Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Resepsi


__ADS_3

Wajah sumringah, saat kedua kaki mungilnya sudah berada didalam boutique.


Mengedarkan pandangannya kesegalah arah, mencari keberadaan Bibinya Rani.


"Bibi... Bibi Rani..." teriakan yang begitu menggema, dari mulut gadis kecil itu.


Ariana menyimpulkan senyum diwajah, saat dirinya sudah berada didalam boutique.


"Apakah Bibi Rani tidak ada Stefanie?'


"Tidak ada Mommy! Bibinya tidak ada," dengan raut wajah kecewanya, saat berucap pada Ibunya.


"Apakah kau mencariku gadis kecil?" terdengar suara yang menyapa, dengan alunan kaki menghampiri pada Stefanie.


Berbalik , dan senyuman seketika mengembang diwajah Stefanie saat mendapati keberadaan Rani.


" Bibi Rani..." dia segera berlari kecil pada Bibinya, yang sudah melebarkan kedua tangannya.


"Aku sangat merindukanmu Bibi Rani! sangat merindukanmu," nada itu terdengar manja, saat dirinya terbenam dalam pelukan perancang busana itu.


"Bibi juga sangat merindukanmu, dan kenapa selama ini kau dan Mommymu tidak datang?"


Segera menarik diri dalam pelukan Rani, dengan tatapan penuhnya.


"Itu karena aku sibuk mengurus keenam bayi kucing Meongku, dan juga calon adik-adik bayiku Bibi!" dengan wajah antusiasnya.


Menautkan kedua alisnya, dengan tatapan penasaran.


"Adik bayi?"


"Hemm...!" dengan anggukan cepat.


"Sebentar lagi aku akan memiliki adikbayi."


Tatapan mata itu perlahan terangkat pelan, dan menatap pada Ariana.


"Ariana.." dengan bangun dari duduknya. Tapi saat kedua kaki itu mengayun pada arah wanita itu, raut wajah Rani sedikit kaget saat melihat perut Ariana yang sudah terlihat membuncit dibalik dresnya.


"Kau..!"


"Aku hamil Kak! aku sedang mengandung anaknya Zain," dengam senyuman kecil diwajah.


Keningnya mengkerut dengan raut wajah penasaran.


"Hamil! bagaimana bisa. Bukankah kalian belum menikah?"


"Mommy, dan Daddy sudah menikah BiBi! dan didalam perut Mommy ada lima adikbayi,"


Rasa penasaran semakin saja menyelimuti diri Rani, mendengar apa yang dikatakan Stefanie padanya.


"Menikah? lima adikbayi?" gumamnya akibat rasa penasaran yang semakiin membelenggu, dan tatapan mata itu dia lemparkan pada Ariana dengan tatapan penuh selidik.


"Maafkan aku," Ariana berucap dengan rasa bersalah, seraya melukis senyum disana.


Menghembuskan napas kasar, dan mengukir senyum diwajah.


"Aku hanya kecewa, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau dan Zain sudah menikah? apakah aku ini bukan Kakakmu lagi Araa?!"


"Selamanya kau adalah Kakakku, Kak Rani! aku hanya malu karena saat itu aku sudah terlanjur hamil duluan,"


"Tadi Stefanie mengatakan, kalau dalam perut Mommynya ada lima adikbayi. Apakah kau.." dengan menjeda kalimatnya sejenak.


"Ya. Kalau mereka lahir, kau akan memiliki enam keponakan. Aku mengandung bayi kembar lima," seru Ariana tersenyum.


Membekap mulutnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ariana barusan.

__ADS_1


"Kau serius Araa??"


"Iya, aku serius."


Tangannya melebar, dan merangkul penuh pundak Ariana.


"kita harus merayakannya. Aku akan memesan makanan kesukaanmu," Rani berucap dengan rona bahagia diwajahnya.


"Bagaimana denganku Bibi? apakah kau hanya membeli makanan kesukaan Mommy saja?" dengan menampilkan wajah juteknya, saat berucap pada Rani.


Ariana, dan Rani saling melemparkan pandangan kemudian tertawa kecil.


Mensejajarkan tingginya dengan Stefanie, dan mencubit gemas pipi gadis kecil itu.


"Sakit Bibi!" gerutunya.


"Tentu saja Bibi tidak akan melupakanmu gadis kecil!"


****


Hari yang dinantipun akhirnya tiba, saat seminggu telah berlalu. Tamu dari berbagai kalangan terus saja bertangan dihari bahagia Zain, dan juga istrinya Ariana. Ntah itu dari kalangan selebritis, pengsusaha, maupun pejabat.


Ariana terlihat begitu cantik dengan gaun putih yang menjuntai, yang sedikit menyembunyikan perut buncitnya


"Kau sangat cantik Sayang," Zain berbisik pelan ditelinga istrinya, saat keduanya bersanding dipelaminan.


"Gombal!' dengan berpura-pura marah, berusaha menyembunyikan wajah yang merona.


Keromantisan keduanya seketika terusik, dengan kemunculan Rian yang akan memberi ucapan selamat pada keduanya.


"Selamat untuk kalian berdua, dan semoga saja kau selalu saja bahagia Araa!'


Wajah kesal seketika membingkai penuh diwajah tampan Zain, yang merasa tersindir dengan ucapan Rian.


"Dan aku pegang kata-katamu Tuan Pratama," jawab Rian tersenyum, yang membuat Zain kian meradang.


