Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Rencana Clara, dan juga Celine.


__ADS_3

"Bukankah biasa kalau kau mengajakku mandi, kita pasti akan melakukan hal itu terlebih dahulu?"


"Ya..ya..ya, aku memang selalu saja begitu, kalau mengajakmu mandi bersama. Tapi hari ini kita tidak akan melakukan hal itu, karena aku juga sangat lelah. Bukankah tadi aku bilang padamu, kalau pekerjaanku dikantor sangat banyak hari ini."


Ariana adalah gadis yang polos, dan juga lugu. Tentu saja, dia langsung termakan dengan apa yang dikatakan suaminya.


Dan tanpa bepikr dua kali, Ariana langsung membuka setiap helaian benang yang membalut tubuhnya, tanpa ada yang tersisa.


Masuk kedalam bathube tanpa rasa curiga, dan begitu kaget saat Zain ikut masuk kedalam, dan duduk dibelakangnya.


"Sayang, apa yang kau lakukan? bukankah akau yang akan, mandi terlebih dahulu?"


"Kalau kita mandi sendiri-sendiri, kapan selesainya Ariana? kenapa kau, begitu bodoh! jadi untuk mempercepatnya, lebih baik kita mandi bersama saja." Dengan semakin menempel ketubuh Ariana, hingga miliknya yang sudah menegang, bisa terasakan oleh wanita itu.


"Baiklah, Sayang..?" Jawab Ariana, pasrah.


Awalnya semua berjalan normal, walaupun dia bisa merasakan benda itu semakin menegang.


Begitu kaget saat tangan Zain mulai menelusup masuk, dan menyentuh dadanya.


"Sayang bukankah tadi kau mengatakan, kalau kita tidak akan melakukan hal itu?"


Berbisik pelan, dan menggigit kecil telinga istrinya.


"Apakah aku ada mengatakan kata, janji, tidakkan? jadi jangan salahkan aku." Dengan terus melakukan sentuhan pada Ariana, hingga tanpa diasadari, gairah dalam dirinya mulai tumbuh.


Dan itu terlihat saat dirinya mulai menikmati, setiap sentuhan yang Zain berikan.


Hingga dirinya tak sanggup menolak, saat Zain mengajaknya bercinta didalam tempat mandi itu.


Gairah keduanya masih saja menggebu-gebu. Hingga bercinta didalam kamar mandi, merasa kurang puas bagi pasangan suami istri itu. Dan keduanya kembali melanjutkan acara bercinta mereka dikamar.


Clara menapaki kakinya, menuju lantai tiga kamar Zain pratama.


Bermaksud untuk mengetuk pintu, tapi seketika tangannya melayang diudara, saat mendengar rintihan kenikmatan yang berasal dari kamar mantan kekasihnya.


"Sayang, aku sudah lelah. Bisakah kita melanjutkan, besok saja?"

__ADS_1


"Sebentar lagi, Ariana? aku ingin malam ini, kita melakukan hingga empat kali. Dan ini, baru kali ketiga."


Kepalan tangannya terlihat membungkus, dan raut wajahnya begitu memerah. Sekali lagi Clara mendengarkan aktifitas ranjang, pasangan suami istri itu, yang membutnya semakin larut dalam rasa sakit hatinya.


Mengurungkan niatnya, dan kembali turun kelantai bawa.


Menunuruni tangga dengan wajah memerah, hingga pertanyaan Celinepun, diabaikan wanita itu.


"Clara bukankah tadi kau memanggil, Zain? dimana dia?" Bertanya dengan nada penasaran, tapi tidak dindahkan oleh gadis itu.


Terus menatap Clara yang telah berlalu pergi, dengan rasa penasaran yang teramat sangat dalam diri Celine.


"Ada apa, dengan anak itu?"


Malam semakin menyambut, dan malam ini pasangan suami istri Zain, dan Ariana melewati makan malam mereka, akibat aktifitas ranjang mereka.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Celine segera kembali menuju kamarnya, sebab dia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Clara, hingga gadis itu melewaati makan malamnya.


