Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kebahagian, dan kesedihan


__ADS_3

Zain terlihat begitu kesal, mendengar apa yang baru saja dikatakan Stefanie, yang membandingkan dirinya dengan Rian pria yang begitu dia benci. Apalagi melihat Ariana yang nampak menertawakan dirinya, membuat api amarah dalam diri lelaki tampan itu kian berkobar.


Segera menurunkan Stefanie dari gendongannya, hingga membuat gadis kecil itu dilanda kebingungan.


"Daddy! kau kenapa? kenapa kau menurunkan aku? bukankah kita akan berdansa!"


"Kau, dan Mommy berdansa saja dengan Paman Rianmu itu! bukankah tadi kau bilang, kalau dia jauh lebih tampan dari Daddy!" dengan amarah, dan berlalu begitu saja meninggalkan Ariana, dan juga putrinya.


Ariana tersenyum kikuk, akibat malu dengan tatapan para tamu undangan yang menatap pada mereka dengan tatapan heran.


"Mommy! kenapa Daddy marah pada kita? bukankah yang kukatakan itu benar, kalau Paman Rian memang jauh lebih tampan dari darinya," dengan raut wajah bingungnya, saat bertanya pada Ibunya.


Menghembuskan napas kasar, dengan tatapan melemparkan tatapan jauh Zain, yang sudah menghilang diantara para tamu undangan.


"Apakah kau tidak tau? kalau Daddymu sedang cemburu!"


"Cemburu! apa itu cemburu Mommy?" wajah mungil itu seketika menampilkan wajah penasarannya, mendengar apa yang baru saja dikatakan Ibunya.


"Nanti kau akan mengetahuinya Stefanie! dan ayo kita cari Daddymu," ajak Ariana dengan langsug meraih jemari putrinya, meninggalkan lantai dansa itu.


Raut wajah kesal membingkai penuh diwajah tampan Zain. Mengingat perkataan putrinya tadi, dan senyuman Ariana yang nampak menertawakan dirinya, membuat emosi dalam lelaki itu kian membuncah.


"Harga diriku sangat terinjak-injak. Bahkan istriku, menertawai diriku. Sibrengsek itu pasti sudah merasuki pikiran putriku!"


Kedua pasang kaki itu menyusuri taman hotel, mencari keberadaan Zain dengan mengedarkan pandangan keberbagai arah.


"Mommy! dimana Daddy?" tanya Stefanie, kala dia dan Ibunya tak kunjung mendapati keberadaan Ayahnya.


"Ayo kita cari diujung sana!" ajak Ariana dengan berberlok arah kekiri.


Menyususri taman yang yang sedikit gelap, yang diterangi beberapa lampu taman. Melewati sebuah jalan kecil, dan dari jauh Stefanie mendapati keberadan Rian.


"Mommy! bukankah itu Paman Rian," seru Stefanie tiba-tiba.


"Iya itu memang Paman Rian,"


"Hallo Paman Rian," gadis kecil itu menyapa, dengan melukis senyum diwajah.


"Hallo gadis kecil," dan tatapan mata itu beralih pada Ariana.


"Kalian mau kemana Araa?"


"Apakah kau melihat suamiku?"


"Ohh, Zain. Tadi aku melihatnya kearah kolam renang. Dan wajahnya seperti sedang kesal. Apakah kalian berdua sedang ada masalah?" kedua bolamata itu menatap penuh selidik pada Ariana.


"Tidak!" jawab Ariana cepat.


"Bukankah tadi Mommy bilang, kalau Daddy sedang cemburu!"


"Cemburu?" Rian berucap dengan raut wajah bingungnya, dengan apa yang baru saja dikatakan Stefanie.


Ariana tersenyum kikuk, dengan raut wajah pucat pasihnya saat Rian menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Stefanie! apa yang kau bicarakan?" Ariana menegur putrinya dengan berbisik ditelinga gadis kecil itu.