"Kau!" dengan wajah kesalnya.


"Sayang.. sudah. Apakah kau tidak melihat ada orang banyak disini?" Ariana memperingati suaminya dengan berbisik pelan.


Zain melonggarkan sedikit dasinya, akibat rasa kesalnya pada pengusaha tampan itu.


"Untung saja ini resepsi pernikahan kita, kalau tidak mungkin aku sudah menendangnya dari tempat ini,"


"Kau akan berurusan dengan putrimu Zain! jika kau sampai menendang Rian,"


Menautkan kedua alisnya, dengan tatapan heran pada Ariana.


"Memangnya kenapa?"


"Asal kau tau! putrimu sangat mengidolakan Rian,"


Tamu-tamu terus saja berdatangan, memberi ucapan selamat pada Ariana, dan juga Zain. Dan dibarisan para tamu, ada Clara, Ibunya, Jason, dan juga Papa David.


Rona bahagia yang tadi membingkai penuh diwajah tampan pengusaha kaya itu, seketika memudar saat mendapati keberadaan Clara, dan juga Ibunya.


Kini Clara sudah bertatapan, dengan kedua mempelai itu.


"Kak Clara! aku mengirah kau tidak akan datang,"


"Aku pasti akan datang Araa! mana mungkin aku tidak datang keresepsi pernikahan adikku," dengan melukis senyum diwajah.


"Zain..." ucapnya saat sudah berhadapan dengan lelaki itu.


" Selamat! semoga kau selalu bahagia dengan adikku," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Aku pasti akan membahagiakan adikmu, karena aku sangat mencintainya." seru Zain dengan nada tegas.


Menyimpulkan senyum diwajah, walaupun ada sedikit rasa sakit hati didalamnya, tapi Clara sudah mengiklaskan mantan kekasihnya untuk Ariana.


"Dan aku sangat percaya itu, karena aku tau kau begitu mencintainya,"


Selanjutnya pada Diana, dan walaupun dia belum bisa memaafkan wanita paruhbaya itu, tapi Zain berusaha menyembunyikan rasa jengkelnya demi kebahagian istrinya.


"Zain! aku percayakan putriku padamu. Jangan pernah kecewakan dia lagi,"


Tersenyum, dengan merangkul penuh pundak sang istri.


"Tentu saja Papa! karena aku sangat mencintainya."


Malam kian menjemput. Ariana dan Zain terlhat begitu bahagia dengan kelancaran resepsi pernikahan mereka berdua.


Suasana romantis semakin saja menyelimuti resepsi itu, kala terdengar lagu westlife berjudu My Love.


Zain segera beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju pada Ariana yang tengah berbincang bersama Rani.


"Apakah kau mau berdansa denganku Nona?' Zain membungkukkan sedikit badannya, dengan tangan yang terulur pada istrinya.


"Zain! kau membuatku malu," dengan wajah merona, saat banyak pasang mata yang terus tertuju pada keduanya.


"Ayo Araa!" pinta Rani dengan berbisik pelan pada telinga Ariana, agar menerima ajakan suaminya.


Dengan malu-malu Ariana bangun dari duduknya, dan melabuhkan jemarinya yang seketika disambut oleh Zain.


Ariana, dan Zain berdansa dengan Ariana yang melingkarkan sempurna kedua tangannya pada leher Zain, dan Zain yang memeluk penuh pinggang sang istri.


"Aku sangat mencintaimu Araa!" tatapan begitu dalam, saat kedua pasang mata itu saling beradu.


"Aku juga sangat mencintaimu Zain, sangat mencintaimu."


"Cium... cium....cium....." terdengar suara teriakan pada tamu undangan, pada pasangan suami istri itu.


Zain menyimpulkan senyum diwajah, dan berbisik pelan ditelinga Ariana.


"Jangan menolak," ucapnya pelan.


Mimik cemberut, melihat kebahagian kedua orangtuanya. Dan merasa dirinya terabaikan.


"Mommy, dan Daddy benar-benar sudah melupakan aku!" dengan nada kesal, dan melangkah menghampiri kedua orangtuanya.


Perlahan Zain mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya, dengan Ariana yang sudah memejamakan matanya, saat suaminya akan melabuhkan ciuman panjang. Baru saja pengusaha kaya itu akan mendaratkan bibirnya, terdengar suara Stefanie disana.


"Daddy! Mommy! apakah kalian sudah melupankan aku?!" dengan menampilkan wajah penuh amarah.


"Stefanie!" seru Zain, dan Ariana bersamaan.


"Buat apa kau kemari Sterfanie? bukankah kau bersama Bibi Rani?" tanya Zain dengan raut wajah kesalnya.


"Karena kalian sudah melupakan aku!" dengan sedikit teriakan.


Ariana tersenyum, akibat malu pada tamu undangan yang terus menatap pada keduanya.


"Cepat kau gendong dia Zain! kau tau bagaimana keras kepala putrimu itukan," pinta Ariana dengan berbisik pelan.


Menghembuskan napas kasar, berusaha meredam emosi dalam diri.


Segera meraih tubuh Stefanie, membawa dalam gendongannya.


Stefanie nampak begitu bahagia, saat berada dalam gendongan sang ayah.


"Daddy! tadi aku melihat Paman Rian. Kau tau Daddy, dia sangat tampan. Bahkan jauh lebih tampan darimu," seru Stefanie dengan santainya.

__ADS_1


__ADS_2