
Seketika timbul rasa iba dalam diri Adam pada Bella, saat mendengar keluh kesah wanita itu.
"Bangunlah. Hari ini, aku akan menemanimu. Dan aku minta, kau jangan bersedih lagi, dan jangan sampai kau melakukan tindakan bunuh diri, karena Tuhan sangat membenci akan hal itu.
Bella bangun dari bersimpuhnya, dengan langsung memeluk erat tubuh pria itu, yang membuat Adam begitu terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu padanya.
"A..apa, yang kau lakukan?" Bertanya dengan raut wajah, yang terlihat gugup.
Bella tidak memeperdulikan pertanyaan Adam, gadis cantik itu terus memeluk Adam, denggan semakin menumpakan tangisannya.
"Terima kash sekretaris Adam, kau memang adalah laki-laki yang baik. Aku tidak tau, jika saja aku tidak bertemu denganmu, mungkin sekarang aku sudah mati sia-sia, didanau itu." Ucapnya tersenyum, dibalik airamata yang terus mengalir.
Adam melepaskan pelukan Bella, dan jemarinya mengusap airamata wanita itu, yang masih mengalir.
"Apakah, kau sudah makan?" Bertanya, dengan tatapan lembut menatap Bella.
Dengan masih berisak tangis, Bella menjawab apa yang ditanyakan lelaki itu.
"Aku bahkan belum makan, dari semalam. Dan bagaimana aku bisa makan Adam? kalau menghadapi masalah sebesar ini,"
"Apa?!! jadi dari semalam, kau belum makan sama sekali?" Bertanya, seiolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Bella hanya menganggukkan kepalanya, dengan raut wajah sendunya, seraya mengusap airmata yang masih menetes.
"Kalau begitu, jangan bersedih lagi. Dan ayo kita pergi kerestorant, dan hari ini aku yang akan mentraktirmu, dan menjadi teman ceritamu. Sebab aku sudah meminta ijin pada Tuan Zain, sebelum kesini. Dan sebenarnya tadi aku datang ketaman ini mau bertemu seseorang, tapi sepertinya dia hanya mengerjaiku,"
"Wah orang itu sangat keterlaluan! kenapa dia bisa mengerjaimu? dan ayo kita pergi sekarang, karena aku juga sangat lapar." Ajaknya dengan langsung menggandeng Adam, dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia.
Sedikit kaget, saat Bella menggandengnya. Hingga membuat Adam merasa tidak nyaman, dengan apa yang dilakukan gadis itu.
"Jangan menggandengku! nanti orang-orang mengirah, kalau kita adalah pasangan." Dengan berusaha melepaskan tangan Bella, tapi malah gadis itu malah menggenggamnya semakin erat.
"Tubuhku begitu lemah sekretris Adam, mungkin karena aku belum makan sampai sekarang. Jadi kalau tidak, menggandengmu, aku bisa jatuh."Dengan berpura-pura menyentuh kepalanya, seolah-olah dia akan jatuh.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kau saja," Jawabnya, pasrah.
Raut wajah Bella terlihat begitu bahagia, saat berjalan bersama Adam, dengan terus menggandeng pria itu. Dan dalam dirinya dia bersorak-sorai, karena berhasil memperdayai sekretaris itu, dan akan melewati waktu yang lama bersamanya.
"Ternyata kau begitu bodoh, sekretaris Adam?! bahkan dengan muda, aku memperdayaimu." Bathinnya, dengan seringai jahat diwajah.
****
Tatapan matanya terus melihat kearah luar, dan dia terlihat begitu gelisah, saat orang yang ditunggunya belum datang juga.
"Kenapa, dia belum datang juga yaa?" Gumam Clara, bertanya pada diri sendiri.
"Maaf, buatmu meenunggu." Terdengar suara bariton, yang mengejutkan wanita itu.
Senyuman membingkai diwajah wanita berambut pirang itu, saat melihat orang yang sedari tadi ditunggunya, sudah berada didepannya.
