Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Penasaran dengan marga Mahesa


__ADS_3

Senyuman kecil membingkai diwajah cantik Ariana, seraya membungkukkan sedikit tubuh rampingnya mensejajarkan dengan tinggi putrinya.


"Mommy akan melakukan wawancara, dengan salahsatu stasiun televisi malam ini Stefanie?" Dengan senyuman, dan tatapan penuh kasihsayang.


Mimik cemberut, dan sendu membingkai penuh diwajah mungil Stefanie mendengar apa yang dikatakan Ibunya barusan.


"Apakah kau tidak akan membawaku Mommy...?"


Alana tersenyum, jemari lentik itu membenahi helaian rambut yang menutupi sebagian alis putrinya.


"Tapi hari ini Mommy sungguh minta maaf, karena tidak bisa membawamu. Tapi Mommy janji, besok kita akan pergi jalan-jalan ketaman, mengajak Doggy. Bagaimana. Apakah kau mau..?"


Bolamata berbinar, dengan senyuman kecil diwajahnya dia menatap Ibunya, saat kalimat penawaran itu terlontar.


"Kau serius Mommy?"


"Tentu saja anakku? buat apa Mommy berbohong padamu."


Seorang wanita paruhbaya melangkahkan kaki dengan berseragam, mmenghampiri pasangan Ibu, dan Anak itu setelah dia meninggalkan putri majikannya kedapur untuk membuatkan susu.


"Maaf Nona. Tadi saya masih kedapur membuatkan susu untuk Nona Stefanie." Ucap Alice, yang merupakan pengasuh dari putri semata wayang Ariana itu.


"Tidak masalah Bibi Alice, aku akan akan pergi sebentar untuk melakukan wawancara, dan aku minta jangan sampai Stefanie tidur hingga larut malam. Aku tidak mau putriku sakit, karena kurang tidur."


"Baik Nona.."


Tatapan Ariana beralih pada anak perempuannya, yang tengah meneguk susu pada mok kecil miliknya.


:"Berjanjilah pada Mommy, kau tidak akan tidur hingga larut malam lagi, jika Mommy belum pulang."


Mimik cemberut, seraya mengusap bibirnya yang terkena tumpahan susu.


"Itu karena aku menunggumu Mommy..."


Alana nampak tertawa kecil, mendengar jawaban putrinya itu.


"Mommy janji. Mommy akan pulang lebih cepat. Jadi kau jangan menunggu Mommy lagi, kau mengerti..?"


"Baiklah Mommy..." Dengan jemari terayun, menuangkan susu putih itu pada bibir mungilnya.


"Kalau begitu Mommy perguidulu, dan ingat jangan nakal . Kasian Oma Alice. Kau mengerti Sayang..?"


"Iya Mommy..." Dengan anggukan kecil, saat mendengar titah Ibunya.


Alana melenggangkan kakinya berlalu dari dalam rumahnya, tapi seketika langkah kaki itu terhenti, setelah putrinya bersuara memanggil namanya.


"Mommy...."Panggilnya dengan teriakan, seraya melangkahkan kaki kecil menghampir Ariana.

__ADS_1


"Ada apa Sayang...?" Saat membalikkan badanya, menyambut tubuh mungil yang tengah berjalan menghampirinya.


"Aku belum menciummu Mommy..? apakah kau lupa?!"


Tersenyum lepas, dengan apa yang dikatakan putrinya.


"Maafkan Mommy.., Mommy lupa.." Dengan membukkan badannya, ketika Stefanie akan melabukan bibir pada pipinya.


****


Banyak hal yang terjadi dalam lima tahun ini. Bagaimana dengan kehidupan seorang Zain Pratama. Setelah hasilnya selalu saja mengecewakan, saat dia melakukan pencaharian pada Ariana, lelaki yang memiliki tatapan tajam itu, memutuskan untuk berhenti mencari mantan istrinya, setelah dirinya meyakini kalau Ariana betul-betul sudah tidak menginginkannya lagi, sebab wanita itu betul-betul menghilang. Begitupun juga hubungannya dengan Celine, Bibinya. Walaupun masih tinggal satu atap, tapi kehangatan hubungan Bibi, dan keponakan itu tidak sehangat dulu lagi, sebelum Zain mengetahui kelakukan buruk Bibinya itu.


Dan hal itu dimaklumi oleh Celine sendiri, yang merasa dirinya memang sudah sangat bersalah, sebab sudah menyebabkan keretakan rumah tangga keponakannya sendiri.


Dan lelaki tampan itu, mulai memutuskan untuk menata kembali hidupnya, walaupun itu sangat sulit akibat rasa cintanya yang begitu besar pada Ariana, mantan istrinya. Dan dalam enam bulan terakhir ini, pengusaha tampan itu tengah menjalin hubungan special dengan anak seorang pengusaha kaya, yang merupakan rekan bisnisnya sendiri, setelah mereka dikenalkan oleh ayahnya dari kekasihnya itu dalam suatu acara amal.


Kedua bolamata itu tampak begitu fokus pada layar laptopenya, saat dengan intensnya dia melihat laporan yang dikirim salahsatu karyawannya, tentang hasil kerja pada proyek baru yang sedang dalam tahap membangun. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang kerjanya, hingga tatapan pengusaha tampan itu sekilas teralih pada arah pintu.


"Masuk...." Dengan teriakan, seraya jemari terus menari pada tombol-tombol huruf laptopenya.


Pintu ruangan terbuka, menampilkan gadis cantik yang tengah tersenyum padanya pada didepan pintu.


"Bolehkah aku masuk..."


Senyum kecil terlukis diwajah tampan Zain, seraya beranjak dari duduknya, saat mendapati keberadaan kekasihnya disana.


"Tentu saja, kenapa tidak...?"


