
Keheningan melanda dalam mobil, saat kendaraan itu membela jalan diwaktu siangnya kota Jakarta. Tak ada yang berbicara antara keduanya, hanya diam membisu. Zain terus mengukir senyum diwajah, saat kedua tangan itu bergerak dengan lincah memutar bundaran setir.
Ariana tertawa kecil, saat melemparkan tatapan mata itu dia mendapati Zain, terus menampilkan senyuman diwajah tampannya.
"Daritadi kau senyum-senyum terus, apakah kau sedang bahagia?"
Meraih jemari Ariana, dan sekilas dia berikan kecupan singkat pada punggung tangan itu.
"Aku memang sedang bahagia. Bahagia, karena bisa kembali bersamamu. Bertahun-tahun aku hidup penuh kehampaan, tanpa adanya kau Araa.." Kalimat itu begitu dalam, saat dia ucapkan.
Mimik cemberut, dengan melemparkan seyuman sinisnya saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Zain.
"Kau berbohong. Buktinya disaat aku datang, kau sudah menjalin hubungan dengan anak dari rekan kerjaku. Apakah itu yang namanya kau bilang, hidupmu hampa?"
Raut wajah itu seketika berubah pias, dan menutupinya dengan senyuman kikuknya saat Ariana melemparkan ucapan bak belati buatnya.
"Maafkan aku. Saat itu aku benar-benar putus asa. Bertahun-tahun aku mencarimu, tapi hasilnya selalu saja nihil. Ranipun turut menutupi kehadiranmu dariku. Dan dengan itu semua, membuatku yakin kalau kau sudah tidak mau bersamaku lagi. Tapi percayalah Araa.. hanya kau wanita yang kucintai. Dan aku janji akan menjadi ayah, dan suami yang baik buat kau, dan anak-anak kita."
"Kau janji..?" Ariana bertanya, dengan tatapan penuh selidiknya.
"Tentu saja, karena aku tidak mau kehilanganmu lagi." Dia berucap dengan senyuman.
Ariana membingkai senyuman bahagianya. Tatapan mata itu kembali fokus pada arah jalan, yang membawa keduanya kekediaman Zain.
Kendaraan terus saja melaju, yang berarti keduanya semakin berada dekat dengan rumah pengusaha kaya itu. Ariana menghembuskan napas kasarnya, mengingat dirinya akan segera bertemu dengan Ibu kandungnya Celine.
"Kau baik-baik saja?" Sekilas dia memalingkan wajah, dan mendapati wajah Ariana nampak resah.
Membingkai senyum palsunya, saat Zain tiba-tiba saja bertanya.
"Aku baik-baik saja Zain.. jangan khawatirkan aku." Ariana berucap, dengan menyembunyikan keresahan itu.
Kedua pasang mata itu kembali tertuju pada depan, dan hening kembali melanda dalam mobil.
Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, seraya menopang dagunya, larut dalam lamunan mereka masing-masing.
"Aku sangat bingung. Apa yang harus aku lakukan, jika bertemu dengannya nanti. Mengingat apa yang dia lakukan selama aku tinggal dirumah itu, membuat aku begitu membencinya. Tapi... tapi dia adalah Ibu kandungku, itulah takdir yang tidak dapat aku tolak. Wanita yang selama ini begitu aku benci, bahkan sulit untuk aku memaafkan, ternyata adalah ibu kandungku. Ya dia adalah Ibu kandungku sendiri. Dan Zain benar, aku harus berdamai dengan masalaluku." Ariana membathin saat keresahan melanda diri.
Kendaraan roda empat itu terus saja melaju. Hingga mobil yang membawa keduanya, sudah berada didepan rumah mewah itu.
Zain menyembunyikan beberapa kali klakson mobil, agar gerbang rumahnya dapat terbuka. Membenarkan duduknya, dan dia seperti orang yang akan menghadapi perang.
Beberapa beberapa menit menunggu, pintu gerbang besar itu akhirnya terbuka. Kendaraan roda empat itu melaju dengan pelan, halaman rumah berlantai tiga itu.
Segera mencondongkan tubuhnya keluar dari dalam mobil, saat kendaraan itu sudah terparkir sempurna. Lain dengan Zain, lain halnya dengan Ariana. Wanita itu masih saja setia duduk pada kursinya, seolah tubuhnya kuat beranjak dari duduknya.
Melayangkan ketukan pintu pada kaca mobil beberapa kali, yang menyadarkan Ariana dari lamunannya.
