
Raut wajah piter terlihat memerah. Pengusaha, dan juga rekan bisnis Zain itu, seolah tidak terima dengan keberhasilan seorang Zain Pratama.
"Kalian semua kerja, tidak ada yang beres. Bagaimana bisa saham kita tahun ini, menurun drastis. Dan penjualan produk baru kita, gagal dipasaran!"
"Maafkan kami Tuan, tapi kami sudah berusaha semampu kami." Seru Andi, dengan masih menundukkan kepalanya.
Senyuman sinis membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh sekretarisnya itu.
"Keluar kalian dari ruanganku! ke..luar!!" Teriak Piter, dengan kemarahan yang teramat sangat.
Mendengar titah Atasannya, yang terlihat begitu murka, membuat beberapa karyawan, dan juga sekretrisnya,
segera berlalu dari ruang kerja itu.
Menghembuskan napas kasar, dengan kembali menduduki kursi kebesarannya.
Piter menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan tatapan menatap langit-langit ruang kerjanya, dan raut wajah yang terlihat begitu lelah, akibat memikirkan masalah yang tengah dihadapi perusahaannya.
Terdengar suara telepone pada ponsel miliknya, yang diletakkannya diatas meja. Tangannya menjangkau ponsel tersebut, dan seketika kedua alisnya menyurut, saat melihat nomor baru disana.
"Nomor baru, siapa ini?" Dengan raut wajah penasaran, dan memutuskan untuk menjawab telepone itu.
"Hallo, ini dengan siapa?" Dengan nada, yang terdengar tegas.
"Hallo, apakah ini dengan Tuan Piter?"
"Iya benar, saya sendiri. Dan siapa ini?!" Dengan raut wajah, yang begitu penasaran.
"Apakah kau sudah melupakan aku, Tuan Piter?"
"Jika kamu tidak mengatakan siapa kamu! bagaimana aku bisa mengetahui anda siapa?" Dengan nada, yang terdengar kesal.
"Aku ini mantan kekasih dari rekan bisnismu, Zain."
"Clara.." Dan dia sedikit kaget, karena tidak menyangkah mantan kekasih dari rekan bisnisnya itu, akan menghubunginya.
Ada apa, kau menghubungiku. Bukankah, kita tidak punya urusan!"
__ADS_1
Terdengar tawa keras yang begitu menggelegar, saat mendengar apa yang dikatakan Piter.
"Aku tau kau pasti sedang frustasi, karena memikirkan penjualan produk barumu yang dipasaran, dan sekali lagi perusahaan milik Zain, yang mampu menembus penjualan pasar luar negeri."
"Itu bukan, urusanmu!" Dengan nada, kesal.
"Maaf, maafkan aku. Tapi aku tau, dari dulu kau memang tidak menyukai Zain."
"Dan sekali lagi, itu bukan urusanmu Nona Clara?!"
"Baiklah-baiklah, aku tau memang itu bukan urusanku. Tapi aku punya penawaran yang bagus buatmu, jika kau ingin melihat Zain hancur."
Raut wajah yang tadi terlihat kesal, seketika berubah serius, saat mendengar apa yang dikatakan Clara barusan.
"Katakan saja apa yang kau inginkan, dan jangan bertele-tele."
"Aku rasa jauh lebih baik, jika kita langsung bertemu saja. Bagaimana, Tuan Piter..?" Dengan nada, yang terdengar menggoda.
"Baiklah. Besok datanglah kerestorang XX, jam 10 pagi. Aku akan menunggumu disana."
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Clara, Piter kembali menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dan dia terlihat begitu penasaran, dengan apa yang akan disampaikan Clara nanti.
"Aku begitu terkejut saat wanita ini menghubungiku, tapi aku juga sangat tertarik, dengan penawarannya itu. Apalagi itu berhubung, dengan kehancuran Zain."
KEDIAMAN DAVID MAHESA.
Clara terlihat begitu bahagia, saat mengakhiri percakapan teleponenya dengan Piter, rekan bisnis dari mantan kekasihnya itu.
"Apakah kau yakin, dia akan menyetujui rencanamu itu Clara?" Tanya Diana, dengan raut wajah penasarannya.
"Aku sangat yakin, dia pasti akan mau, Maa? karena daridulu, dia memang tidak menyukai Zain. Aku akan meminta dia membantuku, seolah-olah dia telah berselingkuh dengan Ariana."
"Tapi caranya bagaimana, memang apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan membuat Ariana menemui Piter dihotel, dengan membohonginya kalau itu, permintaan Zain. Dan saat tiba disana, aku akan meminta PIter membekapnya dengan obat bius, agar dia tidak sadar. Dan disitulah, baru kita mulai membuat dramanya."
"Tunggu, tunggu, jadi maksudmu, kau akan membuat seolah Ariana sudah melakukan hal itu, dengan rekan bisnis dari Zain sendiri?" Tanya Diana, dengan mencoba menebak rencana putrinya.
__ADS_1
"Iya, Maa. Dan aku yakin, kali ini Zain pasti akan langsung menceraikannya. Dan tidak akan memaafkannya."
Diana tersenyum kecil, dan terlihat begitu bahagia saat mendengar apa yang disampaikan, putrinya. Dan dia juga sangat yakin, kali ini Zain pasti tidak akan memaafkan, anak angkatnya itu.
"Kau sangat pintar, Clara? dan Mama sangat yakin, kali ini Zain pasti akan langsung menceraikannya, dan tidak akan ada kata maaf, untuk anak pungut itu lagi. Bukan Zain saja, bahkan orang-orang yang selama ini selalu memujinya, akan berbalik mencemooh dirinya, saat mengetahui Ariana melakukan hal serendah itu. Dan termasuk Papamu, yang selama ini selalu membelanya."
"Tentu Maa. Setidaknya, aku akan menyingkirkan anak pungut itu, dari kehidupan kita selamanya." Jawab Clara, dengan tawa bahagianya.
"Tentu Sayang, dan Mama sangat mendukung rencanamu."
****
RESTORANT
Senyuman terus membingkai diwajahnya, saat melayani para pengunjung restorant.
Wanita berambut hitam itu, terus menampilkan senyum bahagia diwajahnya, atas hari-hari indah yang dia lewati bersama suami tercinta.
Saat meletakkan pesanan salahsatu pengunjung restorant, tiba-tiba saja Ariana dilanda rasa mual yang teramat sangat.
Membekap mulutnya, berusaha menahan mualnya.
"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya pengunjung, restorant.
Tidak menjawab apa yang ditanyakan, karena tak sanggup menahan lagi mualnya. Dan dengan segera, Ariana berlari kekamar mandi.
Pengunjung restorant yang merupakan seorang wanita paruhbaya, hanya tersenyum saat melihat ekspresi Ariana.
"Aku yakin, wanita itu tengah mengadung. Dan aku bisa mengetahui, dari ciri-cirinya."
Dibawah kuncuran air kran, Ariana memuntahkan semua isi perutnya, yang membuatnya begitu tersiksa. Napasnya begitu memburu, saat melihat raut wajahnya yang nampak begitu pucat, didepan cermin yang tersedia dikamar mandi.
Larut dalam lamuanannya sesaat, seraya mengusap mulutnya.
Tapi seketika senyuman mengembang diwajahnya, dengan tangan perlahan menyentuh perut ratanya.
"Mungkinkah, aku hamil? karena sudah dua bulan ini, aku tidak datang bulan. Dan seandainya dia benar-benar berada didalam rahimku, terimah kasih Tuhan. Karena dia akan semakin, mempererat hubunganku, dengan Zain."
__ADS_1