
Suasana bahagia, dan sedih menyatu dalam diri seorang Ariana. Bahagia karena sedang mengandung dara daging pria yang di cintainya, sedih karena harus berpisah disaat cintanya sudah begitu mendalam bagi seorang Zain. Hembusan napas terasa begitu berat, mewakli beban yang ada dalam dirinya. Hening sesaat, kemudian menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, menuju kamar mandi guna membersikan diri.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, dirinya kembali menuju kamar. Tatapannya seketika teralihkan pada arah ranjang, saat mendengar suara telepone pada ponsel yang dia letakkan pada samping bantal kepalanya.
Menjangkau ponsel yang terletak ditengah ranjang, dan raut wajahnya seketika terlihat resah, saat melihat nama ayah David. Dan memutuskan, untuk menjawab panggilan telepone itu.
"Hallo Papa?"
"Hallo Ariana, bagaimana kabarmu Nak?"
"A..aku, baik Paa?" Jawabnya dengan airamata sudah menetes, saat David menanyakan kabarnya, yang jauh dari kata baik.
"Hari ini Papa ingin bertemu denganmu, sebelum Papa kembali keluar kota untuk bekerja. Jadi Papa minta kau datang ketaman jam 10, Papa menunggumu disini."
"Baik Paa, Ariana akan datang." Jawabnya, dengan mengakhiri percakapan mereka.
Ariana terduduk lemas diatas ranjang king sizenya, dan kesedihan kembali melanda dirinya. Dan dia sangat yakin kalau ayah angkatnya itu, pasti sudah mengetahui permasalahan yang menimpanya rumahtangganya.
Mengusap airamata yang kembali menetes, dengan pandangan melempar jauh kedepan, menatap langit biru yang sudah terlihat cerah.
"Semoga kau percaya padaku Paa, kalau aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu." Gumamnya, penuh harap.
Setelah larut dalam lamunan sesaat, Ariana segera beranjak dari ranjang dengan tubuh masih berbalut jubah mandi. Rambutnya yang masih basah, tertutup dengan handuk kecil guna menahan jauhnya tetesan air, dari atas kepala.
Bingung kembali melanda diri wanita hamil itu, saat baru menyadari kalau pakaian-pakaian miliknya masih berada dirumah mantan suaminya, Zain Pratama.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku pakai, sementara pakaian-pakaianku masih berada dirumahnya. Dan kalau aku pergi kesana, pasti dia tidak akan mengijinkan aku untuk masuk kedalam rumahnya.Jangankan dalam rumah, mungkin aku berdiripun didepan gerbangpun, dia pasti akan mengusirku. Karena saat ini, dia SANGAT-SANGAT membenciku.Kau tau anakku, Papamu sangat jahat!" Dengan senyuman, seraya menyentuh perut ratanya.
Hening sesaat, dan Ariana nampak bingung sebab hari ini dia akan bertemu dengan Papanya David.
Terlihat gelisah dari raut wajah seorang Ariana saat ini, hingga sapaan Rani yang baru saja masuk kedalam kamar, mengejutkan wanita berambut hitam itu.
"Apa yang kau pikirkan, Ariana?" Tanya Rani, dengan tangan memegang nampan yang berisi segelas susu.
"A..aku tidak punya pakaian Nona Rani, sebab pakaianku semuanya masih berada dirumahnya. Dan aku baru saja, mandi."
__ADS_1
"Kamu tunggu disini, aku akan mengambil beberapa pakaian buatmu. Dan ini susu buatmu, aku baru saja membelinya tadi pagi sebelum kamu bangun. Minumlah fokus pada kehamilanmu, dan jangan bersedih lagi." Dengan memberikan segelas susu, pada Ariana.
"Ini susu apa, Nona Rani?"
"Susu untuk, wanita hamil. Dan kamu tunggu disini, aku akan mengambil pakaian buatmu dilantai atas." Jawabnya, dengan berlalu dari kamar Ariana.
Ariana mendekatkan bibirnya, kebibir gelas kaca itu. Baru saja bibirnya tersentuh dengan bibir gelas itu, rasa mual seketika mendera saat mencium bau susu dengan rasa vanila.
"Baru mencium baunya saja, aku sudah mau munta. Apalagi kalau aku meminumnya? tapi kalau aku tidak meminumnya, Nona Rani pasti akan kecewa padaku karena dia sudah cape-cape membuatnya untukku tapi aku tidak meminumnya, apalagi ini susu hamil."
Walaupun tidak tahan dengan aroma susu itu, Ariana tetap memaksakan diri untuk meminumanya. Napasnya terengah-engah, seperti orang baru saja melakukan lari marathon. Dan sedikit demi sedikit, susu itu sudah berpindah dalam tubuhnya.
"Nona Rani! kau membuatku tersiksa," Gumamnya, dengan mengusap kasar bibirnya.