"Zain..." Ariana berkata dengan pelan, saat wajah itu berpaling.
"Kau tidak turun Araa.."
Tersenyum kikuk, dengan tatapan dalam yang dia lukiskan pada calon suaminya itu.
__ADS_1
"Zain.. apakah aku bisa.."
"Aku yakin kau bisa. Karena bagaimanapun, dia adalah Ibu kandungmu."
"Baiklah aku akan turun." Dengan menurunkan kedua kakinya, dari dalam mibil.
Kedua pasang kaki itu terayun beriringan, dengan Zain menggenggam jemari Ariana, saat melangkah kedalam rumah. Mengayunkan kaki, dan samar-sama mereka mendengar tawa putri mereka Stefanie.
"Itu suara putri kita." Zain berucap, dengan melemparkan senyuman pada Araa.
"Sepertinya dia sangat bahagia berada dirumah ini."
Kedua pasang kaki itu terus saja terayun. saat baru saja akan memasuki rumah besar itu, Zain dari Ariana mendapati pemandangan manis, dimana putri mereka sedang bermain bersama Celine.
Zain membingkai senyum manisnya, melihat pemandangan itu. Beda dengan Ariana, yang hatinya sedikit tercubit melihat anaknya begitu bahagia, saat bersama dengan Ibu kandungnya.b
"Ayo Oma... kejar aku.. kejar aku Oma..." Stefanie terus saja berlarian, berlari mengelilingi ruang tamu yang lumayan besar.
"Oma pasti akan menangkapmu." Celine bercap, dengan berlari kecil mengejar cucunya.
Stefanie terus saja berlari dalam ruangan besar itu, tak sengaja tatapan mata gadis kecil itu terlempar pada arah pintu, dan mendapati keberadaan kedua orangtuanya disana, hingga membuat kaki kecil itu seketika terhenti.
"Mommy... Daddy..." Dia bergumam dengan teriakan, yang membuat wajah Celine seketika berpaling.
Tatapan itu begitu dalam pada Ariana disana, rasa bersalah yang teramat sangat, bercampur kerinduan didalamnya.
"Ariana..." Dia bergumam dengan mata sudah berkaca-kaca, pada putrinya.
Stefanie berlari kecil menghampiri kedua orangtuanya, saat Mommynya melebarkan tangannya.
"Mommy sangat merindukanmu Stefanie, sangat merindukanmu." Melabukan kecupan bertubi-tubi pada pipi gembul itu.
"Mommy....Mommy... " Gadis kecil itu menarik diri dari pelukan Ibunya.
"Ada apa Sayang...?"
"Mommy.. apakah kau dan Daddy Zain akan menikah? sebab tadi pagi saat aku menonton ditelevisi, Daddy Zain bilang, kalian akam segera menikah. Apakah itu benar Mommy..?"
"Iya Sayang... Mommy akan menikah dengan Daddy Zain." Dengan menyimpulkan senyum diwajahnya.
Raut wajah sumringah seketika membingkai penuh diwajah Stefanie, mendengar jawaban Ibunya. Hingga membuat dia melonjak kegirangan karena bahagia.
"Horee... Daddy Zain akan menjadi ayahku... Daddy Zain akan menjadi ayahku..."
Keduanya saling melemparkan pandangan dengan senyuman, saat melihat ekspersi bahagia putri mereka.
"Apakah kau begitu bahagia, karena sebentar lagi Daddy akan benar-benar menjadi Daddymu?" Zain mensejajarkan tingginya dengan Stefanie, dan menatapnya dengan dalam.
"Tentu saja Daddy, karena aku sangat mencintaimu." Dia berkata dengan wajah penuh keyakinan.
"Daddy juga sangat mencintaimu. Karena kau adalah putri Daddy." Dengan langsung meraih tubuhnya putrinya, hingga membuat Stefanie semakin tertawa bahagia.
Tatapan gadis kecil itu terlempar pada arah Celine, yang masih berpijak pada tempatnya. Melihat Celine terpaku dengan diam membisu, membuat bocah itu bersuara.
__ADS_1
"Oma... kenapa kau diam saja. Apakah kau tidak mau merayakan kebahagian bersama kami?" Berucap dengan sediki teriakan.
"Araa.." Zan berucap pelan, memalingkan wajah pada Ariana.
Airmata ternyata sudah tumpah membasahi kedua pipi wanita berusia senja itu. Kedua kaki itu terayun melangkah pelan, yang membawanya semakin mendekat pada anaknya.