"Aku merindukanmu Sayang... sangat merindukanmu..." Membenamkan wajahnya pada dada bidang itu, saat dia dalam pelukan Zain.


Melepaskan pelukan mereka, dengan senyuman kecil yang terlukis pada wajah tampannya saat tatapan mereka beraduh.


"Ayo ceritakan padaku, bagaimana liburanmu selama satu minggu ini diBali."


Cintya mengerucutkan bibirnya, menatap cemberut wajah tampan kekasihnya, dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir lelaki itu.


"Apakah kau tidak merindukanku Sayang...?"


Tawa kecil membingkai diwajah tampan Zain, melihat raut wajah cemberut kekasihnya itu.


"Tentu saja aku merindukanmu Cintya..? sangat merindukanmu."


Gadis cantik itu melabukan sekilas kecupan dibibir Zain, dan menggandeng mesrah kekasihnya menuju sofa set yang berada diruang kerja itu.


"Aku banyak menghabiskan waktu dengan teman-temanku, dengan pergi kepantai. Dan..." Dengan menjeda kalimatnya, saat hampir saja dia keceplosan dengan hal apa yang dilarang Zain.


Kedua alisnya bertaut, dengan tatapan penuh selidik lelaki tampan itu menatap gadis disampingnya.

__ADS_1


"Jangan katakan, kalau kau menghabiskan waktu dengan teman-temanmu dengan pergi ketempat hburan malam lagi." Dengan nada penuh penekanan, saat pertanyaan itu terucap dari bibirnya.


"A..aku... aku..." Menunduk takut, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.


Hembusan napas terdengar berat, berusaha meredam emosi dalam dirinya yang hampir membuncah. Dan lagi-lagi kekasihnya itu, melakukan hal yang tidak dia sukai.


"Bukankah aku sudah bilang padamu, kalau aku tidak suka wanita yang suka meminum minuman keras, dan juga pergi clubbing?!" Dengan nada sedikit tinggi, seraya tatapan tidak sukanya.


"Maafkan aku Sayang, aku janji tidak akan pergi keKLUP MALAM lagi." Tatapan penuh harap dari kedua bolamata Cintya, saat kalimt itu terucap dari bibirnya.


"Baiklah. Kali ini, aku memaafkanmu."


Rona bahagia seketika membingkai penuh diwajah cantik Cintya, mendengar kata memaafkan dari bibir pengusaha tampan itu.


"Terima kasih Sayang, aku sangat mencintaimu," Dengan gaya manjanya, saat melingkarkan tangannya pada lengan kokoh itu.


Tidak mengucapkan balik kalimat cinta itu, Zain hanya menampilkan senyum kecil diwajah tampannya.


"Ohh ya Sayang, aku lupa. Perusahaan Papaku akan melakukan kerjasama dengan seorang perancang busana terkenal, sebab akan memakai jasanya untuk merancang salahsatu busana yang akan dipakai salahsatu model, yang akan mempromosikan salahsatu produk dalam pembuatan iklan perusahaan milik Papa. Dan dia menyetujuinya, sebab bertepatan dengan kunjungannya keIndonesia sebab dia diundang khusus oleh salahsatu sponsor ditanah air."


Tatapan yang sedari tadi nampak biasa, seketika berubah intens, mendengar apa yang dikatakan Cintya, yang masih bergelayut manja padanya.


"Pasti ayahmu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, untuk membayar jasa perancang busana itu."


"Tentu saja Sayang, dan kau tau aku sangat ingin bertemu dengannya. Asal kau tau Sayang, dia merupakan salahsatu perancang busana yang begitu terkenal, dimana hasil rancangannya selalu dipakai oleh kalangan atas, selebritis-selebritis dunia, ataupun para tokoh-tokoh dunia."


"Benarkah...?"


"Tentu saja. Dan yang membuatku bangga padanya, karena dia berasal dari Indonesia. Bukankah itu hebat sayang? bisa bersaing dengan perancang-perancang busana ternama lainnya, dan secara tidak langsung dia sudah mengharumkan nama negara ini. Dan aku sangat tidak sabar ingin meminta tanda tangannya, dan tentu saja juga berfoto dengannya. Karena ini adalah kesempatan yang langkah."


Zain nampak tersenyum kecil, dengan kalimat pujian yang diucapkan kekasihnya.


"Tentu saja dia sangat hebat, bisa menjadi salahsatu perancang busana yang begitu terkenal. Dan menurutku itu sangat luar biasa. Dan siapa namanya, aku juga sangat penasaran."


Kedua alis Cintya bertaut, dan dia nampak berpikir keras saat kekasihnya Zain menyakan siapa nama perancang busana itu.


"Aku lupa Sayang? tapi aku ingat nama belakangnya. Kalau tidak salah..." Dengan berusaha mengingat marga dari Ariana.


"Bahkan kamu tidak mengetahui siapa namanya. Padahal kau sangat mengidolakan dia."


"Aku memang lupa namamnya, tapi yang aku ingat nama belakangnya, kalau tidak salah nama belangkanya adalah Mahesa. Ya.. Mahesa.." Dengan menekankan kalimat Mahesa, yang begitu meyakinkan.


Zain seketika memalingkan wajahnya, menatap dengan intens wajah cantik Cintya.


"Mahesa...? apakah kau yakin, marganya Mahesa...?"


"Hemm..." Dengan mengangguk cepat pada Zain.

__ADS_1


"Mahesa...." Gumamnya membathin, dan Zain nampak berpikir keras.


Tidak... pasti bukan dia. Bukankah didunia ini, banyak yang banyak yang memakai marga Mahesa. Dan tidak mungkin itu Ariana." Membathin saat pikirannya terlintas pada mantan istrinya.


__ADS_2