Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Bertemu Alex.


__ADS_3

Senyuman kecil membingkai diwajahnya, seraya membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Papa sudah tau, kalau kau sedang mengandung Araa? dan Papa sangat bahagia, karena sebentar lagi akan memiliki cucu darimu. Dan Papa minta kau pulanglah kembali kerumah, karena Papa masih mampu membayai hidupmu, dan juga anakmu."


"Maaf Papa, tapi aku tidak bisa pulang. Seperti yang Papa tau, kalau Mama, dan Kak Clara begitu membenciku. Dan aku yakin dengan adanya masalah ini, pasti mereka tidak akan membiarkan aku tinggal dirumah." Jawabnya, dengan menunduk.


Hembusan napasnya terdengar berat, saat mendengar jawaban anaknya yang membuatnya sedikit kecewa.


"Baiklah, terserah kau saja Araa? tapi ingat, kau harus tetap memberi kabar pada Papa, terutama mengenai kehamilanmu." Ultimatum yang terdengar tegas, disertai senyuman diwajah tua itu.


"Tentu Paa, aku pasti akan selalu memberi kabar mengenai kehamilanku."


****


PRATAMA GROUP.


Raut wajah Zain terlihat begitu memerah, saat mengetahui informasi kalau Ariana tinggal diapartemen sahabatnya. Seolah tidak terima, kalau Rani menampung mantan istrinya itu.


"Kenapa Rani menampung wanita murahan itu?! apakah dia mau, aku menghancurkan bisnis fashionnya?! karena sudah membiarkan Ariana, tinggal diapertemennya."


"Biarakan saja Nona Ariana tinggal disana Tuan, karena tidak mungkin dia pulang kerumahnya. Karena yang seperti yang kita tau, kalau Nona Clara, dan Ibunya sangat membenci Nona."


Senyuman sinis membingkai diwajahnya, menyandarkan pundaknya, menatap sekretarisnya dengan tatapan tidak suka.


"Jadi sekarang kau ikut berpihak, pada wanita itu Adam!!"


Raut wajah Adam seketika berubah gugup, saat mendengar apa yang dikatakan Tuanmudanya itu.


"Ma..maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud seperti itu."


"Ingat Adam, dia bukan istriku lagi. Jadi tidak ada alasan bagimu, untuk membelanya."


"Sekali lagi maafkan saya, Tuan?" Jawabnya menunduk, saat tatapan itu menatapnya dengan begitu tajam.


****

__ADS_1


Matahari telah menampakkan wajahnya, diufuk timur. Tapi wanita berambut pirang itu, belum juga membuka kedua matanya, walapun matahari telah sepenuhnya memancarkan sinarnya.


Diana menghampiri ranjang putrinya, setelah membuka tirai yang masih tertutup rapat, hingga pancaran cahaya itu, menerobos penuh dalam kamar anak perempuannya.


"Clara..., Clara...Clara..." Panggil Diana, dengan mengguncang pelan tubuh putrinya, yang masih tertutup selimut berbulu.


Clara mengeliatkan badannya, karena merasa tidurnya sedikit terganggu. Dengan mata yang masih setengah terpejam, dia membalikkan badannya kearah sang Ibu, hingga pipinya yang memerah akibat tamparan, tepat meengarah kearah Diana, yang membuat wanita setengah abad itu begitu kaget.


"Pipimu, kenapa Clara?? apakah semalam kau habis, bertengkar dengan seseorang?"


Ingin rasanya dia berkata jujur, tapi itu sangat mustahil karena tidak mungkin Clara terbuka, mengenai masalah yang menimpa dirinya. Apalagi dia sudah, melakukan hubungan suami istri, dengan sang pengusaha.


"A..aku, a..ku.."Jawabnya gugup, dan tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


"katakan pada Mama?! apakah semalam kau berkelahi dengan temanmu, dipesta ulang tahun, hingga pipimu memerah? dan kau tau Clara! semalam Papamu menanyakan dirimu, karena sudah larutmalam, kau tidak pulang." Tanya Diana, yang terdengar menuntut.