"Aku mengirah, anda tidak datang Tuan Piter?"
"Tidak masalah Tuan Piter, sebab aku tau anda sangat sibuk."
"Katakan padaku. Ada hal penting apa, hingga kau mengajakku bertemu." Dengan tatapan penasaran, menatap wanita didepannya.
Senyuman membingkai diwajah Clara, saat mendapati pertanyaan dari pengusaha itu. Meneguk segelas minuman hangat, sebelum menjawab pertanyaan dari pria itu.
"Aku tau. Bahkan sangat tau, kalau dari dulu kau sangat membenci Zain. Dan apakah, kau ingin melihatnya hancur?"
Sorot matanya menatap Clara dengan tatapan intens, dan dia terlihat begitu penasaran, dengan apa yang dijawab oleh wanita itu.
"Maksudmu?"
"Aku ingin kita menjebak istrinya, dengan berpura-pura kalau kalian telah melakukan hal itu. Dan aku yakin, Zain pasti akan hancur saat melihat istrinya, ternyata telah berselingkuh dengan rekan bisnisnya sendiri." Ucapnya, dengan senyuman sinis diwajahnya.
Tawa kecil seketika keluar dari mulut pengusaha itu, saat mendengarkan apa yang dikatakan Clara padanya.
__ADS_1
"Aku tau Nona Clara, kalau kau masih sangat berharap dapat kembali kedalam pelukan Zain Pratama. Dan aku rasa, ini bukan hanya untuk kepentinganku saja, tapi juga kau. Dan aku bisa melakukan itu, tapi harus dengan bayaran yang mahal." Jawabnya santai, dengan menyandarkan pundaknya menatap Clara.
"Berapapun yang kau minta Tuan Piter, aku pasti akan membayarnya." Jawabnya, dengan penuh keyakinan.
Menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat mendengarkan apa yang diucapkan Clara.
"Aku sudah punya banyak uang Nona Clara, jadi aku tidak membuutuhkan itu."
"Terus aku harus membayarnya dengan menggunakan apa? jika kau tidak menginginkan uang." Dengan tatapan penasaran, menatap Piter.
"Aku ingin kau membayarnya, dengan tubuhmu. Aku menginkan, kau." Jawabnya, tersenyum.
Clara begitu terkejut dengan apa yang dia dengar, kalau laki-laki itu, menginginkan tubuhnya.
"Apa kau sudah gila Tuan Piter!! kau menginginkan tubuhku??"
"Tentu. Karena itu sesuai, dengan apa yang aku lakukan. Bagaimana, Nona Clara??"
Clara menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dan dia nampak menimang dengan apa yang diinginkan Piter, darinya.
Memang melakukan hubungan suami istri, bukan hal baru bagi seorang Clara, karena sebelumnya dia pernah melakukan hal itu, dengan Jason mantan kekasihnya.
"Baiklah, aku mau. Tapi jangan sampai aku hamil, dan juga jangan sampai ada orang yang mengetahui ini, terutama Zain." Dengan nada, penuh penekanan.
"Tentu, Nona Clara! karena aku juga tidak mau, hal itu sampai terjadi. Sebentar aku akan menghubungimu, dan mengirimkan alamat, dimana kita akan melewati malam yang panjang."
"Tentu. Pasti aku akan datang, dan melayanimu Tuan Piter. Tapi ingat, bayarannya kau harus membuat Zain benar-benar berpisah dengan istrinya."
"Tentu. Tapi setidaknya dengan memberikan tubuhmu terlebih dahulu, agar semua dapat berjalan sesuai keinginanmu."
"Tentu. Aku pasti akan memberikan diriku, padamu." Dengan senyuman menggoda, menatap Piter.
Jason yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka, begitu terkejut dengan apa yang dia dengar. Dan dia tidak menyangkah, mantan kekasihnya akan melakukan hal itu, untuk mendapatkan kembali seorang Zain Pratama.
__ADS_1