
Mendengar apa yang dikatakan Paula, membuat raut wajah Ariana bersemu merah, karena malu. Memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan, agar tidak membahas tentang hubungan suami istri.
"Paula, dimana Tuan?! tadi aku bangun, aku tidak mendapatinya didalam kamar. Apakah dia, sudah berangkat bekerja?!"
"Sudah Nona, Tuan sudah berangkat bekerja. Dan dia yang meminta saya, untuk mengantarkan sarapan anda kekamar."
"Meemm, begitu yaa?"
"Nona..?" panggil Paula tiba-tiba.
"Ada apa, Paula?!"
"Saya peringatkan Nona, untuk lebih berhati-hati dengan Nyonya Celine. Nyonya Celine sangat jahat, dan saya yakin dia punya niat untuk memisahkan anda, denganTuanmuda. Dan dia tidak akan berhenti, sebelum anda betul-betul keluar dari kehidupan Tuan Zain."
Suasana tampak hening seketika, tatapannya sekilas menatap Paula, yang tengah menatapnya dengan tatapan intens, dan diapun membenarkan apa yang baru saja dikatakan pelayan itu barusan.
"Tanpa kau beritahupun, aku sudah tau kalau dia tidak menyukaiku, dan mengingikan aku berpisah dengan Tuanmuda. Dan aku tidak tau, apa yang kan dia lakukan padaku Paula? tapi semoga saja, Tuhan saja selalu melindungiku, sebab aku tidak pernah menyakiti siapapun." Jawabnya dengan mencoba untuk tersenyum, dibalik keresahan yang tengah melanda dirinya.
****
Turun dari mobil, setelah memarkirkan kendaraan roda empat itu. Clara melangkahkan kaki dengan percaya dirinya kedalam kediaman mewah itu, dengan membawa sebuah parchel, yang akan diberikan pada Celine, Bibi dari zain.
__ADS_1
Menapaki kakinya menuju kelantai bawah, dan betapa terkejutnya dia, saat mendapati Kakaknya Clara dirumah itu. Dan memutuskan untuk menghampiri, saudara angkatnya itu.
"Kakak? kapan kau datang, dan untuk siapa parchel ini?!" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.
"Yang jelas bukan untukmu, dan jangan panggil aku Kakak, karena kau bukan Kakakmu!" Dengan menyungingkan, senyuman disudut bibirnya.
Raut wajahnya seketika berubah pucat, saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh saudara angkatnya itu.
"Kenapa kau begitu membenciku, Clara?! padahal aku tidak pernah berbuat salah padamu, dan apakah kau tidak bisa menyayangiku sedikit saja?" Pintanya, seraya menatap nanar gadis itu.
Tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan Ariana.
"Apa tadi kau bilang? menyayangimu, sedikit saja?" Dengan terus tertawa, seraya menatap sinis adik angkatnya.
dan kenapa aku, begitu membencimu? karena kau sudah merebut kasih sayang sayang Papa, dan sekarang aku ingin merebut milikku yang lain, yang sudah kau rampas," Dengan nada yang terdengar kesal, seraya menatap Araa dengan tatapan tidak suka.
Mengernyit heran, menatap Clara dengan tatapan penasaran.Dan dia begitu penasaran dengan apa yang dimaksud saudara angkatnya itu, jika dia sudah merebut miliknya yang lain.
"Aku sama sekali tidak pernah merebut Papa, darimu Clara? dan tadi kau bilang, aku sudah merebut milikmu yang lain. Milikmu yang lain apa, yang sudah kurebut Clara?!"
Seketika tertawa, hingga tawa itu begitu menggelegar, dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Kau sangat naif, Ariana? bahkan kau tidak menyadari miliku yang sudah kau rampas, selain Papa. Aku akan merebut kembali Zain, karena dia hanya milik seorang Clara Mahesa."
Ariana begitu terkejut, bahkan sangat terkejut saat mendengar keinginan Clara, yang ingin merebut kembali Zain, yang merupakan mantan kekasihnya.
"Apa aku tidak salah dengar, Clara? kau ingin merebut, suamiku?" Bertanya dengan nada penasaran, menatap wanita itu..
"Suami..?!" Dengan, tawa kecilnya.
Dia itu tidak pernah mencintaimu, wanita yang dia cintai hanya aku bodoh?! bahkan saat akan menikahimu saja kami masih sempat berciuman, dan kaupun melihat itu."
"Tapi bagaimana dengan, Jason? bukankah kau menjalin hubungan dengannya? lagipula aku tidak pernah merebut Zain darimu, bukankah kau sendiri yang sudah mencampakannya, dan lebih memilih Jason. Dan bagaimana ku bisa menikah dengan dia, aku rasa kaupun tau, bukankah dia sendiri yang sudah meminta Papa agar aku menjadi istrinya."
'Dan asal kau tau, dia menikahimu hanya karena untuk membalas rasa sakit hartinya padaku. Dan aku tida perduli pada Papa, bahkan padamu sekalipun. Aku akan merebutnya kembali, merebut yang memang adalah milikku."
"Kau sangat egois, Clara?! aku tidak minta kau memikirkan peerasaanku, tapi setidaknya pikirkan Papa! pasti dia sangat kecewa dengan rencanamu ini."
"Dan aku perduli dengan apa yang kau kakatakan, Culun?! bersiaplah karena sebentar lagi, Zain pasti akan menceraikanmu, dan kau akan sering melihat kemesraan kami dirumah ini. Dan aku yakin, kau pasti mengetahui tentang taman belakang rumah ini bukan? taman itu sengaja dibuat Zain untukku, dan taman itu banyak memnyimpan kenangan manis, dimana kami sering bermesraan, dan kami sering melakukan dinner ditaman itu, dan aku akan membuat kenangan ditaman itu, terulang lagi. Jadi aku minta mulai sekarang, kau harus mempersiapkan dirimu, Ariana?!" Dengan menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, menatap Ariana.
Hatinya terasa begitu sakit, saat mendengarkan apa yang dikatakan saudara angkatnya. Apalagi mengingat dia, dan Zain baru saja melewati malam pertama mereka semalam, membuatnya semakin larut dalam kesedihan.
"Kenapa kau diam saja, Araa?! aku yakin sekarang kau sedang diliputi rasa takutkan? takut kehilangan zain, karena aku rasa kaupun tau, bagaiamana cintanya dia padaku."
__ADS_1
Berusaha membendung airmatanya yang nyaris tumpa, akibat rasa kecewa yang teramat sangat pada saudara angkatnya.
"Clara, kapan kau datang?! kenapa tidak mengabari pada Bibi?" Sapa Celine, yang menghentikan perdebatan kedua wanita itu.