
PRATAMA GROUP.
Ntah kenapa dengan dirinya, walaupun perasaan cinta itu masih ada, tapi dia tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa bencinya, saat mengingat kembali, apa yang dilakukan mantan istrinya Ariana.
Seolah rasa benci pada wanita itu, sudah begitu menguasai dirinya, akibatnya cintanya yang sudah begitu mendalam.
Hingga saar melihat Ariana begitu bahagia, ada rasa tidak rela dalam dirinya, sebab merasa Ariana sudah bermain diatas penderitaannya.
"Kau sudah menorehkan luka padaku. Dan aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang Ariana?! karena sudah berani, mempermainkan cintaku." Gumamnya dengan raut wajah yang memerah, akibat emosi yang sudah mengusai diri.
Kepalanya menengadah keatas, menatap langit-langit ruang kerja, memikirkan hal yang sudah terjadi akhir-akhir ini dalam hidupnya. Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka, yang mengalihkan pandangannya.
Kedua alisanya menyurut seketika, saat mendapati mantan kekasihnya Clara yang tengah tersenyum padanya.
"Clara, kau..?!"
Senyuman merekah diwajahnya cantik itu, menatap lelaki yang amat dicintainya.
"Bolehkah aku masuk, Zain?" Tanya Clara, saat masih berada didepan pintu.
"Tentu saja boleh. Dan ayo masuk!' Jawabnya, dengan menegakkan kembali posisi duduknya.
Clara melangkah masuk dengan terus menampilkan senyum, diwajahnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, dengan memberikan sentuhan curly pada ujung rambut pirangnya. Cantik, dan modis. Itulah gambaran, dari mantan kekasiih seorang Zain Pratama itu.
Meletakan sebuah kantong diatas meja, dan duduk disebuah sofa panjang.
Tatapan Zain tertuju pada kantong, yang dibawah Clara . Dan memutuskan untuk bertanya, apa yang dibawah mantan kekasihnya itu.
"Apa yang kau bawa, Clara?"
Senyuman mengembang diwajah Clara, sebelum dirinya menjawab pertanyaan itu.
"Ini makan siang untukmu, Zain? dan aku yakin kau pasti, belum makan siangkan? Dan aku memasaknya, khusus untukmu."
"Tapi maaf, saat ini aku sedang tidak berselerah untuk makan, Clara?"
Beranjak dari duduknya, menghampiri Zain yang duduk dikursi kebesarannya, seraya memeluk pria itu dari belakang. Walaupun mendengar kata penolakan, namun tidak membuatnya untuk mau menyerah sebelum membuat pria itu kembali dalam pelukannya.
"Clara!! apa yang kau lakukan? ingat, kita sedang berada diperusaan!" Ucap Zain, memperingati.
__ADS_1
CLara belum juga melepaskan pelukannya, wanita cantik itu seolah tidak mau mundur, dengan rencananya untuk mendapatkan hati, mantan kekasihnya. Hingga membuatnya, memohon pada lelaki tampan itu, agar mau menyantap makan siangnya yang dia bawa.
"Zain, aku sudah cape-cape membuatkan makan siang untukmu. Apakah kau tidak bisa saja, menghargai apa yang sudah kubuat?" Ucapnya, yang terdengar memohon.
Hembusan napasnya terdengar berat, dan dia tidak mampu menolak permintaan Clara. Apalagi wanita itu, sudah rela membuatkan makan siang untuknya.
"Baiklah, aku mau," Jawabnya, dengan nada yang terdengar berat.
Senyuman bahagia merekah diwajah Clara, saat mendapatkan jawaban yang sangat dia harapkan.
Melepaskan pelukannya, dan meraih tangan lelaki itu.
"Ayo kita duduk disana saja, agar lebih nyaman makannya."
Zain tidak menjawab ia, ataupun menjawab tidak. Pengusaha tampan itu hanya diam saja, saat Clara menarik tangannya kearah sofa set.
Clara terlihat begitu bahagia, saat dirinya menghabiskan makan siang bersama Zain diperusahaan.
Sebab dalam dirinya punya keyakinan, kalau cepat atau lambat Zain pasti akan kembali dalam pelukannya, dan dia hanya butuh waktu untuk bersabar.
