
Kebersamaan Zain, dan Ariana pasti akan menjadi trending topic diberbagai media. Mengingat Zain yang berprofesi sebagai pengusaha, dan Ariana sebagai perancang busana terkenal. Apalagi banyak yang hanya mengetahui Zain, sebagai mantan kekasih dari Clara.
Tangan melingkarkan sabuk pengaman pada pinggang ramping itu, dengan tatapan mata menatap rasa khawatir pada Ariana.
"Apakah kau baik-baik saja"
Ariana melukis senyum kecilnya, melihat Zain yang terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Aku baik-baik saja Zain? jangan khawatirkan aku. Aku sudah terbiasa menghadapi hal seperti." Ariana berusaha menenangkan Zain, saat lelaki itu terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku takut kamu langsung down menghadapi keadaan seperti ini
"Aku baik-baik saja Zain, dan ayo kita berangkat. Aku sudah sangat merindukan pada putri kita."
"Baiklah.." Menyalahkan mesin mobilnya, dan berlalu dari area hotel itu.
****
Kediaman Loard Davidson.
Senyuman sinis dia ukir diwajah cantiknya, saat tatapan matanya menatap pada layar televisi, dimana menayangkan Ariana, dan Zain yang sedang diwawancarai para wartawan. Mendengar apa yang dikatakan mantan kekasihnya kalau dia dan Ariana akan menikah membuat memerah pada wajah cantik Cintya, semakin saja terlihat.
"Dasar kau laki-laki brengsek Zain..!! ternyata kau hanya mempermainkanku selama ini."
"Uhuk...uhuk..." Loard berpura-pura batuk, saat kedua kaki itu membawa dirinya menghampiri putrinya yang sedang berada diruang nonton.
"Papa.."
Menduduki sisi kursi samping putrinya yang masih kosong, dengan membingkai senyuman kecil.
"Kamu baik-baik saja Cintya..?"
"Mana mungkin aku baik-baik saja Paa..? kalau ternyata dia hanya mempermainkan aku."
"Relahkan dia Cintya?"
"Tidak semudah itu Paa? dia mengakhiri hubungan kami secara sepihak. Ini semua karena rekan bisnis Papa itu. Nona Ariana yang sudah merebut Zain dariku." Nada yang terdengar kesal, saat kalimat itu terucap.
Loard melukis senyum kecilnya. Jemari itu meraih tangan Cintya, berusaha menenangkan anak gadisnya dari amarahnya.
"Nona Ariana sama sekali tidak merebut Zain darimu Cintya? dia sama sekali tidak merebut Zain darimu. Nona Ariana adalah wanita yang sesungguhnya, dicintai oleh Zain. Bisa dibilang dia adalah cinta sejati, dari Zain Pratama. Bertahun-tahun mereka berpisah, dan kembali bersama, karena mereka sama-sama masih saling mencintai. Zain begitu mencintai Nona Ariana, dan selama bertahun-tahun, dia menghabiskan waktu untuk mencarinya. Jadi Papa minta, belajarlah untuk melupakan dia."
__ADS_1
"Tapi Papa.., aku mencintainya..?" Keduamata itu sudah berkaca-kaca, saat mendengar permintaan ayahnya.
"Papa yakin suatu saat kau akan menemukan cinta sejatimu. Percayalah pada Papa. Jadi lupakanlah dia anakku.." Dengan mengukir senyum kecilnya, dan beranjak dari duduknya berlalu dari tempat itu.
****
Boutique Rani
Dia terlihat sibuk hari ini, saat melayani pembeli yang tidak ada habis-habisnya. Sesekali tatapan mata itu menatap pada layar ponselnya, saat pesan yang dia kirim pada Ariana tak kunjung adiknya itu balas.
"Nona Rani.. gaun ini berbahan apa..?" Salahsatu pengunjung
bertanya pada Rani, saat tatapan mata perancang busana itu tertuju pada layar datar Hpnya.
"Kalau gaun yang ini berbahan bludru, tapi bagian belakangnya, kami memakai sedikit kain transparat untuk memberi kesan yang berbeda gaun ini."
"Hei.. bukankah itu perancang terkenal Ariana Mahesa..?" Seru salahsatu pengunjung, tiba-tiba.
Rani seketika melemparkan tatapannya pada arah televisi, yang tertancap didinding.
Rani sedikit kaget, saat melihat dalam wawancara itu Zain menyampaikan pada para wartawan kalau mereka akan menikah.
Melukis senyumnya, dan diapun turut bahagia.
"Mereka berdua sangat cocok..?" Ucap pengunjung yang lainnya.
"Iya mereka sangat cocok. Dan pastinya tentunya sama-sama kaya." Timpal yang lain pula.