"kenapa wajahmu, Ariana?" Tanya Rani yang baru saja datang, dengan tangan menggenggam beberapa potong dres buat Ariana.
"Aku ingin muntah Nona Rani? tapi kalau aku tidak meminumnya, kau pasti akan memarahiku."
Tawa kecil membingkai diwajah perancang busana itu, saat mendengarkan apa yang dikatakan Ariana.
"Kalau rasa vanila membuatmu ingin muntah, kau tidak perlu memaksakan diri untuk meminumnya. Karena kau sedang hamil, jadi aku mengerti. Lagi pula aku membeli banyak varian rasa, jadi jika rasa itu membuatmu mual, kau bisa meminum susu itu, dengan rasa yang lain. Dan pililah berepa pakaian ini, mana yang pas untukmu."
"Terima kasih Nona Rani, karena kau sudah sangat baik padaku."
"Sama-sama Ariana, dan kau tidak perlu sungkan padaku. Walapun sebelumnya, hubungan kita tidak terlalu dekat. Dan cepat berganti pakaian, aku menunggumu untuk sarapan. Dan apakah hari ini kau berangkat bekerja?"
"Tidak Nona Rani, hari ini aku akan bertemu dengan Papaku ditaman."
"Apakah perlu, aku menemanimu?"
"Tidak perlu Nona Rani, aku bisa sendiri,"
"Apakah kau, yakin?" Tanya Rani, memastikan.
"Aku sangat yakin." Jawabnya, dengan sebuah anggukan kecil.
__ADS_1
'Kalau begitu bersiaplah, aku menunggumu diruang makan." Jawab Rani, dengan berlalu dari kamar Ariana.
****
Langkah itu terasa berat, saat menyusuri taman dimana dia akan bertemu dengan ayah angaktnya David.
Dari jauh dia mendapati sosok yang sangat tidak asing baginya, yang tengah duduk disebuah bangku taman, seorang diri dengan pandangan menatap hamparan danau yang membentang luas didepannya.
Hembusan napas terasa begitu berat, dan memantapkan hati, dia menghampiri lelaki yang sangat dicintainya itu.
"Papa.."Panggilnya pelan, saat sudah berada dibelakang lelaki paruhbaya itu.
Melemparkan pandangannya keasal suara, dan mendapati keberadaan Ariana yang tengah tersenyum padanya.
"Araa.." Gumamnya, dengan langsung beranjak dari duduknya. David menghampiri Ariana, yang masih berpijak ditempatnya. Tatapan matanya dengan intens menatap wajah putrinya yang tengah tersenyum padanya, tapi sepertinya senyuman itu memaksa. Apalagi melihat mata anaknya, yang nampak sembab.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" Sebuah pertanyaan dengan nada lembut, dan terselip kasihsayang disana.
Tatapan matanya seketika berkaca-kaca, menjadi buliran air yang sudah membasahi pipi, karena dirinya tidak sanggup membendung kesedihan yang melanda, saat dirinya diajukan pertanyaan itu. Dan dia sangat yakin, ayahnya David sudah mengetahauinya dari Clara, dan Ibunya Diana.
"Papa, aku mohon percayalah padaku, aku tidak melakukan hal itu Paa, aku tidak melakukannnya," Seru Ariana, dengan deraian airamata.
Senyumanm kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar pernayataan anak perempuannya. Lebih mendekat kearah putrinya, dan merengkuh penuh tubuh anak perempuannya, yang masih menangis.
"Kau tidak perlu khawatir, Papa sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan orang diluar sana. Karena kau adalah putriku, dan aku sangat mengenal bagaimana dirimu Araa?"
Ariana semakin menumpakan tangisannya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya David, sebab mengirah pria paruhbaya itu akan terpengaruh oleh ucapan Clara, dan juga Ibunya Diana.
Disaat merasa sudah lebih tenang, wanita hamil itu segera melepaskan pelukannnya. Senyumam merekah diwajahnya, seraya mengusap airamata yang menetes.
"Terima kasih Papa, karena kau sudah mempercayaiku. Dan aku minta maaf, karena tidak bisa mempertahankan rumahtanggaku dengannya."
Tatapanya menatap dengan intens wajah putrinya. Senyuman kecil begitu tulus, penuh dengan kasihsayang disana. Dan dia tahu, anak angkatnya itu tengah menyimpan banyak luka saat ini.
"Kau sudah melakukan yang terbaik anakku, dan tidak perlu minta maaf. Dan sebenarnya Papa yang minta maaf, karena sudah memaksamu menikahnya dengannya, dan Papa sangat menyesal untuk itu,"
__ADS_1
Meraih tangan ayahnya, yang raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Tidak ada yang perlu disesali Papa? kau tau, sebentar lagi kau akan menjadi kakek." Ucap Ariana, dengan senyum kecilnya.