
Beberapa jam kemudian.
Ariana terlihat begitu gelisah. Wanita berambut hitam itu terus menatap jam tangan yang melekat ditangannya, sebab sebentar lagi dia akan pergi menemui suaminya dihotel.
"Alasan apa yang harus aku berikan pada Tuan Rian, agar dia memberikan aku ijin untuk pulang." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu gelisah.
"Ariana...!" Panggil Bella tiba-tiba, dengan menghampiri sahabatnya.
"Ada apa,Bella?"
"Kau belum pergi menemui suamimu, bukankah kau harus pergi kesalon terlebh dahulu, Ariana?"
"Hal itulah yang daritadi aku pikirkan Bella. Tapi bagaimanapun, aku harus meminta ijin dulu pada Tuan Rian, sebelum aku pergi."
"Dia sedang menghadiri rapat para pemegang saham, jadi hari ini urusan restorant, aku yang menanganinya. Jadi aku, memberimu ijin." Dengan senyuman, menatap Araa.
Kegelisahan yang sedari terlihat diwajahnya, seketika pudar, saat mendengar apa yang dikatakan sahabatnya, Bella.
"Kau serius, Bella?" Bertanya, memastikan apa yang dia dengar tidaklah salah.
"Tentu saja. Buat apa, aku berbohong." Jawabnya, dengan sebuah anggukan kecil.
"Terima kasih Bella, kau memang sahabat terbaikku. Dan kalau begitu, aku pergi dulu. Dan doakan, semoga semuanya berjalan lancar."
'Tentu kawan, aku akan selalu mendoakan semoga kau selalu bahagia." Jawab Bella, dengan senyuman diwajahnya.
****
Sebuah taksi memasuki area hotel, bintang 5. Ariana menghembuskan napas berat, saat taksi membawanya telah berhenti didepan hotel.
Setelah membayar taksi yang dia tumpangi, Ariana segera melangkahkan kaki kedalam hotel mewah itu.
Berbagai perasaan bercampur jadi satu, itulah yang dirasakan oleh wanita berambut hitam itu.
Clara yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya, nampak begitu bahagia saat melihat kedatangan Ariana. Dengan posisi bersembunyi dibalik pilar besar, Clara memotret Ariana yang terlihat dengan penampilan yang begitu berbeda, dan mengirimkan pada seseorang.
__ADS_1
"Hari ini, hari terakhirmu bersama Zain. Dan bukan Zain saja yang akan membencimu, tapi juga Papa. Dan dia akan begitu kecewa padamu, saat mengetahui anak kesayangannya, yang biasa dia bangga-banggakan, melakukan hal serendah ini." Dengan seringai, diwajahnya.
Ariana menghampiri resepsionis, dan menanyakan dikamar berapa, suaminya Zain Pratama tengah menunggunya.
"Ini kuncinya, Nona? Tuan Zain, menunggu anda dikamar 404 lantai 5." Jawab resepsionis itu, dengan memberikan sebuah kartu pada Ariana.
"Terima kasih." Meraih kunci kamar itu, dan berlalu pergi menuju arah lift.
Saat berada didalam lift, Ariana terlihat begitu gelisah. Tatapan matanya terus menatap kearah angka, yang membawanya kelantai 5 hotel itu.
"Kenapa tiba-tiba, perasaanku jadi gak enak gini?" Bertanya pada diri sendiri, dengan keresahan yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
Pintu lift terbuka, dan Ariana telah tiba diantai 5. Menghembuskan napas dalam, dan berusaha untuk berpikir positif guna menghilangkan keresahan yang melanda diri.
"Ini kamarnya." Gumam Ariana, saat dia sudah berada didepan kamar 404.
Ragu masih dia rasakan. Menenangkan diri sesaat, dan memantapkan hati untuk membuka pintu kamar.
Pintu kamar terbuka, dan dia melangkah masuk kedalam kamar, tanpa ada perasaan curiiga sedikitpun. Saat berada didalam, Ariana begitu terkejut, ketika ada seseorang yang membekap mulutnya dari belakang. Ariana seketika terjatuh tidak sadarkan diri, karena pengaruh obat bius.
