Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Lima bayi


__ADS_3

"Sudahlah Araa, kau selalu saja berdebat dengan putri kita," Zain berucap dengan tatapan lelahnya, saat melihat perdebatan anaknya, dan juga putrinya.


"Iya Daddy, Mommy sama sekali tidak pernah mau


mengalah kalau berdebat denganku." Mimik cemberut saat menatap pada Ibunya.


"Itu karena kau terlalu keras kepala Stefanie! jadi wajar kalau Mommy marah padamu."


"Itu karena aku masih anak kecil Mommy... jadi wajar kalau aku keras kepala. Iyakan Daddy.." Stefanie tetap saja saja tidak mau mengalah pada Ibunya.


"Ntahlah..." Zain menjawab pasrah melihat perdebatan anaknya, dan juga Ariana.


"Sudahlah Araa, berhentilah berdebat. Apakah kau tidak lelah berdebat dengan putrimu?" Tegur Celine pada anak perempuannya. Dan tatapan matanya beralih pada Zain.


"Oh iya Zain, sebentar kau bawa Ariana untuk melakukan USG, biar Mama yang akan mempersiapkan semuanya."


Raut wajah tampan itu seketika serius, saat mendengarkan apa yang dikatakan Ibu mertuanya.


"USG?"


"Iya Zain, melihat perut Ariana yang begitu besar diusia kandungannya yang sudah berusia dua bulan, Mommy meyakini kalau Ariana mengandung bayi kembar."


"Kembar??" Bolamata itu nyaris menyeruak, saat mendengar ucapan wanita Ibu mertuanya, yang membuat dia sedikit kaget.


"Kembar Oma? berarti Mommy akan akan melahirkan adikbayi sebanyak kucimg Meongku,"Wajah mungil itu nampak begitu antusias saat berucap.


"Lupakanlah keinginanmu, untuk memiliki adikbayi yang banyak Stefanie! karena Mommy bukan kucing." Ucap Ariana dengan wajah kesalnya.


"Bukankah tadi Oma bilang, kalau Mommy memiliki adikbayi kembar?"


"Sudahlah Araa, mau sampai kapan kau berdebat dengan putriku,"


"Putrimu sangat keras kepala Zain!"


"Itu berarti dia benar-benar putri dari Zain Pratama, kalau dia sangat keras kepala." Zain berucap dengan senyum diwajah, yang membuat Ariana nampak semakin kesal saja.


" Itu karena kau terlalu memanjakkannya, jadi Dia sangat keras kepala."


"Tetu saja Daddy memanjakanku, bukankah aku adalah anaknya?"


"Sudahlah kalian berdua benar-benar membuatku gila. Oh iya Maa, tadi kau bilang katanya Ariana mengandung bayi kembar. Apakah itu benar?"


"Iya Zain, kau lihat kandungannya baru berusia dua bulan saja, tapi perutnya sudah terlihat besar."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu sore kami akan pergi untuk melakukan USG. Aku juga sangat penasaran, apakah benar Araa sedang mengandung bayi kembar. Tapi jujur aku sangat mengharapkan itu, karena memiliki anak kembar itu sangat-sangatlah seru,"


"Tapi aku takut Zain, melahirkan satu bayi saja sudah membuatku hampir mau mati, apalagi empat bayi?"


Membingkai senyum diwajah, dengan kedua kaki dia ayunkan pada Ariana.


"Jangan takut Sayang, aku akan selalu menemanimu." Seru Zain dengan melabukan kecupan singkat pada pucuk kepala Ariana, guna menenangkan wanita itu dari rasa khawatirnya.


****


Sang surya perlahan mulai meredupkan terangnya, seiring dentingan jam yang terus melangkah menjemput malam.


Jalan dengan berpengan tangan, saat kedua pasang kaki itu menuruni anak tangga. Saat tiba dilantai dua, Ariana dan Zain berpapasan dengan Stefanie yang baru saja keluar dari kamar Omanya.


"Mommy.. kau dan Daddy akan kemana?" Tatapan mata itu menatap penuh pada kedua orangtuanya, dengan raut wajah penasaran.


"Daddy, dan Mommy akan pergi keDokter untuk memeriksa kandungan Mommymu."


"Kalau begitu aku juga ikut!" Stefanie berucap dengan nada tegas.


"Bukankah kau belum mandi Stefanie, sementara Mommy dan Daddy sudah harus berangkat,"


"Pokoknya aku harus ikut..! aku juga mau melihat adikbayi!" Kekeh Stefanie dengan sedikit teriakan.


"Sudahlah, tidak perlu berdebat lagi dengannya." Zain memperingati pada Ariana.


"Sudahlah jangan marah-marah, nanti kau tidak cantik lagi. Sekarang cepatlah mandi, Daddy dan Mommy akan menunggumu dibawah." Dia tersenyum saat mensejajarkan tingginya dengan putrinya itu.


