Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Mengusir Celine.


__ADS_3

Adam menatap Tuanmudanya, dengan tatapan iba. Melihat raut wajah mendung lelaki tampan itu, membuatnya meyakini kalau Tuanmudanya menyimpan kesedihan yang begitu mendalam.


"Aku akan membantu anda, Tuan? aku akan mencoba menanyakan pada sahabat Nona Ariana, Nona Bella, mungkin saja dia tahu, dimana Nona saat ini."


Dengan senyuman kecil, dia menatap sekretarisnya. Mendengar apa yang dikatakan Adam padanya, membuat Zain seperti mendapatkan angin segar.


"Terima kasih Adam, aku percayakan semua ini padamu. Dan semoga saja, Bella mengetahui dimana Ariana saat ini."


"Baik Tuan, saya akan menghubungi Nona Bella, dan mengajaknya bertemu.


****


Matahari telah menamparkan sinarnya secara sempurna, saat kegelapan perlahan mulai meredup, dengan bersembunyi dibalik terangnya, pancaran cahaya matahari pagi.


Kedua kaki itu melangkah melewati barisan anak tangga, menuju lantai bawa rumahnya.


Saat berada dilantai 2, Zain mendapati pintu kamar Bibinya, yang sedikit terbuka. Dan berniat untuk menyapa wanita itu, setelah kemarin seharian penuh, dia sama sekali tidak bertatap muka dengan Bibinya Celine.


"Mungkinkah Bibi sudah bangun?" Gumamnya, dengan membuka daun pintu semakin melebar.


Dan dari kejauhan, lelaki tampan itu mendapati Celine, tengah menerima telepone dari Diana, Ibu dari mantan kekasihnya Clara Mahesa.


PERCAKAPAN.


"Bagaimana dengan keadaan Clara, Nyonya Diana?"


"Sampai sekarang, dia masih terus menangis. Dan saya sangat mengharapkan, agar Zain dapat mau melanjutkan pertunangan ini. Dan saya minta, anda membujuk keponakan anda Nyonya Celine?"


Hembusan napas terdengar berat, keluar dari mulut wanita paruhbaya itu, saat mendengarkan keinginan Diana, yang memintanya membujuk Zain, agar mau melanjutkan kembali pertunangan ini, dan menurutnya ini sangat mustahil.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nyonya Diana. itu sangat tidak mungkin. Saya memang sangat mengharapkan, Claralah yang menjadi menantu saya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terbongkar. Zain sudah mengetahui kebenarannya. Dan saya sangat terkejut saat menetahui, kalau mantan kekasih dari Clarahlah, yang membongkar ini semua."


"Bukankah semua ini ide dari anda, Nyonya Celine?! agar menjebak Ariana dengan seorang pria." Dengan nada yang terdengar kesal, diseberang sana.


"Ya. Ini semua memang ide dari saya. Sebab saya tidak sudi, anak pungut itu menjadi istri, dari keponakan saya Zain. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Jadi saya minta, Nyonya Diana membujuk Clara agar melupakan Zain. Anggap saja, Zain bukan jodohnya. Dan saya akan mencarikan wanita lain, untuk dijodohkan dengannya lagi."


Kemarahan tak sanggup dibendung lagi, oleh pengusaha tampan itu. Saat mendengar, semua kebenaran yang baru saja dia tahu. Dan Zain tidak menyangkah, Bibinya sendirilah otak diibalik penjebakan terhadap Ariana.


Mengambil sebuah vas bunga yang berada tidak jauh darinya, dan melemparkan dengan kasar, hingga membuat Celine begitu kaget.


PRAAAKK.


Celine seketika membalikkan wajahnya, keasal suara gaduh. Dan betapa terkejutnya wanita itu, saat melihat Zain berada didalam kamarnya, yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh amarah.


"Zain..." Gumamnya dengan kegugupan, dan raut wajah yang sudah berubah pucat.


"Zain.." Ucapnya lagi.


"Bagus.., jadi ternyata Bibilah orang yang sudah merencanakan ini semua, agar aku menceraikan Ariana, karena mengirah dia sudah betul-betul menghianatiku."


"I...ini.." Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, akibat rasa takut pada tatapan pengusaha tampan itu.


