
Tak bisa dibayangkan bagaimana raut wajah Zain, saat ini. Kepalan tangan, dan raut wajahnya begitu memerah, dengan telinga yang ikut menegang. Menghembuskan napas, berusaha meredam emosi dalam dirinya yang sudah meluap.
"Baiklah Adam. Ayo kita pergi, kehotel itu sekarang juga." Ajaknya, pada sekretarisnya itu.
"Kalian mau kemana? tadi kau mengatakan pada Adam, kalau dia menghianatimu, siapa yang kau maksud Zain? apakah dia Ariana, istrimu?!" Tanya Celine, dengan berpura-pura tidak tau.
"Aku harus pergi sekarang. Nanti baru aku ceritakan padamu Bibi?" Jawab Zain, dengan berlalu pergi bersama Adam dari ruang kerjanya.
Setelah memastikan Adam, dan keponakannya sudah melangkah jauh, Celine seketika mengeluarkan tawa bahagianya. Sebab usahanya untuk menyingkirkan Ariana selamanya, dari kehidupan keponakannya berhasil.
"Aku yakin. Bahkan sangat yakin, setelah ini Zain pasti akan segera menceraikan anak pungut itu!" Dengan seringai, diwajahnya.
****
Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki kawasan hotel bintang 5, yang terletak ditengah kota Jakarta. Dan saat mobil sudah terparkir sempuna diarea parkir, Zain langsung menurunkan kedua kakinya, tanpa menunggu Adam membuka pintu terlebih dahulu.
Raut wajahnya terlihat memerah, dan kepalan terlhat begitu membungkus. Dengan langkah tergesa-gesa, pria itu segera memasuki hotel mewah itu.
Tawa bahagia membingkai diwajah Clara, saat melihat kedatangan Zain. Dan dia langsung berakting, seolah-olah baru keluar dari hotel itu.
Meraih ponsel dari dalam tasnya, dan segera mengirimkan pesan pada Piter, kalau mantan kekasihnya sudah berada dihotel.
Pesan.
Zain sudah berada dihotel ini. Dan bersiap-siaplah, untuk memulai aktingnya. Dan jangan, sampai gagal.
Menghembuskan napas, dan memperbaiki penampilannya agar terlihat cantik didepan pengusaha tampan itu.
Berpura-pura melangkah, yang dapat berpapasan dengan Zain. Clara melangkah dengan terus mengembangkan senyuman diwajahnya, dan saat sudah lebih mendekat, dia berpura-pura terkejut, karena melihat kedatangan Zain dihotel itu.
"Zain.." Panggilnyaa, saat laki-laki itu, bersama Adam akan berjalan menuju arah resepsionis.
Berbalik keasal suara, dan mendapati keberadaan Clara yang tengah menghampiri mereka.
"Clara.." Gumamnya, pelan.
"Apa yang kau lakukan disini, Zain? Bertanya, dengan raut wajah pura-puranya.
__ADS_1
"Aku sedang ada urusan, disini." Jawab Zain, yang berusaha menutupi masalah.
Senyuman membingkai diwajah Clara, saat mendengar jawaban mantan kekasihnya itu. Dan dia tahu, Zain tengah berusaha menyembunyikan tujuannya, datang kehotel itu.
"Kau tidak usah menutupi dariku Zain, aku tau kau datang kesini karena ingin bertemu dengan Ariana. Sebab tadi aku melihat dia datang kehotel ini, dengan penampilan yang sangat cantik."
Raut wajahnya semakin memerah, saat mendengar apa yang dikatakan Clara padanya. Dan itu membuat Clara, nampak begitu bahagia, karena berhasil menambah kemarahan pada mantan kekasihnya.
"Kamar yang ditempati Tuan Piter, berada dilantai 5 kamar 404, Tuan?" Ucap resepsionis itu, pada Zain.
"Terima kasih." Jawabnya, dengan langsung melangkah kearah lift, yang dikuti oleh Adam.
"Tunggu.., aku ikut.." Seru Clara dengan berlari kecil, mengikuti langkah kaki Adam, dan juga Zain, yang telah berlalu terlebih dahulu.
Saat ini mereka sudah berada didalam lift. Raut wajah Zain, terlihat begitu gelisah. Tatapan matanya terus menatap kearah angka, yang membawa mereka kelantai 5 hotel itu.
"Adam! katakan padaku, sebenarnya ada apa ini? kenapa kalian, terlihat begitu gelisah, terutama kau Zain? daritadi, kau nampak tidak tenang," Tanya Clara, dengan berpura-pura tidak tau.
