
"Maksudmu Tuan Rian, Sayang?"
"Tentu saja, Dia. Siapa lagi. Dan apakah Bosmu yang tidak tau malu itu, tidak mempunyai kekasih?"
Ariana tersenyum kecil, saat suamimnya menanyakan Rian sudah memiliki kekasih, atau belum.
"Tuan Rian, tidak memiliki teman wanita. Tapi yang aku tau dari Bella, kalau dia menyukai seorang wanita. Tapi sayangnya, perempuan yang dia sukai, sudah menikah."
"Jadi dia mengatakan seperti itu, kalau dia menyukai seorang wanita. Hanya sayangnya wanita itu, sudah menikah." Tanya Zain yang sudah dilanda api cemburu, karena dia tahu wanita itu adalah istrinya.
"Iya Sayang, padahal itu sangat disayangkan. Tuan Rian itu adalah laki-laki yang baik, dan juga sangat menghormati wanita. Dan menurutku, wanita itu begitu beruntung, bisa dicintai oleh laki-laki seperti Tuan Rian."
Zain terlihat begitu kesal. saat mendengar ucapan Ariana yang memuji Rian. Hingga membutnya begitu marah, pada Ariana.
"Siapa yang menyuruhmu, tidur didalam pelukanku. Minggir sana!!" Dengan mendorong tubuh Ariana, agar jauh darinya.
Malam ini kita tidur berjauhan, dengan guling ini sebagai pembatas. Dan jika kau melewatinya, aku benar-benar akan melemparmu dari lantai tiga rumah ini!"
Ariana sedikit kaget, dengan sikap suaminya yang tiba-tiba marah padanya, tanpa dia tahu apa alasannya.
"Apa kesalahanku, Sayang? hingga kau marah padaku. Kau menanyakan tentang Tuan Rian, dan aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Kesalahanmu adalah, karena kau begitu bodoh!! dan tidak menyadari, kalau aku men.." Dengan menjeda kalimatnya, saat hampir saja dia mengatakan, kalau dia mencintai Ariana.
"Men.., apa Sayang?" Dengan nada penasaran, menatap Zain.
Terlihat semakin kesal, itulah yang terlihat jelas dari raut wajah Zain Pratama saat ini.
"Bodoh! bodoh! kau sangatlah, bodoh!! apakah kau tidak tau, kalau aku sedang cem.." Dengan menjeda, kalimatnya lagi.
"Cem.., apa Sayang?" Dengan raut wajah yang terlihat semakin penasaran, saat suaminya tak kunjung menyelesaikan apa yang akan dia katakan.
"Diam, kau!! dan jangan bicara lagi. Dan jika kau melewati guling ini, aku benar-benar akan membunuhmu!" Dengan nada penuh penekanan, dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ariana hanya diam, dan dia tampak penasaran, dengan sikap suaminya yang berlebihan. Hingga dalam dirinya timbul tanda tanya, ada apa dengan laki-laki tampan itu.
__ADS_1
"Ada apa dengannya. Dia menanyakan Tuan Rian, dan aku hanya mengatakan, yang sebenarnya. Dia tidak menyelesaikan apa yang akan dia katakan, manamungkin aku mengerti?" Bathin Ariana, dengan terus menatap suaminya, yang sudah rtidur dengan posisi mempunggunginya.
Rasa kantuk tak sanggup dibendungnya, apalagi saat ini Zain sudah tidur terlebih dahulu. Dan diapun memutuskan, untuk segera memejamkan matanya, diwaktu yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Selamat malam Sayang, dan mimpi yang indah." Seru Ariana, setelah mematikan lampu kamar.
"Selamat malam, istriku. Apakah kau tidak menyadari, kalau aku telah jatuhcinta padamu. Dan aku cemburu Ariana, saat kau memuji pria lain." Gumamnya pelan, dan ikut memejamkan matanya.
****
Jarum jam terus melangkah, hingga mataharipun telah kembali menyapa semesta alam, saat pagi telah menyapa.
