengan langsung memberi tamparan yang sangat keras, pada pipi kanan wanita itu.
__ADS_1
"PLAAAKK" Hingga membuat Clara seketika tersungkur kelantai, dan menangis tersedu-sedu.
Dengan tatapan membunuh dia menghampiri Clara. Menjambak rambut wanita itu, hingga wajah Clara seketika menatapnya.
"Coba kau lihat, kesamping sekarang."
Clara melemparkan pandanganya, dan betapa kagetnya wanita itu, saat melihat pada layar televisi ada adegan ranjang dia, dan Piter disana.
"Aku punya banyak rekamannya, Nona Clara?! jadi kau tidak akan pernah bisa lari dariku. Sekalipun kau sudah berstatus istri dari Zain sekalipun, kau akan tetap akan menjadi budak diatas ranjangku. Kalau tidak, aku pastikan sebelum kau memilikinya, dia sudah tau terlebih dahulu kebusukanmu."
Menganguk, dan hanya bisa menangs dibalik ketidakberdayaannya saat ini, sebab tidak menyangkah dia akan terlibat jauh dengan pria itu.
Dengan kasar Piter menarik Clara, dan melemparkan wanita itu keatas ranjang hotel.
"Layani aku seperti yang kau buat, dalam rekaman itu. Kalau tidak, aku akan membritahukan pada Zain, seperti apa dirimmu."
"Ba..baiklah.." Jawab Clara, dengan cucuran airamata yang terus mengalir.
Setelah melakukan hal itu, Piter segera melemparkan Clara dengan sebuah cek.
"Kau brengsek Piter..!! kau brengsek..!!" Teriaknya, dengan linagan airamata, sebab merasa Piter menganggapnya sebagai wanita penghibur.
"Kita sama-sama brengsek, Nona Clara?! bukankah aku membayarmu? dan kau tidak perlu takut, aku tidak mungkin membiarkan kau hamil. Karena sekalipun aku laki-laki brengsek, aku tidak mau anakku terlahir dari wanita kotor sepertimu. Dan terima kasih atas pelayananmu yang memuaskan ini, dan jika aku membutuhkan kehangatan lagi, aku pasti akan menghubungimu." Ucapnya dengan berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Clara yang tengah menangis.
****
Matahari perlahan menampilkan senyumnya, menyapa pergantian waktu.
Wajah cantik itu terlihat damai saat tidur, walapun mentari telah menampilkan penuh senyumnya.
Memalingkan wajahnya yang masih berada diatas bantal, hingga tak sanggup menghalau cahaya, yang memberi sedikit terangnya pada wajah cantik itu.
Senyuman terlukis kecil diwajahnya, dengan badan yang terasa begitu berat, Ariana menyandarkan pundaknya pada sandaran ranjang, dari rasa kantuk yang masih mendera.
Tatapan teralihkan pada perutnya yang masih rata, perlahan tangan itu merambat kesana dengan rona bahagia, walaupun kesedihan masih melanda.
"Mama, merindukan Papamu Nak? padahal kami baru saja, berpisah. Tapi bagaimanapun, kita harus tetap melanjutkan hidup, dan kau menjadi alasan Mama untuk kuat. Walaupun tidak memilikinya, tapi masih ada kau, yang merupakan bagian dari dirinya. Dan itu membuatku bahagia, anakku,"
Mungkin ada yang bingung. dengan status dari Celine.
__ADS_1
Bibi Celine, merupakan adik angkat dari Papanya Zain. Tuan Pratama. Jadi dia bukan adik kandung, dari orang tua Zain.