Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Makan siang bersama Zain.


__ADS_3

Dan beberapa detik kemudian, tampak Adam yang sedikit panik, dengan raut wajahnya yang memucat, sebab merasa sudah lalai dalam bekerja.


"Maafkan saya, Tuan? Saya sudah berusaha untuk mencegahnya, tapi Nona Clara tetap memaksa untuk masuk."


Menghembuskan napas kasar, berusaha meredam emosinya.


"Baiklah, kau boleh pergi?!"


Adam terlihat kesal, saat Zain mengijinkan Clara, untuk masuk kedalam ruangannya. Melemparkan pandangannya dengan tatapan sinis menatap wanita itu, dan berlalu pergi dari ruangan itu.


"Duduklah, dan katakan padaku. Ada apa kau menemuiku." Bertanya, dengan menduduki kursi kebesarannya.


Tersenyum, dengan menatap mantan kekasihnya dengan tatapan menggoda, dan meletakkkan sebuah kantong diatas meja.


"Tentu saja, aku datang untuk menemui. Dan apakah kau lupa?! kalau semalam kita baru saja berciuman." Dengan menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, menatap Zain.


Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan napas yang terasa berat. "Dan aku menyesali melakukan itu, Clara?! sangat menyesal."


Terselip rasa tidak suka, saat mendengar apa yang dikatakan Zain, padanya. Dan itu semakin memacu dirinya, untuk kembali memiliki hati pengusaha tampan itu. "Buat apa kau membohongi perasaanmu sendiri, Zain?! aku tau, kau masih sangat mencintaiku. Buktinya semalam kau membalas ciumanku, dengan sangat gairahnya. Dan buat apa kau setia, pada siculun itu?! belum tentu dia setia padamu."


Seketika rasa kesal menyelimutinya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Clara. Menegakkan posisi duduknya, seraya menatap mantan kekasihnya dengan tatapan tidak suka.


"Apa maksudmu, berbicara seperti itu?! Araa tidak serendah, seperti yang kau bicarakan, Clara?!"


"Araa..?!" Gumamnya, saat mendengar Zain menyebut nama Ariana, dengan panggilan sayangnya.


"Kau bahkan membela anak pungut itu, dia tidak sepolos seperti yang kau lihat, Zain?! dan aku yakin, dia pasti mempunyai kekasih diluar sana. Asal kau tau?! Araa, tidak mencintaimu. Dia menikah denganmu, hanya karena menuruti permintaan Papaku.


Dan akulah, wanita yang betul-betul mencintaimu, Zain?! bukankah kau sangat mengenalku, dan kita menjalin hubungan sangat lama."


"Kalau kau mencintaiku, tidak mungkin kau menghianatiku dengan laki-laki itu, Clara?!" Dengan senyuman, sinis diwajahnya.


"Maafkan aku, itulah kebodohanku yang aku lakukan, dan aku sangat menyesal untuk itu, Zain? dan aku berselingkuh karena, kau terlalu mengekangku, kau selalu melarangku untuk melakukan ini, itu, dan itu yang membuat aku menerima Jason."

__ADS_1


"Tapi bagaimanapun, itu bukan alasannya, untuk kau berselingkuh dariku." Jawabnya, tegas.


Bangun dari duduknya, menghampiri pria itu, dan memeluknya itu dari belakang, yang membuat Zain sedikit kaget, dengan apa yang dilakukan Clara padanya.


"Clara, apa yang kau lakukan? ingat kita sedang berada dikantor?!"


"Aku masih mencintaaimu, Zain?! aku mohon, kembalilah padaku. Apakah kau tau, sampai saat inipun, aku masih menyimpan foto kenangan kita berdua. Dan aku datang kesini, membawa makanan kesukaanmu, dan aku memasak khusus untukmu."


"Setidaknya lepaskan aku, Clara? ingat kita sedang berada diperusahaan?!"


"Baiklah," Jawabnya, dengan kembali menduduki kursi, yang dia duduki tadi.


"katakan, apa yang kau inginkan dariku, Clara?" Bertanya, dengan menatap intens mantan kekasihnya.


"Aku ingin kita kembali bersama, dan kalau kau mau, kita bisa menjalin hubungan dibelakang siculun itu? sampai kau benar-benar berpisah darinya."


Menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat mendengar apa yang dikatakan mantan kekasihnya.


"Gampang sekali kau berkata seperti itu, tidak semuda itu, Clara?!"


Menghela napas berat, dan diapun tak kuasa menolak keinginan mantan kekasihnya, apalagi melihat tatapan Clara yang begitu memohon.


"Baiklah, aku mau." Jawabnya, dengan suara parau.


Senyuman seketika mengembang diwajah cantik itu, saat Zain menyetujui untuk makan spagheti buatannya.


"Kalau begitu kemarilah, duduk disebelahku, kita makan disini saja." Dengan mengeserkan sedikit duduknya, saat duduk disofa panjang.


"Aku makan, disini saja."


"Ayolah, Zain..?" Dengan tatapan memohon, menatap laki-laki dingin itu.


Menghembuskan napas kasar, seraya beranjak dari duduknya, dan duduk disebelah Clara.

__ADS_1


****


Clara segera menyiapkan bekal, yang dia bawa. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia, karena walaupun Zain menolaknya, tapi dia bisa berusaha mendapatkan pria itu, dengan perlahan.


"Ini, punyamu." Dengan memberikan, pada Zain.


"Terima kasih." Jawabnya, dengan menerima piring itu.


Clara tidak menyia-nyiakan kesempatan, wanita itu terus saja berbicara, dan dalam dirinya semakin bersemangat untuk merebut kembali, hati mantan kekasihnya.


"Buka mulutmu, coba punyaku. Rasanya juga, tidak kalah enak." Dengan ingin menyupi Zain, tapi ditolak olehnyaa.


"Tidak usah! aku tidak mau."


"Ayolah, Zain?!" Pinta Clara, dengan tatapan penuh menatap lelaki itu.


"Baiklah..?" Dengan membuka, mulutnya. Dan ternyata tanpa sepengatahuan Zain, Clara telah merekam kegiatan mereka, dan mengirimkan pada Ariana.


****


Suasana restorant tampak begitu ramai, dan Ariana terlihat begitu sibuk melayani para pengunjung, yang tidak ada habisnya.


"Ini pesanan anda, Tuan?" Ucap Ariana, dengan meletakkan segelas jus, dimeja nomor 11.


"Terima kasih, Nona?"


Terdengar dentingan pesan pendek, pada phonsel miliknya. Meraih dari saku celananya, dan melihat sebuah kiriman video. Dan Ariana memutuskan untuk pergi kekamar mandi, agar menontonnya.


Masuk kedalam kamar mandi, dan membuka videonya. Dan betapa terkejutnya wanita itu, saat menonton, dimana suaminya tenga menghabiskan makan siang bersama saudara angkatnya, dan meraka terlihat sangat romantis.


Menyandarkan pundaknya pada dinding kamar mandi, seraya mengusap airmata yang sudah membasahi pipi, karena tidak menyangka suaminya tega melakukan itu.


"Kenapa aku harus menangis?! kenapa aku harus mengeluarkan airmata, untuk laki-laki yang jelas-jelas tidak mencintaku?!" Seruan pada diri sendiri, dengan airmata yang terus mengalir.

__ADS_1


Menangis, dan terus menangis, meratapi apa yang terjadi membuat seorang Ariana tidak berdaya, dengan keadaan.


Apalagi mengingat ayahnyalah, yang menginginkan dia menikah dengan Zain.


__ADS_2