Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Perhatian David


__ADS_3

Karena rasa penasarannya yang teramat sangat, membuat dia memutuskan untuk bertanya, pada gadis berkata kacamata itu.


"Apakah kau menjebak sahabatKu?! atau mungkin, kau memakai orang pintar, atau mungkin dukun, agar Zain bisa menikahimu," Bertanya, dengan menatap penasaran gadis Ariana.


"Menjebak?!" Mengernyitkan dahinya, menatap kesal disainer muda itu.


"iya aku yakin kau sudah melakukan itu padanya, dia itu pria sempurna, siapapun pasti akan terpesona dengan ketampanannya."


Raut wajahnya terlihat begitu kesal, saat mendapati tuduhan dari perancang busana, yang merupakan sahabat baik dari calon suaminya.


"Aku tidak serendah itu, Nona?! buat apa aku harus menjebak pria seperti dia, dia itu sama sekali bukan tipeku."


"Dan kau kau pikir, aku percaya ucapanmu, culun?"


"Tentu saja kau harus percaya padaku, dan aku kasitau, namaku Araa, bukan culun." Jawabnya, tegas.


'Dan kau adalah gadis yang beruntung, karena banyak wanita diluarsana menginginkan posisimu, dan kurasa kau sangat cantik, jika saja kau tidak memakai kacamata, dan sedikit berdandan."


"Aku sama sekali tidak perduli dengan itu, aku sudah nyaman dengan diriku yang sekarang."


"Apakah kau tidak takut, jika suamimu berselingkuh?!"


"Tentu saja, karena itu bukan urusanku," Jawabnya, asal.


Tawa keras seketika keluar dari bibir disainer itu, saat mendengar jawaban Ariana.


"Kurasa kau berbohong, kapan-kapan kau ada waktu, datanglah kemari aku akan mendadanimu, dan memperbaiki penampilanmu agar kau terlihat cantik."


"Baiklah, kalau aku ada waktu aku akan datang." jawabnya, berbohong.


Kini Ariana telah selesai, memakai gaun pengantinnnya, setelah dibantu oleh Rani.


"Ayo kita keluar sekarang, aku akan menunjukkan pada calon suamimu."

__ADS_1


"Baiklah." Jawabnya, dengan melangkahkan kaki bersama Rani, keluar dari ruang ganti itu.


"Zain..?! bagaimana gaun hasil rancanganku?" Tanya Rani, saat lelaki tampan itu, tampak begitu fokus pada layar phonselnya.



Araa, tak berani mendongakkan kepala menatap suaminya. Karena dia sudah tau, kalau lelaki pengusaha tampan itu, akan mengatakan hal buruk tentangnya.


"Sama saja, tidak ada yang berubah dengan penampilannya, sekalipun dia sudah memakai gaun yang indah sekalipun." Jawabnya, dengan senyuman mencemooh.


Hanya membingakai senyuman kecil, yang nyaris tak terlihat, dan yang dia lakukan hanya diam, dan diam.


*******


Detik terus berjalan, hingga malam telah menyambut kota Jakarta.


Suasana tampak normal, saat jamuan makan malam dikediaman David Mahesa. Tiba-tiba saja David bersuara, menanyakan keberadaan putri angkatnya, Ariana.


"Maa, dimana Araa?" Bertanya, dengan menatap intens istrinya, yang tengah menyantap makan malamnya.


Raut wajah David seketika berubah kesal, saat medapati jawaban putrinya.


"Sudah berapa kali Papa bilang?! jangan membedakan dia dengan kita. Memang Ariana hanya anak angkat, tapi kenapa kau, dan Mamamu tidak pernah menganggapnya sebagai anggota keluarga ini."Ucap David, yang sudah diliputi amarah, yang teramat sangat.


Diana terlihat begitu kesal, saat melihat suaminya yang tampak membela Ariana.


"Buat apa Papa memikirkan dia?! bukankah sebentar lagi anak pungut itu, akan menikah dengan Zain?! bahkan Papa menerima lamaran zain, tanpa memikirkan perasaan putri kita."


