
Pandangan Jason terus menatap, pembicaraan mantan kekasihnya, dengan lelaki asing itu. Dan memutuskan untuk merekam pembicaraan mereka, dengan kamera ponselnya.
"Aku tidak menyangkah, ternyata kau begitu jahat Clara? aku sangat begitu menyesal, pernah mencintaimu. Bahkan perasaan itu, masih ada sampai saat ini."
Setelah menyepakati pembicaraan mereka, Piter segera berlalu dari restorant itu. Senyuman terus mengembang diwajah Clara, karena tinggal selangkah lagi, Zain sudah kembali dalam pelukannya.
"Aku hanya tinggal bersabar sebentar saja, untuk mendapatkan Zain kembali." Dengan menyambar tasnya yang diletakkan disampingnya, dan berlalu dari restorant itu.
Melihat mantan kekasihnya keluar dari restorant, Jason segera mengejarnya.
"Clara...! Clara..." Panggilnya, dengan berlari kecil menghampiri wanita itu.
Mendengar namanya dipanggil, Clara segera membalikkan badannya, dan betapa terkejutnya dia, saat mendapati keberadaan mantan kekasihnya, Jason.
"Jason..."
Menghampiri Clara, dengan langsung menggenggam tangan wanita itu.
"Lepaskan aku, Jason..!! lepaskan..!!" Dengan berusaha melepaskan, genggaman tangan pria itu.
"Aku ingin, bicara denganmu." Pintanya, dengan nada tegas.
Senyuman mencemooh yang terlihat diwajah Clara, saat meendengar keinginan kekasihnya.
"Tapi sayangnya, aku tidak ingin bicara denganmu." Dengan ingin masuk kedalam mobil, tapi seketika Jason mencekal tangannya, dan dengan paksa dia mencium wanita itu.
Clara begitu kaget dengan apa yang dilakukan Jason, padanya.
Dia terus memukul dada pria itu, saat Jaason tengah menciumanya, dan berusaha melepaskan diri. Dan saat dia berhasil terlepas dari ciuman itu, Clara langsung menghadiai mantan kekasihnya, dengan tamparan yang cukup keras.
"PLAAKK"
"Dasar laki-laki brengsek!! memang siapa, dirimu! bukankah, kita tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi, Jason!!" Dengan nada tinggi, menatap tajam mantan kekasihnya.
Menyeringai diwajahnya, dengan menyentuh pipinya yang memerah.
"Aku hanya minta, hentikan semua ini. Sebelum dia, jauh lebih membencimu." Ucap Jason. Tapi sayangnya ucapan itu tidak terdengar oleh Clara, karena saat Jason berbicara padanya ada sebuah truk besar yang melintas didekat mereka, jadi gadis itu sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan mantan kekasihnya.
"Apa yang kau bicarakan, Jason?! aku tidak mengerti. Dan maaf aku harus segera pergi." Dengan masuk kedalam mobil, dan berlalu dari restorant itu.
__ADS_1
Menghembuskan napas berat, seraya mengusap kasar bibirnya menatap kepergian Clara.
"Aku akan tetap menyimpan video rekaman ini, karena aku tau suatu saat pasti akan berguna."
****
Detik demi detik terus melangkah, tergantikan dengan dentingan jam, hingga tidak terasa malam telah menyelimuti bumi, saat sang surya yangt telah meredup.
Celine terus menampilkan senyum bahagianya, saat Clara mengatakan padanya, kalau Piter telah menyetujui rencana mereka untuk menjebak Ariana.
"Kau sedang tidak berbohong pada Bibikan, Clara?"
"Tentu tidak Bibi, buat apa aku berbohong. Dan kita akan membuat Ariana keluar dari kehidupan Zain, untuk selamanya." Dengan senyuman sinis, disudut bibirnya.
"Tapi dia tidak meminta imbalan apapun, padamukan Clara?" Bertanya, dengan menatap penasaran gadis didepannya.
"Maksud, Bibi?" Bertanya balik, dengan raut wajah yang sudah berubah pucat.
"Karena yang Bibi tau, kalau Piter itu sangatlah licik. Dia itu tidak akan melakukan sesuatu, tanpa adanya imbalan apapun. Itulah yang Bibi dengar, dari Zain."
