
Terdengar suara ketukan pintu, yang mengalihkan tatapan kedua orang dewasa itu.
'Masuk..!" Teriak Zain, dari dalam kamarnya.
Pintu terbuka, dan menampakkan sosok Adam, sang sekretaris. Tatapan matanya teralih menatap Ariana, yang sedang bersimpuh dilatai, dan sebuah tikar yang terbentang dilantai samping ranjang kingsize, milik Tuanmudanya. Hanya menghembuskan napas, apalagi melihat pipi Araa yang tampak memerah, dan ia menyakini kalau itu adalah bekas tamparan.
"Ternyata Tuan Zain, benar-benar membuktikan ucapannya. Kasian Nona Ariana, harus menanggung semua perbuatan kakaknya." Bathinnya, dengan terus menatap gadis berkacamata itu.
"Selamat pagi, sekretaris Adam?" Sapa Ariana ramah, dengan senyuman kecil diwajahnya.
"Selamat pagi juga Nona, bagaimana kabarnya?"
Tatapan Matanya sekilas menatap Zain, yang tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu dingin.
"Kabarku sangat baik Adam? ehh, maksudku sekretaris Adam." Jawabnya dengan memaksakan diri, untuk tersenyum.
Kedua alisnya menyurut seketka, melihat kedekatan sekertarisnya, dan juga istrinya Ariana.
"Sejak kapan mereka berdua dekat? padahal aku baru saja menikahi siculun ini." Bathin Zain, yang terlihat begitu penasaran.
"Buat apa kau menanyakan kabar siculun ini?! karena menurutku sangat tidak penting." Bertanya, dengan tatapan mencemooh menatap Ariana, yang hanya menunduk.
Adam hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Tuanmudanya.
"Baik Tuan, ayo kita pergi."
"Ayo..!" Dengan bangun dari duduknya mengikuti langkah kaki Adam, tapi seketika langkah kaki itu terhenti, saat Ariana istrinya mengatakan sesuatu.
"Tuan, apakah anda tidak akan sarapan dulu?"
"Aku akan sarapan dibawah, bodoh?!" Jawabnya, kesal.
Tersenyum kecil, saat mendapati jawaban Suaminya.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, tapi jika anda mengijinkan saya akan mengantarkan makan siang anda, kekantor."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ariana, membuat kemarahan kembali melanda dirinya. Menghampiri gadis itu, dan mencengkram rahangnya dengan sangat kuat, yang membuat Ariana meringis kesakitan.
"Memang siapa dirimu?! Kau itu, hanya seorang pelayan bodoh?! tidak lebih dari itu." Jawabnya, dengan raut wajah yang begitu memerah.
Hanya meneteskan airmatanya, berusaha menahan sakit pada wajahnya. Padahal sesunggunya, dia hanya perduli dengan laki-laki tampan itu.
"Maafkan saya Tuan, maafkan saya. Saya tidak punya maksud apa-apa, saya hanya perduli pada anda."
Adam menghampiri pasangan suami istri itu, dan melepaskan dengan paksa, cengkraman tangan Tuanmudanya.
"Lepaskan tangan anda Tuan?! kasian Nona Ariana. Dia hanya perduli pada anda,"
"Perduli, padaku?!" Dengan tertawa. Tapi sayang, aku tidak butuh itu. Dan ingat jangan pernah bermimpi untuk menjadi Nyonya Zain Pratama, karena sampai kapanpun itu tidak akan pernah terjadi." Dengan tatapan, yang begitu menghunus menatap Ariana.
Hanya meneteskan airmata, saat mendengar apa yang dikatakan oleh seorang Zain pratama, yang begitu menyakitkan.
"Maafkan saya Tuan, maafkan saya." jawabnya, dengan airmata yang menetes.
Adam mengikuti langkah Tuanmudanya, yang telah berlalu pergi, terlebih dahulu. Tapi seketika langkah itu terhenti, dan kembali menyambangi Ariana.
"Sebaiknya Nona, jangan mencampuri urusan pribadi Tuan. Karena andapun sudah tau, alasan apa sampai Nona bisa berada dirumah ini." Ucapnya, memperingati gadis itu.
"Maafkan saya, sekretaris Adam? maafkan saya, terima kasih karena sudah memperingati saya." Jawabnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum, dengan airmata yang masih membasahi pipi.
Zain menghentikan langkahnya, dan saat membalikan badanya, dia terlihat begitu kesal ketika tidak mendapati keberadaan seketarisnya. Rasa kesal melanda dirinya, dan saat akan menyambangi kamarnya, Adam sudah datang menghampirinya dengan langkah cepatnya.
'"Apa yang kau lakukan disana?! Kau sedang tidak mendekatinyakan?!" Dengan menatap intens sekretarisnya itu, karena sesungguhnya diapun sangat penasaran.
Hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Tuanmudanya. "Manamungkin saya mendekati Nona, Tuan? Karena bagaimanapun, dia adalah istri anda." Jawabnya, dengan tersenyum.
Mendengar kata istri, membuat Zain seketika tertawa dengan ucapan sekretarisnya itu, yang begitu menggelitik.
__ADS_1
"Istri? kau bilang istri?
Asal kau tau Adam! dia itu hanya pelayanku, bukan istri. Dia sama sekali buka tipeku, kau lihat penampilannya, seperti orang yang hidup dijaman dulu. Sangat culun, dan berkacamata lagi. Sekalipun didunia ini tidak ada wanita lagi, aku tidak sudi memperistri dia. Hanya akan membuatku malu, yaa! aku pasti akan malu. Kau pahamkan, sekarang?"
"Saya sangat paham, Tuan? dan maafkan saya."
"Bagus." Dengan kembali, melanjutkan langkahnya menuruni tangga.
Melangkahkan kaki menuju lantai bawah, menuruni setiap barisan anak tangga, dengan berlalu menuju ruang makan.
"Selamat pagi, Tuan?" Sapa Ani, saat mendapati keberadaan Tuanmudanya.
"Pagi." Jawabnya, singkat.
Menilik kebelakang, dan tidak mendapati keberadaan istri Tuanmudanya.
"Tuan? dimana Nona," Mencoba untuk berani bertanya, dibalik rasa sungkannya pada pria dingin itu.
'Dia tidak, akan sarapan." Jawabnya, dengan memasuKan olesan roti, yang telah diolesi selai cokelat kedalam mulutnya. Tapi seketika kunyahan itu terhenti, saat teringat akan istrinya.
"Bawakan, dia sarapan pagi." Titahnya, tegas.
"Maksud anda Nona, Tuan?!" Tanya Ani, memastikan.
"Yaa, terserah menyebutnya dengan apa!" Jawabnya, ketus.
"Baiklah, Tuan?"
Paula..?" Panggilnya, pada seorang pelayan.
"Ada apa, Bibi?"
"Bawakan Nona Ariana, sarapan pagi kekamar, sekarang."
__ADS_1
"Baik Bibi, saya akan membawakan sarapan Nona kekamar."