****
RUMAH SAKIT JIWA
Beberapa tahun terakhir ini, ayah angkat dari Ariana itu sering mengunjungi salahsatu rumah sakit jiwa, dimana disana putri tunggalnya dirawat. Melewati lorong yang sepi, dengan menggengam sebuah Parchel. Saat akan menyambangi dimana putrinya berada. kedua kaki lelaki tua itu seketika terhenti, saat dari jauh dia mendapati keberadaan wanita yang masih berstatus istrinya.
"Diana..." Dia bergumam pelan, sebab tidak menyangkah akan bertemu dengan wanita yang sudah memberinya satu orang anak.
Dan kedua kaki itu kembali mengayun, menuju ruangan putrinya.
Diana melemparkan tatapannya jauh kedepan, melihat putrinya yang merenung seorang diri dengan tatapan hampanya, membuat hati Ibu satu anak begitu teriris.
"Maafkan Mama Clara.. karena sudah terlalu menuntut begitu banyak padamu." Dia bergumam, dengan jemari mengusap sudut mata yang sudah basah.
__ADS_1
Clara begitu terpukul saat Zain mantan kekaasihnya, membatalkan pernikahan mereka. Ditambah masalah bertubi-tubi yang datang dalam hidupnya, dimana video panasnya, dan Piter tersebar, dan harus menghadapi keretakan rumahtangga orangtuanya. Dan hal itulah yang membuatnya begitu terpuruk, dan tak sanggup melewati itu semua, lebih banyak mengurung diri dikamar, dan menangis.
"Diana..." David memanggil tiba-tiba, yang membuat tatapan mata itu berpaling seketika. Diana sedikit kaget, saat memalingkan wajahnya dia mendapati keberadaan David, prlia yang masih berstatus suaminya. Sebab sudah beberapa tahun ini, keduanya pisah ranjang.
"David... kau...?" Dia tersenyum getir, saat tatapan keduanya beradu.
"Bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu." Melangkah semakin dekat pada istrinya, saat pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
"Baru saja. Saat aku datang, saat Jason masih berada disini. Dan dia baru saja pulang beberapa menit yang lalu."
"Pria itu masih saja setia pada anak kita." David berucap dengan melemparkan tatapannya pada Clara, yang sedang duduk termenung seorang diri.
"Jason adalah laki-laki yang baik. Dan dia sangat berantusias, agar putti kita bisa segera sembuh."
"Dan bagaimana kabarmu. Apakah kau baik-baik saja?" Kedua mata David dia lemparkan pada isttrinya.
"Aku baik-baik saja. Dan kapan kau akan pulang David? ini sudah beberapa tahun terlewati. Apakah kata maaf, sudah tidak ada untukku lagi?" Ungkapan penuh harap, dengan raut wajah sendunya.
"Aku akan pulang..." Ucapan itu terjeda saat tanpa sengaja tatapan Diana, terlempart pada layar televisi yang tertancap didinding. Dimana disana menayangkan Ariana, dan Zain yang tengah diwawancarai oleh para wartawan.
"Bukankah itu adalah Ariana, dan Zain?"
Davidpun memalingkan wajah pada pada layar televisi, dan dia sedikit kaget saat melihat kebersamaan Ariana, dan juga Zain Pratama.
"Apakah mereka sudah kembali bersama?" Dan Davidpun nampak begitu intens, dan fokus menatap pada layar televisi itu.
Senyum bahagia mengembang diwajah tua David, saat mendengar Zain menyampaikan pada para pemburu berita, kalau dia dan Ariana akan segera menikah.
" Sekalipun kau berkata tidak akan mau kembali padanya lagi. Tapi Papa tau, mulutlah yang berbicara seperti itu, tapi tidah dengan hatimu Araa? kau sangat mencintai Zain, hanya dia satu-satunya pria dalam hidupmu. Dan Papa juga turut bahagia untukmu anakku?" David membathin, dengan senyum bahagianya.
"Dia adalah wanita yang hebat." Diana berucap tiba-tiba, saat kedua mata itu menatap pada layar televisi.
Keningnya berkerut, saat David tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya. Hingga diapun mengulangkan kalimat istrinya, yang mengandung pertanyaan.
"Wanita hebat??"
Tersenyum getir, dengan sekilas melemparkan tatapan itu pada sang suami.
"Aku malu pada diriku sendiri, dan juga sangat malu jika aku bertatap muka dengannya. Anak yang dulu aku hina-hina, dan aku tidak pernah menerima kehadirannya dirumah, sekarang adalah perancang busana terkenal. Aku sama sekali tidak menyangkah dia akan begitu membanggakan."
David mengukir senyum kecilnya, mendengar apa yang dikatakan Diana padanya.
__ADS_1
"Dan dia adalah Ariana anakku. Dan aku sangat bangga menyebutnya sebagai anakku."