Raut wajah Clara seketika berubah pucat, saat mendengar apa yang dikatakan wanita paruhbaya itu.
Tawa kecil membingkai diwajahnya, berusaha menghilangkan rasa gugup yang mendera saat ini.
"Ha..ha...ha..ha, aku tidak tau ternyata dia selicik itu. Tapi ntah kenapa denganku, dia sama sekali tidak meminta apapun. Bahkan saat aku meminta bantuannya, dia langsung menyanggupi, tanpa embe-embel apapun." Jelas Clara, berusaha meyakinkan Celine, dari rasa curiganya.
"Baguslah, setidaknya Bibi jadi lega mendengarnya. Dan tidak lama lagi, Ariana akan segera pergi dari kehidupan keponakanku untuk selamanya." Dengan senyuman, diwajahnya.
"Dan hanya ada aku Clara seorang, yang akan ada dalam kehidupan keponakanmu Bibi,"
****
Waktu semakin menjemput malam, tapi pasangan suami istri Ariana, dan juga Zain masih saja setia dengan aktifitas ranjang mereka.
Desahan-desahan kenikmatan saling bersautan keluar dari bibir mereka, saat Zain terus menghujamkan miliknya.
"Sayang, apakah kau bisa melakukan dengan pelan?" Pinta Ariana dengan tatapan penuh harap, saat masih berada dibawah tubuh suaminya.
Menghentikan gerakan sejenak, dan menatap Ariana dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Kenapa. Bukankah kau sangat senang, jika aku melakukan dengan cepat?"
Senyuman kecil terukir dibibir mungilnya, dengan sekilas Ariana mencium bibir suaminya.
"Sejak kapan, kau berani menciumku terlebih dahulu Culun?" Tanya Zain yang sedikit kaget, dengan apa yang dilakukan Ariana, padanya.
"Sayang, sudah berapa aku bilang padamu, jangan memanggil aku Culun, panggil aku Araa!" Dengan mimmik cemberut.
"Ya.., ya..., Araa. Katakan padaku."
"Aku hanya ingin, kau melakukan dengan pelan saja Sayang, tidak ada yang lain,"
"Ya terserah kau saja, dan aku akan mengkuti kemauanmu."
****
Matahari telah menampilkan senyumannya menyapa semesta alam, setelah gelap meredup secara perlahan, dengan hadirnya sang surya.
Setelah mendapatkan pesan dari Piter dihotel mana mereka bertemu, Clara segera melajukan kendaraan roda empatnya, menuju penginapan itu.
Jarak hotel yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, membuatnya tidak membutuhkan waktu lama, untuk sampai kehotel dimana dia dan Piter akan melakukan aktifitas ranjang mereka.
Saat tiba didepan hotel bintang 5 itu, Clara tidak langsung turun dari mobilnya. Wanita itu menyamar dengan merubah sedikit penampilannya, agar tidak ada yang mengetahui apa yang dilakukannya dihotel ini.
"Aku tidak mau ada yang mengenaliku, karena ini sangat beresiko." Gumamnya, dengan segera turun dari kendaraan roda empat itu, saat melihat penampilannnya sudah terlihat sempurna.
Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis, dikamar berapa Piter sedang menunggunya, Clara segera berlalu menuju arah lift kamar 204, dimana Piter berada.
****
Berdiri dilantai tiga kamar hotel dengan memandang keindahan kota Jakarta. Tatapannya melempar jauh kedepan, dan sesekali dia membasahi mulutnya dengan segelas wine, yang berada digenggamannya.
Senyuman sinis membingkai diwajahnya, saat mendengar bel pintu kamar berbunyi, dan dia meyakini itu adalah wanita yang sedari dia tunggu. Meletakkan gelas tersebut diatas meja, dan menghampiri pintu kamar.
"Aku mengirah, anda tidak akan menepati janji Nona clara." Ucapnya, saat sudah membuka pintu.
Senyuman menggoda membingkai diwajah Clara, saat mendengar apa yang dikatakan Piter padanya.
"Aku pasti akan datang Tuan Piter, karena aku adalah orang yang selalu menepati janji."
__ADS_1