Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kesalnya, Zain.


__ADS_3

"Siapa yang jatuhcinta. Apakah kau sudah jatuhcinta, pada Bosmu yang ingusan itu?" Tanya Zain yang baru saja memasuki ruang rawat Ariana, dengan menduduki salahsatu kursi tunggal, dan senyuman sinis diwajah menatap istrinya.


"Tuan, anda dari mana saja?"


"Iya Sayang, kau darimana?" Tanya Ariana, pula.


Menyunggingkan senyuman sinis disudut bibirnya, menatap tidak suka pada Ariana, dan juga Adam.


"Kenapa?! apakah kalian berdua tidak suka, jika aku berada disini. Tadi aku mendengar, kalian berdua tertawa bahagia. Kenapa saat aku datang, kalian malah diam. Ataukah, kalian tengah menjalin hubungan dibelakangku. Ataukah mungkin kau Adam, sekarang malah mendukung istriku, menjalin hubungan dengan pengusaha ingusan itu?!" Senyuman sinis menatap Adam, dan juga Ariana.


"Kau salah sangkah, Sayang?"


"Iya Tuan, anda salah sangkah. Lagi pula Nona Ariana, bukan kriteria wanita idamanku."


Raut wajah Zain seketika memerah, saat mendengar apa yang dikatakan Adam tentang istrinya.


"Jadi kau menghina istriku! apakah kau mau aku pecat Adam?!"


"Ti..tidak, Tuan? maksud saya bukan seperti itu. Maksud saya..?" Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, saat Zain menyela ucapannya.


"Dasar kau sekretaris, bodoh!! pantas saja sampai sekarang kau belum memiliki kekasih, karena mana ada wanita yang mau menjalin hubungan dengan pria bodoh sepertimu! Dan..?" Tatapan matanya menatap bunga lili, yang diletakkan Ariana disebuah vas bunga samping bed hospital.


Dan kau buang bunga itu, Adam?! karena aku sangat alergi, pada bunga lili."


"Tapi, Sayang?" Seru Ariana, yang ingin menolak keinginan suaminya.


"Apakah kau mau, aku mati karena bunga itu!!" Dengan nada mulai meninggi, dari sebelumnya.


"Tapi Tuan, bukankah anda tidak alergi pada bunga lili. Bahkan ditaman belakang, kita mempunyai beberapa pot, dan itu pula anda yang menanamnya."


Raut wajah Zain seketika berubah pucat, karena yang dikatakan Adam sangatlah benar. Tapi sebisa mungkin pengusaha tampan itu menyembunyikan, dan menutupi dengan sebuah kemarahan.


"Aku baru saja, punya penyakit alergi pada bunga lili, bodoh!!" Dengan berpura-pura, bersin.


Ha..cihh!! ha..cih!!

__ADS_1


Tadi kenapa aku keluar, saat sibrengsek itu, membawa bunga lili. Karena aku tidak tahan, dengan wangi bunga itu. Dan aku baru saja pulang, dari Dokter yang menangani alergiku ini."


"Maafkan saya Tuan, saya akan membuangnya sekarang juga." Seru Adam dengan bangun dari duduknya, berjalan menuju arah vas bunga itu.


Maafkan saya Nona, karena ini permintaan suami anda." Dengan meraih vas bunga tersebut, dan berlalu keluar dari kamar.


Tatapan Zain teralihkan menatap Ariana, yang tengah menatap Adam yang telah berlalu pergi, membawa bunga kesukaannya.


"Kenapa. Apakah kau tidak suka, jika aku membuang bunga pemberian dari kekasihmu itu?!"


Ariana hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Tidak Sayang. Aku pastii akan membuangnya, jika aku tau kau alergi pada bunga lili."


"Tentu saja. Apalagi bunga itu, diberikan oleh Bosmu yang tidak tau malu itu!"


