
Sinar matahari pagi telah menampilkan senyumnya, menyapa semesta alam. Turun dari kamarnya yang beraada dilantai 2, Rani segera berlalu menuju kamar Ariana, yang berada dilantai bawa.
Meraih gagang pintu itu, dan membukanya. Senyuman mengembang diwajah cantiknya, saat melihat Ariana yang masih tidur dengan pulasnya, berbalut selimut berbulu Domba, yang membalut tubuhnya, diusia kandungan yang sudah menginjak 3 bulan.
"Kenapa dia harus berpenampilan kembali, seperti ini? ini sangat ketinggalan jaman. Padahal waktu itu, aku sudah merubah penampilannya jauh lebih cantik, saat pesta itu. Tapi masih saja, dia betah dengan penampilan culunnya." Gumamnya.
Merasa sedikit terganggu dengan tidurnya, membuat Araa membuka matanya.
"Nona Rani, kau?!" Dengan langsung bangun, dari tidurnya.
Maaf, karena aku bangun terlambat," Ucapnya menunduk, disertai raut wajah bersalahnya.
Senyuman kecil membingkai diwajah perancang busana itu, saat melihat ekpresi Ariana.
"Santai saja. Bukankah aku sudah bilang padamu sebelumnya, anggap saja apartemen ini seperti milikmu sendiri,"
"Terima kasih Nona Rani, karena kau sudah begitu baik padaku,"Jawabnya, dengan senyuman diwajahnya.
"Oh iya, aku lupa. Aku mau mengajakmu jalan-jalan, dan juga kesalon hari ini. karena hari ini aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak, denganmu Araa? kau taukan, bagaimana sibuknya diriku ini," Dengan nada memelas, menatap Ariana.
Tatapan Ariana seketika menatap intens Rani, saat mendengar apa yang dikatakan desainer itu.
"Jalan-jalan, dan kesalon?"
"Hemm!" Dengan senyuman kecil, disertai sebuah angukan.
"Tapi, aku tidak punya uang Nona Rani?"
Tawa kecil terlihat diwajah Rani, saat mendengar apa yang dikatakan Araa barusan.
"Aku yang mengajakmu, tentu saja aku yang membayarnya Culun?"
Merenggut kesal, saat mendengar Rani menyebutnya, dengan Culun.
"Sudah kubilang jangan panggil aku Culun, Nona Rani?"
"Baiklah-baiklah, maafkan aku. Kalau begitu segera bersiap-siaplah, aku menunggu."
****
Keduanya nampak bersemangat saat menginjakkan kaki, disalahatu pusat perbelanjaan, yang terletak ditengah kota Jakarta.
Rani mengedarkan pandangannya kesegalah arah, dan tiba-tiba saja dia menarik tangan Ariana, saat tatapan matanya menatap sebuah salon.
"Ayo kita, kesana?"
"KIta mau, kemana Nona Rani? Tanya Araa, saat Rani menarik tangannya.
"Sudah ikut saja, dan jangan banyak bertanya." Jawabnya, dengan terus menarik tangan Araa.
"Kita kesalon, untuk apa?" Tanya Araa, saat mereka sudah berada didepan tempat itu.
"Bukankah, tadi aku sudah bilang kita akan datang ketempat ini? dan kalau kau menganggap aku sahabatmu, aku minta kau masuk."
"Tapi Nona Rani?" Ucap Araa, yang ingin menolak.
__ADS_1
"Ayolah Ariana, lakukan demi aku? apakah kau mau, selamanya dipanggil siCulun?"
"Aku tidak perduli, mereka mau memanggilku dengan sebutan apa!" Jawabnya, tegas.
Rani menghembuskan napas kasar, saat melihat Ariana yang nampak tidak ingin merubah penampilannya sama sekali. Dan itu membuatnya, sedikt kesal.
Memegang kedua pundak wanita itu, dan menatapnya dengan tatapan intens.
"Aku mohon rubahlah, penampilanmu. Dan ini sudah saatnya, kau memulai hidup yang baru Araa? apakah kau mau, seperti ini terus?"
Ariana nampak menimang dengan apa yang dikatakan Rani barusan, dan akhirnya diapun mengangguk ia.
"Baiklah aku mau, tapi..?" Dengan menjeda, kalimatnya sejenak.
"Tapi apa?" Tanya Rani, penasaran.
"Aku tidak, mempunyai uang,"
Mendecak kesal, saat mendengar jawaban dari Ariana.
"Akukan sudah bilang, kalau aku yang akan membayarnya." Jawab Rani, dengan mendorong pelan Ariana masuk kedalam salon itu.
****
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu didalam salon, kini Ariana sudah terlihat cantik dengan rambut panjang tergerai yang indah, dan dengan memberikam sedikit sentuhan poni didepan, yang membuat calon Ibu itu, terlihat semakin terlihat awet muda.
"Waw Araa, kau sangat cantik?" Puji Rani, saat melihat perubahan Araa yang sangat berbeda, dengan model rambut barunya.
Tersenyum, saat mendengar apa yang dikatkan Rani padanya.
"Terima kasih Nona Rani, karena kau sudah begitu baik padaku."
