Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Memperdayai


__ADS_3

Celine bersama anak, dan juga cucunya masih saja berpelukan, menumpakan rasa rindu, dan juga kebahagian dalam diri mereka. Hingga panggilan dari Ani sang kepela pelayan, baru membuat pelukan itu terlepas.


"Nona Ariana.."


Memalingkan wajah pada asal suara, dan senyuman seketika merekah diwajah perancang busana itu, saat melihat keberadaan Ani, dan juga Paula yang menatapnya dengan senyuman.


'Bibi Ani.. Paula.." Gumamnya dengan mengayunkan langkah pelan, menuju kedua wanita itu.


Bagaimana kabarmu Bibi?" Ariana bertanya dengan mengukir senyum diwajah.


"Baik, dan Bibi sangat merindukanmu Nona.." Wajah tua itu menatap penuh dengan kerinduan, pada Ariana.


"Aku juga sangat merindukanmu Bibi.. sangat merindukanmu." Ucapnya, dengan merangkul penuh tubuh wanita paruhbaya itu.


Menarik tubuhnya dari pelukan Ani, dan melempar senyuman pada Paula yang berada disamping Ani.


"Bagaimana kabarmu Paula? lama tdak bertemu."


"Sangat baik Nona... sangat baik. Dan Nona kau sangat hebat..!! aku sangat bangga padamu. Saat aku tau, kalau kau adalah perancang busana terkenal itu."


Ariana tersenyum kecil, mendengar kalimat pujian dari Paula.


"Terima kasih atas pujiannya Paula, dan apakah kau tidak merindukanku?" Dengan mimik sedih, menatap pada Paula.


"Tentu saja Nona... tentu saja aku sangat merindukanmu."


Ariana melebarkan kedua tangannya, guna menyambut tubuh wanita muda itu. Paula tersenyum, dan keduanya melepaskan kerinduan lewat sebuah pelukan.


Mengukir senyum bahagia diwajahnya, saat melihat pemandangan manis, bercampur dengan tetesan bening yang kembali menetes pada wajah Celine.


" Terima kasih Tuhan... karena telah mendatangkan kembali kebahagian, dalam rumah ini. Dan kau adalah kebahagian kami putriku,"


"Apa yang kau pikirkan Bibi? bukankah aku sudah menepati janjiku, untuk mempertemukan kau dengan anakmu," Zain memeluk erat pundak Bibinya Celine, bercampur dengan senyuman saat melihat raut wajah sendu wanita paruhbaya itu.


Mengusap kedua sudut mata, yang masih saja mengeluarkan airmata.


"Terima kasih Zain... terima kasih karena kau sudah membawa kembali putri Bibi,"


"Sama-sama Bibi.. karena putrimu adalah sumber kebahagian kita berdua." Dia berucap dengan senyuman, saat tatapan mata itu terfokus pada Ariana yang tengah berbicang dengan beberapa pelayan yang baru saja datang.


"Iya. Dia adalah sumber kebahagian kita berdua. Putriku bagaikan cahaya rumah untuk rumah ini."


"Iya Bibi, cahaya. Ariana adalah cahaya dalam hidupku." Jawabnya dengan tatapan cinta, saat kedua mata itu menatap pada Ariana.


****


Gelapnya malam telah menyelimuti bumi, saat sang mentari telah menghilang, ketika bulan dan bintang telah menampilkan pesonanya diatas langit yang sudah berubah gelap.


Zain tak sanggup memejamkan kedua mata itu, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tatapan itu menatap pada langit-langit kamar dengan tatapan hampanya.


"Kemarin malam kami baru saja bercinta. Tapi kenapa dia tidak mau tidur denganku. Dia beralasan kalau kami belum menikah. Apa salahnya tidur bersama sekarang, toh nanti juga kami akan menikah." Zain masih saja menggerutu saat Ariana memutuskan untyk tidur bersama ibunya.


Terus menatap pada langit-langit kamar, tapi seketika bangun dari tidurnya, saat dia berpikir untuk menghubungi Ariana.


"Bagaimanapun, aku harus membawa Ariana tidur bersamaku." Ucapnya dengan tangan menjangkau pada ponsel, yang dia simpan dimeja samping ranjangnya.

__ADS_1


Kesal bercampur gelisah, saat bel pangjang saja terus yang terdengar. Menunggu, dan menunggu hingga terdengar suara Ariana diseberang sana.


"Hallo ini siapa...?" Suara itu terdengar malas, khas orang yang tengah mengantuk.


Kesal seketika menyelimuti wajah tampan Zain Pratama, saat mendengar ucapan Ariana.


"Ini aku calon suamimu Araa..?! tidak maksudku suamimu. Toh sebentar lagi kita akan menikah." Nada kesal, dan juga tegas.


"Iya Zain... maafkan aku. Dan untuk apa kau menelponeku malam-malam begini, apakah kau tidak dapat tidur?"


"Bagaimana aku bisa tidur Araa..sementara kau tidak menemaniku."


"Ayolah Zain.. kita belum menikah.. bagaimana kita bisa tidur bersama,"


"Bukankah kemarin kita bercinta, bahkan kita melakukan hingga beberapa kali. Jadi apa salahnya kalau kita tidur bersama."