"Bukankah putri kita yang sudah berselingkuh, hingga membuat hubunganya dengan Zain kandas, jadi apa salahnya jika aku menerima lamaran laki-laki baik seperti dia."


"Papa selalu saja membela anak angkat itu, Papa lihat saja pernikahan mereka tidak akan bertahan lama. Karena sampai sekarang aku yakin, Zain masih mencintaiku." Jawab Clara, dengan keyakinan yang teramat sangat.


Raut wajah David, semakin terlihat begitu kesal, hingga membuatnya tidak berselerah lagi untuk melanjutkan makan malamnya.

__ADS_1


"kau dan Mamamu, lanjutkan makannya, Papa akan pergi menemui Ariana, sekarang." Dengan bangun dari duduknya, dan berlalu begitu saja dari ruang makan.


Clara terlihat begitu kesal, dan seketika selerah makannya hilang, saat melihat ayahnya pergi menemui Ariana, gadis yang begitu dibencinya.


"Memang siapa anak kandungnya?! aku, atau siculun itu? Papa selalu saja membela anak pungut itu?!"


"Bersabarlah, bukankah sebentar lagi dia akan keluar dari rumah ini?" Ucap Diana menenangkan putrinya, dari amarah yang teihat jelas diwajahnya.


"Aku yakin, Zain pasti akan mencampakannya, karena dia hanya mencintaiku, hanya mencintaku saja."


"Mama juga yakin, Zain hanya mencintaimu, dan Mama juga yakin pernikahan mereka tidak akan lama."


David melangkahkan kaki, kehalaman belakang rumahnya. Sampai disana, dia mendapati keberadaan Ariana yang tengah berbincang dengan para pelayan. Airmata lolos begitu saja, dari kedua sudut mata pria paruhbaya itu, karena sebentar lagi putrinya, akan pergi dari rumah ini.


"Maafkan Papa, Araa?! karena sudah menerima lamaran dari Zain, tanpa meminta persetujuan darimu terlebih dahulu. Papa hanya tidak mau, kau berada terus dirumah ini, karena Papa tau, selama ini kakakmu Clara, dan Mamamu tidak pernah menerima kehadiramu dirumah ini, dan mereka selalu bersikap kasar, padamu. Dan semoga saja, keputusan Papa menerima lamaran Tuan Zain, tidaklah salah." Gumamnya, dengan menatap nanar Ariana.


Ariana yang tengah berbincang-bincang dengan para pelayan, tak sengaja melemparkan pandangannya kearah lain, dan sedikit terkejut saat mendapati keberadaan ayahnya, yang sama sekali tidak disadarinya.


"Papa, kapan kau datang?" Bertanya dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia, seraya menghampiri pria paruhbaya itu.


"Baru saja, bukankah dua hari lagi kau akan menikah, jadi Papa pulang kali ini, khusus untukmu."


"Terima kasih, Paa? aku mengirah kau tidak akan datang, karena aku tau kau sangat sibuk."


"kalau Papa tidak datang, terus siapa yang akan mengantarmu kealtar nanti, Ariana?"


"Tentu kau, Paa? Karena aku hanya menginginkanmu." Jawabnya dengan senyuman, menatap laki-laki paruhbaya itu.


"Katakan Pada Papa, apakah kau bahagia?"


"Tentu saja aku sangat bahagia Paa, Tuan Zain sangat baik." Jawabnya berbohong, berusaha menghilangkan keresahan ayahnya.


Raut wajah David seketika berubah sendu, dan dia sungguh menyesal Karena sudah menerima lamaran zain, tanpa berkopromi dulu dengan anak angkatnya.

__ADS_1


"Maafkan Papa, karena sudah menerima lamaran Tuan Zain, tanpa meminta persetujuan dulu darimu. Tapi Zain itu, adalah laki-laki yang baik, Papa yakin kau akan bahagia bersamanya. Dan Papa sungguh menyesal dengan perbutan kakakmu, yang sudah menghianatinya."


__ADS_2