Membuka pintu kamar, dan mendapati Clara tengah berada dibalkon kamar.


Clara memandang keindahan taman, ditengah dinginnya udara malam. Taman yang penuh kenangan indah antara dia, dan Zain.


Menghembuskan napas, dan melangkah menghampiri Clara.


"Kau tidak perlu bersedih. Bagaimanapun caranya, Bibi pastikan kau akan tetap bersama Zain."


"Cara apa yang harus kita lakukan, Bibi? karena aku yakin, Zain sudah benar-benar jatuhcinta pada anak pungut itu. Dan kita bisa membuktikannya, dipesta baru-baru ini. Zain memperkenalkan Ariana pada semua rekan bisnisnya, sebagai Nyonya Zain Pratama." Dengan linangan airmata, yang terus membasahi pipi.


"Kita akan membuat Zain, betul-betul meninggalkannya. Jadi kau, tidak perlu khawatir."


CLara menghentikan seketika tangisnya, saat mendengar apa yang dikatakan Celine. Kedua bolamatanya menatap dengan intens wajah wanita paruhbaya itu, dan dia terlihat begitu penasaran.


"Maksud Bibi, apa? aku tidak mengerti."


"Yang jelas, kita tidak mengotori tangan kita, untuk membunuhnya."


"Jangan buat aku penasaran, Bibi? aku tidak mengerti, apa yang kau maksud."

__ADS_1


"Kita akan menjebak Ariana dengan seorang pria, seolah dia sudah berselingkuh. Dan Bibi yakin, Zain pasti akan langsung menceraikannya." Jawab Celine, meyakinkan Clara.


Clara terdiam, dan sekilas menatap Celine. Wanita berambut pirang itu, nampak menimang apa yang baru saja dikatakan Celine padanya.


Senyuman mengembang diwajahnya, seraya mengaggukkan kepala menatap Celine.


"Kau sangat pintar Bibi! dan serahkan semuanya padaku.


Aku yang akan melakukan penjebakan itu, dan aku yakin kali ini, Zain pasti akan langsung menceraikannya."


"Tentu. Dan Bibi yakin, kali ini pasti berhasil."


"Tentu Bibi. Dan rumahtangga mereka, akan segera berakhir dengan peceraian. Dan aku yakin, Zain pasti tidak akan menolakku lagi." Jawab Clara, dengan tawa kecilnya.


****


Ariana terlihat begitu lelah, saat dirinya, dan Zain baru saja berhenti dari aktifitas mereka, yang baru berakhir dipukul dua belas malam.


"Kau mau kemana?" Tanya Zain saat melihat Ariana, akan turun dari ranjang.


"Aku akan mandi, Sayang? badanku sangat lengket, akibat aktifitas kita. Dan aku merasa, sangat tidak nyaman.


Seketika menarik tangan Ariana, hingga membuat wanita itu jatuh kedalam pelukannya.


"Kenapa kau begitu bodoh!! coba kau lihat, ini sudah jam berapa. Apakah kau tidak, takut sakit?"


Ariana mengembangkan senyuman diwajahnya, saat mendengar ucapan suaminya. "Apakah kau mengkhawatirkanku, Sayang?"


"Tentu saja, kenapa kau masih bertanya juga. Karena bagaimanapun, kau adalah istriku."


Ariana semakin larut dalam bahagia, saat mendengar apa yang dikatakan suaminya.


"Aku berharap suatu saat didalam hatimu, hanya ada namaku. Dan tidak ada nama, Kak Clara lagi Suamiku?" Bathin Ariana, dengan membalas pelukan Zain.


Ariana mendongakkan kepala, dan mendapati suaminya tengah larut dalam lamunannya sendiri, disaat dia akan memejamkan mata


"Apa yang kau, pikirkan Sayang?" Bertanya, dengan menatap intens wajah tampan itu.

__ADS_1


"Apakah Bosmu itu, tidak mempunyai kekasih?"


__ADS_2