Clara segera memeluk Ibunya, saat mendapatkan pertanyaan itu. Wanita itu seolah berusaha mengurangi beban dalam dirinya, dengan memeluk Diana. Akibat rasa cintanya yang begitu besar pada seorang Zain Pratama, membuatnya tidak jauh beda seperti wanita penghibur saat ini.


"Maafkan aku Maa, maafkan aku. Semalam aku bertemu dengan Dian, dan kami berkelahi karena aku belum bisa melupakan penghianatan, yang dilakukannya bersama Jason." Jelas Clara.


"Buat apa kau memikirkan lelaki yang tidak jelas masa depannya itu, ingat sekarang pria yang harus kau taklukkan adalah seorang Zain Pratama. Apalagi dia sudah berpisah dengan anak pungut itu, jadi tidak ada yang akan menghalangi jalanmu lagi untuk mendapatkannya."


Seketika senyuman sinis membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Ibunya, yang membuat pikiran Clara terfokus kembali pada tujuannya.


"Tentu Maa, aku tidak akan pernah melupakan tujuanku, Apalagi aku sudah berjalan sejauh ini. Dan mungkin besok aku akan memulai misiku, untuk merebut kembali Zain."


****


Usai bertemu dengan ayahnya, Alana memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri kota Jakarta, guna menghilangkan kepenatan semata, dengan masalah yang tengah mendera.


Ariana melewati sebuah trotoar, dan kadang-kadang langkah itu terhenti sekedar untuk melihat pakaian yang terpajang dimanekin tokoh, lewat dinding kacanya.


"Wow..! ini sangat mahal." Gumamnya senyum-senyum sendiri, dengan kembali melanjutkan langkah itu.


Terus melangkah, hingga panggilan seseoarng, memaksanya untuk berbalik.

__ADS_1


"Nona Ariana.." Panggilnya, dengan sedikit teriakan.


"Alex.." Gumam Ariana dengan wajah sumringah, menatap laki-laki muda yang tengah menghampirinya.


"Kau darimana Alex? dan apa yang kau lakukan, dikota ini?" Dengan nada penasaran, menatap pria didepannya.


"Aku sedang jalan-jalan saja Nona, dan apakah kau juga sedang menikmati pagi hari kota Jakarta?"


"Iya, karena aku sangat bosan didalam rumah." Jawabnya, tersenyum.


"Kita sudah lama tidak bertemu, saat berada dirumah sakit. Aku tidak bisa bicara banyak dengan anda, karena suami Nona terlihat begitu pencemburu."


Senyuman kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Alex.


"Kalau memang kau sedang berjalan-jalan,. ayo kita kerestorant sekarang. Aku akan mentraktirmu. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku, karena kau sudah menolongku."


"Dengan senang hati Nona, tapi apakah suamimu tidak marah, kalau mengetahui aku sedang berduan dengan anda. Karena suami anda terlihat, sangat posesif."


Raut wajahnya seketika berubah sendu, saat mendengarkan apa yang ditanyakan oleh Alex


"Anda baik- baik saja Nona?" Tanya Alex, yang mendapati raut wajah Ariana berubah murung.


Senyupan kecil menyapa wajahnya, saat mendapat pertanyaan selanjutnya, yang membuka luka hatinya lagi.


"Aku baik-baik saja Alex, dan kau tidak perlu khawatir, aku dan suamiku sudah bercerai."


Dia begitu terkejut, saat wanita didepannya mengatakan telah berpisah dengan suaminya. Karena menurutnya sangat mustahil mengingat bagaimana posesif, dan pecemburunya Zain pada Ariana saat itu.


"Apa?!! jadi anda sudah bercerai, dengan suami anda Nona?"


"Iya Alex, dan dia yang menggugat cerai diriku." Menjawab, dengan mencoba untuk tersenyum.


Raut wajah Alex seketika nampak iba, pada Ariana. Apalagi saat mendengar dari wanita itu, kalau suaminyalah yang menggugat cerai dirinya.


"Maafkan aku Nona, karena sudah membuat anda bersedih dengan pertanyaan dariku. Dan untuk merayakan pertemuan kita hari ini, biar aku saja yang akan mentraktir."

__ADS_1


.


__ADS_2