
Piter menampilkan terus senyuman disudut bibirnya, dengan tatapan mata menatap tubuh Clara yang begitu menggoda imannya, walapun masih berbalut pakaian.
Clara segera menggeraikan rambutnya, dan juga melepaskan blazer yang membalut tubuhnya, hingga kini hanya tersisa sebuah dress yang begitu seksi.
"Apakah kita akan segera melakukannya, Tuan Piter?" Dengan senyuman menggoda, menatap pengusaha itu.
Piter menatap Clara dengan intens, saat wanita itu hanya mengenakan dres yang begitu seksi, dan sedikit menampilkan dadanya.
Hingga membuat Clara hanya tersenyum, saat pengusaha itu menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
"Apakah kau mau, kita melakukannya sekarang Tuan Piter?" Bertanya lagi, saat melihat pengusaha itu hanya diam membisu.
"Apakah kau tidak ingin kita bersantai terlebih dahulu, Nona Clara?"
"Aku tidak suka, membuang-buang waktu Tuan Piter, karena aku tau kaupun sudah tidak sabar, ingin segera melakukan hal itu." Dengan langsung mendekat kearah pria itu, dan mencium rakus bibirnya.
Gairah tak sanggup lagi dibendung oleh pengusaha itu, saat apa yang dilakukan Clara padanya. Dan diapun semakin hanyut dengan permainan, yang diciptakan Clara padanya. Tangan perlahannya menjalar kebawah, dan menyentuh milik lelaki itu, yang membuat Piter semakin terbuai.
Terus berciuman, dengan mulai melepaskan satu persatu pakaian yang membalut pada tubuh mereka, hingga dalam keadaan polos.
Clara tidak memikirkan harga dirinya, l saat ini. Yang ada dalam pikiran wanita itu, bagaimana cara agar membuat seorang Piter puas, akan pelayanannya.
Clara melepaskan pagutan mereka, dan menurukan kepalanya tepat berhadapan dengan benda itu tumpul itu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun, dia langsung memasukkan benda itu kedalam mulutnya, dan memainkannnya.
Erangan kenikmatan keluar dari mulut pengusaha itu, saat Clara membuat dia begitu tak berdaya, dengan hanya memejamkan mata dia begitu menikmatinya.
Gairah tak sanggup lagi dibendung oleh Piter. Segera meraih tubuh Clara, dan menghempaskan keatas ranjang. Menghujamkan miliknya, setelah memasang alat pengaman, dan mulai melakukan gerakan dengan begitu kasar. Desahan-desahan kenikmatan terus keluar dari mulut mereka, yang nampak begitu menikmati percintaan itu. Terus melakukannya beberapa kali, hingga membuat Clara sedikit tersiksa, dengan napsu pria itu yang begitu menggebu.
Clara telah mengenakan kembali pakaiannya, setelah membersikan diri dari aktifitas ranjang mereka. Dan kini wanita itu, nampak telah bersiap-siap untuk meninggalkan kamar itu.
"Aku ingin besok kau melakukan tugasmu Tuan Piter, karena aku sudah memberikan apa yang kau mau. Bahkan kita melakukan, hingga beberapa kali."
"Apakah kau tidak ingin bersantai terlebih dahulu denganku Nona Clara, kita bisa menghabiskan wine ini bersama."
"Tidak. Karena aku tidak mau, oarang-orang mengetahui pertemuan kita. Jadi aku, harus segera pergi."
"Baiklah. Dan kau tenang saja, besok pasti aku akan melakukan apa yang kau minta."
"Dan pastikan, tidak ada yang gagal." Ucapnya, dengan nada penuh penekanan.
"Tentu. Dan serahkan semuanya, padaku."
Setelah perginya Clara, Piter menghampiri sebuah benda yang diletakkan diatas sebuah bufet. Dan ternyata tanpa sepengatahuan Clara, pria itu telah merekam aktifitas bercinta mereka.
__ADS_1
Meraih benda itu, dengan senyuman penuh kemenangan.
"Dia sangat hebat dalam hal bercinta, tidak pernah ada wanita yang sanggup memuaskanku seperti Clara. Dan aku akan membuatmu, melayaniku lagi. Karena kau sekarang, berada digenggamanku. Kalau kau menolak, tidak aku akan memberikan ini pada Zain."
****
Terangnya mentari secara sempurna, telah tersenyum menyapa bumi.
Cerahnya cahaya pagi ini, seperti cerahnya senyuman yang terukir sedari tadi diwajah Ariana.