Ariana hanya diam, saat mendengar apa yang dikatakan suaminya. Seketika dalam dirinya timbul rasa penasaran, apakah suaminya ini tengah cemburu padanya, saat dia teringat kembali dengan apa yang dikatakan Jack tadi, kalau Zain telah jatuhcinta padanya.


"Kenapa kau terus menatapku? apakah ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Zain, saat mendapati Ariana terus menatapnya.


"Tidak Sayang. Aku hanya sedang, bahagia saja." Dengan senyuman kecil, menatap suaminya.


Katakan padaku, apa yang membuat kau bahagia."


Raut wajah Ariana berubah pucat, saat mendapat pertanyaan itu dari Zain.


"Tidak mungkin aku berkata jujur, kalau hal yang membuat aku bahagia adalah, saat Dokter Jack mengatakan, kalau aku sudah membuatnya jatuhcinta padaku. Dan tidak mungkin aku mengatakan alasan lain yang membuat aku bahagia, karena tidak ada balas dendam lagi, dalam pernikahan kami." Bathin, Ariana.


"Kenapa kau diam saja, Ariana? jangan katakan kalau hal yang membuat kau bahagia, karena tadi Bosmu yang tidak tau malu itu, baru saja menjengukmu."


Ariana hanya tersenyum, dengan apa yang dituduhkan suaminya. Dan hal itu membuat Zain semakin kesal, pada istrinya.


"Lihatlah. Bahkan sekarang, kau tersenyum. Kau pasti bahagia, karena sibrengsek itukan?"


Senyuman yang sedari tadi membingkai diwajahnya, berakhir menjadi sebuah tawa, saat medengar apa yang dituduhkan suaminya. "Apa yang kau katakan, sangatlah tidak benar Sayang. Aku bahagia, bukan karena kedatangan Bosku. Aku bahagia, karena kau rella meninggalkan pekerjaanmu, hanya demi aku."

__ADS_1


"Benarkah?" Dengan raut wajah, yang terlihat bahagia.


"Iya, Sayang."


Seringai jahat membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Ariana. Dan tiba-tiba saja, muncul ide licik dalam diri lelaki berkumis tipis itu.


Beranjak dari duduknya, menghampiri Ariana yang tengah menatapnya dengan tatapan penasaran.


"Ada apa, Sayang?"


"Apa kondisimu, sudah jauh lebih baik?"


"Iya Sayang. Dokter mengatakan, kalau aku sudah bisa pulang dalam dua hari ini."


"Benarkah?" Dengan senyuman kecil, yang nyaris tak terlihat.


"Iya, Sayang."


Menyunggingkan senyum devil dsudut bibirnya, dan dia terlihat begitu bahagia.


"Kau tau Ariana, aku harus membuang pekerjaanku, bahkan ada beberapa proyek yang harus aku batalkan, agar bisa menemaimu dirumah sakit."


"Iya Sayang, aku tau. Karena Adampun, mengatakan demikian."


"Jadi Adam juga bilang, seperti itu?"


"Iya, Sayang." Jawab Ariana, dengan sebuah anggukan kecil.


"Kau tau Ariana, aku rugi sangat banyak, dengan membatalkan proyek itu, karena sebenarnya proyek ini sangatlah penting. Jadi kau harus berterima kasih, padaku."


"Tentu saja, aku sangat berterima kasih padamu Sayang. Karena demi aku, kau rella membatalkan semua proyek penting itu,"


"Tapi aku ingin, kau berterima kasih dengan cara lain."


"Cara lain, cara apa Sayang?" Dengan tatapan penasaran, menatap Zain.

__ADS_1


Tidak menjawab apa yang ditanyakan istrinya, hingga membuat Ariana dilanda kebingungan. Tatapan matanya beralih menuju pintu kamar, dan berlalu menguncinya. Kembali menyambangi Ariana, dengan tatapan mesumnya.


"Sayang! ingat kita sedang berada dirumah sakit. Jadi tidak mungkin, kita melakukan hal itu disini." Ucap Ariana, yang sudah mengetahui apa yang dimaksud suaminya.


__ADS_2