"Itu karena kau menjebakku Zain..!"


"Tapi Araa?"


"Sudah Zain.. aku mengantuk. Dan aku harus tidur, karena kemarin aku tidak dapat tidur dengan cukup." Dengan langsung memutuskan sambungan telepone begitu saja.


"Hallo.. hallo Araa.. hallo.." Pangginya, tapi sambungan telepone itu sudah berakhir.


Sial..!! ternyata sudah mematikan teleponenya." dengan langsung melemparkan dengan kasar ponselnya, pada atas ranjang.


Zain terus saja berpikr, dan berpikir bagaimana caranya agar dia dapat tidur dengan calon istrinya.


"Lebih baik.. aku pergi saja kekamarnya." Dengan mengayunkan kaki keluar dari kamar itu.


Suasana gelap menyelimuti rumah mewahnya, saat kedua kaki itu terayun menuju lantai dua.


Ketukan itu dia labukan sebanyak tiga kali, saat sudah berada didepam kamar bibinya. Hingga terdengar langkah kaki orang menghampiri pintu, dan itu adalah Ariana.


"Zain.. apa yang kau lakukan disini? ini sudah jam sebelas malam, apakah kau tidak tidur?" Dengan wajah bantalnya, saat berucap pada lelaki tampan itu.


"Bagaimana aku bisa tidur, kalau kau tidak ada disampingku Araa?" Keluhnya dengan tatapan memelas.


Menghembuskan napas berat, dengan raut wajah sedikit kesal.


"kita belum menikah Zain.. apa kata orang nanti?"


" Tidak akan ada yang berani menggosipkan dirimu Araa? karena aku yang berkuasa disini."


"Tapi Zain.. tetap saja.." Belum Ariana menyelesaikan kalimatnya, Zain sudah bersimpuh dikakinya.


Apa yang kau laukan Zain.. ayo bangun.." Ariana begitu terkejut, dengan apa yang dilakukan lelaki tampan itu.


"Tidur denganku Araa. aku mohon?" Melemparkan tatapan memohon pada Ariana, dengan menyentuh ujung jarinya.


"Tapi Zain tidak bisa, karena kita belum menikah,"


"Apa kau mau aku tidak dapat tidur sampai pagi?!"


Keningnya berkerut, dengan tatapan heran pada pengusaha kaya itu.

__ADS_1


"Memang apa yang membuatmu tidak dapat tidur."


Menyeringai penuh kemenangan, saat melihat raut wajah serius Ariana. Menampilkan wajah pura-pura sedihnya, sebelum berbicara.


"Rekan kerjaku baru saja meninggal dalam kecelakaan Araa.."


"Benarkah..?" Ariana berucap dengan bolamata membulat lebih lebar, akibat terkejut.


"Dan kau tau.." Dia masih menampilkan wajah sedihnya.


"Kau tau apa Zain..?" Ariana semakin saja dibuat pensaran, saat Zain tak melanjutkan uacapannya.


"Dia sering datang mengganguku. Jadi mana bisa aku tidur sendiri Ara.."


"Kau tidur saja dengan Adam, Zain,"


"Apaa?! kau memintaku untuk tidur bersama sibrengsek itu..!" Zain berucap dengan nada sudah mulai meninggi dari sebelumnya


"Iya, bukankah Adam tidur sendirian.."


"Tidak..! aku tidak mau tidur dengan kerbau itu." Ucapnya tegas. Dan kembali dengan nada pelan, dan memohon pada calon istrinya.


Ayolah Araa.. aku mohon.."


"Tapi Zain.."


"Ayolah..." Tatapan mata itu semakin saja mengiba pada Ariana.


"Baiklah.." Jawabnya pasrah.


Kini keduanya sudah berbaring diranjang king size milik Zain, dengan Ariana yang mempunggungi pada calon suaminya.


"Araa.. apakah kau sudah tidur?" Dia berucap dengan menopang wajahnya, pada pundak Ariana.


"Aku ngantuk Zain.." Jawabnya pelan.


"Araa.. bagaimana kalau kita membuat bayi saja. hitung-hitung aku menyicilnya sekarang."


"Tapi Zain.. kita belum menikah.."


Zain mendecak kesal, saat mendengar ucapan calon istrinya. Tapi lelaki itu sepertinya pantang menyerah.


"Ayolah Araa.. mungkin saja nanti adik dari Stefanie kembar. Mungkin kembar tiga, empat, atau bahkan lima."


"Kalau begitu kau saja yang hamil Zain.. apakah kau pikir aku kucing.."


"Ayolah Araa.. aku janji hanya sekali,"


"Tapi Zain.."


"Ayolah Araa.. kau tau, ada rekan bisnisku yang akan menikah satu tahun kemudian, tapi mereka sudah sering melakukan hal itu."


"Itukan temanmu Zain, bukan aku.."


"Ayolah Araa.. apa kau tidak kasian padaku, aku sudah lama sekali berpuasa, biar setelah kita menikah kau langsung hamil."

__ADS_1


"Baiklah, tapi hanya sekali."


"Tentu Sayang, kali ini pasti kembar Araa," Dia berucap dengan seringai penuh kemenangan, saat berhasil membuat Ariana termakan kebohongannya.


__ADS_2