Walaupun rasa mual begitu mendera diawal kehamilannya, tidak membuat senyuman itu pudar, diwajah wanita berkacamata itu.
"Jadi kau benar-benar hamil, Araa?" Tanya Bella, dengan tatapan penasarannya.
"Iya, aku hamil." Dengan senyuman kecil diwajahnya, dan dia terlihat begitu bahagia.
Bella terlihat begitu bahagia, saat mengetahui sahabatnya tengah mengandung.
"Aku ikut bahagia, Ariana? dan apakah suamimu, sudah mengetahuinya?"
"Belum," Jawabnya, dengan mengeleng pelan.
"Kenapa kau tidak memberitahunya Ariana, bukankah dia suamimu?!"
"Tentu saja dia berhak tau, dan aku akan memberitahukan padanya dengan cara yang romantis."
"Katakan padaku. Apakah kau telah jatuhcinta, pada Suamimu?"
Menghembuskan napas dalam, dan dia mulai bergelayut dengan perasaannya sendiri.
"Aku tidak tau apa yang aku rasakan padanya, tapi disaat aku bersamanya, aku seperti mempunyai tempat yang nyaman untuk berteduh. Dan walapun dia begitu dingin, dan juga kasar, tapi dia begitu baik padaku. Aku bahagia saat bersamannya Bella, dan tidak mau kehilangannya." Ucap Ariana, panjang lebar.
"itu berarti tanpa kau sadari, kau telah jatuhcinta pada suamimu Ariana?"
"Aku rasa juga seperti itu. Karena aku tidak pernah jatuhcinta pada pria manapun sebelumnya, selain pada Papaku David."
Saat keduanya tengah berbincang-bincang, mereka dikagetkan dengan kedatangan salasatu karyawan.
"Ariana, ada yang mencarimu,"
"Mencariku?" Dengan menunjuk, diri sendiri.
"Iya."
__ADS_1
"Siapa dia, Sinta?" Tanya Ariana, yang terlihat begitu penasaran.
"Ntahlah, aku tidak tau siapa dia. Tapi dia mengatakan, kalau dia orang suruhan suamimu."
Sedikt kaget, dengan melemparkan tatapan sekilas menatap Bella, yang saama terkejutnya dengan Ariana.
"Ayo kita pegi, menemui orangnya."
"Baiklah, ayoo!"
Saat tiba didepan, Ariana mendapati seorang pria bertubuh kekar, dengan memakai stelan jas berwarna hitam, dan menenteng dua buah paperbag.
"Maaf Tuan, apakah anda mencari saya?" Dengan nada, penasaran.
"Benar Nona. Saya orang suruhan dari Tuan Zain, dan beliau meminta saya mengantarkan ini pada anda." Dengan menyerahkan paperbag itu, pada Ariana.
Ariana meraihnya, dan melihat satu persatu isi didalam peperbag tersebut.
"Gaun, dan sepatu. Untuk apa, semua ini?" Dengan tatapan penasaran, menatap pria itu.
"Saya tidak tau pasti, ini untuk apa Nona? tapi didalamnya, ada sebuah amplop, dan itu ditulis oleh Tuan langsung."
Ariana meraih amplop, yang terselip diantara gaun indah itu, dan membacanya.
NB
Datang temui aku, dihotel XXX siang ini. Aku ingin menghabiskan makan siang, bersamamu. Berdandanlah yang cantik, dan jangan kecewakan aku."
Bella yang ikut membaca pesan itu, ikut tersenyum bahagia.
"Bukankah ini moment yang tepat Ariana, untuk kau mengatakan pada suamimu kalau kau sedang hamil,"
Senyuman mengembang diwajah Ariana, dan diapun membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Iya ini memang moment yang tepat, untuk aku mengatakan padanya, kalau aku sedang mengandung." Jawabnya, pelan.
"Baiklah Tuan. Dan terima kasih, sudah mengantarkan ini."
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Pamit lelaki itu, dengan berlalu dari dalam restorant.
Saat tiba diluar lelaki bertubuh tegap itu, segera menghampiri sebuah mobil mewah, dan ternyata didalam sudah ada Clara yang menunggunya.
"Bagaimana. Apakah dia mempercayai, apa yang kau katakan?"
__ADS_1
"Iya, dia mempercayai apa yang saya katakan."
"Kerja bagus. Dan ini uang, untukmu. Tinggal saja, kita melihat bagaimana ekspresi Zain saat melihat istrinya, tidur dengan pria lain. Dan itu adalah, rekan bisnisnya sendiri."