"Anda akan mengetahuinya, saat kita sudah berada dikamar 404."Jawab Adam, menjawab rasa penasaran wanita itu.
"Baiklah.." Jawabnya pasrah, dengan mimik cemberut.
"Sebentar lagi Zain akan kembali padaku, dan dia pasti tidak akan pernah memaafkan anak pungut itu," Bathinnya, dengan senyuman disudut bibirnya.
TING
Pintu lift terbuka. Zain melebarkan langkah kakinya, mengambil langkah cepat, menuju kamar 404 diikuti oleh Adam dan juga Clara.
Menghembuskan napas dengan raut wajah yang sudah sangat memerah, dan kepalan tangan yang begitu membungkus saat sudah berada didepan kamar.
"Ini kamarnya, Tuan?"
"Kau tau, apa yang harus kau lakukan Adam?!"
"Tentu Tuan." Jawab Adam, dengan langsung menendang pintu kamar, dengan sangat kuat.
"BRAAAKK" Hingga membuat pintu kamar 404, seketika terbuka lebar.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Zain langsung melangkah cepat kedalam, menghampiri Piter yang tengah berbaring diatas ranjang bersama Ariana, yang tidak sadarkan diri.
Menarik turun pria itu dengan kasar dari ranjang, dan memukulnya secara membabibuta.
"Dasar kau laki-laki brengsek Piter!! kau tega menusukku dari belakang." Dengan terus menghajar, rekan bisnisnya itu.
Adam segera menghampiri Tuanmudanya, dan memeluk tubuhnya dari belakang, sebab dia takut Tuanmudanya bisa membunuh rekan bisnisnya, karena pria itu tengah dikuasai amarah.
"Tuan..., aku mohon tenanglah.., anda bisa membunuhnya!!"
"lepaskan aku, Adam..! lepaskan..!" Dengan berusaha melepaskan pelukan Adam, pada pinggangnya.
Melihat rakan bisnisnya begitu terluka, membuat Piter terlihat begitu bahagia. Walaupun dia banyak mendapat pukulan, dari Zain.
Mengusap kasar bibirnya, dan berusaha bangun dari jatuhnya.
"Istrimulah, yang pertama menggodaku. Dan itulah kenyataan yang harus kau tau, Zain? dan kami menjalin hubungan dibelakangmu, sejak pesta itu." Dengan senyuman, menatap Zain.
Amarah kembali membuncah dalam diri Zain Pratama, saat mendengar apa yang dikatakan Piter barusan.
"Akan kubunuh kau, Piter..!!" Dengan ingin kembali memberi pukulan pada pengusaha itu, tapi sekali lagi Adam mencegahnya.
Dengan mata yang masih terasa berat, Ariana memaksa membuka matanya, saat mendengar suara keributan. Dan betapa terkejutnya wanita itu, ketika mendapati dirinya ditas ranjang, dengan hanya menggunakan bra saja. Dan saat melemparkan pandangannya keasal suara, sangat kagetnya Ariana, ketika mendapati keberadaan suaminya Zain Pratama, dan juga yang lainnya.
"Sayang..." Panggilnya, pelan.
Zain memalingkan wajahnya keasal suara, dan kemarahan semakin terlihat diraut wajah tampan itu.
Menghampiri Ariana, dengan tatapan membunuh.
"Sayang, aku bisa jelaskan semuanyaMe padamu. Ini tidak, seperti yang kau li.." Belum selesai Ariana menyelesaikan kalimatnya, Zain sudah melayangkan terlebih dahulu, tamparan yang sangat keras pada pipi istrinya.
"PLAAKKK" Hingga membuat wajah Ariana, seketika berpaling kesamping.
"Tuan..! apa yang anda lakukan?!" Teriak Adam dengan kembali menghampiri Tuanmudanya, saat lelaki itu akan kembali memberi tamparan pada Ariana sekali lagi.
"Dasar kau wanita murahan, Ariana!! aku tidak menyangkah, kau serendah ini. Kau tidak ada bedah jauhnya, dengan seorang wanita penghibur!! apakah kau kurang puas denganku, hingga kau mencari kehangatan pria lain Ariana..!! katakan padaku Ariana..!! katakan..." Teriaknya, dengan linangan airamata.
__ADS_1
"Aku tidak melakukan hal itu Sayang..., aku tidak melakukannya. Aku dijebak, aku dijebak.." Jawab Ariana, dengan airamata terus mengalir.