__ADS_1


"Bukakah itu benar Mommy?! kalau Daddy sedang cemburu. Kaupun yang mengatakannya padaku," dan arah pandang itu beralih pada Rian, yang masih memandang pada mereka dengan wajah penasarannya.


"Kau tau Paman! Daddyku mungkin marah, karena aku mengatakan kalau kau lebih tampan darinya. Tapi aku rasa itu benar, karena kau memang lebih tampan dari Daddyku."


Wajah merona seketika menyelimuti wajah cantik Ariana, dengan apa yang barusaja dikatakan putrinya. Meraih tangan Stefanie, dan segera berlalu pergi dari pengusaha kaya itu setelah berpamitan dengannya.


"Maaf Rian! kami harus segera pergi,"


"Ayo Stefanie!" dengan segera mengayunkan langkah kaki itu.


"Mommy! lepaskan aku Mommy! lepaskan...!" dengan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ariana, saat Ibunya memegangnya tangannya dengan sedikit kuat.


"Kenapa kau begitu cerewet Stefanie?! Daddy akan sangat marah padamu, jika saja dia mendengar apa yang kau katakan tadi." langkah kaki itu terhenti seketika, dan genggaman yang sudah terlepas.


"Bukankah aku mengatakan yang sebenarnya Mommy! Bibi Charlotepun juga mengatakan, kalau Paman Rian itu jauh lebih tampan dari Daddy,"


"Tapi bagi Mommy, Daddy jauh lebih tampan dari Paman Rian. Kau mengerti!" dengan nada penuh penekanan.


"Itu karena dia Daddyku! makannya Mommy bilang Daddy lebih tampan dari Paman Rian. coba kalau bukan!" dengan wajah cemberutnya, akibat tidak mau kalah berdebat dengan Ibunya.


'Sudahlah Stefanie! jangan banyak bicara. Ayo kita sambangi Daddymu. Itu dia!" dengan menunjuk pada Zain, yang tengah duduk dibangku panjang.


"Baiklah.." dengan nada memelas


"Daddy..." panggil Stefanie tiba-tiba.


Arah pandang yang tadi melempar jauh kedepan seketika berpaling pada asal suara, dan sedikit kaget ketika melihat keberadaan istrinya, dan juga Stefanie disana. Tapi karena masih kesal, Zain kembali memalingkan wajahnya.


"Mommy! sepertinya Daddy marah padakita."


"Kenapa kau menyalahku Mommy? bukankah aku mengatakan yang sebenarnya!"


"Bukan berarti kau harus berkata jujur Stefanie! karena itu akan melukai perasaan Daddymu. Karena bagaimanapun, dia adalah Daddymu."


Raut wajah bersalah seketika menyelimuti wajah mungil Stefanie, setelah mendengar apa yang dikatakan Ibunya.


"Jadi apa yang harus kulakukan Mommy?"


"Ayo kita bujuk Daddy! dan jangan mengatakan kalau Paman Rian lebih tampan."


"Baiklah. Aku akan mengatakan pada Daddy kalau dia jauh lebih tampan, walaupun itu berbohong." jawabnya pasrah.


"Ya. Setidaknya itu jauh lebih baik,"


Keduanya kembali mengayun langkah kaki itu menuju pada Zain, yang tengah duduk pada sebuah kursi panjang.


"Daddy...."


"Sayang apa yang kau lakukan disini? ayo kita masuk. Tamu-tamu undangan sedang mencarimu,"


"Kenapa kau tidak ajak saja sibrengsek itu!"


Melihat raut wajah suaminya yang dipenuhi amarah, membuat Ariana yakin kalau dia tidak mungkin dapat meluluhkan hati suaminya, dan dia menyerahkan itu pada Stefanie.


"Stefanie! ayo bujuk Daddymu," pinta Ariana dengan berbisik pelan ditelinga putrinya.