Tatapan dari Ariana seketika tertuju pada Celine, setelah keluarga kecil itu sempat larut dalam suasana bahagia, hingga membuat mereka melupakan sekitarnya.
Tatapan mata Ibu, dan anak itu menatap dengan dalam, saat kedua pasang mata itu saling bertemu. Sangat sulit menjabarkan bagaimana suasana hati Ariana saat ini. Bahagia, tentu saja karena ternyata dia masih memiliki orang tua kandung, setelah sekian tahun hidup bersama orangtua angkatnya.
Membenci, tapi dia tak dapat menolak takdir. Dan tidak mungkin dia membenci Ibu kandungnya sendiri, walaupun sejahat apapun Ibunya.
Celine mengayunkan kedua kakinya dengan pelan, menghampiri Ariana. Kerinduan, dan rasa bersalah mengingat bagaimana sikapnya yang begitu buruk pada Ariana. Bahkan dia sendirilah, yang sudah menghancurkan kebahagian putrinya sendiri.
Kedua pasang mata itu saling menatap dengan dalam, saat sudah berhadapan.
"Araa..." Celine berucap pelan dengan tangisan, dan langsung bersimpuh didepan putrinya dan menangis dalam penyesalan.
"Maa... apa yang Mama lakukan..? ayo bangun Maa... ayo bangun..." Ariana berusaha membangunkan Ibunya, yang masih menangis didepan dirinya.
"Mama mohon... maafkan Mama Araa... maafkan Mama... Mama sangat menyesal, Mama benar-benar menyesal karena sudah menyakiti putri Mama sendiri.." Terus saja menumpakan penyesalan lewat buliran-buliran bening, yang semakin deras keluar.
Ariana mensejajarkan tingginya dengan Celine, diapun tak dapat membendung airmata itu. Menatap dengan dalam, pada wajah yang semakin tirus hingga menonjolkan tulang pipinya. Yang sangat berbeda, dengan Celine yang saat pertama dia temui.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Maa.. dapat bersama denganmu saja, aku sudah bahagia. Aku bahagia, karena ternyata aku masih punya Mama."
"Maafkan Mama, dengan apa yang Mama lakukan selama ini padamu. Dan maafkan karena sudah meninggalkan kau, dan Papamu. Tapi percayalah pada Mama, Araa? Mama terpaksa melakukan hal itu."
Ariana melukis senyuman kecil, bercampur dengan deraian airmata. Jemarinya mengusap airmata, yang masih saja mengalir.
" TIdak ada yang perlu dijelaskan Maa..yang jelas aku tdak mau berpisah denganmu lagi."
"Tentu Araa.. kita tidak akan berpisah lagi." Berucap dengan senyuman, dan airmata akibat bahagia. Melebarkan kedua tangannya, untuk melepaskan kerinduan.
"Kemarlah Araa... Mama sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu."
Ariana membingkai senyuman diwajah, dan membenamkan dirinya dalam pelukan Celine. Bersandar dengan manja dalam pelukan Ibuny, merasakan kehangatan pelukan seorang Ibu yang tdak pernah dia dapat. Pasangan Ibu, dan anak itu berpelukan denga erat, melepaskan kerinduan dalam diri masing-masing.
Stefanie meliukkan badanya dengan kasar, meminta turun dari gendongan ayahnya.
"Daddy.... turunkan aku.. turunkan aku..." Ucapnya, hingga membuat Zain segera menurukan gadis kecil itu.
"Apakah kau ingin bergabung bersama mereka?"
"Tentu Daddy, seperti mereka melupakan aku." Dengan mimik cemberut, dan melangkah menghampiri Mommy, dan juga Omanya.
"Mommy... Oma.... apa kalian melupakan aku..?" Stefanie menampilkan wajah kesalnya, pada Ariana dan juga Celine.
Keduanya saling menatap, dan kemudian tertawa bersama saat melihat wajah cemberut gadis kecil itu.
"Tentu saja kami tidak melupakanmu Stefanie.. dan kemarilah cucuku," Celine melebarkan tangan kirinya, menyambut tubuh cucunya.
Ketiganya saling menatap, dan tertawa bahagia dalam sebuah pelukan.
__ADS_1
"Oma sangat mencintaimu, dan Mommymu Stefanie..?"
"Kami juga mencintaimu Oma..." Ucap Stefanie, dan Ariana bersamaan dan kemudian ketiganya tertawa bahagia.