Menatap dengan lekat wajah Ariana, dan Piter begitu mengangumi kecantikan istri rekan bisnisnya itu.
"Dia sangat cantik, tapi sayang nasipnya tidak seberuntung wajah cantik yang dia miliki." Gumam Piter dengan langsung menggendong Ariana, membawanya keatas ranjang.
"Hidupmu begitu sempurna, Zain. Tapi hari ini, aku akan membuat senyuman yang tiap hari kau tunjukan itu, menjadi sebuah airmata. Karena kau akan melihat istrimu, tidur dengan rekan bisnismu sendiri. Dan kau sangat beruntung, karena aku tidak ada niat bercinta dengan istrimu." Gumamnya, dengan seringai diwajahnya.
****
KEDIAMAN ZAIN PRATAMA.
Zain terlihat begitu resah. Dan ntah kenapa, hari ini pria itu terlihat tidak bersemangat, seperti hari-hari sebelumnya.
"Apakah, anda baik-baik saja Tuan?" Tanya Adam, yang sedari tadi tengah memperhatikan Tuanmudanya.
"Ntahlah Adam, tapi hari ini aku merasa kurang enak badan." Jawabnya, dengan menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi kebesarannya.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Celine, yang tengah membawa sebuah nampan, berisi segelas minuman.
"Minumlah ini. Ini mungkin bisa membuat badanmu, terasa lebih ringan. Karena daritadi yang Bibi perhatikan, kau seperti tidak sehat." Ucapnya, dengan meletakkan secangkir teh hijau, diatas meja.
"Terima kasih Bibi, karena kau begitu perhatian padaku." Dengan meraih cangkirr tersebut, tapi seketika gerakan tangan itu terhenti, saat mendengar dentingan pesan pendek pada ponselnya.
Meletakkan kembali cangkir itu, dan meraih ponselnya.
Celine seketika membingkai senyuman kecil diwajahnya, saat mendengar bunyi pesan masuk pada ponsel milk keponakannya. Sebab dia meyakini, itu pasti kiriman foto-foto Ariana.
Rahangnya mengeras seketika, dengan raut wajah yang terlihat begitu memerah, saat melihat gambar-gambar Ariana dengan penampilan yang begitu cantik masuk kedalam hotel. Dan matanya tiba-tiba berkaca-kaca, saat melihat foto selanjutnya Ariana tidur dengan seorang pria yang wajahnya sangat familiar, dan saat dia memperbesar gambar itu, betapa terkejutnya Zain kalau pria yang tidur dengan istrinya itu, adalah rekan bisnisnya, Piter.
Kemarahan tak sanggup dibendung lagi oleh laki-laki tampan itu, hingga ponsel yang sedang berada digenggamannya, dilemparnya kearah tembok.
"PRAAKKK" Hingga ponsel itu, hancur berkeping-keping.
Adam begitu terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Tuanmudanya, sebab daritadi dia melihat emmsi Bosnya dalam keadaan stabil.
"Tuan, anda kenapa? apakah ada masalah?" Bertanya, dengan nada penasaran.
Zain tidak menjawab, apa yang ditanyakan oleh sekretarisnya itu. Pria itu kembali meraih cangkir yang berada diatas meja, dan melemparkannya lagi.
"PRAAKKK"
Celine begitu terkejut, dan dia terlihat begitu ketakutan, sebab dia tidak menyakah keponakannya akan semarah ini, saat melihat foto-foto istrinya.
Dan ketika Zain akan menghancurkan benda-benda yang lain, dengan cepat Adam mencegahnya, dengan memeluk erat pinggang Tuanmudanya.
"Tuan.., aku mohon tenanglah. Tenanglah, Tuan?"
"Dia menghianatiku, Adam...! dia menghianatiku...!"
Walapun penasaran dengan apa yang terjadi. Adam tetap berusaha untuk menenangkan, Tuanmudanya.
"Ada lebih baiknya kita langsung saja ketempat itu, untuk memastikan sendiri."
__ADS_1