"Ini hanya masalah waktu. Yang jelas anak pungut itu, sudah tidak menjadi penghalang lagi buatku. Dan aku sangat yakin, cepat atau lambat Zain pasti akan kembali menjadi milikku." Bathin CLara, yang nampak bahagia.
"Siapa yang menghubungimu?" Tanya Zain tiba-tiba, sambil menikmati makan siangnya.
Raut wajah Clara seketika berubah gugup, saat mendapat pertanyaan itu dari Zain.
"Bu..bukan, siapa-siapa?" Jawabnya terbata-bata, dan mencoba untuk tersenyum.
Lagi-lagi terdengar suara telepone pada ponsel milik Clara, dan sekali lagi, dia melihat nama yang sama.
Tak ingin Zain tau tentang kebusukan yang dia simpan, membuat Clara memutuskan menjawab panggilan telepone itu, diluar ruang kerja milik pria itu.
"Zain, maaf aku keluar sebentar. Sebab aku harus, menjawab teleponenya."
"Kenapa tidak diterima, disini saja?" Tanya Zain, saat Clara akan berlalu keluar dari ruang kerjanya.
"Ini dari Papa. Dan aku tidak mau, dia mengetahui kalau aku sedang berada diperusahaanmu," Dengan langsung berlalu dari ruang kerja, tanpa menunggu ucapan dari Zain.
Tatapannya menatap kearah pintu, dan dia terlihat begitu penasaran dengan sikap aneh, dari mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Kenapa dia segugup itu? hanya karena mendapat telepone dari ayahnya," Gumamnya, dengan raut wajah penasarannya.
****
Clara berhenti disebuah ruangan yang terlihat sepi, dan memutuskan untuk menjawab panggilan telepone dari Piter disana.
"Ada apa, kau menghubungiku?!" Dengan nada, yang terdengar kesal.
Suara tawa seketika terdengar begitu menggema, saat Clara mengajukan pertanyaan itu.
"Apakah kau sedang bersama, dengan pria yang kau incar Nona Clara??"
"Itu bukan, urusanmu." Jawabnya, tegas.
"Tentu saja bukan urusanku, dan aku sama sekali tidak perduli. Sebab disini, aku hanya berurusan dengan tubuhmu." Ucapnya, dengan nada penuh penekanan.
"Bagaimana, kalau aku tidak mau."
Tawa diseberang sana terdengar lagi, saat Clara mengatakan penolakannya.
"Kau pasti tidak maukan, kalau aku mengirimkan video panas kita, pada Zain Pratama?"
Raut wajahnya seketika berubah pucat, saat Piter mengelurkan senjatanya, yang tak mampu membuat Clara untuk tidak dapat menolaknya.
"Baiklah. Kirimkan alamatnya, dimana aku harus menemuimu Tuan Piter," Dengan langsung mengakhiri, sambungan teleponenya.
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Piter, Clara memutuskan untuk kembali menyambangi Zain.
Membuka pintu, dan mendapati mantan kekasihnya tengah menatap kearahnya.
"Kau baik-baik, saja?" Tanya Zain, saat melihat raut wajah Clara yang nampak tidak bersemangat saat seperti pertama dia datang.
"Aku baik-baik saja. Dan maaf, aku harus pergi." Ucapnya, dengan menggapai tasnya, yang berada diatas kursi.
"Tapi kau belum menghabiskan makan siangmu Clara? bahkan kau makan juga baru sedikit saja."
"Kita bisa menikmati makan siang diperusahaanmu, lain waktu Zain? tapi maaf saat ini aku harus segera pergi, karena ada urusan yang harus aku bereskan." Ucap Clara dengan memberi kecupan singkat dibibir Zain, dan berlalu dari ruangan itu.
Dirinya sedikt kaget saat mendapatkan kecupan singkat, dari mantan kekasihnya itu. Tapi dalam dirinya timbul rasa penasaran, dengan sikap aneh yang ditunjukkan Clara tadi.
__ADS_1
"Dia terlihat sangat aneh, ada apa dengannya?" Gumamnya.