Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Mencari keberadaan Ariana.


__ADS_3

Matanya terpejam, dan terlihat dia tidak sadarkan diri, diantarav semak-semak dikaki bukit itu. Hembusan angin, dan dinginnya udara pegunungan yang begitu menusuk, tak membuat jua wanita pemilik manik berwana hitam gelap itu, sadar dari pingsannya.


Clara melangkahkan kaki, dengan senyuman yang terus mengembang diwajahnya. Dan dia terlihat begitu bahagia, dan meyakini kalau Ariana, sudah meninggal. Menghembuskan napas sejenak, untuk menenagkan diri dari rasa takutnya, saat sudah berada didepan vila. Dan baru melangkah kedalam, saat merasa sudah jauh lebih tenang. Dan Claraa begitu kaget, saat Adam menyapanya tiba-tiba.


"Clara, darimana saja kau?" Tanya Adam, dengan menatap intens gadis cantik itu.


Raut wajahnya seketika berubah gugup, dan juga pucat, saat mendapat pertanyaan itu, karena takut akan ketahuan, dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"A..aku, baru saja dari minimarket untuk membeli pembalut."


"Aku mengirah, kau baru saja habis jalan-jalan."


"kalau begitu, aku kekamar dulu." Pamit Clara, dengan segera melangkah cepat menuju kamarnya, yang berada dilantai dua.


Tatapan matanya terus menatap Clara, yang telah berlalu menuju lantai dua vila. Dan terlihat begitu penasaran, dengan sikap Clara yang tampak aneh.


"Ada apa dengannya? dia terlihat sedikit aneh." Gumam Adam, dengan rasa penasarannya.


Langkahnya begitu tergesa-gesa, akibat rasa takut yang teramat sangat. Segera membuka pintu kamar, dan menutupnya kembali. Napasnya terengah-engah, dan dia berusaha untuk menenangkan diri sendiri, saat sudah berada didalam kamar itu.


"Semoga saja, Adam tidak curiga padaku." Gumamnya, penuh harap.


Celine baru saja keluar dari kamar mandi, tatapan matanya seketika menyurut, dan terlihat begitu penasaran, ketika melihat sikap Clara yang sedikit aneh.


"Clara..?" Dengan menyentuh pundak gadis itu, yang membuat melonjak Clara kaget, akibat rasa takutnya yang teramat sangat.


"Bibi..?" Dengan raut wajah, yang begitu terkejut.


"Kau kenapa? kenapa wajahmu jadi pucat begitu? apakah kau sedang sakit?" Bertanya, dengan menatap intens wajah Clara yang terlihat pucat.


Menyentuh tangan kedua wanita itu, dengan berusaha menormalkan napasnya, yang masih terlihat memburu.

__ADS_1


"Bibi, aku sudah menyingkirkan dia."


"Apaa..?" Dengan raut wajah yang begitu terkejut, saat mendengar apa yang disampaikan Clara barusan.


"Jangan berteriak begitu Bibi, nanti ada yang mendengar." Tegur Clara, dengan setengah berbisik.


"Bagaimana kalau dia sampai meninggal, dan polisi mengetahui kalau kau adalah pelakunya. Kita menyingkirkan dia, bukan berarti harus membunuhnya, Clara? Bibi tidak mau, masuk penjara." Jawabnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu gelisah.


Menghembuskan napas dalam, seraya menggenggam kedua tangan Celine, guna menenangkan wanita paruhbaya itu, dari rasa khawatirnya.


"Bibi tidak perlu khawatir, aku yakin tidak ada yang melihatku, saat menyingkirkan Ariana." Jawabnya, dengan berusaha meyakinkan Celine.


"Syukurlah, Bibi senang mendengarnya. Sekarang yang perlu kamu lakukan, adalah merayu Zain agar bisa kembali dalam pelukanmu."


"Tentu, Bibi?" Jawab Clara, dengan raut wajah sumringahnya.


****


"Dimana, Dia?" Bertanya pada diri sendiri, seraya melangkah memeriksa seisi kamar, mencari keberadaan Ariana.


Cu..lun, Cu..lun, dimana kau?" Bertanya, dengan sedikit berteriak.


Terus menelusuri seisi kamar, tapi tak kunjung menemukan keberdaan istrinya. Dan memutuskan, untuk berlalu dari kamar itu.


"Adam..?" Panggil Zain dengan sedikit berteriak, saat menuruni anak tangga menuju lantai bawa.


"Ada apa, Tuan?"


"Apakah kau melihat, istriku?"


"Dari tadi saya tidak melihat Nona, Tuan? tapi tadi dia mengatakan pada saya, kalau dia akan berjalan-jalan disekitar sini,dan dia keluar dari sore tadi."

__ADS_1


"Apaa?"Dengan raut wajah, yang begitu terkejut.


Kenapa kau tidak mengatakan padaku, Adam?! dan bagaimana kalau ada apa-apa dengannya, dan aku minta kita cari dia sekarang." Dengan raut wajah, yang menunjukkan kegelisahan yang teramat sangat.


"Ada apa, Zain?" Tanya Celine tiba-tiba, yang baru saja datang bersama Clara.


"Ariana tidak ada, Bibi? Adam mengatakan, kalau dia keluar dari sore tadi. Dan sekarang, ini sudah jam sepuluh malam, tapi dia belum pulang juga."


Celine berusaha untuk tenang, begitu juga Clara, agar bisa menyembunyikan kebusukan mereka berdua, tentu saja agar Zain tidak curiga.


"Apa..?! jadi Ariana keluar dari sore tadi, dan sampai sekarang belum pulang?" Dengan raut wajah, berpura-pura terkejut.


Istrimu, selalu saja merepotkan. Bibi yakin, dia pasti sudah pergi dengan laki-laki lain."


"Diam.., Bibi?! Ariana, tidak serendah itu."Teriak Zain, dengan raut wajah yang begitu memerah, karena tidak terima dengan apa yang dikatakan Celine, tentang istrinya.


Celine sangat terkejut, saat mendengar teriakan Zain padanya. Karena selama ini keponakannya itu, tidak pernah bersikap seperti itu padanya.


"Kau sekarang sudah tidak berperilaku sopan, bahkan kau berani meneriaki aku Bibimu ini, hanya karena anak pungut ini, Zain." Dengan kemarahan yang teramat sangat, dan berlalu begitu saja, dan diikuti oleh Clara.


Zain menjatukan dirinya disofa tunggal, dengan raut wajah yang terlihat begitu frustasi. "Tidak mungkin Araa, meninggalkan aku dengan pria lain. Tidak mungkin." Gumamnya frustasi, saat memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Bibinya.


Adam melangkah pelan menghampiri Zain, seraya menyentuh pundak laki-laki tampan itu, guna menenangkannya.


"Ayo Tuan, kita cari Nona sekarang. Tidak ada gunanya, anda bersedih."


Mendongakkan kepala, menatap Adam seraya menganggukkan kepalanya.


"Memang tidak ada gunanya aku bersedih, ayo kita cari dia Adam?" Dengan beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar dari vila mewah itu.


Suara burung hantu yang saling bersautan, dan pohon-pohon besar yang melambai kesana, kemari akibat hempasan angin malam yang sedikit kencang. Suana begitu mencekam, tapi tak menyurutkan niat kedua laki-laki tampan itu, untuk mencari keberdaan Ariana, dengan hanya bermodalkan senter, untuk melengkapi perjalanan mereka.

__ADS_1


"Araa...? Araa....?" Teriak Zain dengan terus memanggil nama istrinya, saat mereka menyusuri hutan, ditengah malam.


__ADS_2