"Kita mau kemana lagi, Nona Rani?" Tanya Araa, saat Rania mengajaknya berjalan menuju arah tangga jalan.
"KIta akan mencari soflent, karena aku sudah bosan melihat kau berkaca mata terus,"
"Ini juga diganti?"
"Tentu saja, Araa?"
Kedua wanita itu, sekarang sudah berada disebuah optik yang berada dilantai 2. Dan pilihan Ariana, jatuh pada soflent berwarna hitam.
"Kau yakin, memilih warna itu Araa?"
"Iya Nona Rani, aku sangat menyukai warna mata hitam." Jawabnya, tersenyum.
"Padahal kau akan terlihat cantik, kalau dengan soflent yang berwarna biru ini,"
"Maaf, kalau aku mengecewakanmu," Ucap Araa, dengan raut wajah berpura-pura sedih.
Rani tersenyum, saat melihat sikap Araa yang sudah tidak canggung terhadap dirinya.
"Apapun warna bolamata yang kau pilih, kau tetap terlihat sangat cantik Araa? dan ayo kita kelantai 3, mencari baju-baju yang bagus buatmu. Aku ingin mulai sekarang, kau berpenampilan seperti ini, dan jangan berkacamata lagi."
" Baiklah, dan sekali lagi terima kasih Nona Rani, karena kau sudah begitu baik padaku."Jawabnya, tersenyum.
__ADS_1
****
Ariana, dan Rani sudah berada didalam sebuah boutique. Kedua wanita itu, nampak tengah sibuk melihat-lihat berbagai fashion yang ditawarkan, dari bouitique itu.
"Ini sepertinya, sangat cocok untukmu," Ucap Rani, dengan menempelkan sebuah dress berbahan denim, pada tubuh Ariana.
"Tapi harganya, sangat mahal Nona Rania?" Jawab Ariana, saat melihat harga dress cantik itu.
Menghela napas berat, saat mendengar jawaban Araa.
"Aku yang akan membayarnya, bukankah aku yang mengajakmu? dan aku kau merubah penampilanmu, termasuk juga caramu berpakain."
"Baiklah, kalau begitu aku akan keruang ganti untuk berganti pakaian." Ucap Ariana, dengan berlalu menuju ruang ganti.
Tatapan Rani kembali terfokus pada pada busana-busana, yang terpajang diboutique itu. Tiba-tiba saja, dia dikejutkan dengan suara telepone masuk pada ponselnya.
Meraih ponsel dalam tas yang mengelantung dipundak, dan melihat Zain melakukan panggilan VC.
Raut wajahnya terlihat penasaran seketika, saat melihat panggilan telepone dari sahabat baiknya itu.
"Zain? untuk apa, dia menghubungiku? apakah dia mengetahui, kalau Ariana tinggal bersamaku?" Bertanya pada diri sendiri, dan memutuskan untuk menerima panggilan telepone itu.
"Hallo Zain, ada angin apa hingga kau menghubungiku?"
Tatapan diseberang sana terlihat penasaran, saat mendapati Rani, bukan berada didalam boutiquenya.
"Kau sedang berada dimana, Rani? sepertinya kau sedang berada diluar,"
Rani membalikkan kamera ponselnya, saat mendapat pertanyaan itu.
"Kau lihat, aku sedang berada dimana," Ucap Rani, dengan mengedarkan kemera ponselnya, kesegalah arah. Dan bersamaan dengan itu, keluarlah Ariana dari ruang ganti dengan dess yang sangat pas membalut tubuh wanita hamil itu.
"Aku sedang berada dipusat perbelanjaan, dan aku bersama Ariana. Dan kau lihat mantan istrimu, sangat cantik bukan Zain? dan aku yakin pasti kau sudah mengetahui, kalau Ariana tinggal bersamaku," Ucapnya, lagi.
Zain terus menatap mantan istrinya, dengan penampilan yang terlihat anggun. Dan Ariana terlihat sangat cantik, bak seorang model.
"Dia terlihat sangat cantik, setelah berpisah dariku?" Bathinnya, dengan terus menatap Araa.
Walaupun mengangumi kecantikan mantan istrinya, tapi tetap saja rasa benci itu tidak bisa memudar dari seorang Zain, saat mengingat kembali itu semua.
"Aku ingin bertemu, denganmu Rani?"
"Baiklahh, kalau kau ingin menemuiku. Besok datanglah keboutique, aku menunggu." Jawab Rani, dengan memutuskan sambungan telepone itu.
Rani nampak penasaran, dan dalam dirinyaa bertanya untuk apa, Zain ingin menemuinya.
"Untuk apa dia ingin bertemu denganku, apakah ini ada kaitannya dengan Ariana? tapi bukankah, mereka sudah bercerai?"
Zain.
Araa
__ADS_1
NB:
Ikuti saja alurnya, karena sebentar lagi semuanya akan terbongkar. Tapi disaat itu, Ariana sudah berada diAmerika melanjutkan kuliahnya, dan ittu menambah penyesalan seorang Zain, dan juga Celine yang merupakan ibu kandung dari Ariana.