Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Penyesalan Celine.


__ADS_3

Langkah itu terlihat tergesa-gesa, menghampiri mobilnya yang terparkir diarea parkir restorant.


Wanita paruhbaya itu, segera menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan raut wajah terlihat begitu syok. Hembusan napas terdengar berat, dan berkali-kali dia menggeleng pelan, mengeluarkan sebuah kalimat dari bibirnya, seolah tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau Ariana adalah anak kandungnya yang selama ini dia cari.


"Tidak. Tidak mungkin, Ariana adalah putrku. Tidak mungkin, dia adalah putriku," Bergumam sendiri, dengan bolamata masih berkaca-kaca.


Celine masih berada didalam mobilnya, mendengar apa yang baru saja dikatakan Robert tadi, membuatnya sangat terguncang. Dan memory itu memutar kembali kebelakang, bagaimana dia memperlakukan Ariana, selama menjadi istri dari keponakannya Zain.


"Detektif Robert sangat profesional dalam bekerja. Dan tidak mungkin, dia berkata bohong padaku.


Jika memang dia benar-benar anak perempuanku, yang selama ini aku cari.." Membekap mulutnya, dengan airmata yang semakin deras mengalir, saat membayangkan jika Ariana adalah anak kandungnya.


Ya Tuhan..., apa yang sudah kulakukan pada putriku jika benar memang dia adalah anakku. Aku sudah sangat jahat padanya. Aku sudah sangat jahat, pada anakku kandungku sendiri, dan aku yang sudah menghancurkan kebahagian anakku sendiri." Dengan tetesan bening, yang terus mengalir.


Celine tak sanggup menegakkan kepalanya, membayangkan kalau Ariana benar-benar anak perempuan yang dia cari selama ini, membuatnya begitu hancur. Bagaimaan bisa dia tidak menyadarinya. Membenamkan kepalanya pada bundaran setir, dan menangis tersedu-sedu disana.


Celine terus saja menangis, dan menangis. Dan disaat sudah bisa membenahi suasana hatinya, wanita yang masih terlihat cantik diusia tuanya, memutuskan untuk pergi menemui David memastikan sendiri kebenarannya.


"Aku harus memastikan, semuanya sendiri." Dengan menyalahkan mesin mobilnya, dan berlalu dari area restorant.


****


KEDIAMAN DAVID MAHESA.


Kemacetan kota Jakarta disiang hari, membuat Celine sedikit lama tiba dikediaman milik David Mahesa.


Langkah kaki itu begitu cepat, dengan raut wajah yang sudah tidak sabaran, saat kedua kakinya membawanya kekediaman David mahesa.


Pintu rumah yang kebetulan terbuka lebar, membuat Celine langsung masuk kedalam rumah itu, akibat rasa penasarannya yang ingin mengetahui tentang jatih dari Ariana.


"Nyonya Diana...., Tuan David..." Suara panggilan yang keluar dari mulutnya, yang terdengar begitu menggema didalam rumah.

__ADS_1


Diana menuruni anak tangga menghampiri asal suara, saat dirinya mendengar suara orang asing didalam rumahnya. Dan dirinya sedikit kaget, ketika mendapati keberadaan Celine disana, dan dalam dirinya meyakini kalau Celine datang pasti untuk anak perempuannya Clara.


Dan dengan senyuman mengembang diwajahnya, dia melangkah menghampiri wanita itu.


"Nyonya Celine..."


Celine membalikkan arah pandangnya pada asal suara. Dan akibat rasa penasarannya, yang ingin mengetahui jatiih diri Ariana, membuat Celine langsung mengutarakan niatnya yang ingin bertemu dengan David Mahesa.


"Apakah Tuan David, berada dirumah?"


Tatapan intens, dan terselip rasa penasaran disana, saat Celine menanyakan suaminya. Sebab Diana mengirah, Celine datang untuk bertemu putrinya.


"Suamiku..?"


"Iya. Aku ingin bertemu, dengan Tuan David. Apakah dia berada dirumah?"


"Apakah ada sesuatu yang penting, hingga kau ingin bertemu dengan suamiku Nyonya Celine?" Tatapan yang terlihat penasaran, saat bertanya balik.