Raut wajahnya terlihat begitu gelisah, saat duduk seorang diri direstorant mewah, yang terletak ditengah kota Jakarta.
"Maaf Nyonya Celine, aku terlambat." Seru detektiff Robert, dengan menduduki sebuah kursi.
"Tidak masalah Tuan Robert, aku juga baru saja datang.
Dan apakah sudah ada perkembangan, mengenai keberadaan putriku? karena hari ini, kau mengajakku bertemu."
"Iya, Nyonya. Dari informasi yang saya dapat, ternyata putri anda masih berada diJakarta."
"Kau serius, Tuan Robert? jadi putriku, masih berada diJakarta."
"Iya Nyonya, putri anda masih berada dikota ini."
Celine terlihat begitu bahagia, hingga tidak sadar airnata sudah mengalir dari kedua bolamatanya. Karena dia semakin menemukan titik terang, mengenai keberadaan putrinya yang selama ini dicarinya.
"Aku mohon Tuan Robert, carilah keberadaan putriku secepatnya. Aku sudah tidak sabar, ingin bertemu dengannya."
"Tenanglah Nyonya, aku yakin sebentar lagi kita akan mengetahui keberadaan putri anda."
KEDIAMAN ZAIN PRATAMA.
Duduk bersandar pada kursi kebesaran, dengan tatapan mata tertuju pada sebuah kalung, lengkap dengan liontinnya. Tapi sayangnya, liontin itu hanya sebagian saja.
__ADS_1
"Dimana aku bisa menemukan, bagian dari liontin ini. Akibat menyelamatkan gadis itu, aku harus kehilangan sebelah liontin berharga milik Mama."
Terdengar suara ketukan pintu, dari luar ruang kerjanya. Yang memecahkan lamunan, seorang Zain Pratama.
"Ma..suk..!"
Pintu ruangan terbuka, saat mendapatkan titah itu. Dan menampilkan sosok Adam, sang skretaris.
"Selamat siang, Tuan?"
"Siang." Dengan senyum sekilas menatap Adam, dan tatapan matanya kembali tertuju pada kalung yang masih menggelantung ditangannya.
"Ini Tuan, laporan penjualan tentang produk baru kita." Degan meletakkan sebuah map, diatas meja kerja Tuanmudanya.
Meraih map tersebut, dan mulai membaca lembaran demi lembaran, dari hasil penjualan produk mereka.
"Kerja bagus, Adam? kau memang selalu tidak pernah, mengecewakanku. Dan berikan bonus pada karyawan perusahaan kita, yang sudah bekerja dengan baik."
"Baik, Tuan?"
"Adam.."
"Ada apa, Tuan?"
"Apakah kau sudah menemukan, wanita itu? sebab aku yakin, bagian dari liontin ini ada padanya."
"Maafkan saya Tuan. Saya sudah mencari tau, tapi keberadaan gadis itu, sulit sekali ditemukan. Karena Mami Joana yang saat itu melakukan transaksi, sudah tidak menetap diIndonesia lagi."
Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dan dia terlihat begitu kecewa, saat mendengar apa yang disampaikan sekretrisnya.
"Padahal aku sangat berharap, kau bisa menemukan keberadaan gadis itu. Karena aku sangat yakin, kalau bagian dari liontin ini ada padanya. Apalagi liontin ini milik mendiang Ibuku, jadi sangat berharga buatku."
****
NYT Group.
__ADS_1
Duduk bersandar pada kursi kebesarannya, dan tatapan matanya menatap dengan intens layar televisi, yang tertancap pada dinding ruang kerjanya. Raut wajahnya memerah, dan dia terlihat frustasi saat menonton sebuah siaran langsung, yang menayangkan keberhasilan dari perusahaan, milik Zain Pratama dengan produk yang baru mereka.
Melemparkan dengan kasar berkas-berkas yang berada diatas meja, hingga membuat sekretaris, dan juga beberapa karyawannya, hanya menunduk takut dengan amukan Bos mereka.