"Oke Daddy," Dengan rona bahagia diwajah, dan kedua kaki kembali mengayun kedalam.


****


Menunggu, dan menunggu itulah yang terlihat dari Zain, dan Ariana.


"Mommy, kapan kita akan memeriksa adikbayi?" Stefanie bertanya dengan wajah tidak sabarannya.


"Tunggu sedikit lagi Stefanie, bagaimanapun kita harus mengantri," Seru Zain yang memberi pengertian pada putrinya.


"Nyonya Ariana.." TIba-tiba saja terdengar suara panggilan nama Ariana, dari seorang perawat.


Seketika ketiganya beranjak dari duduknya, melangkah menuju dalam ruangan.


"Selamat Sore Dokter," Ariana menyapa dengan senyuman, saat sudah berada didalam.

__ADS_1


"Sore Nyonya, dan silahkan duduk."


Apa keluhan anda Nyonya?" Tanyanya kemudian.


"Saya ingin melakukan USG Dokter,"


"Iya Bibi Dokter, mungkin saja adik bayiku kembar," Stefanie seketika menyela dengan wajah antusiasnya.


"Kau sangat lucu gadis kecil, baiklah kita akan memeriksa Mommymu sekarang. Mungkin saja adikbayi dalam perutmu Mommymu lebih dari satu," Dia berucap dengan senyuman, pada wajah mungil menggemaskan itu.


"Harus lebih dari satu Bibi Dokter, sebab aku ingin memiliki lima adikbayi." Jawab Stefanie dengan nada berapi-api.


"Maafkan ucapan putri saya Dokter, dia masih kecil jadi belum tau apa yang dia ucapkan." Seru Ariana, yang merasa malu dengan apa yang dikatakan anaknya.


"Tidak apa-apa Nyonya, namanya juga anak kecil, dan silahkan naiklah keatas saya melakukan USGnya sekarang."


"Hati-hati Sayang," Zain memperingati, saat tangan kekarnya membantu Ariana untuk naik keatas bed hospital.


Perut Ariana kni telah diolesi Gel, dimana transduker alat pendeteksi janin telah bergerak kesana-kemari pada atas perutnya.


"Daddy, apakah adikku kembar?" Stefanie bertanya, dengan berbisik pelan pada telinga ayahnya.


"Kita tunggu lagi sebentar Sayang,"


Senyuman diwajahnya, dengan makin memperjelas tatapan matanya pada layar monitor, saat transduker terpusat pada satu titik.


"Bagaimana Dokter?" Tanya Zain saat Dokter wanita itu tak kunjung bersuara.


"ini sangat luar biasa Tuan, belum pernah aku menemukan kasus seperti ini selama aku menjabat sebagai Dokter kandungan."


Raut wajah Ariana seketika berubah pucat, mendengar apa yang dikatakan Dokter wanita itu, akibat rasa takut yang sudah mendera diri.


"Anda mengandung bayi kembar Nyonya, dan ada lima kantong dalam perut anda." Dokter wanita itu berucap dengan senyuman.


"Dalam perut Mommyku, ada lima Adik bayi Bibi Dokter?" Stefanie bertanya dengan bolamata lebih membulat, karena rasa ingin tahunya.


"Iya Sayang, Bibi Dokter saja sangat terkejut. Dan apakah kalian memiliki garis keturunan kembar Tuan, Nyonya?"


"Ada Dokter, dari garis keturunan Papaku. Bibiku melahirkan bayi kembar empat." Ariana berucap dengan wajah hampanya, akibat syok memikirkan banyak bayi dalam perutnya.


"Terima kasih Sayang, aku sangat-sangat mencintaimu. Aku tidak menyangkah, Tuhan akan memberikan anak kembar lima pada kita."


"Aku juga Daddy, mulai sekarang aku akan menjaga Mommy, dan juga menjadi Kakak yang baik," Nada itu sangat berapi-api, sebab keinginannya untuk memiliki lima adik bayi sudah terkabul.

__ADS_1


Kini Ariana, zain, dan juga putri mereka Stefanie sudah selesai dengan pemeriksaannya. Wajah ayah, dan anak itu terus saja menampilkan senyum bahagia, saat mengayunkan langkah keluar dari ruangan itu. Lain dengan Zain, dan juga putrinya, lain pula dengan Ariana. Pikiran wanita itu sepertinya tidak selaras dengan tubuhnya, saat dirinya melangkah.


"Memikul satu bayi saja sudah berat, apalagi lima bayi? bagaimana perutku nanti? dan besarnya juga seperti apa?" Ariana membathin dengan tatapan hampannya, saat tangan kiri dan kanannnya digenggam oleh Zain, dan juga putri mereka.


__ADS_2