"Jawab aku Bibi....! jawab...." Teriak Zain, akibat kemarahan yang semakin membuncah.


"Iya. Memang Bibilah yang sudah merecanakan ini semua. Karena Bibi tidak sudi, memiliki menantu seperti Ariana. Dan semua ini Bibi lakukan, karena Bibi sangat menyayangimu," Dengan teriakan, saat dirinya menjawab ucapan keponakannya itu.


"Menyayangiku.." Dengan menaikkan, sudut bibirnya.


Kalau kau menyayangiku, kau tidak mungkin melakukan hal ini padaku. Asal kau tau, Bibi? aku sangat terluka, saat melihat Ariana tidur dengan pria lain. Sebab saat itu, aku mengirah dia sudah benar-benar berselingkuh. Dan apakah kau tidak memiliki rasa iba sedikt saja padanya, saat aku menceraikan dia, Ariana sedang mengandung anakku," Dengan tatapan kemarahan, dan terselip rasa kecewa yang teramat sangat pada wanita parubaya itu.

__ADS_1


"Bibi tau, Bibi salah. Tapi Bibi melakukan ini semua, semata-mata demi kebaikanmu juga. Bibi tidak mau kau menikah, dengan perempuan yang kita tidak tau asal-usulnya."


Tawa lepas, seketika membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan Bibinya Celine.


"Bibi...Bibi.., kau sepertinya tidak sadar dengan apa yang kau katakan. Apakah kau sudah melupakan, dari mana asalmu? sampai sekarang saja, kau tidak mengetahui siapa orangtua kandungmu. Jadi apa bedanya, kau dengan Ariana. Sama saja" Ucapnya, dengan senyuman mencemooh menatap Celine.


Airmata menetes begitu saja, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Zain padanya. Dia tidak menyangkah keponakan yang begitu disayanginya, akan mengatakan hal yang begitu menyakitkan untuknya.


"Apa maksudmu, berkata seperti itu Zain? hanya karena wanita itu, kau tega berkata seperti itu pada aku, Bibimu sendiri? dan apakah kau sudah lupa, kalau aku yang merawatmu sejak kedua orangtuamu tiada," Ucapnya, dengan airmata yang terus mengalir.


"Berhenti mengeluarkan airmata, omong kosong itu Bibi?! sebab aku tidak akan luluh, setelah aku tau semua kebusukanmu. Selama ini aku selalu saja menuruti, semua yang kau katakan. Dan aku juga tidak akan pernah melupakan jasamu, yang sudah merawatku sejak kepergian kedua orang tuaku. Dan seandainya saja aku tidak memikirkan hal itu, aku mungkin sudah membunuhmu saat ini juga."


"Apa maksudmu, berkata seperti itu Zain.." Teriak Celine.


"Aku minta, kau keluar dari rumah ini." Titahnya, denga nada yang terdengar tegas.


Tatapannya seketika intens, menatap keponakanya. Tangis itupun, tiba-tiba saja reda, mencoba untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan Zain tadi.


"Keluar..? jadi kau mengusir Bibi, Zain?" Tanyanya, memastikan.


"Iya. Sebab kesalahanmu sudah sangat fatal. Kalau kau menyayangiku, tidak mungkin kau menghancurkan kebahagianku."


"TIdak Zain..?" Dengan menggeleng pelan, saat mendengar apa yang dititahkan keponakannya itu.


Bibi tidak mau. Bibi tidak mau, pergi dari rumah ini Zain? Bibi tidak mau. Bibi harus kemana?" Ucapnya, disela tangisnya.


"Tapi kau sudah sangat keterlaluan! kau tega menghancurkan kebahagianku..?" Dengan volume suara, yang masih meninggi.


Mendekat kearah keponakannya, dan menggenggam jemarinyaa, tapi seketika ditepis langsung oleh Zain, dengan kasar.

__ADS_1


Dan dengan linangan airmata, Celine memohon pada keponakannya itu.


"Bibi mohon padamu Zain, Bibi mohon jangan usir Bibi. Bibi tidak memiliki siapapun didunia ini, selain dirimu," Dengan deraian airamata, yang terus mengalir.


__ADS_2