__ADS_1


"Baiklah..." dengan memelas, dan kedua kaki mungilnya berayun pada Zain.


"Daddy..." panggil pelan.


"Ada apa?!" dengan nada yang masih menunjukkan amarahnya.


"Maafkan aku Daddy,"


Tatapan mata yang tadi memandang kedepan, seketika berpaling saat mendengar kata langkah yang diucapkan Stefanie padanya.


"Minta maaf?' dengan wajah heran, saat mata itu beradu dengan tatapan putrinya.


Melangkah semakin dekat pada Ayahnya, dan bersandar dengan manja.


"Iya Daddy! bagiku kau jauh lebih tampan. Karena kau adalah Daddyku,"


Zain menyimpulkan senyum diwajah, dan melebarkan tangannya pada Stefanie, saat mendengar kalimat yang membuatnya luluh seketika.


"Kemarilah,"


Stefanie segera membenamkan dirinya dalam pelukan Ayahnya, dan membalas pelukan Daddynya dengan erat saat Zain memeluk dirinya.


"Daddy sangat sayang padamu Stefanie! karena kau adalah putri Daddy,"


"Aku juga sangat sayang padamu Daddy! karena kau adalah Daddyku," ucapnya tersenyum, saat dirinya terbenam dalam pelukan sang Ayah.


Ariana melukis senyum diwajah, melihat pemandangan indah didepan mata. Melangkah semakin dekat pada keduanya, dan berucap.


"Apakah kalian berdua sudah melupakan aku?" tanya Ariana dengan berpura-pura marah.


"Tentu tidak Sayang! kemarilah,"


Menyambangi keduanya, dan melabuhkan tubuhnya pada sisi Zain yang masih kosong.


"Aku sangat mencintai kalian berdua," Zain berucap, saat dia sudah melebarkan tangan kanannya memeluk Ariana.


"Kami juga sangat mencintaimu Daddy!"


****


Bulan, dan bintang telah menyembunyikan wajahnya, tergantikan oleh mentari yang menyinari bumi. Dentingan jam terus melangkah, menuju jam yang tergantikan dengan hari. Hari-hari yang terus melangkah tergantikan dengan minggu, kian bulan. Hingga saat-saat yang dinantikan pasangan suami istri Ariana, dan Zainpun tiba. Dimana Ariana akan melahirkan bayi kembar limanya, dengan cara Caesar. Dan berdasarkan USG yang sudah dilakukan pasangan suami istri itu beberapa bulan lalu, kalau calon bayi mereka berjenis kelamin tiga laki-laki, dan dua orang perempuan. Dan tentu saja Ariana, dan Zain sudah menyiapkan nama buat kelima buahati mereka.


Rasa takut semakin saja menyelimuti diri Ariana, saat lampu operasi telah menyala yang menandakan operasi akan segera dilakukan.


"Zain... aku takut," Berucap pelan pada suaminya, dengan raut wajah sudah berubah pucat.


"Jangan takut sayang! ada aku disini." berusaha memberi semangat pada Ariana, yang terlihat begitu gugup saat Dokter akan membedah perutnya.


Tangisan bayi satu persatu mulai terdengar, saat Dokter mulai mengeluarkan bayi-bayi tersebut dalam perut Ariana. Aiirmata bahagia terus saja mengalir dari kedua sudut mata pengusaha kaya itu, saat melihat anak-anaknya terlahir dengan selamat.


Tiba-tiba saja suasana genting terjadi dalam ruangan operasi itu, saat Ariana kehilangan kesadarannya akibat pendarahan hebat.


"Ada apa ini?" tanya Zain dengan raut wajah paniknya.


"Istri anda mengalami pendarahan Tuan! dan tidak sadarkan diri." seru salahstu Dokter.

__ADS_1


"Tidak! tidak! Araa, bangun Araa! bangun.." dengan airmata yang sudah menetes, dan memukul-mukul pelan pipi istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.


__ADS_2