"Ada apa Nyonya Celine, hingga kau datang mencariku,"


Tatapan Celine seketika terarah penuh pada pria lelaki tua itu, dan tersirat kesedihan yang semakin mendalam disana.


"Apakah kau memiliki teman baik, bernama Dimas Sanjaya?"


"Benar. Aku memiliki sahabat bernama Dimas Sanjaya. Dia adalah teman baikku Nyonya Celine."


Airmata seketika lolos begitu saja, saat mendapati jawaban yang keluar dari mulut David. Dan dalam dirinya semakin meyakini, kalau Ariana benar-benar anak perempuan yang dia cari selama ini.


"Apakah dia pernah menitipkan, seorang bayi perempuan padamu Tuan David?" Dengan suara pelan, saat pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.


Walaupun penasaran, dan juga kebingungan tengah melanda diri pria tua itu, tapi David tetap menjawab apa yang ditanyakan Celine padanya.

__ADS_1


"Benar sekali. Saat akhir hidupnya, Dimas sudah memintaku untuk merawat putrinya. Sebab dia tahu, umurnya tidak lama lagi akibat penyakit yang dia derita saat itu."


"Dan anak perempan itu, adalah Ariana." Celah Diana kesal, dimana dirinya sempat menentang saat suaminya memutuskan untuk mengadopsi Ariana.


Mendengar jawaban keluar dari mulut pasangan suami istri itu, membuat tangisan Celine tumpa seketika. Airmata semakin deras mengalir dari kedua bolamatanya, dengan penyesalan yang tak berkesudahan, saat dirinya mengingat bagaimana sikapnya pada Ariana selama ini.


Terdudk lemas dilantai marmer, dan menangis tersedu-sedu, hingga membuat Diana, dan David dilanda kebingungan pada wanita itu.


"Kau kenapa Nyonya Celine? kenapa kau menangis saat menyanyakan tentang Ariana."


"Iya Nyonya Celine, kau kenapa? jangan buat kami bingung?" Tanya Diana pula, dengan raut wajah penasarannya.


"Ariana adalah anak perempuanku Tuan David.. Nyoya Diana.. Ariana adalah anakku. Anak kandungku..." Dengan terus menumpakan tangisnya.


Pasangan suami istri itu sekilas saling menatap dengan wajah terkejut mereka, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Celine pada mereka.


"Ariana adalah anakmu, Nyonya Celine?" Tanya Diana memastikan.


"Iya. Ariana adalah anak perempuanku. Dan Dimas Sanjaya adalah suamiku."


David hanya bisa menggeleng pelan, karena dirinya masih syok dengan kenyataan yang baru saja dia tahu. Pria tua itu nampak masih belum bisa berpikr jernih, dengan kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau Celine adalah Ibu kandung dari putri angkatnya Ariana, dan istrii dari sahabat baiknya Dimas.


"Bangunlah Nyonya Celine, bangunlah." Pintanya, dengan tatapan mengiba pada wanita itu.


Dengan kaki yang masih begitu berat, Celine beranjak dari lantai, dan mendaratkan tubuhnya pada sebuah sofa tunggal, dengan airmata yang masih saja mengalir.


Aku sudah sangat bersalah pada anakku, Tuan David? aku sudah sangat berdosa padanya. Aku tidak tau, apakah dia akan memaafkanku, atau tidak saat mengetahui aku adalah Ibu kandungnya. Karena selama ini, aku selalu menyakitinya saat dia masih bersyatus istri dari Zain."


Tatapan Diana begitu intens, dan senyuman sinis membingkai diwajah taunya, saat mengetahui kenyataan kalau anak perempuan yang selama ini begitu dibencinya, adalah anak dari Celine.


"Waah.., dunia ternyata begitu sempit. Aku masih belum bisa percaya, kalau Ariana adalah anak kandung anda. Selama ini bukankah anda sudah sangat jahat pada anak perempuan anda sendiri, jadi pikirkanlah apakah Ariana bisa memaafkan anda, atau tidak, setelah dia mengetahui wanita yang selama ini sudah begitu jahat padanya, adalah Ibu kandungnya."

__ADS_1


__ADS_2